LAGU Jazz Masquenada berlanggam bossanova mengalun di aula Herasmus Huis, Kedutaan Belanda, Jl. Rasuna Said, Jakarta Selatan, seusai jam makan siang di Minggu, 18 Januri 2009 itu. Matt Mulenweg, 25 tahun, bercelana blue jeans berkaos dilapis kemeja lengan panjang katun pink mendekati warna putih, memotret pertunjukan. Dengan sepatu merah Converse berbintang putih. Dia miliarder, pernah menangguk US $ 40 juta dari mendirikan WordPress, aplikasi enjin blog open source di internet, dipakai banyak blogger dunia.

Tidak hanya Masquanada. Lagu The Girl from Ipanema, Aqua de Beber , My Cherie Amor, dan Juwita yang pernah dilantunkan Alm Chrisye. Atmosfir membuat kepala turut bergoyang. Kamera Matt terus saja menjepret. Saya perhatikan dari kursi belakang, Matt duduk ke depan. Tangannya menepuk-nepuk paha. Sekilas dengan tali kamera di leher, ia terlihat laksana wartawan foto. Di level High School for the Performing and Visual Arts, Matt memang mengambil studi jazz, memainkan saksopon. Ada lima lagu yang dibawakan oleh dua pemusik, elektrik piano Roland dan gitar dari wartajazz.com, sebagai pendukung acara dua hari itu.

Memperhatikan orang bermain musik, mampu memainkan alat musik, penyesalan mendalam sedalam-dalamnya akan iklim pendidikan saya di kampung dulu. Kami kebanyakan hanya diwajibkan mengaji. Hari-hari bicara pahala, dosa. Paman-paman saya, tidak satu pun mampu memainkan alat musik. Entah ada implikasinya ke karakter, menjadikan kami orang yang gampang naik darah. Ditambah pula, pola makanan berdarah santan mendidihkan rendang, klop sudah: temperamen.

Bandingkan dengan Matt. Bicaranya ramah. Bahkan untuk ukuran eksekutif bule kebanyakan, di saat berjabatan tangan di Sabtu pagi di saat pembukaan Wordcampindonesia Pertama, itu full senyum. Penampilan bersahaja, seakan menimbulkan tanya di benak saya: ini Mattt yang di foto di yang ada di Wikipedia atau bukan? Ketika bicara di forum di sesi kedua, ia terlihat rileks sekali. Bicaranya datar, namun jernih menyampaikan pokok pikiran. Ketika mempersilakan peserta bertanya dengan entengnya Matt mencangkung di tangga panggung.

Body language-nya tidak macam ekskutif bule yang jaim.

“Blogger Indonesia suka foto-foto.”

Itu kalimat yang disampaikan Matt kepada Wicaksono, wartawan Koran Tempo, yang akrab dengan blog ndorokakung. Itu artinya mengomentari sesuatu pun, Matt ringan-ringan saja.

Tetapi, bisa jadi itu sebuah pengamatan jitu. Masih sedikit blogger di Indonesia yang memproduksi konten sendiri. Matt mampu membedakan blogger Indonesia dengan blogger yang ditemuinya dari berkeliling dunia menjadi pembicara.

Berbeda sekali ketika pendiri Microsoft datang ke Indonesia, sebagai mana pernah saya tulis dengan judul Gates Mengaplikasi Jagad: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=99, Mei 2008 lalu. Tentulah tak bisa membandingkan Matt, baik dari kekayaan dan sambutannya di Indonesia. Ketika Gates datang, presiden menyambut, membuat kuliah khusus yang diselenggarakan Kadin Indonesia.

Ketika Matt Mullenweg mara ke sini, panitia hanya anak-anak muda, para blogger yang ber-tshirt ber-jeans. Beda sekali di saat Bill Gates tampil, pengusaha berbondong-bondong tampil dengan jas terbaik. Bahkan saya pun muncul di forum itu memaksa diri berjas rapi.

