Sjahrial Ong, pengusaha alat berat, pengurus di Kadin Indonesia mengundang saya makan siang, di Mall Kelapa Gading, Jakarta Timur. Di sebuh café, saya diperkenalkan kepada putera keduanya, William Ong, yang bekerja di sebuah perusahaan pensuplai Value Added Services (VAS) – – bagi memudahkan lema, saya memakai diksi konten – – untuk perusahaan penyelenggara telepon selular NTT DoCoMo, Jepang.

Sudah sejak lama Sjahrial ingin memperkenalkan puteranya itu. Pada kesempatan libur musim panas itulah, William bisa ke Jakarta. Sebagaimana sosok anak muda umumnya, William tampil resik, berkemeja putih lengan panjang tangan digulung, berpantalon warna kaki bahan katun, casual. Ia bercerita tentang mobile content (konten selular) yang booming di Jepang.

Sebelum era telepon selular tumbuh, masyarakat Jepang dikenal suka membaca komik. Maka beragam komik strip, pun menjadi konten di banyak handset di Jepang. Kala itu era pelayanan 3G sudah duluan, sehingga video streaming, bahkan termasuk film dalam durasi dua jam, utuh, dapat ditonton seketika melalui handphone.

Visualisasi komik, yang dianimasikan secara sederhana, bercerita tentang hal-hal lucu, di antara konten yang sangat diminati diunduh pelanggan.

“Pemerintah pun memberikan kemudahan bagi pengembang konten, untuk mendirikan perusahaan content provider. Pengembang cukup pergi ke lawyer membayar sekitar tiga ratus yen, cukup pula membuka rekening satu yen di bank, maka seketika beres, tinggal produksi,” ujar William.

Perusahaan Terbatas (PT), yang di Jepang dikenal dengan Y.K., bagi pengembang konten, diperkenankan berkantor di rumah. Di Tokyo, laku berkantor di kediaman itu akrab dikenal dengan SoHo, Small Office Home Office. Modal ventura pendukung pun ramah-tamah menyambut pengembang yang memiliki kreasi, untuk difasilitasi.

Maka, perorangan, atau pun tim yang kecil dapat berproduksi secara kondusif. Keadaan itu dimungkinkan pula oleh provider selular yang memberikan kebijakan pembagian pendapatan; 98% untuk pengembang konten, dan 2% saja untuk operator – – toh operator hidup dari jasa utama telekomunikasi.

Akibatnya, kreativitas pengembang bergairah kian tertantang. Muaranya kepada mancaragam konten hasil produksi, menjadi pilihan publik pelanggan.

Iklim usaha demikian, membuat pengembang konten tumbuh pesat. Di Jepang dan Korea kini, masing-masing ada lebih dari 10.000 pengembang konten.

Suplai konten ke operator tinggi. Tingkat pemakaian konten melalui unduhan naik menajam. Publik diuntungkan dengan lahirnya mancaragam konten tersaji bagi pelanggan.

Maka tak heran dalam setahun bisnis konten di Jepang kala itu, sudah mencapai lebih dari US $ 5 miliar. Dan konten sudah mendekati angka 50% dari total pendapatan operator. SK Telecom, Korea menghasilkan pendapatan 32% dari konten. Angka ini di tahun mendatang diperkirakan naik terus.

Tujuan Sjahrial Ong mempertemukan saya dengan William, semula untuk membujuk puteranya itu agar mau berusaha di Indonesia. Toh industri selular di tanah air juga tak kalah banyak.

Peluang besar.

Tetapi kemudian saya harus jujur kepada William.

Konten lokal pada saat itu baru dominan polling, quoting, yang dijalankan melalui short code number empat angka, melalui tarif SMS premium, di-charge di kisaran harga Rp 2 ribu/SMS oleh operator.

Untuk mendapatkan short code empat angka yang di-endorse lintas operator itu juga bukan urusan mudah. Pengurusannya terkesan tertutup dilakukan operator, menjadi semacam fasilitas, diberikan seakan terbatas.

