Dua hari belakangan itu saya sebegitu emosinya menyaksikan ketololan seorang manusia yang menjadikan PKS sebagai saluran politiknya. Saya emosi karena ketololannya itu melibatkan saya di dalamnya dan membuat jiwa saya terancam pula karenanya. Tapi setelah saya baca-baca kembali, ketika emosi saya sudah menurun tensinya, saya melihat ada
sesuatu yang menarik di dalam tuduhan bodoh simpatisan PKS ini.

Dari tulisan yang memancing emosi saya itu, satu yang saya dapatkan.
Betapa dari dulu sampai sekarang, dari zaman kuda gigit besi sampai
masa ketika dunia larut dalam zaman teknologi informasi. Manusia masih
tetap sama, perkembangan teknologi tidak mengubah banyak cara
berpikirnya. Dari dulu sampai hari ini, tetap begitu banyak manusia
yang tidak bisa menilai dunia lepas dari dirinya.

Zaman dulu, orang Bali berpikir seluruh sapi di dunia adalah sapi
berbulu kuning dangan warna putih di pantatnya persis seperti sapi
Bali hari ini yang seumur hidup dan sepanajang sejarah nenek moyang
mereka memang sudah begitu bentuknya. Karena penapilan sapi di Bali
yang seperti itulah itulah dalam legenda Lembu Nandini versi Bali
dikatakan; Saat manusia pertama butuh makan, Lembu Nandinilah yang
memasakkan. Saat memasak, karena kaget kepanasan, Lembu Nandini
terduduk di depan tungku, abu dapur kena pantatnya dan meninggalkan
bekas putih di sana sehingga sampai hari ini begitulah rupa anak
keturunannya.

Pada zaman yang kurang lebih sama, orang Gayo berpikir ukuran kerbau
selalu lebih besar dari sapi, seperti realita sehari-hari yang
disaksikannya. Karena itulah di Gayo ada cerita, kalau zaman dulu Sapi
dan Kerbau itu sahabat karib. Suatu saat mereka mandi ke sungai
berdua, di tepi sungai mereka menganggalkan bajunya. Saat mereka mandi
Harimau datang, kedua sahabat ini kaget dan ketakutan, bergegas keluar
dari sungai dan dengan cepat menyambar pakaian, baju siapa yang
dikenakanpun tidak lagi diperhatikan. Saat sudah lari jauh dan selamat
dari kejaran sang Macan. Baru mereka perhatikan ternyata Kerbau dan
Sapi sudah tertukar pakaian. Saat mau dilepaskan pakaian itu sudah
berubah menjadi kulit. Sehingga sampai hari ini kita saksikan, sapi
berjalan kemana-mana dengan kulit yang kedodoran, sementara Kerbau
dengan susah payah berjalan dengan kulit yang kesempitan.

Kalau zaman dulu orang menilai dunia dengan cara seperti itu,
kebanyakan manusia masa kinipun sama saja, masih berpikir seperti apa
dirinya, orang lainpun pasti demikian pula. Simpatisan PKS yang
menuduhku dibayar Isra'el untuk menulis itu adalah salah satunya.
Logika yang dikemukakannya untuk melegitimasi tuduhannya itu adalah
"tidak mungkin ada orang yang mau menulis sebegitu intens-nya kalau
tidak ada yang membayar atau maksud lain dibaliknya, apalagi menulis
di berbagai milis dan media online yang jelas butuh biaya paling tidak
untuk membayar tagihan internet".

Yang tidak disadari oleh Bagudung PKS ini adalah, ketika dia
mengatakan TIDAK MUNGKIN, saat Bagudung simpatisan PKS ini berkata
begitu, sebenarnya ketika itu pula dia sedang membuka jati diri dan
isi kepalanya. Saat berkata seperti itu sebenarnya dia sedang
menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya yaitu bahwa dia adalah
seorang manusia yang bermental Jongos dan Kuli yang hanya mau berbuat
kalau ada yang menggaji.

Orang yang bermental Jongos dan Kuli semacam ini dalam memandang
duniapun tidak bisa dia lepaskan dari kacamata seorang Jongos dan
Kuli. Baginya adalah tidak mungkin ada manusia yang mau membuang-buang
waktu, uang dan energi semata hanya untuk menyalurkan hobi. Padahal
bagi saya sendiri, menulis adalah sebuah sarana buat menyehatkan diri,
menyalurkan ide, membuang kegelisahan sekaligus melepaskan emosi.