Padahal Matt, adalah juga pengusaha. Pengusaha seutuhnya, yang menggunakan kecerdasannya menghasilkan karya, bukan memprodukkan politik sebagai karya, yang belakangan seakan menjadi trend dominan di Indonesia di saat pululan partai politik mewabah.

Kehangatan yang dalam, justeru terasa sekali di diri Matt di Indonesia. Sisi manusia, harus dihargai dari karyanya, bukan kulitnya. Sebuah dunia yang seharusnya memang demikian adanya.

Karenanya saya tak habis pikir bila ada pengusaha di Kadin Indonesia yang mengusahakan konten, baru di level SMS Premium – – satu dua layak pula dimasalahkan kontennya – – kemudian memegang dana US $ 6 juta, kini ke mana-mana naik Range Rover Vogue, bahkan di foto-foto di internet pun menampilkan diri di samping jet pribadi, hadir di pertemuan dengan presiden dan menteri.

Alamak, jauh nian dengan langgam Matt itu.

Sehingga dari dua hari bertemu Matt, dari mengamati sosoknya, tiada lain kesan saya, bahwa sebagai manusia kita harus berkarya dan bermanfaat bagi banyak orang. Karenya saya merasa beruntung hadir.

Padahal hampir saja saya tak bisa datang. Pasalnya tanggal 17-18 Januari, saya sudah diberi tahu oleh panitia PS Blogging Competition, sejak 1 Januari, bahwa di tanggal itu dijadwalkan makan siang dengan Prabowo Subianto, sebagai hadiah menang kompetisi blog di tulisan: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=202.

Untuk hadir di acara dua hari itu, harus membayar Rp 400 ribu. Sebuah angka yang relatif memang. Tetapi jika di kantung sedang kosong, Rp 10 ribu pun terasa besar. Maka beruntunglah saya, seorang kawan di Jogja mentransferkan, membatarkan untuk saya di pukul 07.16, sebelum acara pembukaan jam 8. Maka ketika datang ke meja panitia pendaftaran, saya malu-malu menyebutkan: maaf Mbak, last minutes register.

PADA 23 Oktober 2008 lalu, Bill Kovach, penulis The Elemen Journalism bersama Tom Rosenstiel, di hadapan wartawan senior di Washinton DC, mengatakan blog yang dibuat oleh citizen reporter memiliki daya dorong.

Di acara dua hari bersama Matt, itu narasi yang saya tulis di presstalk.info ini, yang semula saya anggap sebagai buah karya citizen reporter itu, seakan mengilhami saya merumuskan produk lebih fokus: sebagai tulisan literary citizen reporter.

Karenanya blog di situs yang diprogram tersendiri di PHP itu, menjadi terpikirkan oleh saya untuk memakai SEO (search engine optimization) dan CMS (Content Management System) WordPress, agar lebih profesional, dan lebih jauh terdeteksi oleh enjin pencari di tingkat global, yang membuat blog lebih banyak dikunjungi, bisa dideteksi secara global. Apalagi pemakai Bahasa Indonesia sudah masuk urutan ke-3, setelah Inggris dan Spanyol di WordPress.

Dan bagi peserta lain yang hadir di acara dua hari itu, kian menguatkan keyakinan, bahwa ke depan, mereka akan lebih mengoptimalkan pemakaian WordPress. Bukan suatu hal aneh memang kemudian Matt membius kalangan blogger.

Apalagi bagi Matt perkembangan blog akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Blogger akan semakin banyak, seiring dengan berkembangnya teknologi broadband. Bahkan tren blog teks akan mengarah ke blog video (video blogging).

Saat ini, WordPress telah berkembang dengan pesat. Jika dahulu WordPress melayani sekira 99 persen blog dan satu persen hosting CMS. Sedangkan saat ini antara layanan blog dan CMS Hosting telah setara, atau sekira 50 – 50.

"Dahulu kami membuat WordPress bukan profit oriented. Tujuannya bukan untuk menjaring banyak orang lalu dijual ke Google, tapi menjaring komunitas agar dapat terus digunakan. Jadi bila nantinya tak ada uang pun tidak apa-apa.”

