Jumat, 02 Januari 2009  Dari segi bidang perencanaan ilmu bangunan kapal, di antara para Naval Architect sudah dikenal bahwa perencanaan desain untuk kapal yang paling sulit adalah utamanya dari jenis kapal selam dan kapal penangkap ikan. Tetapi itu bukan berarti bahwa desain kapal-kapal jenis lainnya akan mudah. Kapal-kapal Angkatan Laut, dalam  menghadapi peperangan juga harus amat  cermat dan khusus memerlukan perhatian kedalaman, ke arah penggunaannya yang khusus pula. Jenis-jenis kapal Angkatan Laut itu amat beragam dan tidak bisa mengabaikan semua kemajuan di bidang pelayaran dan ilmu pengetahuan mutakhir yang tentu akan penting sekali mengenai persenjataannya, sesuai dengan lautan-lautan yang akan ditempuhnya.

Pelayaran di perairan di dalam wilayah Nusantara yaitu di antara pulau-pulaunya, secara fisik akan mempengaruhi proses dan hasil akhir dari desain karena ombaknya dan gelombangnya tidak terlalu bersifat  membahayakan bila dibandingkan dengan pelayaran di lautan lepas seperti di Lautan Hindia, Pasifik maupun Atlantik. Kedalaman Laut Jawa hanya mencapai sekitar kurang dari seratus meter. Belum lagi kita membicarakan kapal-kapal dagang jenis kargo biasa atau khusus seperti pengangkut barang jenis umum: seperti semen, hasil bumi, batubara dan hasil tambang lain dalam bentuk curah, latex, minyak kelapa sawit atau pegangkut khusus buah pisang. Akhirnya kita harus juga tidak bisa melepaskan diri dari keberadaan kapal jenis penumpang.

Kali ini saya ingin membicarakan kapal jenis istimewa: KAPAL INDUK untuk Angkatan Laut. Dalam pergaulan internasional dikenal dengan sebutan: AIRCRAFT CARRIER yang artinya secara harafiah adalah pengangkut pesawat terbang. Jadi dengan mudah anda bisa membayangkan bahwa sebagian besar dek utamanya dipakai untuk menampung semua kegiatan sebuah lapangan terbang yang canggih, dan berbentuk datar. Itulah sebabnya sebuah Aircraft Carrier, oleh sebagian besar para ahli kemiliteran Amerika Serikat disebut juga dengan FLATTOP, yang artinya adalah bagian atas yang datar. Tetapi tugasnya yang utama adalah sebagai Kapal Perang akan tetapi memiliki dek yang luas, menjadikannya sebagai lapangan terbang, sekaligus sebagai apron dan tempat parkir dari pesawat-pesawat tempur, biasanya yang jenis paling mutakhir dan modern perlengkapan senjatanya. Peluru kendali dan peluru-peluru penghancur dari yang besar dan berat daya penghancurannya amat banyak, harus ikut serta diangkutnya. Mengingat dua tugas utamanya ini saja sudah amat berat,  maka dapatlah dikatakan bahwa kapal induk adalah sebuah pangkalan udara, bahkan pangkalan militer yang bisa begerak ke manapun yang ditujunya. Anda bisa membayangkan bagaimana rumitnya desain sebuah maha karya seperti ini. Dulu mula digunakan mesin-mesin penggerak yang digerakkan oleh bahan: minyak bakar biasa akan tetapi penggunaan tenaga nuklir pasti tidak dapat tidak, amat diminati seperti yang terjadi saat sekarang ini. Minat ini tentu saja karena pelayarannya memang dibutuhkan akan dapat menjalani jalur-jalur yang jauh sekali jaraknya sehingga dapat menempuh perjalanan keliling dunia. Daya jelajah seperti itu telah dimiliki oleh kapal selam nuklir juga sejak lama yang mampu untuk melakukan pe"layar"an berkeliling dunia beberapa kali. Malah sudah pada puluhan tahun yang lalu Nautilus, sebuah Kapal Selam Angkatan laut Amerika Serikat telah muncul di sekitar Titik Kutub Utara dari bawah lapisan es abadi. Pada tanggal 23 Juli 1958 Nautilus ini berangkat secara rahasia dari Pearl Harbour Hawaii, menjalani operasi Sunshine yang menjalani pelayaran perdana menuju Kutub Utara, bukan perdana bagi Nautilus, akan tetapi perdana bagi sebuah kapal selam. Pada pukul 11:15 tengah hari tanggal 3 Agustus 1958, Perwira Wakil Komandan, Kolonel William R. Anderson mengumumkan kepada ABK (Anak Buah Kapal): "Untuk Dunia, Negara Kita, dan Angkatan Laut  – KUTUB UTARA!!!" Dengan 116 ABK di dalamnya, kapal Selam Nuklir pertama Nautilus menjalani dengan sukses misinya yang rahasia dan berkategori TIDAK MUNGKIN, mencapai daerah geografi paling Utara, 90 derajat Lintang Utara. Bagian tulisan yang menyinggung masalah kapal selam nuklir ini adalah karena saya ingin menonjolkan masalah di-implentasi-kanya tenaga jenis baru ini (nuklir) untuk keperluan manusia pada tahun 1958, enam puluh tahunan yang lalu. Dengan cara ini maka telah ditunjukkan kepada dunia bahwa tenaga nuklir telah membuktikan bahwa jenis tenaga nuklir telah mampu membawa sebuah kapal selam, ber"layar" di bawah permukaan air secara terus menerus, bisa mencapai titik misterius yang disebut dengan Kutub Utara. Anda bisa ikut merasakan kalau anda berada pada posisi yang saya sebut dengan titik misterius itu, di manakah anda berada? Semua arah kalau dipandang dari titik tersebut yang ada hanyalah Selatan saja. Barat dan Timur, bahkan Utara sekalipun hilang. Tidak ada. Semua kompas tidak bekerja. Kalau bisa menentukan kembali balik arah, mestinya bisa ke Hawaii, tetapi kalau saja terjadi kesalahan berbeda beberapa derajat saja, bisa ke arah perairan Jepang atau West Coast USA …

