Rabu, 24 Desember 2008 MENJELANG Natal malam nanti, ingatan saya melayang ke 1995. Kala itu saya sempat membuat film dokumenter tentang Masjid Berejarah di Indonesia, yang kemudian diputar selama Ramadan di TVRI Pusat. Di sebuah desa di Kaitetu, Ambon, sebuah gereja tua, bersebelahan dengan masjid tua Wapauwe. Masjid Wapauwe dibangun tahun 1414 Masehi. Sedang gereja berdiri tahun 1600-an. Adalah jemaat gereja turut memindahkan masjid ke lokasi sekarang, sehingga berdekatan letaknya dengan gereja.

Hubungan antar umat beragama mesra adanya. Bila kemudian hari ada kerusuhan berbau SARA di Ambon, benak saya tak habis pikir apa yang sesungguhnya terjadi? Syukurlah pada 2008 ini, kehidupan beragama sudah mesra. Saya masih ingat, seorang jemaat gereja di sana menunjukkan ukiran di empat pojok atap masjid.

“Kaligrafi Allah dari kayu tua itu, asli sejak bangunan ada,” ujar seorang Bapak. Di dadanya menjuntai sebilah salib, silver.

Mundur ke era penghujung 1990, pada suatu malam Natal, saya diajak kawan makan malam di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Menjelang tengah malam, kami menuju gereja di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan. Rupanya kebaktian malam segera dimulai. Saya mengikuti prosesi di dalam gereja, berusaha menikmati suasana yang ada.

“Salam Natal dan salam sejahtera bagi umat beragama lain yang turut hadir dalam misa kita malam ini,” suara pendeta bulat, padat.

Kala itu saya terkesima. Dari mana pula pendeta itu tahu bahwa ada umat beragama lain ada di dalam gerejanya?

Hingga umur saya kini 44 tahun, di shalat Idul Fitri atau Idul Adha, belum pernah saya mendengar bahwa khatib di khotbahnya menyampaikan, “Salam sejahtera bagi umat beragama lain, yang kemungkinan turut hadir merayakan fitri bersama kita.”

Padahal bisa saja kemungkinan umat beragama lain sesekali hadir, merasakan macam-mana kiranya berada di perayaan di shalat Idul Fitri. Ini urusan logis saja. Bukan perkara akidah yang membuat sekat. Perkara rasa keingin-tahuan. Toh urusan keyakinan, saya pahami ada di dada setiap insan, apalagi sosok itu adalah manusia dewasa.

Melompat ke 2006. Di sebuah desa di Toraja di Minggu pagi menjelang siang. Langit bersih. Udara sejuk. Sebuah gereja kecil sedang melakukan kebaktian Minggu. Sembari menunggu warga dan kepala desa, saya memanjat ke atas sebuah bukit, di mana lebat disesaki pohon pinus jenis merkusii – – salah satu asset tanaman bernilai ekonomi di bangsa ini, getahnya menghasilkan gum rosin dan terpentin. Batangnya besar-besar. Ada yang lingkarannya melebihi sepagutan.

Karena terjal, badan saya sempat melorot ke bawah bukit. Celana lalu bagai cat coklat, terkena goresan tanah merah. Saya lalu berusaha naik lagi. Rasa penasaran, plus terkesima akan rona biru laut di langit dan hijau pekat daun pinus bagaikan corak lukisan berbaur di kanvas lukisan. Sesekali burung elang bersiul tampak terbang tenang di awang.

Kumbang berdengung, uwir-uwir menguir. Suara angin. Suara air mengalir di kejauhan, bahkan suara jantung hati sendiri, mengantarkan saya tiba di atas bukit. Panorama seakan di alam lain. Di hamparan pinus yang rapat, hampir tak ada batang pohon besar lain yang tumbuh. Hanya semak setinggi dengkul menghampar laksana ambal hijau tebal.

Batang-batang pinus, bagaikan pilar-pilar di dalam ruangan ber-AC. Bulu di lengan saya berdiri, bergetar di saput hembusan angin dingin. Sinar matahari jatuh dari atas, berpantulan saling-silang, berurai macam bayang pedang bercabang-cabang. Lalu hati ini tercabik-cabik dibisiki kalimat Maha Besar Tuhan.

Di surga, konon, dominan hijau dan di mana ada air mengalir.