Untuk membuat blog lebih efektif dan nyaman dibaca, Matt memberikan sebuah tips. Sebelum membuat blog, pilihlah tema yang sesuai dengan hati kita, apa yang ingin kita share dengan orang lain harus menyenangkan diri kita terlebih dahulu.

"Kalau kita sudah interest dan senang maka otomatis kita akan berkembang," ujarnya.

NAMA lengkapnya Matthew Charles Mullenweg, akrab dikenal dengan Matt Mullenweg .

“Blog tempat aku menulis, tempat kamu membaca tulisanku, dan tempat kita berdiskusi mengenai semua hal yang ada di pikiran kita dan yang kita tuliskan ke media blog.”

Karenanya Matt menginginkan WordPress menjadi bernilai bagi komunitas. Pengembangan demi pengembangan membuat WordPress makin disukai pengguna. Layanan WordPress makin lengkap, dari fasilitas untuk add-on, pembuatan statistik, hingga anti-spam.

Pada 2005, Matt tercatat mendirikan Automatti dan Akismet yang menjadi anak perusahaan WordPress, di saat ia berusia 21 tahun. Ia dinobatkan salah satu dari 25 pengusaha paling berpengaruh dalam industri teknologi informasi versi majalah Businessweek.

Berkat WordPress, Matt masuk pula sebagai 50 orang paling penting di dunia jejaring web oleh PC World pada tahun lalu.

Ingat, Matt pengusaha, lho!

Kisah bermula pada Juni 2002, ketika Matt mulai menggunakan perangkat lunak blog, b2/ cafelog. Pada Januari 2003, Matt mengumumkan melalui blog-nya bahwa dia akan mengembangkan b2 sehingga sesuai dengan standar jejaring saat itu. Bersama Mike Little, dia mulai mengembangkan WordPress berbasis b2.

Kemudian, mereka juga bergabung dengan pengembang asli b2, Michel Valdrighi. Itulah cikal bakal berdirinya WordPress.

Pengembangan demi pengembangan membuat WordPress sebagai perangkat lunak blog handal. Pada April 2004, WordPress mengumumkan fasilitas Ping-O-Matic yang berfungsi untuk mengirim notifikasi kepada search engine blog seperti technorati.com.

Beberapa situs terkenal seperti The New York Times, The Wall Street Journal,CNN, dan Friendster menggunakan WordPress dalam situs mereka. Di Indonesia, Kompasiana.com, salah satu blog yang memakai WordPress, sebagaimana dipaparkan Pepih Nugraha di hari kedua acara Wordcampindonesia itu.

WordPress dikunjungi lebih dari 103 juta pengunjung di seluruh dunia pada tahun lalu.

Selain WordPress, Matt mendirikan Global Multimedia Protocol Group (GMPG), format yang lebih kompleks dari HTML. Pada April 2004, ia jebol kuliah dan pindah dari Houston ke San Fransisco, bekerja pada CNET selama setahun. Di sana, ia berhasil meluncurkan Automatic dan Askimet, sebuah peranti lunak untuk memblok spam.

”Uang dan gaji bukanlah motivasi utama. Namun, fokus pada yang disukai motivasi unggulan,” ujarnya.

Tekad Matt ingin membuat situs blog memudahkan para pengguna membuat situs online. Dia ingin semua orang dapat membuat blog. Kemudahan itu yang pada akhirnya mengantarkan WordPress cenderung popular.

Ia ingin memenuhi keinginan pengguna, termasuk pemenuhan open source yang terus berkembang.

”Pekerjaan saya seperti memberikan hadiah pada dunia ini, gratis untuk semua orang, semua orang dapat menggunakan hasil kerja saya.” tuturnya pada bloginterviewer.

Matt mengaku sukses yang didapat WordPress adalah buah kerja sama dengan banyak orang.

