Lampu'uk adalah sebuah kemukiman (kumpulan beberapa desa) yang cukup ramai, terletak 15 Kilometer dari Banda Aceh ke arah Meulaboh.

Dalam wilayah kemukiman ini terdapat salah satu pantai tercantik di
Aceh. Pantai Lampu'uk yang terkenal dengan pasir putih dan ikan
bakarnya. Mirip-mirip Jimbaran di Bali. Salah satu ujung pantai ini
terhenti di sebuah bukit bernama Goh Leumo yang dalam bahasa Melayu
berarti Punuk Sapi. Di ujung pantai yang terhenti di Goh Leumo ini
terdapat salah satu tebing paling menarik untuk dipanjat karena di
bagian atas tebing ini terdapat apa yang dalam istilah Rock Climbing
disebut 'Over Hang' dan 'Roof' dengan tingkat kesulitan yang cukup
tinggi. Kedua istilah yang saya sebutkan tadi digunakan untuk
menggambarkan satu bagian tebing yang sebegitu curamnya sampai
sudutnya mencuat ke luar, seperti menggantung dan sisi paling curam
sebuah tebing yang saking curamnya sampai berbentuk seperti atap.

Dulu saat aku masih mahasiswa, aku sangat sering mengunjungi Lampu'uk.
Entah itu untuk berenang di pantainya, belajar surfing, memanjat
tebing bersama Rakai, seorang temanku di UKM PA Leuser, memperlancar
bahasa Inggris dengan cara mengajak ngobrol cewek-cewek bule berbikini
yang menginap di Joel Bungalow atau sekedar menikmati sunset sambil
meniup 'didgeridoo'.

Kadang aku datang ke Lampu'uk di hari Jum'at. Kalau itu terjadi aku
biasanya shalat Jum'at di mesjid Lampu'uk yang cukup besar dengan
bentuk luar sekilas sangat mirip dengan mesjid Baiturrahman di pusat
kota Banda Aceh.

Shalat Jum'at di Lampu'uk tidak boleh terlambat karena kalau terlambat
kita tidak akan mendapatkan tempat di dalam mesjid yang cukup besar
ini. Kemukiman Lampu'uk yang saat itu terdiri dari tiga desa memiliki
penduduk tidak kurang dari 4000 orang yang hampir semua kaum
laki-lakinya shalat jum'at di mesjid ini.

26 Desember 2004, Tsunami melanda Aceh. Lampu'uk yang terletak tepat
di pinggir pantai ini adalah salah satu tempat yang paling parah
dihantam tsunami. Aku lihat di televisi kemukiman Lampu'uk rata dengan
tanah. Satu-satunya bangunan yang masih berdiri tegak adalah mesjid
tempat aku sering melakukan shalat Jum'at dulu. Mesjid ini juga sangat
sering kulihat di berbagai koran, majalah atau karya fotografi yag
menggambarkan ganasnya Tsunami.

4 tahun setelah Tsunami, aku kembali ke Lampu'uk. Penampilan fisik
kemukiman ini sudah sangat jauh berbeda dengan yang pernah kuingat
dulu. Tidak satupun rumah di pinggir jalan yang dulu kujadikan sebagai
penanda lokasi yang masih berdiri. Sekarang seluruh rumah di Lampu'uk
bentuknya seragam. Rumah-rumah itu adalah bantuan dari pemerintah
Turki. Dibandingkan rumah-rumah bantuan di daerah lain. Rumah bantuan
di Lampu'uk ini kondisinya terlihat jauh lebih baik. Satu-satunya yang
tetap mengingatkanku pada suasana Lampu'uk lama adalah banyaknya sapi
yang berkeliaran di jalanan yang jika kita tidak hati-hati mengemudi
terutama di malam hari kita bisa tiba-tiba menabraknya.

Kemarin di malam menjelang hari raya Idul Adha, aku menginap di
Lampu'uk di salah satu rumah bantuan Turki itu yang disewa oleh
seorang temanku yang berasal dari Canada. Malam menjelang hari raya,
hujan turun sangat deras. Sampai jam 6 pagi kulihat belum ada
tanda-tanda hujan akan berhenti. Aku sempat berpikir tidak akan pergi
shalat Ied. Tapi kira-kira jam 7 hujan mereda meskipun masih turun
rintik-rintik tapi tidak selebat sebelumnya dan akupun memutuskan
untuk pergi Shalat Ied.

