Minggu, 14 Desember 2008  TIGA PEKAN lalu,di saat jarum jam lewat dari pukul 00. Bersama kawan-kawan, kami menikmati jajanan di deretan gerobak kaki lima di sebelah Hotel Formule 1, Jl. HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat. Ketika penganan macam Bubur Ayam, Sate Padang, Nasi Goreng, Ayam Panggang telah lelap ke perut, tersisalah celotehan setelah midnight.

Saya menyampaikan kepada empat kawan, soal jawaban pertanyaan bercandaan dari kawan-kawan wartawan di Medan, mengapa mereka memilih Gubernur dengan penampilan fisik macam Syamsul Arifin, berkulit gelap, berperut tambun, berhidung besar, berpipi pun legam?

Ada kawan wartawan di Medan menjawab jenaka. Ketika saya tuturkan kembali kisah itu, empat teman kongkow yang mendengar terpingkal-pingkal. Salah seorang sampai berurai airmata, memerut melilit menahan ria-tawa.

SABTU, 13 Desember 2008, pukul 00.30 itu, di tempat yang sama, sosok yang kami “gossip”-kan itu, kok bisa-bisanya ada. Syamsul Arifin, Gubernur Sumatera Utara itu,sedang di depan hidung kami. Skenario ilahiah mengatur kami “bertuah”.

Saya berbisik kepada Surya Wijaya – – kawan pengusaha furnitur yang hari itu baru saja datang lagi ke Jakarta, “Benar, kan, apa saya bilang tempo hari?”

Surya tertawa. Kami cekikikan.

Maya Lie, kolega Surya, ikut tersenyum melihat ke sosok Syamsul. Sang Gubernur, senyam-senyum. Bisa jadi ia paham bahwa kami menertawakan kelucuan wajahnya. Maka, Maya memberanikan diri mengulurkan tangan. Saya mengikuti, dilanjutkan Taufik Hidayat, Wina Hendarti, dan Surya. Kami berkenalan. Meja pun kemudian menyatu bagaikan kilat.

Keadaan macam di deratan meja lain. Di pelataran jalan itu, ramai anak muda kongkow.

“Saya sudah berusaha ngumpet, mau cari makanan sendiri,“ ujar Syamsul.

“Eh, ini, tak sengaja jumpa dua stafnya Pak Aksa Mahmud.”

Aksa yang dimaksud adalah anggota DPR-RI, kerabat Jusuf Kalla itu.

“Pak, saya masih ingat ketika Bapak debat calon Gubernur di Metro TV dulu,” Maya bertanya dan menceritakan, ”Ada penanya, nanti jika Bapak terpilih Gubernur, lalu apa menjadi berubah?”

“Bapak jawab, apa yang mau aku ubah tampang aku sudah begini.”

Syamsul tertawa. Kami gerrr.

Ada lagi pertanyaan pemirsa teve yang diingat Maya. “Bagaimana konsep Bapak memajukan Sumut?”

“Bapak jawab, apa itu konsep, aku nggak punya itu konsep-konsep.”

“Iya di kantor Gubernur, itu sudah banyak, bertumpuk itu konsep, konsep apalagi, aku kan tinggal jalankan yang terbaik?” ujar Syamsul.

Sepiring sate kambing dan sepiring nasi goreng sudah di hadapan sang Gubernur ini. Sate Padang pun sudah di depan saya. Bubur ayam dan minutan berdatangan. Ia memesan jus jambu.

“Pak apa masih kuat makan sate kambing?” tanya Maya.

“Aku baru saja check up. Semua bagus.”

“Ada sembilan yang dicek. Kolesterol, normal. Ginjal normal, Jantung normal. Cuma ada dua saja kesehatanku yang bermasalah.”

“Iya dua saja yang bermasalah,” katanya meyakinkan sambil menatap kami satu-satu, “Urusan darah muda, dan kalau sudah datang, maka timbul penyakit berikutnya, jantung berdebar-debar.”

Belum selesai dengan urusan penjelasannya, Syamsul menekan hidungnya yang besar, sehingga kulit hidung bagian atas hingga menyentuh kelopak mata. Sebuah lubang menganga, kebiasaan dan pemandangan langka.

Semua kami terpingkal-pingkal. Syamsul ikut pula tertawa.

Kami sangat tak menduga.