Bagi saya menulis adalah sebuah kebutuhan. Seperti mamalia betina yang
baru melahirkan, yang memproduksi susu yang setiap hari harus
dikeluarkan, agar tidak menjadi penyakit di badan. Soal kemudian ide
yang saya keluarkan itu bermanfaat atau tidak bagi yang membaca. Itu
soal lain lagi. Tergantung siapa yang mengkonsumsi dan bagaimana ide
yang saya keluarkan itu diolah lagi. Sama seperti susu yang
dikeluarkan oleh sapi, bermanfaat kalau langsung diberikan kepada
orang dewasa atau anak sapi. Tapi akan menjadi penyakit kalau di
berikan langsung tanpa pengolahan lebih lanjut kepada seorang bayi.

Kemajuan teknologi informasi sepuluh tahun belakangan ini sangat
membantu saya menyalurkan hobi ini. Di media online yang berkembang
saat ini, mulai dari milis, blog sampai facebook. Saya benar-benar
bisa menulis dengan gaya yang sesuka hati. Menulis di media ini tidak
seperti menulis di media cetak yang memiliki banyak rambu-rambu ketat
yang haruskan kita patuhi. Ada aturan kaku tentang jumlah huruf,
pemakaian etika bahasa, batas-batas penggunaan isu SARA dan
aturan-aturan penulisan lainnya.

Aturan-aturan semacam inilah yang membuat hampir semua tulisan opini
di media cetak apapun, membuat mengantuk kita yang membacanya. Itu
karena penulis opini di media cetak, gaya menulisnya nyaris seragam
semua, sok ilmiah, kering dan garing tak berjiwa karena ditulis lebih
banyak dengan mengikuti aturan teknis bukan emosi.

Inilah alasannya, kenapa saya lebih suka membaca opini di blog dan di
milis-milis. Itu karena di sini orang menulis opini lebih jujur, lebih
apa adanya sehingga lebih menyentuh realita yang sebenarnya.

Untuk menulis di media cetak, kita harus bicara pula tentang kebijakan
redaktur dan sesuai tidaknya ide kita dengan visi dan misi media yang
dikirimi tulisan. Belum lagi ketika kita harus berhadapan dengan
redaktur opini yang karena merasa medianya besar, kadang jadi merasa
angkuh dan arogan. Pokoknya untuk menulis di media cetak, apalagi
untuk mendapatkan bayaran, terlalu banyak tetek bengek urusan tai
burung yang tidak boleh kita lewatkan.

Itulah sebabnya, karena tujuan saya menulis bukanlah untuk mendapat
bayaran, satu-satunya publikasi tulisan saya yang pernah dibayar
adalah tulisan saya tentang 'konferensi interpeace' yang dimuat di
website resmi Aceh Institute. Itu saya lakukan karena seorang teman
yang bekerja di lembaga itu yang juga mengikuti konferensi yang sama
meminta saya untuk membuat tulisan. Selebihnya tidak pernah lagi,
meskipun si teman ini minta saya mempublikasikan tulisan saya yang
lain di media mereka yang teregister itu dan mendapatkan bayaran, saya
tidak pernah mau lagi. Alasan saya adalah karena untuk menulis di
media teregister semacam itu, seperti yang telah saya sebutkan di
atas, terlalu banyak aturan yang harus saya penuhi dan aturan-aturan
itu membuat buntu ilham dan inspirasi.

Memang, saya pernah menulis di media cetak, tepatnya di harian Aceh
Independen. Tapi itu juga tidak dibayar, kebetulan redaktur opini di
koran ini adalah adik kelas saya semasa kuliah di Fakultas Teknik
Unsyiah dulu. Ketika diterbitkan di sini, oleh si redaktur, tulisan
saya tidak diatur harus seperti apa malah saat diterbitkan tidak
diedit sama sekali.