Pembagian keuntungan, setelah dipotong biaya SMS operator Rp 350/SMS, plus dipotong pajak, baru diparuh dua antara operator dan pengembang. Pembayaran dari operator terkadang tidak mulus dilakukan bulanan, sebagaimana di Jepang atau Korea. Di sini kecenderungan operator memakai konten impor juga tinggi.

Maka, kala itu, saya tidak punya jurus kesaktian untuk menahan William bekerja di Indonesia. Apalagi sosok muda berwajah klimis itu, sudah pula punya tambatan hati, seorang gadis Jepang cantik menunggu di Tokyo.

Ketika PT Excelkomindo Pratama Tbk (XL), melakukan lomba membuat tulisan dan foto, kisah ihwal William itu layak saya ke depankan, sebelum membedah tema penulisan yang saya pilih: Mencari Layanan Nilai Tambah (VAS) Seluler Paling Efektif dan Bermanfaat Bagi Publik.

Bagi operator di Indonesia, kini konten sudah menjadi pendapatan mereka berkisar 4 sampai 15 % dari total income.

Tesis saya fokus; pengalaman berproduksi terus-menerus, berkelanjutan, akan membuat pengembang konten memberi kontribusi nyata bagi beragam penyajian pilihan konten (VAS), yang efektif dibutuhkan publik.

Tumpuan utama mewujudkannya ditujukan ke pemerintah.

Operator belakangan mengalami penuruan pendapatan, penurunan average revenue per user (ARPU). Karenanya konten bisa sebagai alat mentriger pertumbuhan. Operator sudah selayaknya membuka diri selebar-lebar bagi pengembang konten lokal, memberi kemudahan mensuplainya secara langsung, termasuk membuka kemudahan mendapatkan short code yang diakui lintas operator.

Bila iklim kondusif, semua lini industri terkait pada akhirnya akan diuntungkan, semacam yang terjadi di Jepang kini.

AWAL Januari 2008 lalu. Ingatan saya sekelebat kembali ke wajah William. Siang itu udara terik. Seorang penjaja jasa Topeng Monyet, yang biasa lewat di depan rumah mencogok di pagar kediaman kami. Saya memanggil anak-anak.

Kera yang tampil membawakan lakon monyet bertopeng bernama Aleks.

“Aleks pergi ke pasar,” ujar Amrullah pemiliknya.

Maka Aleks mengambil payung, keranjang, melangkah berputar, macam adegan ibu-ibu pergi ke pasar.

Adegan selanjutnya Aleks menarik gerobak.

Pada sesi ini anak-anak kian terpingkal menyimak. Aleks tidak macam Topeng Monyet lainnya. Ia berpura-pura kelelahan. Ia merebahkan badan, seakan pingsan.

Aleks memiliki keunikan tersendiri dibanding Topeng Monyet lainnya.

Seta merta dalam ingatan saya, jika adegan Aleks dijadikan konten untuk provider di Jepang, pastilah akan di diunduh banyak pelanggan, karena lucu.

Sesuai dengan riset yang dilakukan kementerian teknologi informasi Korea, konten berguna sekitar 60% lebih untuk killing time. Oleh karenanya konten yang berbau hiburan, games, joke, animasi pendek yang lucu, gambar-gambar lucu, menempati urutan teratas diminati.

Game yang unik, menantang, membuat penasaran, mudah dimainkan, akan banyak dicari. Karenanya ketika menyimak topeng monyet, saya mendapatkan ilham bercita-cita membuat game lomba beruk memanjat dan menurunkan kelapa.

Sebagai sebuah permainan, Beruk Kelapa diangkat dari budaya lokal di Indonesia, khas. Saya sudah berpikir untuk membuatnya di aplikasi baik untuk J2ME, untuk berjalan di GSM, maupun dalam format program BREW, untuk aplikasi di ranah CDMA. SDM di negeri ini sesungguhnya tersedia.

Sudah sejak lima belas tahun lalu, untuk industri yang berbasis kreatif, yang belum ada di negeri ini adalah, perusahan modal ventura yang nyata mendukung pembiayaan ke usaha berbasis keahlian. Pada sisi inilah tumpuan kepemerintah tadi diharapkan.