Sejak kapankah pertama kalinya sebuah kapal induk benar-benar efektif digunakan? Sebenarnya pada awalnya yakni pada akhir abad ke 19 sudah ada yang bisa disebut dengan istilah kapal induk, akan tetapi bukan memuat pesawat udara, tetapi hanya balon udara berawak manusia. Kalau balon udara bisa digolongkan sebagai pesawat udara, maka sebutan kapal induk untuk maksud damai seperti ini bisa dilakukan. Balon untuk maksud damai? Iya itu hanya balon observasi dari udara untuk maksud bukan perang. Begitulah waktu berjalan dan pada waktu Perang Dunia Pertama pecah maka keperluan adanya kapal induk yang bisa mengangkut sebuah pesawat terbang tempur, bertambah dan bertambah. Pada tahun 1903 datanglah waktunya muncul Kapal induk yang menggunakan pesawat terbang dengan menggunakan sayap tetap. Disusul dengan datangnya era berhasilnya lepas landas kapal terbang seperti di atas, dari dek kapal penjelajah Angkatan Laut USA. Kapal penjelajah adalah sebuah kapal perang yang besar ukurannya, yang beroperasi pada akhir abad 19 sampai akhir Perang Dingin pada tahun 1991. Kapal penjelajah adalah kapal yang bisa diharapkan untuk bisa beroperasi sendirian tanpa mengandalkan kedekatan dengan sebuah armada yang terdiri dari kapal-kapal lain. Dia sanggup bergerak, menyerang dan melengkapi dirinya sendiri tanpa bantuan kapal lain. Setelah berjalannya waktu maka sebuah kapal penjelajah (cruiser) telah banyak mengalami perubahan dan sekarang telah digantikan tugasnya oleh kapal kapal lain yang tugas pokoknya adalah menggempur, disebut dengan istlah destroyer.

Dalam dunia Kapal Induk, telah lebih dari enam puluh tahun lamanya sampai sekarang ini, sebagian besar dunia telah di"kuasa"i oleh Kapal Induk Amerika, tepatnya Angkatan laut Amerika Serikat. Memang dalam Perang Dunia Pertama dan Kedua sudah ada Kapal Induk dari kekaisaran Jepang bernama Hosho (ejaan baru Houshou, baca cara Indonesia Hoosyoo). Bagaimanapun kita membicarakan Kapal Induk di seluruh dunia pasti tidak akan bisa meghindari membicarakan Kapal Induk milik Amerika Serikat. Fakta nyatanya saat ini jumlah Kapal Induk yang dipunyai oleh Amerika Serikat, telah mencapai jumlah sebanyak dua kali dari jumlah Kapal Induk yang dimiliki seluruh negara-negara di dunia di luar Amerika Serikat. Generasi berikut dari Kapal Induk yang sudah memasuki babak disiapkannya design yang besar, keampuhan, kecepatan dan kemampuan angkut senjatanya serta kapal terbangnya. Memang persiapan yang teliti macam apapun, akan bisa terpengaruh masalah dengan budgeting, yang bukan masalah mudah untuk dikesampingkan. Bukankah Amerika Serikat sedang mengalami Economic Meltdown yang sedang hebat-hebatnya. Sedang China yang hebat itupun tidak luput dari pengamatan para ahli ekonomi yang meramalkan bahwa pada tahun  2009 ini akan mengalami pertumbuhan yang NOL persen saja? Nah kalau perubahan Budget pemerintahan Obama nanti mengena di budget pembangunan Kapal Induk yang telah dirancang matang itu kita tidak usah terkejut kalau negara lain, bukan Amerika Serikat, akan bisa menyusulnya.