Shalat Ied untuk kemukiman Lampu'uk dilaksanakan di Mesjid Lampu'uk
tempat aku sering shalat jum'at dulu. Biasanya Shalat Ied dilakukan di
luar ruangan. Untuk kemukiman Lampu'uk dulunya Shalat Ied biasa
dilakukan di lapangan bola Seri Musim. Di lapangan inilah Irwansyah,
mantan pemain nasional sekaligus striker andalan Persiraja Banda Aceh
yang hilang saat Tsunami belajar bermain bola. Kupikir kali ini Shalat
Ied dilakukan di mesjid Lampu'uk karena alasan hujan. Bagiku sendiri
berarti Shalat Ied di Lampu'uk ini akan menjadi Shalat Ied kedua yang
aku lakukan di dalam ruangan setelah Shalat Ied hari raya Idul Fitri
yang baru lalu aku laksanakan di mesjid desa Randu Agung di Banyuwangi.

Aku yang berangkat ke mesjid jam 7.30 sambil berpikir kalau aku pasti
tidak akan mendapat tempat lagi dalam ruangan Mesjid. Aku bayangkan
kalau Shalat Jum'at yang cuma dihadiri jama'ah laki-laki saja penuh
sesak apalagi Shalat Ied yang dihadiri laki-laki dan perempuan. Karena
merasa kemungkinan aku harus shalat di luar dengan resiko berbasah ria
kalau hujan tiba-tiba turun, aku berangkat Shalat dengan mengenakan
jacket parasut yang tahan air. Tapi saat tiba di mesjid aku mendapati
jama'ah Shalat Ied yang datang belum terlalu ramai. Mesjid terisi
belum sampai setengahnya padahal beberapa saat lagi Shalat Ied akan
segera dimulai. Bentuk Mesjid ini secara garis besar masih persis sama
seperti sebelum Tsunami dulu dengan penambahan beberapa dekorasi di
sana sini.

Tidak berapa lama Shalat Ied langsung dimulai dengan jumlah jama'ah
yang belum juga bertambah. Aku Shalat dengan menyimpan penasaran,
apakah setelah tsunami, setelah Aceh diguyur uang milyaran dollar,
didatangi ribuan pekerja asing yang membawa budaya baru semangat
keislaman orang-orang Lampu'uk menjadi sebegitu rendahnya
sampai-sampai Shalat Ied di mesjid inipun hanya didatangi sangat
sedikit orang.

Selesai Shalat seperti biasa dilanjutkan dengan khotbah yang
disampaikan dalam bahasa Aceh. Penghotbah yang tampil kali ini adalah
seorang lulusan pesantren yang sepanjang khotbahnya memuji-muji
kualitas seorang lulusan pesantren yang menganjurkan para jama'ah
untuk memasukkan anaknya ke sekolah agama bukan sekolah umum. karena
menurutnya dengan belajar di sekolah agama masa depan di akhirat kelak
akan terjamin. Sepanjang khotbah aku masih penasaran dan tidak habis
pikir kenapa jama'ah Shalat Ied di mesjid ini sangat sedikit.

Selesai Shalat, seluruh Jama'ah membentuk lingkaran dan saling
bersalaman satu persatu. Semua wajah tampak begitu cerah dan gembira.
Persis sama seperti suasana hari raya dimanapun yang pernah kualami
entah itu di Indonesia ataupun di luar negeri. Aku yang tampak aneh
sendiri dengan pakaian jacket parasut tahan air dan bercelana jeans
langsung dikenali oleh penduduk Lampu'uk sebagai orang luar.

Dalam kumpulan jama'ah Shalat Ied di mesjid Lampu'uk ini aku melihat
seorang jama'ah yang juga berpakaian tidak kalah anehnya dibandingkan
aku, yang juga beda sendiri dibandingkan jama'ah yang lain. Bersorban
ala Pangeran Diponegoro, mirip seperti patung ulama di depan kantor
Kodim Banyuwangi, bedanya sorban si jama'ah ini berwarna abu-abu. Dia
mengenakan jubah yang panjangnya sampai di atas mata kaki, juga
berwarna abu-abu dengan wajah yang dihiasi jenggot beberapa lembar
yang dipaksakan tumbuh panjang di dagunya. Saat giliranku bersalaman
dengannya jama'ah bersorban yang juga seperti aku, sama-sama terlihat
aneh dan mencolok dalam kumpulan jama'ah lain yang berkemeja dan
bersarung ini memandangiku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan
tatapan sinis yang kutanggapi dengan senyuman sambil melanjutkan acara
bersalaman dengan jama'ah yang lain.

