Jumat, 26 Desember 2008   DI MAILING list (milis) di internet menjelang tutup 2008 ini, beredar berbalas topik diskusi ihwal Slank – – kelompok musik yang bermarkas di bilangan Jl. Potlot III, Jakarta Selatan – – menjadi model iklan Esia, perusahan provider telepon selular CDMA, dari kelompok usaha Bakrie. Slank selama ini dianggap pro warga, khususnya mereka korban lumpur Lapindo, perusahaan di kelompok usaha Bakrie, di Sidoarjo, Jawa Timur. Bahkan Slank menciptakan lagu soal Lapindo. Menjadi tanya publik kini, ada apa dengan Slank?

Selama setahun ini saya dua kali menulis tentang Slank. Keduanya memberikan dukungan moril baginya; jika dilaporkan ke polisi akibat sebuah lagu bernada mengkritik anggota DPR. Masih bisa dilihat Slank: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=62, dan Slank II: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=65. Bahkan tulisan itu diminta oleh tabloid Slankers, untuk mereka muat.

Langkah Slank menerima tawaran iklan Esia layak ditanya.

Dalam perjalanan grup musik ini ke Malang, Jawa Timur, 26 Desember 2008 siang, untuk pementasan di sana, saya menghubungi nomor telepon selular Bunda Iffet, yang merangkap manajer Slank.

“Wah, Bung, kalau begitu dipersoalkan, kan nggak maju-maju bangsa ini,” ujar Bunda.

“Lapindo itu kan usaha ayahnya, Pak Ical Bakrie.”

“Sedangkan Esia itu kan, anaknya, Anin, suatu yang lain lagi itu.”

Anin yang dimaksud Bunda adalah Anindya Novyan Bakrie, Direktur Utama, Esia, putera tertua Aburizal Bakrie. Saya mengenal Anin, sosok muda yang pintar.

“Lagian Esia yang proaktif membuat paket hape, ada empat lagu Slank, tanya jawab dan macam-macam, sebagai hadiah ulang tahun 25 tahun Slank “ tutur Bunda.

Sekilas memang layak dipahami. Apalagi sebelumnya, grup musik ini sempat menjadi ikon Kartu AS, Tekomsel. Di Republikaonline.com, saya menyimak berita ihwal: Untuk menutup akhir tahun, Bakrie Telecom (BTel) meluncurkan paket bundling hape Esia Slank. BTel menggandeng grup musik Slank sebagai icon terbarunya. Peluncuran ini bertepatan dengan ulang tahun grup musik tersebut yang ke 25.

Wakil Direktur Utama BTel, Erik Meijer – – dulu di Telkomsel – – mengatakan, Slank dipilih karena dianggap telah mampu membuktikan kiprahnya di dunia musik selama puluhan tahun. Belum lagi, Slank memiliki penggemar setia yaitu Slankers yang jumlahnya mencapai jutaan orang. Karena itu, BTel optimis dapat memasarkan produknya dalam waktu singkat.

''Kami menyediakan 100 ribu unit handset yang akan terus ditambah sesuai dengan kebutuhan. Kami mengharapkan jumlah ini habis dalam waktu tiga bulan saja, seperti paket bundling lainnya,'' ungkap Erik seusai peluncuran Hape Esia Slank di Setiabudi, Jakarta, Senin (22/12). Hape buatan Huawei seri C2807 itu didesain dengan warna biru putih dengan gambar personil dan logo Slank di bagian belakang. Desain ini, kata Erik, dipilih langsung oleh Slank. Sedangkan softwarenya disiapkan oleh Esia.

Esia menawarkan Rp 299 ribu untuk handset yang juga dilengkapi dengan Slank Menu yang akan langsung terhubung dengan Slank content. Hal ini memberikan kemudahan bagi pelanggan untuk mencari konten-konten Slank seperti wallpaper, polyringtone dan Warung Slank yang dapat didownload dengan aplikasi Brew Application Downloader.

Menanggapi perpindahannya ke BTel dari kartu AS, Telekomsel, personel Slank punya jawaban tersendiri. ''Kalau dulu kan hanya berupa kartu, sekarang satu paket dengan handphonenya sekaligus. Jadi sebuah peningkatan,'' kata Abi Slank, kepada Republika.