Umumnya kreator tidak memiliki jaminan lahan dan bangunan untuk meminjam ke bank. Namun sebagai sebuah peluang, apalagi bisnisnya berjibaku dari hasil memproduksi ide yang diwujudkan melalui proses, hanya keahlian dan kretifitas modal utama titik krusial yang belum terpecahkan hingga saya mengetik tulisan ini.

Di Jepang, menurut William, pengalaman berproduksilah yang membuat, para pengembang konten konsisten berkarya. Sehingga, dari ratusan karya, setidaknya puluhan di antaranya dipastikan laku di pasaran. Namun untuk menggapai yang puluhan itu, diperlukan energi karya ratusan. Nah, kesempatan berproduksi banyak itulah kini tak dimiliki pengembang konten di Indonesia.

Seorang kawan yang sedang berada dalam satu kesempatan bersama Menteri Perdagangan di medio Desember 2008 lalu menelepon saya. Ia mengatakan agar segera mengumpulkan kembali kawan-kawan di industri kreatif.

Saya bertanya, apakah akan ada venture capital?

Kawan itu tidak bisa menjawabnya.

Dengan tiadanya venture capital riil yang mendukung industri ini, maka 2009 yang ditabalkan sebagai Tahun Industri Kreatif, seakan-akan hanya lekat di judul, lepas dari meningkatkan produksi.

Padahal selain peluang untuk industri di konten lokal, konten selular dapat juga diekspor menghasilkan devisa besar.

SEKILAS gambaran di industri di lokal.

Saat ini ambil contoh Telkom Flexi. Mereka bermitra dengan sekitar 100 perusahaan penyedia konten yang seluruhnya berasal dari mitra lokal.

Konten Flexi yang sudah teraplikasi pada layanan, meliputi SMS Content, SMS Broadcast, SMS Melody, SMS Color, WAP, FlexiTone, Flexi Milis, Flexi Song, Flexi Cash dan FlexiCruiser.

Program lain yang dikembangkan, pemasaran produk bersama (bundling) telepon CDMA Nexian yang dijual dengan kartu perdana Flexi. Fitur terbaru Flexi adalah kartu perdana Flexi edisi Muslim "Kun Fayakun" bekerjasama dengan komunitas religi "Wisata Hati" pimpinan Ustadz Yusuf Mansyur.

Beragamnya konten yang dapat dikembangkan berbasis budaya lokal itu, diprediksi akan terus meningkat sehingga nilai bisnisnya pada 2010 akan mencapai Rp 7 triliun, seiring peningkatan jumlah pelanggan seluler yang mencapai 160 juta orang.

Nilai itu didongkrak oleh hasil konvergensi antara penyedia konten, teknologi informasi, dan penyedia layanan telekomunikasi.

Saat ini jumlah penyedia konten di Indonesia berkisar 500. Sehingga masih terbuka lebar kesempatan perusahaan pengembang baru tumbuh.

Sekilas pula PT Telkomsel:

Ia bekerja sama dengan sekitar 144 penyedia konten dengan jumlah layanan hingga 3.000 jenis. Sekitar 15 juta pelanggan, atau 30% dari total pelanggan yang mencapai 46 juta orang, telah menikmati layanan mobile data Telkomsel.

Telkomsel melibatkan para penggerak industri konten, seperti konten provider, record label, dan operator seluler, antara lain: Elasitas, Jatis, Code Jawa, SCM, Infokom, Musica, Sony BMG, dan Access Mobile, VAS di Korea.

Telkomsel memandang bahwa pada dasarnya jaringan yang luas dengan core network yang senantiasa siap untuk mendukung implementasi teknologi terkini merupakan hal utama dalam melayani pasar pengguna selular.