Lamat-lamat, saya dengar suara pendeta di gereja kecil mengakhiri kebaktian. Tak lama kemudian suara anak-anak berlarian. Mulai ada keramaian. Begitu saya turun, hampir semua jemaat geraja menyalami. Sebuah keramahan alam, keramahan Tuhan. Sebuah pengharapan, agar suatu hari kelak di daerah yang dominan pinus itu bisa berdiri insdustri gum rosin, yang mengolah getah pinus menjadi bernilai ekonomi. Sebelumnya saya mengajar penduduk, tata cara menyadap getah pinus yang benar tanpa harus menyakiti pohon, apalagi kemudian membuatnya rubuh.

Cerita saya beranjak lagi ke Minggu, 21 Desember 2008. kali ini saya tidak di gereja lagi. Saya justeru berada di Gedung Salman ITB, Bandung. Setelah melakukan shalat zuhur di masjid Salman yang berlantai kayu yang dingin itu, kami makan siang di bawah gedung Salman. Suasana ramai, macam di sebuah kantin perkantoran besar di Jakarta. Saya bertemu dengan kawan-kawan yang umumnya bergerak di teknologi infomasi.

Sambil menyantap tempe isi, sayur lodeh dan pergedel jagung serta segelas jus sirsak – – salah satu buah tropis yang eksotik – – kami berbincang soal Face Book, yang mengejawantahkan himbauan silaturahim ke dalam sebuah aplikasi di internet. Umat Islam dihimbau bersilaturhim ke sesamanya, termasuk ke umat mana pun di jagad ini. Bahkan belajar pun dihimbau hingga ke negeri Cina. Melalui silaturahim, bukan saja pertemanan dan persahabatan terjalin, tetapi juga mendekatkan kepada bertambahnya rezeki.

Saya tak habis pikir, kok ada umat atas nama agamanya, kerjanya melakukan kekerasan terhadap umat beragama lain. Dalam logika sederhana, berbaik-baik saja kita dengan seseorang belum tentu akan terjalin sebuah hubungan, terjalin saling silang bersinergi melakukan bisnis, apatah pula menyakiti orang itu?

SEPULANG dari Bandung, dua anak saya sedang membuka Face Book di Internet. Raditya Naratama, tertua, disapa Dito, 9 tahun, mengatakan bahwa kebunnya sudah panen,

“Tomat Dito sudah matang.”

“Kelvin lagi menanam padi,” kata Kelvin Chatyaredana, nomor dua

“Anjing ayah sudah harus dibawa ke dokter, kurang sehat.”

“Ayah ada uangnya, ada pointnya nggak?”

Diserbu dengan pertanyaan demikian, maka saya pun membuka Face Book. Saya perhatikan foto PeanutButter, anjing dari ras Sharpei, yang saya adopsi. Begitu diklik, benar saja, kesehatannya terganggu. Beruntung ada point 150, saya bisa membawanya ke dokter. Maka sang Peanut ceria lagi.

Sejak dulu saya menggemari anjing berwajah mengkerut itu. Lucu. Cuma mau dibeli, selain harganya mahal, memikirkan makan dan perawatannya, sebuah kemewahan bagi saya. Sehingga begitu Face Book memfasilitasi, hati ini senang tak berkira.

Dulu, 1985, ketika saya mereportase panjang tentang anjing ras untuk majalah MATRA, ibu saya berkata, “Kok jadi wartawan cuma untuk menulis anjing?”

Setelah jadi liputan panjang, mulai dari perawatan, peternakan, lomba, salon, perkumpulan Perkin, hingga pemakaman anjing, ibu saya pun kemudian mengingatkan saya, bahwa jika kucing mati, minta pula dimakamkan di pemakakaman hewan, yang ada di sekitar Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Barulah tahu ibu bahwa pemelihara anjing sebuah dunia berkomunitas besar.

Selain sibuk dengan permainan tanaman, memelihara anjing, isteri saya asyik dengan urusan ikon Gift di bagian Profile di Face Book (FB). Ia mengklik macam-macam pohon natal. Di bawah Pohon natal ada macam-macam kado. Kawan-kawan di FB bisa mengirimkan kado meletakkan di bawah pohon.

Ada juga Christmats Drinks, Christmast Stockings, kaus kaki Natal, berisi kado, yang akan terbuka pas Natalan tiba. Inilah bentuk “permainan” Natal di FB, selain beragam kartu yang dapat saling dikirimi ke kerabat.

Banyak game lain yang tersedia, mulai dari perang-perangan hingga Mafioso. Orang tua tinggal memfasilitasi anak-anaknya di FB, mereka bisa memilih yang tepat. Saya senang, ketika anak-anak bercocok tanam, membicarakan anjing peliharaan. Setidaknya, walaupun saya belum mampu membawa mereka mara ke Toraja sana, untuk berlibur melihat kakayaan alam Indonesia, di FB di komputer mereka bisa membuat hamparan sawah, belajar memberi pupuk, mengusir hama dan burung, agar panen padi melimpah.