Kehidupan memang harus bertumbuh, di berbagai lini. Begitu pula kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Termasuk Slank, tentu kudu kian maju. Itu juga yang selalu diharapkan oleh kelompok penggemar Slank: Slankers.

Namun, acap kali yang dianggap pertumbuhan, dalam praktek di lapangan, yang terjadi hanyalah sebuah “peningkatan” rembesan kemunduran, yang seakan tak tampak, membawa nyata impak.

DI PENGHUJUNG 2008 pula, Iman Sugema, ekonom Indef, mengeluarkan indeks kemelaratan, yang dalam empat tahun pemerintahan SBY-JK, ternyata bukan malah menurun angka kemelaratan di NKRI ini.

Sebaliknya, sebelum SBY-JK mentas, angka kemelaratan itu hanya di kisaran 16% dari jumlah penduduk, kini menjadi lebih dari 23%. Makin tingginya kemelaratan yang dihadapi anak-anak bangsa, laksana selang air yang bocor di tengah, seakan tak terlihat oleh pemerintahnya di pangkalnya. Akan tetapi kebocoran mengalirkan etrus peningkatan kemelaratan.

Paparan Iman itu akan terasa dan mengental jika Anda berkeliling ke daerah. Tidak perlu jauh. Jika Anda di DKI Jakarta, pergilah ke gang sempit di balik gedung jangkung di segitiga emas Jl. Rasuna Said, Jl. Gatot Subroto dan Jl. HR. Rasuna Said. Di sebuah gang kecil di Karet Belakang – – tak jauh dari markas Bakrie Telecom – – sebuah penghuni rumah petak memberikan sarapan pagi anaknya mie instan, siang mie instan dan malam mie instan – – “murah!”

Cobalah tanya berapa gizi yang menjadi asupan? Berapa kadar protein dan seterusnya. Ditambah pula bahan kimia pengawet di mie instan tidak sehat untuk balita. Namun itulah yang terjangkau. Plus pula aroma bumbu berbahan kimia, membuat selera anak ketagihan mencandu.

Akibatnya jika Anda perhatikan sekilas tampak anak-anak kurus, layu, bermata sayu.

HARIAN KOMPAS pernah melaporkan bagaimana keadaan pembanguan fisik di Nusa Tenggara Timur. Proyek-proyek infrastruktur, macam bangunan pasar, bangunan sekolah, setiap tahun dilakukan menggunakan dana APBD dan APBN. Akan tetapi banyak dari bangunan itu tidak terpakai, karena dibuat di lokasi yang tak pas, antara lain jauh dari pemukiman penduduk. Evaluasi proyek pun sekadar mencentong acuan di kertas; beri centong oke, proyek sudah dilaksanakan, fisiknya ada, maka Pemda sudah menjalankan tugas membangun.

Laku demikian membuat celaka. Hampir semua Pemda Kabupaten, Kota, berorientasi sama. Bikin proyek fisik. Wujudkan. Dapat keuntungan berbagi dengan pelaksana proyek. Lalu yang kemudian terjadi, pembangunan fisik bergerak, rakyat kian berserak, kesulitan mencari kebutuhan makan saheri-hari.

Itulah yang disebut oleh pemerintah sebagai ekonomi pertumbuhan.

Harian Media Indonesia, Minggu, 21 Desember 2008, menuliskan kerugian akibat sanitasi jelek di DKI Jakarta, mencapai Rp 53 triliun setahun.

Jika saja Anda pergi ke bilangan Pademangan, Jakarta Utara, di sana ada nama sungai Kalimati. Airnya hitam, butek, benar-benar mati tidak mengalirkan air.

Sejak Indonesia merdeka, sejak adanya Ordebaru dimulai 1966, hingga kini, kali itu tetap tidak mengalir. Akibatnya biang kerok bibit penyakit ada di sana. Got dan saluran air di gang-gang yang lebih kecil, ikut tidak bisa mengalir, padahal tepian Ancol tak sampai 3 km dari Kalimati. Bisa dibayangkan bila datang wabah deman berdarah, muntaber – – biaya pengobatan, kematian, tidak tehitung nilai dikorbankan, menjadi bagian kerugian Rp 53 triliun tiap tahun itu.

