January 2, 2009
berjalan-jalan di negeri sendiri aku merasa asing.
rosi bertingkah aneh dan menjengkelkan,
meski lebih 10 tahun tidak bertemu,
aku masih mengenali wanita cantik yang dulu sering menghirup angin petang berdua denganku,
wajah tirus berkacamata, rambut lurus tergerai sedikit melewati bahu.

tapi yang mengherankan, ia menjerit setengah histeris waktu membukakan pintu rumahnya, di kawasan asratek, ulak karang.
kedua telapak tangannya memegang kedua belah sisi kepalanya,
sejurus kemudian dia membalikkan tubuh dan tergesa meninggalkanku di depan pintu,
mengabaikan tanganku yang tergantung di awang-awang mengulurkan salam padanya,
mulutku masih ternganga usai mengucapkan salam dengan senyum lebar: ‘halo rosi, apa kabar..’ yang gaungnya musnah ditelan jeritan histerisnya.

bertamu ke rumah uni eli juga cukup mengejutkan,
setelah mengetok pintu rumahnya dan mengucapkan ‘assalamualaikum’ beberapa kali,
dari balik gorden tipis akhirnya aku lihat seorang wanita melangkah, mungkin pembantunya,
wanita itu cukup mengejutkanku, karena ia langsung memeluk tubuhku begitu membukakan pintu,
aku cukup kaget dan berusaha melepaskan badan,
namun ia memukulku seperti kesal dan meneriakkan namaku,
sejenak tertegun, aku baru sadar bahwa wanita ini adalah uni eli,
kakak sepupuku tersayang.

kemudian, senang hendak berjumpa dengan beberapa teman wanita satu sekolah SMA dulu kala,
kita berjanji bersua di rumah makan ikan bakar, di kawasan khatib sulaiman – aku punya janji lain nanti malam di daerah pondok dengan kawan-kawan pria.
dari 6 teman wanita yang sungguh berbaik hati meluangkan waktu menjumpaiku,
hanya satu yang segera aku kenali dengan baik: farah;
hanya dua yang langsung menjabat tanganku,
yang lain hanya meletakkan kedua tangannya di dada, seperti orang india bersalaman, dan membiarkan tanganku tergantung kikuk di awang-awang,
atau terlihat seperti setengah hati, menyentuhkan ujung jarinya, lalu dengan secepat kilat menariknya lagi.
aku sungguh menghargai kerelaan mereka meluangkan waktu, namun terus terang sedikit merasa asing dan kikuk

masa kecilku kuhabiskan banyak di puskesmas,
aku cukup akrab dengan nuansa puskesmas, termasuk bau obat-obatan.
yang membuat ku merasa asing ketika mengunjungi uni rita di puskesmas lubuk begalung adalah para suster perawatnya, tidak seperti yang ada dalam bayanganku di masa kecil dulu, perawat atau bidan puskesmas,
mereka sekarang lebih seperti suster atau biarawati katolik.

menjemput adik sepupuku, desi, ke kantornya departemen pendidikan di jalan sudirman, juga aku menangkap kesan keasingan serupa.

juga keasingan yang sama ketika mengantar dua kemenakanku kecilku ke sekolah mereka pagi tadi.

**

berjalan-jalan di negeri sendiri terasa asing,

lihatlah bocah-bocah kecil mungil di sekolah ini,
yang laki-laki bercelana panjang merah, sungguh terlihat wagu,
yang perempuan mereka mengenakkan rok merah panjang hingga telapak kaki, baju putih lengan panjang, dan mengenakan jilbab menutupi rambut indah dan lucu mereka

hilang sudah bayangan teman-teman wanita waktu SMA dulu kala,
hanya farah yang tidak membalut kepalanya dengan jilbab,
yang lain berjilbab berkerudung,
hilang sebagian keakraban lama,
karena berjabat tangan pun kini nampaknya haram,

ingin mengobati kerinduan akan masa-masa SMA dengan mereka,
aku mampir ke bekas sekolah ku di pojokan jalan sudirman,
namun, ini sama sekali dunia asing,
aku terasa seperti memasuki kompleks pesantren di pulau jawa sana,
semua siswi berjilbab membungkus kepalanya, rok panjang abu-abu hingga ke mata kaki.

kantor gubernur, kantor walikota, yang kulewati juga tak banyak berbeda,
semua staf perempuan berbaju panjang dan membungkus kepalanya dengan jilbab coklat.

juga para suster di puskesmas, mereka berjubah putih atau bercelana panjang dan berjilbab.

aku tak mengenali uni eli, karena kepalanya terbungkus jilbab, bajunya panjang menjuntai.

yang amat menyedihkan rosi, ia seperti merasa telanjang di depan ku hanya karena tidak menutupi rambutnya dengan jilbab, menyedihkan sekali :(
sungguh, rosi, aku tak birahi hanya karena melihat rambutmu..

tak banyak berbeda, ketika aku meninggalkan kota padang,
dan menjejakkan kaki di kampung halamanku di pesisir pantai,
meski tak terlalu memprihatinkan seperti padang,
nyata kampungku diubah,
wajah-wajah yang kukenal, teman perempuan masa kecil dan SMP, uni, etek, ayek, dll.
sebagian besar dari mereka sekarang berjilbab,
dulu, dari sekian banyak mereka, tak seorangpun yang berjilbab, zero.

berjalan-jalan di negeri sendiri aku merasa asing,
dimana-mana wanita berkepala bundar seragam,
menyembunyikan membungkus rambutnya dengan sehelai kain,
mereka seperti robot-robot dari negeri jauh,
bukan wanita-wanita tersayang dari negeri sendiri.

**

tuhan, kalau engkau benar-benar maha kuasa,
dapatkah kau kembalikan negeriku padaku?

aku rindu teman-teman lama tertawa bersama, berjabatan tangan
aku rindu suasana masa kecil di puskesmas, yang kini terasa seperti rumah sakit katolik.
aku rindu bocah-bocah kecil dengan rok merah dan baju putih bermain tali di halaman sekolah,
bocah kecil dengan rambut berkepang dua, rambut panjang dijalin berulir, rambut pendek menggantung di atas bahu, atau rambut keriting yang lucu,
aku juga rindu wanita-wanita kampung berbaju kurung, berselendang…

aku tak memintamu menelanjangi wanita-wanitaku tersayang, ‘han,
tapi dapatkah kau kembalikan negeriku padaku?

http://anginpetang.wordpress.com
———————————————————
note: pada saat yang bersamaan koran-koran lokal tak hentinya memberitakan tentang penggunaan narkotika yang terus naik secara eksponensial dan merambah kampung-kampung kecil. juga tentang korupsi dan tuduhan korupsi, maling, perampokan, penipuan, wanita memperdagangkan diri, tentang terminal yang hilang, lalu lintas yang semrawut, pelayanan kesehatan yang tak bertambah baik, kualitas pendidikan yang terus menurun