Tadi siang aku menghadiri acara ulang tahun Lyndon, teman sekelas anakku yang punya bapak Argentina dan ibu Italia. Acara di rumah Lyndon ini adalah pesta ulang tahun lanjutan setelah sebelumnya diadakan sebuah perayaan sederhana di Montessori.



Perayaan ulang tahun anak-anak yang diadakan di Montessori itu, meski
sederhana tapi sangat bermakna. Anak-anak yang merayakan pesta di
larang membawa makanan-makanan yang tidak sehat. Kue yang dibawa untuk
merayakan ulang tahun di Montessori, biasanya kalau bukan kue wortel
ya kue pisang. Ini untuk membiasakan anak-anak makan makanan sehat.

Tapi yang paling menarik dari perayaan ulang tahun di Montessori
adalah prosesinya, seperti yang kusaksikan dalam rekaman perayaan
ulang tahun Matahari Kecil tanggal 7 Desember yang lalu (aku sendiri
tidak hadir di sana karena ada di Banda Aceh pada waktu itu).

Dalam prosesi itu, anak yang berulang tahun berdiri di tengah
lingkaran dengan dikelilingi teman-temannya. Di pusat lingkaran itu
ada selembar kertas bundar bertuliskan matahari, lalu ada dua kertas
bundar lain berukuran lebih kecil bertuliskan bumi dan bulan. Lalu si
anak yang berulang tahun mengitari lingkaran-lingkaran di tengahnya
bulan perbulan sampai genap setahun. Setiap satu langkah mereka
bernyanyi yang lirik nyanyiannya berbunyi bulan telah selesai
melingkari bumi dan setiap menylesaikan langkah ke dua belas tepat di
7 Desember. Mereka menyanyikan bumi telah selesai mengitari matahari.

Saat mengitari lingkaran itu, anak yang berulang tahun memegang album
foto yang berisi foto-fotonya sejak lahir sampai hari ulang tahunnya
itu. Setiap satu langkah dia berhenti dan menunjukkan foto-foto di
album itu kepada teman-temannya. Sehingga dia dan teman-temannya bisa
merasakan pertambahan umurnya. Mereka bisa menyaksikan perubahan
bentuk tubuh dan wajahnya dalam setiap kurun waktu perputaran bulan
dan tahun yang digambarkan dengan kertas-kertas bertuliskan bulan,
bumi dan matahari yang dikelilinginya.

Cara perayaan seperti ini bermakna, karena dengan cara itu, dengan
melihat fotonya selama waktu-waktu yang dilewatinya. Anak-anak
betul-betul menghayati pertambahan usianya dan juga sekaligus
pertambahan usia bumi, planet yang menjadi tempat tinggalnya ini.
Satu-satunya planet yang sejauh ini diketahui cocok untuk menjadi
tempat segala bentuk kehidupan, mulai dari kehidupan terendah makhluk
bersel satu sampai ke kehidupan tertinggi Manusia, makhluk yang
memiliki kesadaran dan kemampuan intelektual.

Dengan kemampuan intelektualnya manusia bisa menentukan hitam putihnya
planet ini. Dengan kemampuan intelektualnya Manusia bisa menyebabkan
kepunahan suatu spesies atau juga mempertahankannya. Dengan kesadaran
dan kemampuan intelektualnya Manusia bisa menetukan sejauh mana planet
ini bisa bertahan sebagai tempat yang nyaman bagi kehidupan.

Perayaan ulang tahun semacam ini bagiku sangat bermakna, karena anak
yang berulang tahun itu adalah anak manusia. Makhluk yang beberapa
tahun ke depan akan mejadi sosok-sosok yang bertanggung jawab atas
kelangsungan planet ini. Dengan perayaan semacam itu ditambah dengan
pengetahuan-pengetahuan lainnya. Tanpa sadar dalam diri para calon
KHALIFAH ini telah tertanamkan rasa cinta terhadap BUMI, planet biru
tempat tinggalnya ini. Kesadaran ini penting karena tanpa ada rasa
cinta dan sayang terhadap planet ini, beberapa tahun ke depan planet
ini bisa musnah. Sebagai gambaran betapa riskannya keadaan bumi saat
ini. Hanya dalam waktu kurang dari seabad manusia, makhluk yang
memiliki akal budi ini sudah berhasil menciptakan sebegitu banyak
senjata nuklir sehingga dengan kekuatannya cukup untuk menghancurkan
planet ini sampai TIGA PULUH KALI. Belum lagi kita bicara tentang
kehancuran yang disebabkan manusia terhadap atmosfer yang untuk bisa
nyaman kita hirup seperti sekarang ini, sebelumnya harus melalui
proses poanjang yang milyaran tahun lamanya (sementara manusia belum
ada 100 ribu tahun menghuni planet ini)