Telkomsel menyumbang sekitar 4% konten baghi pendapatannya. Kini perusahan ini terus mengembangkan ragam konten, beberapa di antaranya dipelopori dan hanya dimiliki oleh Telkomsel, seperti: Nada Sambung Pribadi (Agustus 2004), Mobile TV Portal (September 2006), M-Komik (Agustus 2007), dan Mobile Blogging MyPulau (November 2007).

Telkomsel mulai berjibaku mengembangkan konten-konten yang bersifat edukatif, mengemas konten yang mengandung nilai pendidikan, misalnya, Dunia Anak, Dunia Budaya, dan Dunia Religi, seperti: Video Pendidikan Aku Tahu, Pencerahan Religi Uje, dan Adat Istiadat Indonesia.

Sekelebat operator PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL):

Sesuai dengan paparan dimuat di berita Antara, Agustus 2008 lalu, XL menargetkan pendapatan layanan nilai tambah mencapai sekitar Rp1 triliun pada tahun 2009 – – meningkat dari proyeksi pendapatan VAS 2008 sekitar Rp650 miliar.

Dalam keterangan tertulis setelah meluncurkan Akses Channel XL Life Portal, pihak XL menjelaskan, saat ini kontribusi VAS terhadap total pendapatan perusahaan mencapai sekitar enam persen, meningkat dibanding tahun 2007 sekitar yang mencapai lima persen.

Itu artinya pendapatan konten XL dua persen di atas Telkomsel.

XL saat ini menggandeng 84 perusahaan. Mereka terdiri atas 70 penyedia konten dan 14 perusahaan label rekaman musik.

Pendapatan terbesar VAS, ring back tone (RBT) mencapai 28 persen, disusul layanan pesan singkat (SMS) jenis premium sekitar 25 persen, selebihnya fitur lainnya seperti mengunduh musik, wall paper maupun game.

Kini untuk memperkaya ragam konten, XL meluncurkan dua saluran portal yaitu XL Smile berbasis "on device portal" (ODP) dan XL Life Portal portal berbasis website dan wap.

PADA 27 Desember 2008 malam, melalui Facebok, Eddy Satriya, staff Menkoperekonomian, mengundang saya hadir di sebuah kelompok dikusi terfokus antara pemerintah dan swasta di sektor telekomunikasi. Sudah hampir tiga tahun saya tak pernah hadir lagi dalam pertemuan macam itu.

Pukul 13.00 siang keesokannya, di salah satu ruangan hotel Borobudur, Jakarta, sudah berkumpul beberapa perusahaan operator selular, termasuk dari PT Telkom.

Eddy Satriya, menjadi moderator. Saya menyimak topik yang dibahas. Penekanan bahwa infratruktur telekomunikasi masih dapat dijadikan andalan investasi bagi swasta di negeri ini.

Jika memang andalan, sudah sepantasnya pula konten memang menjadi tulang punggung.

Saya kemudian terdiam, mendengar keluhan operator, urusan tumpang tindihnya aturan pemerintah pusat dan daerah soal pembangunan tower, pungutan berlapis di daerah. Urusan ini rupanya sejak lima tahun lalu belum beres jua.

Pemda bersikeras dengan kekuasaan otonominya. Padahal pajak yang disetorkan operator, juga kembali ke daerah dalam bentuk APBD, APBN.

Dalam hati saya tak habis pikir.

Belum kelar urusan hati yang entah mengapa pula berpikir, benak saya menjadi nanar, lalu pipi seakan terasa digaprok, mendengar seorang wakil dari PT Telkom Tbk., mengatakan bahwa aplikasi macam Facebok internet, kini ternyata memakan bandwith besar.

“Kita membayar US $ yang mahal, mengeluarkan devisa, untuk bandwith yang besar termakan aplikasi macam Facebook,” ujar sosok wakil dari Telkom itu.

Mengapa saya seakan merasa tertampar?

Facebook, dari segi membuat aplikasinya bukanlah suatu yang sulit. SDM programer di Indonesia sangat mampu membuat aplikasi konten macam Facebook. Bahkan bisa lebih kreatif agaknya. Persoalan, anak Indonesia tidak memiliki kesempatan berproduksi, bekerja terus-menerus dengan beragam ide dan kreatifitasnya.