Lebih acap yang disebut pembangunan tidak pernah melihat akar masalah yang ada di lapangan. Penyediaan anggaran pembangunan, sesuai semau mereka yang melaksanakan, tanpa mempedulikan kebutuhan rakyat kebanyakan.

Maka yang terjadi adalah sebuah angka-angka pembangunan “semu”, macam yang selalu disebut oleh pemerintah yang berkuasa. Yakni, sebuah pembangunan para pejabat atau pimpinan proyek membuat proposal “dalam lamunan kemasan” yang dalam istilah seorang rekan pengusaha sukses di Riau, sebagai, “Ota yang dituliskan.” – – kalimat-kalimat yang cuma disusun di kertas.

Akibatnya proyek tidak pernah memecahkan solusi meningkatkan taraf hidup, meningkatkan mutu kehidupan, mutu peradaban.

BILA sebuah pemerintahan dari tingat pusat hingga daerah demikian, mereka menyatu bersatu padu bagaikan bilah di lidi sapu? Kian kokoh dan menguat, membuat segala aturan kian sakti. Bahkan demi memperkuat diri sapu lidi lain yang telah jadi macam dewan di DPR, termasuk penegak hukum dalam format sapu lidi lainnya lalu mereka bergabung, maka kekuatannya memang menjadi-jadi, bukan sebatang lidi lagi. Dia menjadi tonggak kayu massif yang siap “menghajar” rakyatnya, yang terserak dua ratusan juta lebih di Indonesia ini.

Dalam khazanah di atas, jika muncul satu dua sosok yang membela, berpihak ke kepentingan warga, ia sesungguhnya laksana busur panah putih silver berkilau mmenyilau. Dalam tatanan inilah, sebelumnya, saya menempatkann grup musik Slank.

Mereka peduli.

Akan halnya obrolan di milis di internet yang mempersoalkan Slank menerima kerjasama dengan Esia, memang tak salah. Juga tak ada yang salah dengan kalimat Bunda Iffet dalam teleponnya kepada saya.

Hanya yang kemudian terbayang di benak saya, bahwa sebuah busur panah berkilau menyilau itu- – yang membela kepentingan warga, bepihak kepada rakyat kebanyakan – – kian langka di negeri ini . Ia kian hari kian pudar, lenyap. Bahkan hanya untuk menjadi sebatang lidi pun sulit, karena saban hari dilahap, dilapukkan dimakan hujan dan panas siraman uang dan harta benda dunia yang sean tak pernah cukup.

Saya menjadi kesulitan mencari kawan yang tidak takut miskin.

Ketika seorang Ganang Tidarwono Sopedirman, cucu Panglima Besar Soedirman mennggapi tulisan saya berjudul Natalan di Face Book Web 3.0; http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=206, ia mensitir urusan rasa:

" … Komentar apapun terhadap tulisan Bung Iwan diatas adalah berinti pada sesuatu yang sadar atau tidak sadar telah mulai terkikis dalam kehidupan kita semua dewasa ini, yaitu "rasa".

“Kita semua telah kehilangan "rasa", atau paling tidak telah mulai tergerus oleh peradaban jaman ini sehingga "rasa" tersebut telah mulai terabaikan dan tergantikan dengan "insting" dalam kehidupan ini…”

Dalam bahasa The Element of Journalism, di buku Bill Kovach dan Tom Rosentiel, AS, keberpihakan kepada warga, salah satu elemen jurnalisme. Dan memang berat godaan menegakkannya.

Toh popularitas dan uang yang dimiliki Slank saja roboh jua. Apalagi seabrek jurnalis di berbagai wilayah RI, yang terindikasi tetap silau oleh amplop pejabat.

Sebagai kata akhir, sabarlah wahai rakyat kebanyakan, teruslah berharap bahwa akan ada satu dua busur berkilau menyalip hadir, dapat mengikat diri menyemai energi kemaslahatan, bukan menjadi sapu lidi yang menyakiti. ***

Iwan Piliang, presstalk.info