Perayaan ulang tahun sederhana seperti ini menurut pandanganku jauh
lebih bermakna dibandingkan ulang tahun ala kaum hedonis yang kadang
juga dirayakan di rumah karena keinginan orang tua. Perayaan ulang
tahun ala hedonis semacam itu salah satunya seperti acara ulang tahun
Lyndon yang kuhadiri kemarin.

Acara ulang tahun Lyndon diadakan di rumahnya yang khas rumah kaum
ekspatriat. Bertembok tinggi, berhalaman luas dan dilengkapi kolam
renang. Di acara itu ada badut, pesulap, acara menembak dan lain-lain.
Berbagai jajanan tidak sehat juga tersedia, mulai dari potato chips
sampai goreng-gorengan berminyak. Untuk minuman tersedia mulai dari
yang sehat semacam jus jeruk, jus apel sampai ke yang berbahaya coca
cola, fanta dan sejenisnya. Untuk orang tua disediakan minuman
beralkohol, Wine, Champaigne sampai Vodka.

Dalam acara di rumah Lyndon, yang diundang bukan hanya anak-anak
Montessori tapi juga anak-anak tetangga dan teman orang tuanya yang
bersekolah di sekolah-sekolah internasional lainnya, di pesta itu
mereka semua berbaur bersama dan tidak kelihatan lagi bedanya.

Tapi pada saat acara pembagian kue, atau acara rebutan mainan.
Anak-anak dalam kerumunan itu langsung terlihat berbeda. Sementara
anak-anak lain yang rata-rata berkulit putih, berhidung mancung dan
berambut pirang langsung menyerobot antrian, meraup semua mainan yang
diperebutkan. Anak-anak Montessori tidak peduli kewarga negaraan dan
warna kulitnya apa. Lyndon orang Argentina-Italia yang putih,
Matahari Kecil orang Gayo yang coklat, Karuna orang Jepang yang
berkulit kuning atau Niluh Inggris-Indonesia yang putih kecoklatan.
Terlihat tertib dalam antrian dan hanya memilih apa yang mereka
perlukan saat mengambil mainan.

Aku, Ian, Mike dan Cybill para orang tua anak-anak Montessori yang
hadir dan duduk santai di atas rumput di samping kolam renang.
Geleng-geleng kepala memperhatikan adegan di depan kami, lalu
kemuadian mengatakan betapa beruntungnya kami, anak-anak kami diterima
di Montessori.

Melihat pemandangan itu aku jadi teringat pula pada tulisan dalam
buku-buku antropologi karangan penulis-penulis eropa abad ke 19 yang
pernah kubaca. Dalam tulisan-tulisan ini mereka masih memahami teori
evolusi dengan begitu naif dan sederhananya. Saat mereka memahami
kalau proses evolusi manusia dalam jangka yang pendek sekali dan
percaya kalau proses evolusi yang sederhana itu masih berlangsung
sampai sekarang. Dalam salah satu buku yang kubaca ada tertulis
mengenai begitu bervariasinya peradaban di Nusantara. Dalam buku itu
dikatakan, di sebagian daerah peradaban dan penampilan fisik orangnya
sudah sedemikian majunya sampai sudah mendekati orang eropa. Sementara
di bagian lain yang masih begitu primitif karena baru saja mengalami
evolusi dari Orang Utan berubah jadi Manusia.