”Saya bekerja dengan orang-orang yang luar biasa dan membantu mendemonstrasikan kegiatan publishing di website. Inilah yang membuat WordPress berkembang pesat.”

DI SELASA siang, 20 Juni 2009, saya mendadak ditelepon seorang kawan, yang sejak lama melakukan developmen di aplikasi dan konten. Ia baru saja membuat enkripsi sekaliber aplikasi VerySign, yang 5.09 – – saya lihat tidak kalah.

“Memang kita harus selalu tergantung asing?”

Sosok yang membenamkan umur dan waktu untuk riset itu, bersama saya beberapa kali mengerjakan pengembangan aplikasi, termasuk pernah membuat 3d animasi wayang lima tahun lalu. Ini sudah tak terhitung entah untuk ke berapa aplikasi yang dibuatnya.

Ketika menemuinya di Dusit Mangga Dua, Jakarta Utara, saya perhatikan sudah ada produsen Handset yang ingin membundling aplikasinya, antara lain sekilas dapat disimak di Sipworldwide.com.

Kepada saya, kawan itu bertanya, “Apa kelebihan Matt?”

“Kita juga bisa dan lebih seperti Matt?”

Wah, saya dicecar oleh kawan itu.

“Dari mana Matt dapat uang?”

Agak lama saya terdiam. Hal yang lupa saya tanyakan. Namun kawan itu menduga, dari menjual sahamnya.

“Matt beruntung, di negara di mana ada venture capital yang mendukung untuk anak-anak muda berkembang,” kata kawan itu lagi, “Logika pikir Matt sama dengan kebanyakan pengembang di Indonesia, yang beda negeri kita ini negara tidak berpihak ke anak bangsanya.”

Pulang dari Dusit, Mangga dua, saya menaiki Mikrolet ke arah Kota. Ternyata Mikrolet banyak kosong, dan di jarak sepuluh meter sudah saling ngetem. Setelah membayar Rp 2 ribu untuk jarak tak sampai 100 meter, saya turun lalu memilih naik ojek, jalanan macet.

Abang ojek tak kalah sakti, ia menancap motor melawan ruas jalur. Tak sampai 5 menit saya sampai di Stasiun Kota. Baru tahu saya bahwa untuk menuju terminal Busway, sudah setengah jadi jalan terowongan bawah tanah. Dan di bundaran Kota di depan stasiun kereta api itu bak bulatan menganga, tampak akan disulap taman, baru setengah jadi.

Seperti biasa fasilitas umum, walaupun dibangun beton, perkara perawatan tidak dilakukan. Lantai berpasir, bertanah, berdebu. Ketika menaiki jalan benton melengkung ke bagian karcis Busway, lantai semen bolong-bolong, macam habis diinjak kendaraan berat, padahal yang lewat cuma manusia.

Itu artinya, bahan campuran semen dan pasir yang dipakai pemborong, layak dipertanyakan. Amat disayangkan bila demikian selalu laku di ranah pengusaha di land base, yang mengerjakan proyek pemerintah.

Toh jika disalahkan pengusaha, ia akan menuding pemerintah, karena minta jatah. Sebaliknya ditanya pemerintah, pengusaha yang salah. Warakadah!

Makanya, dunia online memang memberi harap bagi insan yang mengedepankan karya. Sebagaimana kata Novyanto, peserta yang bergerak di jasa usaha jaringan, yang ikut dalam dua hari acara Matt di Jakarta, “Memberi motivasi untuk diri sendiri agar bangkit.”

“Bahwa di luar kita, dunia sudah banyak berubah.”

Novyanto benar.

Saatnya kita, anak Indonesia bersatu di dunia online untuk menggarap berbagai peluang yang ada di dunia. Itulah setidaknya pesan akhir yang dapat saya tangkap dari kehadiran Matt ke Jakarta. Dan ingat, Matt bukan sosok programer handal lho, ia hanya beride, mewujudkan karya untuk bermanfaat bagi sesama.***

Iwan Piliang, literary citizen reporter, presstalk.info