Seorang pejabat.

Baru pula kenal.

Seakan tak percaya sosok di depan kami itu, benar-benar pejabat. Dua staf Aksa Mahmud menimpali, bahwa Syamsul memang senang guyon dan gampang akrab. Ia jika berkunjung ke kediaman SBY, juga JK selalu masuk lewat jalur khusus, lewat belakang rumah. Ia mengenal pembantu, akrab dengan kalangan biasa di kediaman pejabat.

Penampilannya pun tak ubah orang biasa kebanyakan.

Seakan belum puas mengocok perut kami, jurus Syamsul berikutnya mengajukan teka-teki. “Banyakan mana bulu kucing dibanding kera?”

Melihat kami belum satu jua pun menjawab, ia melanjutkan, “Jelas banyakan bulu kucing. Kera di bagian pantatnya licin, bulunya nol.”

Jawaban yang disampaikan tanpa dosa itu membuat perut kami kian sakit menahan tawa.

Seakan belum puas, ia menimpali, “ Jangan kan kalian, pantat SBY pun ‘basah’ku bikin terpingkal-pingkal.”

“Aku satu-satunya yang menyapa SBY; Bos! Bukan presiden”

“Soalnya aku sudah lama kenal. Ibaratnya stock lama kemasannya aja baru.”

Syamsul pun ngakak.

Dua kalimat di atas itu disampaikannya tentu bukan bentuk merendahkan presiden. Ia semata tulus menunjukkan keakraban dan kejenakaannya kepada siapapun termasuk kepada kepala negara sekalipun.

Syamsul memang “barang” langka.

Dua bulan lalu saya pernah melihat penampilannya di airport Soekarno-Hatta, Jakarta, ketika dia hendak pulang ke Medan. Ia bersandal kulit,, berpantolan hitam berbaju batik coklat tua. Jika diperhatikan batiknya pun biasa, bukan dari bahan berkelas. Yang membuat saya terganggu, di luar batik ia pun mengenakan blazer hitam yang ber-resleting, dibiarkan terbuka. Jatuhan blazer bagian luar, ujungnya tampak miring, karena selempangan sebuah tas hitam biasa, macam yang suka diberikan gratis di event seminar itu. Cuek sekali.

Saya ingin menyapanya kala itu. Tetapi ia keburu ke gate lain, sementara saya hendak menuju Jogyakarta. Kala itu dari jauh saja sudah membuat saya tersenyum. Tetapi senyum yang tersembul kala itu, karena teringat akan joke orang melayu Medan soal sosok keturunan India, Benggali, yang banyak mukim di Medan. Umumnya mereka berkulit gelap macam Syamsul.

Sebagian Benggali itu beternak sapi. Setiap hari pria Benggali itu memerah susu. Ia mengantar kepada pelanggan. Satu hari di sebuah Lapo Tuak langganan, seorang “jagoan” seakan tersinggung, karena sang Banggali, melempar saja sepeda onta batangannya dengan sekenanya, di depan Lapo.

Jagoan yang tidak senang menantang sang Benggali berbadan besar, berkumis melingkar, bermata besar, adu jotos.

Benggali bilang, “Oke, tapi jangan hari ini, Besok jam 10, karena susu pelangganku belum seluruhnya terantar ke pelanggan, besok aku siap.”

Mereka sepakat. Keesokannya, tepat waktu, sang jagoan yang bermarga Situmorang sudah menunggu dengan lengan terkepal, muka geram. Setelah ke dalam lapo tuak menuangkan susu, Benggali itu maju berhadapan ke muka Situmorang. Pengunjung mengerubung.

“Jadi macam mana? Mentang-mentang mataku besar, kalau aku sipitkan kau mau apa?”

“Lalu bila kumis melingkar ke atas lebat begini, kalau aku turunkan ke bawah kau mau apa?”

Kedua tangan Benggali itu menarik kumisnya sambil memicingkan mata.

Sekilas wajahnya menjadi semacam Engkoh keturunan Cina. Orang-orang yang di Lapo Tuak yang melihat adegan Benggali mirip Cina itu pun akhirnya terpingkal-pingkal. Hitam kok encek-encek! Tak terkecuali Situmorang yang mengajak duel menjadi terpingkal. Singkat kisah, perkelahian batal.