Selesai bersalaman, seorang jama'ah yang berumur sekitar 60-an tahun
yang bahan pakaiannya terlihat lebih berkualitas dibandingkan bahan
pakaian jema'ah lain dan raut wajah yang tampak berwibawa mendekatiku.
"Tinggal di mana dik?", tanyanya. Aku menjawab kalau aku tinggal di
rumah temanku yang berasal dari Canada itu dan bapak itupun
mengangguk. Lalu tanpa merasa perlu menanyakan nama dan asalku
darimana bapak ini mengajakku untuk mampir ke rumahnya dan
mengundangku makan di sana. Karena menurut beliau saat ini tidak ada
warung yang buka, aku pasti akan kelaparan kalau berharap makan di
warung. Bapak ini tahu persis kalau temanku itu tidak masak di rumahnya.

Alasan si bapak yang mengajakku dengan penuh ketulusan ini terlalu
kuat untuk aku tolak dan akupun mengikuti si bapak ini ke rumahnya
yang juga merupakan rumah bantuan dari pemerintah Turki dengan bendera
Turki yang bergambar bulan bintang yang mirip seperti bendera GAM yang
terbuah dari ukiran beton terpampang di dinding di atas pintu depan
rumah. Tapi meskipun bentuk dasarnya sama rumah bapak ini sudah
dimodifikasi sedemikian rupa dan ruangannya juga sudah diperbesar di
bagian belakang. Bentuk pagar, taman dan dekorasi dalam ruangan rumah
bapak ini yang dihiasi lampu kristal dan gorden berbahan mahal
menunjukkan kalau secara ekonomi si bapak ini relatif lebih berada
dibandingkan rata-rata penduduk Lampu'uk lainnya.

Saat masuk ke dalam rumah, aku bersalaman dengan seluruh anggota
keluarga bapak ini termasuk istri dan anak perempuannya. Sebelumnya
aku sempat menduga kalau setelah penerapan Syari'at Islam ala wahabi,
perempuan di Aceh juga tidak mau lagi bersalaman dengan laki-laki
sebagaimana kebiasaan teman-temanku anggota PKS. Tapi ternyata tidak,
orang Aceh di Lampu'uk ini masih tetap seperti dulu.

Kami duduk di ruang tamu sambil makan makanan kecil khas lebaran yang
karena perbedaan status ekonomi, kualitasnya jauh lebih baik
dibandingkan kudapan khas lebaran yang dihidangkan padaku oleh
penduduk desa Randu Agung saat lebaran Idul Fitri yang lalu. Bapak
ini menceritakan kalau nyaris seluruh keluarganya habis hilang saat
tsunami. Beliau sendiri selamat karena pada saat kejadian beliau yang
masih berstatus pegawai Bank BRI sedang menghadiri acara pertandingan
olahraga yang diselenggarakan oleh kantornya di kota Banda Aceh. Saat
itu beliau menghadiri acara itu bersama istrinya dan anak perempuannya
yang menyalamiku tadi. Dan sekarang hanya mereka bertigalah sisa
keluarga beliau yang masih hidup. Semua anggota keluarga beliau yang
lain hilang bersama tsunami. Tapi saat menceritakan ini seperti
orang-orang Aceh lain yang pernah aku tanyai. Aku sama sekali tidak
melihat ada gurat kesedihan di wajah bapak ini ketika menceritakan
peristiwa itu.

Melalui bapak ini pula aku mengetahui alasan kenapa jama'ah Shalat Ied
di mesjid tadi sangat sedikit. Menurut Bapak ini jama'ah Shalat Ied
tadi sedikit karena memang penduduk Lampu'uk sekarang sudah sangat
sedikit. Sebagai gambaran bapak ini mengatakan penduduk Desa Meunasah
Bale, desa tempat beliau tinggal dulu sebelum Tsunami lebih dari 1200
orang tapi sekarang tidak sampai 300 orang. Desa sebelahnya Meunasah
Baro dari sekitar 800-an orang sekarang tinggal sekitar 200-an.
Ternyata itulah alasan sedikitnya jama'ah Shalat Ied tadi, bukan
karena semangat keisalaman orang Lampu'uk yang sudah sedemikian rendah.

Kami berhenti mengobrol saat anak perempuan beliau masuk ke ruang tamu
dan mengatakan makanan sudah siap dan mempersilahkan kami untuk makan.
Akupun makan di sana dengan lauk daging olahan bumbu Aceh yang khas.
Ditambah sebuah menu asing yang tidak pernah aku temui sebelumnya
dalam menu di rumah-rumah orang Aceh. Sup Udang yang rasanya mirip Tom
Yam Kung. Tapi Sup Udang bikinan anak perempuan bapak ini yang berumur
sekitar 18 tahun yang memiliki wajah sekilas mirip Asmirandah, artis
sinetron yang membintangi iklan Indosat ini jauh lebih enak, malah
sejujurnya bagiku ini adalah Sup Udang terenak di dunia. Setidaknya
sejauh yang pernah aku cicipi.

Wassalam

Win Wan Nur
http://www.winwannur.blogspot.com