Ada cukup banyak hal yang tidak saya mengerti tentang perilaku warga  tempat saya tinggal di Kampung Bukatanah, Desa Langensari, di Kawasan  Bandung Utara, semenjak saya tinggal di sana sekitar 3 tahun lalu.
Salah satunya adalah mengenai hajatan. Hajatan, dalam pengertian saya
selama ini, adalah peristiwa yang menyenangkan, dari sisi pengundang
dan yang diundang. Tetapi seringkali saya amati, ada sesuatu yang
tidak biasa di kampung kami dan sekitarnya, seperti yang terjadi
kemarin.

Sepulang mengantar-jemput anak saya sekolah, saya melewati rumah Mang
Yaya, yg sejak kemarin ini sampai Rabu besok, mengadakan hajatan
sunatan cucunya. Ya, untuk sebuah sunatan, mulai dari persiapan masak-
memasak sampai dengan acara selesai memakan waktu 3-4 hari. Dan
`pakem' ini juga diikuti keluarga Mang Yaya, yg merupakan salah satu
keluarga miskin di kampung kami.

Setelah mengantar anak sampai di rumah, saya berjalan kaki menghampiri
rumah Mang Yaya, ingin menanyakan apakah mungkin ada yang bisa ikut
saya bantu, misalnya mengantar belanja bahan makanan. Ternyata saya
terlambat, semua bahan makanan sudah dibeli Senin subuh.

Saya menghampiri kelompok ibu2 yang sedang memasak, dan menyapa: "Wah,
enak sekali kerja bareng, bisa sambil ngegosip. Gosip apa nih yang
lagi rame?" Ibu2 pun tertawa. Di pojok yang lain, kelompok bapak2
mempersiapkan daging sapi untuk dijadikan sate. Saya kira plus
ngegosip juga. Saya menikmati suasana itu, bekerja bersama untuk
hajatan bersama. Saya kira di banyak kampung di Indonesia, masih bisa
ditemui hal seperti ini.

Tiba-tiba Mang Yaya setengah berbisik mengajak saya berbicara, dan ia
menarik saya ke kamar Pipin anaknya. Saya ikuti saja. Setengah
berbisik Mang Yaya cerita kalau dia perlu uang untuk hajatan itu.
Seperti biasa, saya diam mendengarkan. Mang Yaya bilang, kalau
seseorang menjanjikan pinjaman 10 juta untuk acara itu, namun
kenyataannya hanya 5 juta yang cair. Padahal semua sudah diatur untuk
hajatan senilai 10 juta. Halah, pikir saya, anggaran hajatan sunatan
sebuah keluarga miskin besarnya 10 juta? (Belakangan saya perkirakan
jumlah itu bisa membengkak jadi 15 juta) Kekurangan Mang Yaya katanya
tidak 5 juta, karena di sekitar kampung kami sudah ada beberapa orang
yg melihat peluang bisnis hajatan yang memang kerap dilakukan. Untuk
idangan (bingkisan dalam plastik berupa 4 buah Sarimi, telor, dan
minyak goreng, untuk dibawa pulang para tamu) sebanyak 400 kantong,
Mang Yaya bisa bayar belakangan kepada orang itu. Tentu dengan harga
yang lebih tinggi dari harga pasar. Saya hitung sekitar 10-15% lebih
tinggi. Pemberi pinjaman mau melakukan itu karena nanti akan
dibayarkan dari `angpao' para tamu. Saya tidak mengomentari cerita
Mang Yaya lebih jauh, hanya tidak masuk di akal saya, hajatan sunatan
sebuah keluarga miskin, besarnya lebih dari 10 juta, karena ada 400
undangan. Saya pun pamit kembali ke rumah untuk makan siang.

Lepas makan siang, saya harus ke bengkel di daerah Cikidang untuk
memperbaiki mobil tua saya. Di perjalanan saya melihat 3 orang ibu2
dan anaknya berpakaian rapih, berjalan searah dengan tujuan saya. Saya
menepi dan menawarkan tumpangan. Mereka pun naik. Saya tanya mau ke
mana? Hajatan. Lho, ada lagi hajatan selain di tempat Mang Yaya? Iya,
Sep (hehehe kerap nama saya berubah jadi Asep oleh banyak orang).
Minggu ini ada tiga, jawab ibu yang satunya. Pusiiiiing.

Kenapa pusing? tanya saya. Kan enak, makan sate (Tiap hajatan yg saya
kunjungi, makanannya nyaris sama. Prasmanan. Dan sate sebagai lauk
utama). Bukan makan sate, Sep, tapi beli sate, seloroh salah satu dari
mereka. Halah, ini keanehan yg lain lagi. Memang, hal ini sudah sering
dengar. Orang2 yang mengeluh ketika musim hajatan tiba. Hajatan yg
selazimnya menjadi hal yg menyenangkan, di satu sisi ternyata menjadi
keluhan sebagian (besar?) orang. Karena untuk datang ke hajatan,
undangan `wajib' membawa `angpao' yg kelaziman nilainya sudah `baku'.
Saya tahu ini dari Bi A'ah, tukang masak keluarga kami. Kalau keluarga
dekat besarnya 100 ribu. Kalau yang lainnya biasanya 50 puluh ribu.
Bawa lebih kecil dari itu akan diomongin. Dan sepengetahuan saya,
sangat banyak tetangga kami yg uangnya hanya ada untuk hari itu. Uang
untuk besok, gimana besok saja. Jadi bisa diduga, sangat banyak orang
yg datang ke hajatan itu dengan `angpao' hasil pinjaman. Kalau ada 3
hajatan dalam seminggu, tentu kepusingan warga semakin besar. Menurut
saya, mungkin ini salah satu sebab warga kampung kami tidak bisa
menyediakan uang untuk keperluan pendidikan anak dan cucu mereka.
Sampai sekarang, hampir semua warga kampung kami hanyalah lulusan SD.
Padahal jarak tempat kami ke ITB (baca: `Pusat Peradaban' itu) hanya
7,5 km.

Saya bukan sosiolog dan saya tidak ingin menilai bahwa fenomena
hajatan di kampung kami (besar kemungkinan juga terjadi di kampung2
sekitar kami) adalah sebuah kesalahan. Tapi ada hal2 yang belum bisa
masuk di akal saya, terutama mengenai besarnya biaya hajatan sunatan
untuk sebuah keluarga miskin dan pinjam uang untuk `angpao' hajatan.
Dan kalau saja tidak kerap terdengar keluhan tentang ini, mungkin saya
tidak merasa perlu membuat tulisan ini.

horas!
erwin