Itulah FB, sebuah aplikasi yang kini sudah melangkah ke Web 3.0, bukan saja interaktif, tetapi rasa dan perbuatan interaksi menajam aksi.

Maka saya hanya heran, jika ada anak bangsa berkutat membuat jaringan akses internet murah melalui wajan bolik, macam yang dilakuakan Onno Purbo dan kawan-kawan, juga bisa menggunakan selular gratis bagi publik, tidak mendapatkan dukungan pemerintah.

Onno di negeri lain jika bertandang disambut macam pahlawan. Di negeri ini, dia seakan ancaman bagi korporasi. Pengelola bangsa ini memang harus jujur kepada rakyatnya, bahwa mereka hanya berpihak kepada korporasi bukan kepada rakyat banyak, dalam urusan teknologi informasi.

Jangankan berpikir membuat komputer murah bagi anak negeri, untuk harga PC di bawah Rp 1 juta, membuat bangunan sekolah sehat, bersih WC-nya, tidak rubuh atapnya, belum beres urusannya.

Di menjelang Natal ini, 23 desember 2008 di Grand Indonesia saya perhatikan ramai pengunjung. Tampak banyak mereka berasal dari daerah yang berlibur ke Jakarta. Pastilah dari daerah yang di era otonomi ini bergerak maju. Tetapi optimisme saya kadung disanggah seorang kawan,”Kebanyakan mereka itu keluarga pejabat Pemda, DPRD, serta kroninya.”

Di sebuah kabupaten pemekaran baru di Kalimantan Tengah, yang merayakan Natal Bupatinya, saya simak gizi buruk balita tinggi. Ekonomi rakyat kebanyakan tidak bergerak, di pemerintahan kerabat keluarga saling baku duduk, mulai dari pimpinan DPRD, Kepala Dinas. Jurnalis sudah pula secara kaffah dikooptasi dengan membuatkan kantor ber-AC, membelikan sepeda motor.

Jika trias polítika berkolusi, pers yang tidak menjadi kekuatan keempat menyertai, silakan Anda kunjungi saja kabupaten itu, melalui FB saya pandu Anda, daerah manakah gerangan, untuk menyimak praktek merugikan rakyat itu menjadi-jadi?

Dulu kita menghujat Soeharto alang-kepalang, kini di negeri ini di tingkat banyak kabupaten dan kota, langgam kehidupan macam rezim Soeharto, lebih maksi.

Saya hanya terhibur ketika TEMPO edidi khusus menjelang Natal ini sempat memilih sepuluh Bupati dan Walikota, menjadi Sepuluh Tokoh Indonesia 2008 ini. Paling tidak sepuluh di antara pejabat itu, pro kepada rakyatnya.

Wali Kota Solo Joko Widodo, contohnya – – di daerahnya disapa Jokowi – -mendemonstrasikan bagaimana memanusiakan warganya.

Ketika harus memindahkan pedagang kaki lima, ia lebih dulu mengundang makan para pelaku sektor informal itu. Ia tak memilih jalan pintas: mengerahkan aparat atau membakar lokasi.

”Setelah makan, ya, saya suruh pulang lagi,” kata Jokowi kepada TEMPO

Setelah undangan makan yang ke-54, baru ia yakin pedagang siap dipindahkan. Acara pemindahan meriah, lengkap dengan arak-arakan yang diramaikan pasukan keraton. Para pedagang gembira ria, mereka menyediakan tumpeng sendiri.

Inilah sebuah “kejenakaan”. Saya menduga Joko, adalah member dari FB, karena di dalam FB juga ada permainan pasar-parasan.

Ketika pulang dari sebuah plaza, di Minggu petang 21 Desember 2008 lalu, di atas taksi, anak-anak saya bersenandung lagu Jingle Bell. Ibunya ikut kur menyemarakkan. Maka di dalam mobil itu suasana seakan Natal.

“We wish you a merry christmas.”

“We wish you a merry chrismas.”

"… and a happy new year!"

Natal telah tiba.

Ketika sampai di rumah, supir taksi bertanya, “Natalan Pak?”

Saya tersenyum.

Salam damai dan sejahtera bagi Anda yang merayakan di era FB, Web 3.0 ini. ***

Iwan Piliang, presstalk.info