kata pembantu di tempat kost saya,
agama dan kepercayaan juga lahir dari pertanyaan tak terjawab,
pertanyaan sederhana, siapa yang menciptakan alam semesta dan segenap
isinya,
dijawab dengan : tuhan atau dewa alias sang hyang;
dengan berbagai macam versi,
unsur rasionalitas didalamnya seiring dengan tingkat peradaban pada jaman
kapan dan tempat agama itu dirilis;

 

dalam perjalanan peradaban,
beberapa pertanyaan tidak terjawab mulai menjadi terjawab,
walaupun tidak ada yang bisa memastikan apakah itu sebuah jawaban yang
final,
pelangi, misalnya, bukanlah “selendang bidadari”,
tapi merupakan “an arc of colored light in the sky caused by refraction of
the sun’s rays by rain”
begitu jawaban sederhananya dalam konteks pengetahuan manusia sekarang;

tapi agama dan kepercayaan mengenai tuhan,
katanya adalah jawaban final,
proses pencarian jawaban berhenti, atau lebih tepat dihentikan, oleh pemeluknya,
atas perintah kitab suci;

dan, kata pembantu saya tadi lagi,
perkembangan sains tidak akan mampu walau untuk sekedar keep apace with
pertanyaan-pertanyaan manusia;
artinya banyak pertanyaan manusia yang senantiasa tidak akan terjawab;

maka dari pada itu,
karena tidak semua orang bisa tenang dengan pertanyaan tak terjawab,
karena banyak orang yang memang dasarnya gemesan dan galigaman atas
pertanyaan tak terjawab,
maka mereka akan berusaha memberikan jawaban,
walau pun tanpa rasionalitas yang cukup;
mereka tidak sabar menunggu waktu menjawab pertanyaan mereka,
ketika peradaban manusia mencapainya;

pembantu saya kemudian berkata,
jawaban-jawaban sering muncul malah bukan karena pertanyaan atas fenomena
alam atau kehidupan,
tapi untuk memuaskan imajinasi,
pencarian jawaban atas imajinasi yang menggemaskan lalu bercampur baur
dengan pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam
kehidupan yang bergulir;

di masa lalu — according to pembantu saya –
kombinasi keruwetan pertanyaan dan imajinasi ini,
di tangan orang yang jenius dan berhati mulia, apalagi memiliki darah
keturunan yang baik,
dapat melahirkan sebuah konsep kepercayaan dan agama,
dapat berakhir dalam sebuah kitab suci,
yang seringkali very amazing contentnya…
apalagi jika dilihat dalam konteks peradaban ketika kitab suci itu dilaunched;

di masa sekarang,
semuanya akan end up pada tulisan-tulisan fiksi sains,
film-film fiksi sains futuristik,
novel-novel dan film-film yang menjawab kegemasan, kegaligamanan,
ketidaksabaran manusia atas peradaban kini dengan ilmu pengetahuannya
memberikan jawaban;
targetnya tidak lagi umat pengikut,
tapi mungkin piala oscar.