Bayangan akan kisah Benggali itu, setelah bertemu Syamsul memang tidak meleset. Orangnya doyan humor. Dan biasa pula mereka yang jenaka, bisa melihat penyelesaian kerumitan dengan ringan sekaligus mampu menghibahkan keceriaan.

“Yah begitulah aku. Apalagi yang mauku gayakan.”

“Sebelum orang-orang pada kaya, aku sudah jadi kolega Ibnu Soetowo dulu di Pangkalan Berandan.”

Pangkalan Berandan, wilayah operasi PERTAMINA, sejak lama di Sumatera Utara.

Sebelum menjabat Gubernur Sumut, Syamsul dua kali menjadi Bupati Langkat.

“Apalagi kini sudah pula Gubernur,” katanya.

Dan gaya, penampilan, kejenakaannya tetap sama, termasuk kegemarannya nongkrong di kaki lima.

Agaknya inilah “barang” langka yang harus dicontoh oleh seluruh pejabat Indonesia kini, khususnya mereka yang berada di pusat Jakarta. Jika pun tidak bisa berbuat terhadap rakyatnya, bahkan cuma bisa memerintah melalui jargon sumbang di billboard di jalan-jalan protokol, lebih mending menghibahkan kocokan melilit perut, manjadi amalan tersendiri. Rakyat kebanyakan seakan dapat dibawa larut melupakan kesulitan dan beban hidup kian berat, diawal resesi ini.

Saya lalu membayangkan para pemimpin Indonesia dulu, macam era Alm. Sutan Sjahrir, yang menurut wartawan senior, bisa ngobrol macam Syamsul Arifin itu. Mereka juga manusia biasa, peduli kepada siapapun, terutama kepada rakyat kebanyakan. Selalu berusaha berdiri sejajar dengan rakyatnya, bahkan menempatkan rakyat di atas segalanya, macam tabiat yang ditampilkan Alm. Jenderal Soedirman.

KETIKA bangun pagi di Sabtu pagi yang cerah, tawa saya belum hilang. Kepada isteri,saya ceritakan tentang pertemuan dengan Syamsul sang Gubernur itu, biar dia tidak berpikir bahwa suaminya stress, karena hidup belakangan kian sulit, lalu tertawa-tawa geli sendiri.

Penasaran akan langgam sang Gubernur, saya menghubungi Wartawan Yulhasni, Mantan Ketua Korda PWI-Reformasi Sumut. Saya konfirmasi tentang perilaku Gubernur yang bersahaja sekaligus kocak itu.

“Ha ha ha , aku pikir Abang mau bicara apa? Tumben pagi-pagi sudah telepon.”

“Kalau itu betul. Di kantor Gubernur saja, rapat serius bisa cuma setengah jam saja. Sejam sisanya untuk mendengar kombur malotup,” ujar Yul di telepon.

Kombur malotup kalau diterjemahkan kira-kira sama dengan meledaknya dagelan. Nah menunggu kombur malotup, salah satu “agenda” kantor gubernuran Sumut kini.

“Tapi Abang jangan salah, Gubernur kami itu jenius.” tutur Yulhasni.

Saya amini Yul, umumnya mereka yang memilki sens of humor tinggi, memiliki kejeniusan di atas rata-rata.

SOSOK Syamsul bersama Gatot Pujo Nugroho, memenangkan secara telak pemilihan Gubernur Sumut pada 16 Maret 2008 lalu. Salah satu rivalnya dalam Pilkada Gubernur, adalah Mayjen (Purn) Tritamtomo, yang didukung pengusaha Olo Pannggabean, antara lain.

Melalui penelusuran di internet, saya menemukan deretan panjang prestasi dan kedekatan Syamsul ke masyarakatnya. Ia tidak mengubah hidupnya kendati telah menjadi orang.

“Aku ini tukang jual kue yang menjadi Gubernur,” ujarnya kepada media di Medan. Itu ucapan pertamanya ketika mengetahui menang dalam Pilkada.

Ia kelahiran 25 September 1952. Ayahnya, almarhum Hasan Basri, pejuang dan veteran dari Pangkalan Brandan, akrab disapa Haji Hasan Perak. Ibundanya Hj Fadlah.