Akibatnya, mereka sulit menargetkan volume produksi, melahirkan killer aplication macam Facebook – – di mana berkonten bukan saja sosialisasi komunitas, tetapi merangkum berbagai game; termasuk bercocok tanam, beternak dan sebagainya. Dan untuk mengejar Facebook, tidak keuber lagi bagi programer mana pun. Apalagi kemudian branding-nya sudah menempel di hati publik dunia.

Analogi protes bandwith mahal karena Facebook tadi, cocok sekali mendeskrispsikan situasi pengembang konten seluler di Indonesia.

Persis habis.

Logikanya, giliran ada killer aplication, macam ring back tone, misalnya, negeri ini hanya menjadi pengimpor saja.

Sehingga untuk mencari konten atau VAS yang efektif dan bermanfaat bagi masyarakat, tidak banyak yang dapat dilakukan, jika situasinya tidak kondusif. Tidak harus mencontoh ekstrim seperti Jepang, namun mengambil sebagian yang mungkin dapat dilaksanakan di negeri ini suatu pilihan.

Pada akhirnya menumbuhkan produksi konten yang bermafaat dan efektif buat masayarakat membutuhkan kerjasama lintas sektoral, terutama keberpihakan pemerintah untuk menyadari bahwa industri konten, adalah industri kreatif. Nafasnya, kreator yang mumpuni, kudu difasilitasi berproduksi secara terus-menerus.

Ketika saya menjadi salah juri Indonesia ICT Award 2008, Agustus lalu, untuk bidang Budaya dan Pariwisata, kami juri memilih pemenang pertama aplikasi pembuatan desain batik menggunakan logaritma fraktal. Sebuah terobosan budaya besar dalam aplikasi konten – – di tengah ribut soal hak cipta batik, yang di-uarkan salah kaprah ihwal paten diambil asing.

Padahal jika saja pengembang desain batik fraktal juga berkesempatan energi mengembangkan aplikasinya ke J2ME, untuk selular GSM, juga untuk aplikasi BREW bagi CDMA, saya yakin akan menjadi game diminati di selular, aneka macam desain batik kreasi anak negeri dapat dibuat, bahkan dilombakan segala untuk sesama pemakai handset.

Akhirnya saya harus menjewer kuping sendiri, agar tidak bermimpi di negeri sendiri.

Bila masalah utama dalam industri terkait tidak diselesaikan jua, plus pemerintah lebih cenderung membuat event seremoni, macam memberi tajuk 2009 tahun kreatif, tetapi tak menyiapkan kebutuhan pilar dasar.

Maka, nikmatilah konten seluler hari ini, beragam yang diiklan dominan sebatas Reg-Spasi-Kirimkan ke: nomor empat angka, lintas operator.

Dan celaka dua belas, bila yang di-reg itu sebuah ramalan. Ramalan yang diiklankan di televisi, selain tidak mendidik masyarakat, sekaligus melanggar nyata KUHP, bisa dituntut secara pidana.

Keanehan itu, kita nikmati saja seakan biasa. Semoga saja ke depan kita semua tak asyik dengan ritual seremoni hampa, mengingat asset budaya lokal untuk bahan konten selular dari Papua hingga Aceh, melimpah ruah adanya.

Kita kelak tak harus menunggu bila muatan lokal itu diproduksi dan dieksplorasi oleh pihak asing, macam sumberdaya alam mineral seperti batubara kini dijadikan "bancakan" asing di Kalimantan. Bila itu terjadi, jangan pula semua pihak baru gagap, lalu ngedumel macam hari ini kesal terhadap Facebook yang memakan besar bandwith. Amit-amit.***

Iwan Piliang

*) Tulisan ini, saya ikut sertakan sebagai karya tulis untuk XL Award 2008, 30 Desember 2008 lalu, untuk tema: Mencari Layanan Nilai Tambah (VAS) Seluler Paling Efektif dan Bermanfaat Bagi Publik, kategori umum; citizen reporter/blogger.