menurut orang-orang bijak di negeri saya,
preman di pasar yang suka malakin pedagang adalah orang yang tidak beragama,
perampok yang minggu lalu membunuh istri pak haji adalah orang yang tidak beragama,
rosma yang hamil di luar nikah adalah orang yang tidak beragama,
juga nofrizal dan yenti yang tertangkap basah berduaan berdekapan telanjang di rumpun bambu,
adalah orang yang tidak beragama,

menurut mereka orang-orang bijak dan bermoral di negeri saya,
sekretaris desa, pak syamsul, yang ‘makan’ uang desa adalah orang yang tidak beragama,
pak bachtiar yang maksa muridnya beli buku seharga dua kali lipat harga pasar adalah orang yang tidak beragama,
apalagi pak efendi yang ngehamilin keponakan penjaga sekolah,
juga ibu rostina yang suka ngutang di warung terus tidak mau bayar,
jelas tidak beragama,

semua tabiat, perangai, perilaku, serta tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat,
tindak tanduk, tanduk tindak, sifat sikap, dan sepak terjang yang demikian adalah refleksi ketidak beragamaan,
kalau manusia-manusia bijak tadi lagi emosi mereka bisa-bisa bilang orang yg saya sebut tadi sebagai manusia kafir, kafir kafirun, khufur al khufur, haram jadah, kambing sipilis, kantuik balapuik;

saya lupa entah siapa yg memberi otoritas mutlak pada orang-orang bijak tadi,
untuk mengkambingfikasikan orang jahat = orang tidak beragama,
orang tidak mengikuti norma = orang tidak beragama,
orang beragama = orang baik;

dan saya juga lupa dari mana mereka memperoleh wahyu kewenangan,
dan tidak segan-segan juga mengkambingtegorikan, orang tidak beragama = orang jahat;

dan saya benar-benar takjub,
ketika anak negeri yang sekolah tinggi,
juga manggut-manggut manut, mengho’ohkan (ho’oh, ho’oh…) fatwa para orang-orang bijak wal suci tadi;
orang jahat = orang tidak beragama
orang tidak beragama = orang jahat;
orang tidak mengikuti norma yg terlanjur berlaku = orang jahat,
dengan demikian secara matematik juga = orang tidak beragama;

dan teman saya daud, biar mulai rajin ke gereja, serta berdoa tuhan bapa yesus penggembala domba,
adalah orang tidak beragama,
karena daud tidak bermoral,
karena daud suka ngeseks tanpa nikah,
padahal, demi allah subhawanata’ala, daud adalah orang baik,
kecuali suka ngeseks tadi, (kalaulah kita definisikan seks tanpa nikah itu perbuatan jahat)

dan roni adalah orang tidak beragama
(dengan sendirinya = orang jahat);
karena tidak sembahyang,
kecuali kalau lagi iseng;

robi apalagi,
tidak puasa, berarti = orang tidak beragama = orang jahat;

di kantor saya ada orang baik sekali, baeek banget.
namanya andrew, bule pirang 38 tahun asal birmingham,
tapi dia adalah orang tidak beragama,
yesus bagi dia adalah dongeng berasal dari kebudayaan kuno;
beruntung dia tidak terexposed ke komunitas orang bijak di negeri saya,
dimana orang yang meniadakan tuhan versi mereka,
adalah orang yang rendah dan hina;
dan kadang nyawanya adalah halal;

ngomong-ngomong,
orang bijak di negeri saya belakangan sudah bisa baca koran,
jadi tau itu apa artinya atheist,
yaitu katanya orang yg tidak percaya tuhan;
(tuhan per definisi tuhannya orang beragama, e.g. islam, kristen, etc);

nah, orang atheist adalah orang hina dan rendah,
bisa dikembangkan lagi prasangka dan syakwasangka astaughfirullah ini,
bahwa orang atheist adalah orang yang tidak takut dosa,
jadi tidak takut maling, nipu, ngerampok, ngebunuh, perkosa, korupsi,
kencing di sumur desa, serta buang berak di halaman masjid;
itulah orang yang tidak beragama;

orang bijak di negeri saya itu,
juga anak cucunya yang sudah sekolah tinggi,
telah memenjarakan dan mengkerangkeng otaknya agar tidak bergerak kesana
kemari dan berfikir lebih jauh dan lebih cerdas;
mereka juga mengikat dan membungkus erat-erat hati nuraninya biar tidak bisa
mengembang merespon nilai-nilai kemanusiaan secara lebih jernih;

mereka puas dan happy banget dengan pemahaman meraka tentang orang
jahat, orang tidak mengikuti norma, orang tidak bermoral, orang tidak beragama, orang atheist, dll;
dan sangat berbahagia dengan hubungan matematis yang telah mereka definisikan untuk orang-orang tersebut;
biar kata juga manusia sudah ke bulan,
atau bulan sudah ke matahari, pasaraya, sogo, ramayana;
peduli apa mereka,
that has nothing to dengan nilai-nilai agama kata mereka,
wong ini titah tuhan,
(tuhan versi mereka tentu saja);

dan selama 1+1 =2, maka formula aritmetika mereka tentang orang jahat atau
orang tidak beragama akan tetap sama;
kenapa?
jangan tanya saya, ‘njul;
tanyalah ebiet g ade,
biar ebiet g ade ntar nanyainnya ke rumput yang bergoyang,
sambil bermain gitar;

jadi, jika kalian wahai para temanku yang baik hati,
para handain taulanku yang berjiwa mulia,
jika kalian hidup di negeri awan,
baiknyalah para kalian untuk beragama,
apapun agamanya,
yg penting ada,
islam mungkin lebih baik;
lalu yakinkan itu tercetak di ktp, sim, paspor, kartu berobat, kartu kredit, etc.

sesekali datanglah ke mesjid,
kalau lagi bertamu di waktu sholat,
numpanglah sholat pada tuan rumah,
di bulan puasa, ya usahakan puasa,
atau setidak-tidaknya kelihatan seperti puasa,
jika rezeki mu makin banyak,
pergilah ke mekkah al mukarramah,
mau naik haji, umroh, atau cuman pelesiran terserah,
(saya punya nomor telpon beberapa penyelenggara haji dan umroh plus jika
anda berminat);

penting,
sangat penting sekali beragama di negeri saya,
lebih penting daripada jadi orang baik,
tidak beragama bisa bikin nyawa sampeyan melayang;

agama lebih penting dari sekolah;
orang sekolah yang meninggalkan agama adalah anak bajingan lagipula malang dan tersia-sia;
sasek kaji, katanya;

agama penting banget;
agama lebih penting dari kompor,
agama lebih penting dari kolor;

selamat beragama,
semoga sukses!