Boleh juga sedikit kita tinjau kekuatan apa yang akan kita lihat dalam waktu dekat ini.

Pada sekitar tahun 1990an, China telah mendapatkan dua buah Kapal Induk dari Soviet Russia, kelas KIEV dan MINSK, maka semua pembesar militer Amerika Serikat terutama Angkatan Lautnya mengernyitkan dahi, bertanya-tanya. Juga negara-negara lainnya. Apakah China akan menaikkan kekuatan Angkatan Lautnya? Ternyata semua kecele, teperdaya pikirannya sendiri. Apa yang terjadi?? China telah mengubah keduanya menjadi sebuah taman yang bertema militer dan menempatkan Minsk di kota Shenzhen dan Kiev di Pelabuhan sebelah Utara dari Tianjin. Sepuluh tahun sesudah peristiwa ini seorang juru bicara senior di Departemen Pertahanan China telah berkata dan menyatakan bahwa China bermaksud untuk membangun sendiri Kapal Induknya. Kali ini lebih banyak yang mengernyitkan dahinya, bukan hanya Amerika Serikat, akan tetapi juga Taiwan dan Jepang.

Beberapa hari yang lalu diberitakan bahwa Kolonel Senior Huang Xueping menyatakan dalam konferensi pers bahwa China akan memberangkatkan tiga buah kapal perangnya untuk ikut melakukan patroli di Timur Tengah dalam ikut membantu menjaga keamanan terhadap kemungkinan yang marak dari pembajakan kapal-kapal sipil, seperti yang beberapa bulan telah terjadi terhadap sebuah tanker raksasa Sirius Star. Pernyataan ini dikaitkan dengan kementar yang dilemparkan oleh Jenderal Mayor Qian Lihua bahwa China dengan jelas, agar dunia tidak terkejut bahwa China akan membangun sendiri sebuah Kapal Induknya dalam rangka untuk membangun Angkatan Lautnya menjadi sebuah satuan yang tangguh. Sudah sejak abad ke 15 ketika Laksamana Zheng He (Cheng Hoo) yang telah berlayar sampai sejauh Afrika, China belum pernah mampu atau mau untuk membangun kekuatannya di lautan. Hal ini berlangsung sampai abad ke 20 pada jaman Kuo Min Tang dan masa jayanya komunis, yang enggan menyaingi Amerika. Sebagai salah satu anggota Dewan Keamanan PBB sejak tahun 1980n, China adalah satu-satunya negara yang tidak memiliki sebuah Kapal Induk. Menyadari bahwa 80% dari minyak pasokan dari luar negeri diangkut melalui Selat Malakka, Presiden China Hu Jintao telah meminta perhatian negaranya untuk mengamankan komunikasi terhadap apa yang dinamakan "Dilemma Malakka". Kata analis pengamat Li Mingjiang: ' Begitu kita memiliki sebuah Kapal Induk, maka kita akan bisa menolong mengurangi  "Malacca Dilemma" dengan lebih efektif. Kegunaan lain dari kapal Induk ini adalah secara psikologis akan membuat negara lain tidak ikut campur, apalagi memberi dukungan kepada Taiwan, yang menurut pandangannya adalah hanya sebuah propinsi saja di dalam negara China.

Mampukah China dengan pembiayaannya?

China membiayai budget kemiliterannya dengan uang sebanyak USDollar 88.4 Miliar, hampir sama dengan pembiayaan Inggris untuk maksud yang sama. Dengan derap langkah seperti ini China nanti pada tahun 2020 akan menggunakan budget sebesar USDollar 360 miliar yang toh masih di bawah Amerika Serikat yang USDollar 547 miliar pada tahun lalu. Sesuai kata Dr. Li Miangjing bahwa dengan memiliki sebuah Kapal Induk, para pemimpin dan rakyat akan merasa secara nasional akan berbangga hati. Seorang analis militer bernama Wang Xiangsui mengingatkan bahwa tidak perlu terlalu berharap karena Amerika telah memiliki 11 Kapal Induk dan China kan belum tentu bisa menyaingi Amerika dalam waktu dekat ini. Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times bulan Nopember yang lalu, Jenderal Mayor Qian Lihua mengatakan bahwa Kapal Induk China yang pertama  akan sudah siap dan beroperasi pada tahun 2010. Tetapi China tidak akan pamer kekuatannya di lautan.

