(ditulis 5 tahun lalu, setelah tsunami di Aceh)
saya dengan sok bijak suka bilang sama temen-teman dan adik-adik,
hal pertama yang kamu ucapkan jika ada seseorang minta pertolongan adalah :terima kasih..

 

jika ada seseorang datang meminta uluran tangan kita,
maka dia sesungguhnya sedang memberi kesempatan buat kita untuk berbuat baik,
memberikan kesempatan buat kita untuk memperbesar saldo pahala,
jadi adalah wajib hukumnya kita mengucapkan terima kasih pada dia,

masalah apakah kita mau, mampu, bersedia, rela, lagi mood atau tidak untuk membantu,
itu lain soal;

menolong orang lain adalah terapi yang menyegarkan menurut saya,
menolong dan meringankan orang lain yang membutuhkan,
percayalah, bagi kita manusia yg normal, merupakan suatu penyejuk jiwa;
tapi tentu berkaitan dengan kemauan, kemampuan, kerelaan, dan mood kita juga;

jadi wahai para temanku,
jika datang padamu seseorang meminta pertolongan,
maka ucapkanlah terima kasih..
dan tolonglah dia kalau sampeyan emang bisa dan rela.

nah, ini dia!
negeriku aceh diamuk bencana,
say thanks to aceh!
ini kesempatan empuk untuk ngedapetin pahala,
mari kita berlomba-lomba meringankan beban aceh;

saya orang yg ikut berlomba dalam kesempatan emas luar biasa ini,

saya lalu membawa berkodi-kodi selimut, kain panjang dan kain sarung,
dengan hati riang gembira dan bersiul-siul saya menyusuri jalan kuningan,
tujuan saya mampang, posko PKS;
malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih;
tai cicak disangka coklat;

begitu saya mau parkir,
sebuah papan pengumuman besar terpampang:
‘untuk sementara tidak terima sumbangan pakaian, diprioritaskan dana…atau obat-obatan’

saya, anak rantau,
badan kerempeng, nyali baja tanpa karat;
tidak gampang menyerah,
saya turun dan mendekati posko,
azan magrib baru selesai berkumandang,
beberapa petugas sedang istirahat dan makan,
saya deketin mas-mas yg sedang makan;

dengan harap-harap cemas saya bertanya:
‘mas, mau nyumbang pakaian masih boleh, nggak?
saya bawa banyak selimut dan kain panjang nih…’
tanpa sengaja mimik wajah saya jadi agak memelas gitu,

si mas pks lagi asyik makan:
‘ndak terima mas…abis di ongkos doang, mahal ongkos ngirimnya daripada barangnya,
ini kita sewa truk fuso 16 juta.. uang aja deh, uang kan kita bisa atur pemakaian tergantung keperluannya, dan gak repot’

nyam..nyam kata beliau sambil makan,
dua tiga butiran nasinya tercecer dan jatuh di lengan saya;
alunan iqamah maghrib baru selesai;

dengan tercekat saya berkata:
‘jadi….’

si masnya berdiri sebelum kalimat saya selesai,
menghilang, di balik tumpukan kardus di keremangan senja.
sepertinya buru-buru mau bergabung sholat;

saya berjalan gontai menuju mobil seperti tentara arab kalah perang;
ayah benar, hidup ini tidak selalu mudah,
lambaian pelangi yang sepertinya tergapai tangan kadang jauh dibalik bukit sana,
nggak segampang itu dapet pahala, coy!

saya merasa sedih,
merasa kecewa;
saya merasa tidak berarti,
merasa kegeeran pingin membantu,
tapi ternyata saya tidak berarti apa-apa;

saya melangkah menyeberangi selokan,
melihat bayangan wajah saya di antara sampah-sampah,
cuih! saya tidak tahan untuk tidak meludahi wajah sendiri;
wajah kalah, wajah manusia kegeeran yang kalah ko, knock out di ronde pertama;

balik ke mobil saya mengusap kardus-kardus yang sudah saya kemas,
yang saya tulis rapih-rapih jenis isi dan jumlahnya;
jarang-jarang saya mengeluarkan uang sebanyak ini buat donasi,
ditipu si padang pedagang tanah abang yg naikkin harga pula,
tapi bisa jadi cina yg punya pabrik yg duluan naikkin harga sih;

demi tuhan,
sebetulnya saya tidak kecewa saya gagal memperoleh pahala,
saya nggak peduli, swear, mau dapat pahala atau tidak,
toh, saya rasa chance saya dapat pahala sudah tipis,
saya sudah umbar-umbar di milis ini ikut membantu, kok, dari kemarin-kemarin;
jelas membatalkan hak saya dapat pahala;
jelas saya dapat tergolong ‘ria’;

tapi, saya rela tidak dapat pahala,
biarin, gak dapat, biarin…ambil deh itu pahala…ikhlas..

tapi saya sedih tidak bisa membantu,
saya kecewa,
tapi saya tidak menyalahkan siapa-siapa;
si eneng dari awal sudah bilang,
ngapain repot-repot beli ini itu, kardusin, ikat, angkut, etc.
sumbang uang aja…simpel..

tapi beli ini barang-barang,
saya kardusin sendiri,
saya tulis sendiri,
saya angkut sendiri,
membuat saya merasa berbuat lebih langsung buat para aceh itu;
mungkin itulah egoisme saya;

*
kini kardus itu masih saya simpan,
metro tv sudah tutup penerimaan bantuan barang,
lewat kantor PPP, tidak ada orang,
nyari kontras di jalan borobudur, kehalang polisi razia,
mau ke halim atau ke priok takut ditolak lagi, lihat berita di tivi;
apalagi hari sudah malam;
ikut rombongan kantor kayak kemaren sudah tidak ada lagi;
ini jaman orang-orang lebih senang uang dari pada barang,

saya lalu mikir,
apa sebaiknya barang-barang ini saya jual aja,
denger-denger harganya sudah naik lagi di tanah abang,
lumayan dapet untung,
begini-begini saya kan padang juga.