Kehidupan ekonomi orang tuanya di masa kecil sulit. Sebagai anak tertua ia harus berjuang dengan berjualan kue. Hasil penjualan kue itu dipakai untuk membeli sejumput beras, yang dimasak bercampur ubi dan keladi. Adonan rebusan bahan makanan macam itu, kemudian dikepal-kepal. “Satu kepalan untuk satu anak sekali makan,” kenang Syamsul.

Di tengah kesulitan hidup, ia pernah mengeluhkan tentang adiknya yang kurang berkenan bekerja keras kepada ayahnya. Ayahnya bijak meminta Syamsul melihat sebuah pohon kelapa milik ayahnya.

“Ayah berpetuah, kau lihat pohon kelapa itu, tidak seluruh buahnya bagus, ada yang kecil, besar, ada pula yang busuk. Kau harus menjadi buah yang bagus.”

Terkesan sekali akan petuah ayahnya itu, pohon kelapa yang dijadikan contoh sang ayah itu, hingga kini masih tumbuh dirawatnya.

KATA AYAH, itu menjadi bahan diskusi lanjutan saya dengan Surya. “Kini rumah tangga Indonesia banyak kehilangan figur ayah. Akibatnya kenakalan remaja meningkat, anak kurang mendapatkan kehangatan sang ayah, garría prestasi sekolah mengendur” ujar Surya Wijaya seakan berpetuah.

Saya pun sepakat. “Dan perhatian ke anak oleh sang ayah itu, bukan hanya terhadap dirinya, tetapi juga terhadap hal kecil, memberikan perhatian dan kasih sayang kepada ibunya anak-anak, di lain sisi” tutur Surya.

Memang menjadi suatu tanda tanya bila di suatu rumah tangga, sang ayah tidak lagi dapat menjadi panutan. Ayah dalam pengertian lebih luas, adalah pengelola utama negara, presiden misalnya. Bila yang bersangkutan tidak mencerminkan ayah bangsa, maka kita memang seakan merasa kehilangan tauladan, sekaligus kehilangan motivator.

Indonesia saat ini membutuhkan seorang ayah yang tidak malu berkendaraan dinas macam Daihatsu Ceria, macam Syamsul yang tidak kuatir cuma naik Kijang tua di Jakarta. Sudah saatnya kita lupakan seorang ayah yang berkata ke media, “Saya kan harus mengikuti protokoler yang sudah diatur negara.”

Apalagi bila seorang ayah bangsa, tega-teganya berkata, bahwa kepemimpinan seorang presiden tidak menjamin seluruh masalah bangsa dapat selesai, menjadi ungkapan amat basi. Maka yang berpenampilan dan berpandangan begitu, bukan lagi sebagai pengelola negara, tetapi sebaliknya, macam menak feodal, membangun singgasana dari uang rakyat.

Langgam itu pun mengental sejak otonomi daerah kini. Jika disimak pembangunan fisik kantor Bupati, Wali Kota lengkap dengan perumahannya, menomorduakan sarana kesehatan, Gizi balita dan bangunan sarana sekolahan berikut kontennnya.

Saatnya kita butuh seorang ayah, berani mengatakan, karena saya pemimpin, maka saya mau ini, itu, dan lainnya yang memang pro dan berpihak kepada kesulitan kehidupan rakyat, karena memang seharusnya kedaulatan di tangan rakyat.

Ketika berkampanye di Pilkada Sumut yang lalu, Syamsul membuat tag line mewujudkan: Rakyat Sumut tidak lapar, tidak bodoh, tidak sakit dan rakyat punya masa depan. Ia memberikan sebuah harapan, apalagi jika memang disampaikan dengan ketulusan mendasar.

Akhirnya, kini, memang masih sulit menilai keberhasilan Syamsul yang baru menjabat dalam satu smester bekerja di Medan. Paling tidak, kepada siapapun agaknya kini, dia menghibahkan keceriaan di mana pun dia ada secara masif, sehingga gigi kami yang sekejap saja di sekitarnya kering kerontang kelamaan katawa.

Mengingat kini di pusat, di Jakarta, banyak hal disampaikan pejabat dengan serius berjargon tidak lagi menarik, kebanyakan bernada perintah ke rakyat, maka saatnya, agaknya, berlajarlah ke rakyat Sumut memilih pemimpin, memilih sosok sang ayah. Bukan berkombur untuk sia-sia***

Iwan Piliang, presstalk.info