Deng Xiaoping, seorang pemimpin besarnya pada masa yang lalu, selalu bertindak dan bersikap rendah hati, setiap saat  dia menyembuyikan kemampuannya dan bersikap sabar; amat pandai bersikap rendah hati dan seolah-olah tidak mempunyai kemampuan memimpin. Juga tidak pernah menyombongkan kepemimpinannya.

Sikap dan kebijakan tadi memang tertuang di dalam strategi "24 Karakter", adalah prinsip-prinsip yang telah menjadi pedoman politik keamanan luar negeri China sampai saat ini. Hal ini jelas tergambar dari sikap China selama ini: bersikap menghindarkan diri dari keributan dan selalu tenang.  

Mari kita tinjau berapa besar pembiayaan sebuah Kapal Induk. Sebuah Kapal Induk yang modern bertenaga Nuklir (perkiraan tahun 1993) dibangun dengan biaya sekitar USDollar 4 Miliar dan pembiayaan operasi serta pemeliharaannya dalam satu tahun fiskal (yang sekelas dengan Kapal Induk Nimitz) adalah USDollar 275 Juta. Kapal sekelas Nimitz ini sekarang dimiliki oleh Amerika Serikat sebanyak 11 buah, Inggris: 4 buah, , Prancis: 2 buah, selanjutnya masing-masing sebanyak satu buah dimiliki Brazil, India, Italy, Korea Selatan, Rusia, Spanyol dan Thailand.  Apa kemampuannya Kapal Induk seperti Nimitz ini?? Bisa mengapung dan beroperasi selama 20 (dua puluh) tahun tanpa berhenti untuk mengisi bahan bakar dan memindai bahaya apapun terhadap "diri"nya sampai sejauh 500 kilometer. Bisa menerbangkan pesawat setiap 20 detik dan dapat menampung pesawat tempur jet sebanyak 90 buah di atas dek terbuka dan dek tertutup di dalam badan kapal. Berapa jumlah ABK ya? 6000 (enam ribu Anak Buah Kapal). Rencana mendatang dari kapal-kapal yang akan dibangun untuk Angkatan Laut Amerika Serikat ada sebanyak 12 buah type CVN 21 yang direncanakan akan bisa mulai beroperasi pada tahun 2014, lima tahun lagi. Kali ini biaya sudah dipatok akan sebesar dua kali dari yang telah terjadi pada tahun 1993 yang USDollar 4 Miliar menjadi USDollar 8 Miliar per buahnya. Tentu saja meningkatnya biaya itu disebabkan antara lain, dengan adanya tambahan:  1. Kemampuan menangani kecepatan pesawat per buahnya dalam operasi militer, misal salah satunya adalah: kecepatan terbang dan mendarat.  2. Desain baru yang diperbaiki dan dirombak adalah tempat ruang komando.  3. Pembangkit Tenaga Nuklir yang lebih baru dan mutakhir   4. Kemampuan daya tempurnya. Semua keterangan ini didapat dari: News di CBS, GlobalSecurity.org  dan Northrop Grumman serta dari JANE's Information Group. Kita boleh berharap terhadap kemampuan merancang alat perang seperti terlihat di blueprint-blueprint yang telah ada di Departemen Pertahanan negara manapun. Akan tetapi ada perubahan besar dalam beberapa hal sejak lama yang  bisa mempengaruhi sebuah desain pokok. Contohnya antara lain adalah: kemajuan di bidang pesawat rotary wing, yaitu helicopter dan juga VTOL (Vertical Take Off Landing) yang tidak memakan luas landasan yang besar. Peluru kendali dan satelit pasti akan amat diperlukan sekali dalam peperangan. Dengan demikian maka pemakaian peralatan-peralatan akan menjadi jauh berkurang sehingga ukuran dan besar lambungnya kapal akan dapat lebih efisien. Yang seperti ini akan mempengaruhi desain dengan amat luar biasa besarannya.

Di atas, saya tulis mengenai Kapal Induk untuk penggunaan dalam keadaan perang: Aircraft Carrier.

Adakah yang digunakan untuk keperluan damai?