Mengikuti saran beberapa teman, saya juga pernah terpikir untuk
mencoba untuk menulis di media yang lebih besar Serambi Indonesia.
Saat itu, ketika teman-teman saya menganjurkan, maksud mereka supaya
ide-ide saya lebih banyak dibaca orang. Tapi untuk koran Serambi yang
sebetulnya cuma koran kecil dalam skala nasional. Para pengelola koran
ini merasa di Aceh, mereka adalah media terbesar. Jadi redaktur
opininyapun tidaklah seramah adik kelas saya tadi.

Di Serambi, redakur opininya yang bernama Ampuh Devayan lagaknya bak
orang penting, mau ketemu susahnya bukan main. Di SMS tidak pernah
dibalas, ditelpon tidak mau diangkat, dikirimi e-mail tidak
ditanggapi, diajak ketemu apalagi. Beberapa teman lama diantaranya
Murizal Hamzah yang dulu bersama saya pernah meliput berita sampai ke
Pasee bersama Almarhum Harry Burton pernah menganjurkan saya untuk
menemui si Ampuh itu dengan menyebutkan namanya, dan mengatakan kepada
Ampuh kalau Murizal adalah teman saya. Murizal memberi saran seperti
ini karena Ampuh Devayan dan Murizal teman saya ini pernah
bersama-sama menjadi editor sebuah buku. Tapi ketika anjuran Murizal
saya praktekkanpun hasilnya sama saja, menemui redaktur kita ini jauh
lebih susah daripada minta proyek ke pemerintah atau bertemu pejabat
tinggi…sehingga sayapun berkata dalam hati "Ko makan lah koran ko
itu, macam hebat kalipun ko pikir serambi bengakmu itu" (Seperti
biasa, kalau sedang emosi logat yang saya pakai adalah logat
Simalungun asli)

Tentang menerbitkan buku, sekarang menjelang berakhirnya masa tugas
BRR dan NGO Asing di Aceh, kegiatan itu seolah menjadi tren. Tiba-tiba
semua orang di Aceh jadi bisa menulis buku. Hal remeh-temeh apapun
tentang Aceh, oleh siapapun bisa ditulis dan dijadikan sebuah buku.
Buku-buku yang ditulis semacam itu kemudian dibagi-bagikan secara
gratis kepada siapa saja yang meminatinya bahkan kadang kepada yang
sama sekali tidak berminatpun diberikan juga. Rata-rata penerbitan
buku-buku semacam ini disponsori oleh sebuah lembaga atau NGO Asing
yang butuh menghabiskan dana di kas mereka sebelum kontrak kerja
mereka berakhir.

Saya pernah menghadiri sebuah acara launching buku semacam ini, buku
yang saya hadiri acara peluncurannya ini covernya begitu bagus dan
mewah, diisi dengan kontribusi dari nama-nama terkenal yang sudah lama
mengharu biru dalam pergerakan dan penegakan HAM di Aceh. Tapi setelah
buku itu saya baca, isinya sampah semua dan yang paling
menjengkelkan… basi!

Di Aceh, selain menerbitkan buku, tren lain yang berkembang saat ini
adalah mengadakan seminar dengan skala lokal, nasional maupun
internasional. Di semua hotel berbintang di Banda Aceh, setiap hari
ada seminar yang membahas bermacam-macam masalah. Bahkan kadang di
satu hotel seperti Hermes Palace atau Oasis, dalam satu hari ada dua
sampai tiga seminar.

Dan sama seperti penerbitan buku tadi, seminar-seminar yang disponsori
oleh berbagai lembaga donor dan NGO asing itupun kuat sekali kesan
untuk menghabiskan dana kasnya. Karena setelah semua masalah selesai
dibahas dalam seminar. Kemudian tidak ada tindak lanjut lagi
sesudahnya. Termasuk dalam kategori ini adalah seminar yang
diselenggarakan Interpeace yang pernah saya hadiri.

Ironis…karena saat begitu banyak lembaga dan NGO Internasional di
Aceh yang kesulitan menghabiskan dana kasnya. Kita baca di koran dan
kita saksikan di televisi, menjelang habisnya masa tugas BRR dan NGO
Internasional di Aceh ini. Masih ada lebih dari 3000 keluarga korban
tsunami yang belum mendapatkan rumah yang menjadi haknya dan sampai
hari ini masih tinggal di barak pengungsi.

Wassalam

Win Wan Nur
http://www.winwannur.blogspot.com