Pemahaman zaman itu, bahwa proses evolusi diawali dari titik terendah
makhluk bersel satu sampai menuju proses tertinggi menjadi makhluk
berperadaban tinggi, yaitu manusia dengan ciri fisik berkulit putih
dan berhidung mancung. Pemahaman seperti ini cukup lama bertahan,
pemahaman seperti ini pula yang nyaris memusnahkan ras Aborigin di
Australia sana yang dibantai tanpa ampun oleh kulit putih eropa karena
hanya dianggap sebagai sub-human alias setengah manusia yang proses
evolusinya dari orang utan belum sepenuhnya sempurna.

Tapi penelitian selanjutnya dan terus menerus membuktikan bahwa
meskipun indikasi yang ada menunjukkan kalau sepertinya proses evolusi
itu pernah ada, tapi prosesnya tidaklah sesederhana bayangan kaum
ilmuwan abad ke 19 dan abad-abad sebelumnya. Penelitian lanjutan
menunjukkan kalau manusia dari ras apapun kulit berwarna apapun adalah
satu spesies yang sama. Yang mebedakan tingkat peradaban bukanlah ras
atau warna kulit tapi pola asuh dan pola prestise yang berlaku di
lingkungannya.

Bukti kebenaran penelitian terbaru ini kemarin ada di depan mata saya.
Anak-anak Montessori dengan warna kulit yang berwarna-warni tapi
dibesarkan dalam pola asuh dan pola prestise yang sama jelas terlihat
jauh lebih beradab dibandingkan anak-anak berkulit putih, berhidung
mancung dan berambut pirang yang bersekolah di sekolah internasional
lainnya yang seringkali justru lebih mahal bayarannya.

Karena pemahaman tentang evolusi itu awalnya berkembang di eropa dan
penelitian lanjutannyapun juga lebih dulu dipahami di eropa dan
negara-negara yang memiliki kebudayaan eropa sehingga di eropa
sendiri, yang pernah menjadi pusat rasisme dunia. Sebenarnya
pemikiran seperti abad ke 19 itu sudah nyaris tidak ada lagi kalau
tidak bisa dikatakan sudah punah.

Tapi justru di Indonesia, negara yang katanya punya peradaban tinggi
yang adi luhung ini pemikiran ala ilmuwan abad ke 19 itu masih tetap
eksis. Di sini anggapan bahwa kulit berwarna adalah makhluk yang lebih
rendah dari kulit putih itu masih subur berkembang. Adalah
pemandangan biasa kita melihat orang berkulit coklat yang minta
berfoto dengan orang kulit putih yang ditemuinya yang gunanya
seringkali cuma buat dipameran ke teman-teman di kampungnya. Foto yang
ditunjukkan dengan rasa bangga itu biasanya dipandangi dengan iri oleh
teman sekampungnya.

Perlakuan rasis berkaitan dengan warna kulit justru lebih sering
kuterima di Indonesia. Ketika berjalan bersama kolega berkulit putih
yang menganggap aku sebagai teman yang setara. Justru orang berkulit
coklat yang melihatnya yang biasanya menganggap kami tidak setara.
Biasanya aku selalu dianggap anak buah teman kulit putihku itu. Sifat
rasis seperti ini kadang terasa sangat mengganggu karena saat melayani
pesananan di satu restoran atau malah dalam angkutan umum, selalu
teman kulit putihku itu yang didahulukan.

Seringkali sifat rasis yang bersifat rendah diri di kalangan kulit
coklat ini begitu parahnya, pemujaan mereka terhadap makhluk dengan
spesies yang sama dengan dirinya sendiri tapi berkulit putih
sedemikian tingginya. Di Indonesia ini segala sesuatu yang berbau
impor dianggap sebegitu hebatnya. Sampai pernah suatu saat, ketika aku
mem-post di facebook foto-foto Matahari Kecil bersama teman-temannya.
Ada sebuah komentar dari orang berkulit coklat yang ironisnya memiliki
pendidikan tinggi dan berasal dari keluarga terhormat pula. Hebat ya
si Matahari Kecil, temannya 'impor' semua...begitu katanya.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blogspot.com

Note : Yang merasa pernah ngasi komentar seperti itu, disentil begini
jangan marah ya...he he he