Ada, seperti telah diuraikan di atas, justru sebagai awal dari keberadaan Kapal Induk di masa sebelum Perang Dunia Pertama. Waktu itu yang diangkutnya adalah Balon Udara berawak manusia, bila yangsemacam ini dapat digolongkan ke dalam golongan pesawat udara. Gunanya untuk keperluan pemetaan dan geologi dan hydrography serta ilmu kelautan lain.

Kapal Induk yang ingin saya tonjolkan di sini adalah yang untuk maksud damai dan menghasilkan pangan bagi manusia, yaitu: KAPAL INDUK PENGANGKUT HASIL LAUT. Di atas kapal ini ada fasilitas-fasilitas yang melakukan cara-cara memproses ikan dan hasil laut tertentu dan kemudian dilanjutkan mengirim hasil prosesnya ke pabrik pengalengan, yang juga berada di atas kapal itu. Untuk Kapal Induk seperti ini dalam bahasa Inggrisnya akan lebih sesuai karena digunakan istilah Mother Ship. Kapal Induk (Mother Ship) ini mempunyai anak-anak kapal kecil yang diangkutnya sampai ke tempat-tempat pusat-pusat di mana telah dikenal sebagai tempat berkumpulnya ikan-ikan jenis tertentu dalam jumlah banyak. Bukan sulit pada jaman sekarang mencari yang seperti ini, karena dengan bantuan alat-alat sonar (sound navigation and ranging) yang menggunakan pantulan getaran suara yang dikirim dan diterima kembali di tempat asal. Dengan diketauinya pusat-pusat seperti ini, maka menuju ke sanalah kapal induk ini dan menurunkan kapal-kapal anaknya untuk mengumpulkan tangkapan yang dikehendaki. Hasil kapal-kapal anak ini akan diserahkan ke kapal Induk dan diproses serta dikalengkan. Produk berupa ikan kaleng dapat saja dibawa sendiri oleh Kapal Induk ataupun dapat diangkut oleh kapal angkut biasa ke pelabuhan yang dituju.

Kapal induk seperti ini biasanya berukuran besar dan laik laut untuk dipakai ke lautan lepas menjelajah samudra. Diketaui saat ini ada sekitar 39400 kapal yang berukuran lebih besar dari 100 Ton dalam lingkup pekerjaan Kapal Pabrik seperti ini, di seluruh dunia.

Kapal Induk yang biasa disebut dengan Mother Ship ini bisa saja adalah sebuah Kapal Terbang yang besar dan membawa serta pesawat terbang kecil yang tidak akan mungkin dapat menempuh jarak tersebu sendiri, seperti halnya kalau dia ikut bersama Kapal Induknya (Mother Ship). Atau bisa saja dia adalah hanya kapal angkut kapal-kapal laut atau kapal terbang yang lebih kecil, mengantar ke tempat yang ditujunya dan atau menjemputnya dari tempat-tempat seperti ini kembali ketempat semula. Ini terjadi terhadap Kapal Induk Udara B-52 yang membawa pesawat kecil X-15 yang tidak akan dapat mencapai ketinggian ini, kalau berangkat sendiri. Kapal selam kecil seperti Alvin yang diangkut oleh Kapal Induk Atlanis II.

Sekarang kita tau bahwa Kapal Induk bisa berupa Aircraft Carrier, bisa berupa Mother Ship yang adalah Processing and Factory (Canning) Ship yang mengolah hasil laut, dan juga pengangkut Kapal Selam kecil yang bisa menyelidiki kehidupan dan alam di bawah laut sampai ribuan kilometer kedalamannya. Bahkan bisa juga sebuah Kapal Induk (Mother Ship) jenis B-52 yang mampu  mengangkut sebuah pesawat kecil dan ramping badannya dan dengan mudah bisa lepas dari B-52, menembus lapisan udara terluar dan kembali ke bumi sendiri, dengan kekuatan sendiri.

Itulah sebabnya saya tulis mengenai hal ini agar bangsa Indonesia tergugah berpengetauan yang luas dan medalam seperti luasnya samudra dan dalamnya laut serta ketinggian udara setelah atmosfir.

Mari kita jauhkan sikap kita sebagai JAGO KANDANG yang tidak berani melakukan eksplorasi dan penjajagan lain agar bisa memberi kehidupan yang lebih baik bagi sesama manusia, terutama Indonesia. Jebollah kandang dan pergilah ke luar dan mencari kehidupan yang lebih baik.

 

Anwari Doel Arnowo

Jumat, 02 Januari 2009 – 22:05:03