Senin, 08 Desember 2008   Tulisan tahun 2004 ini telah dimuat di Superkoran: Malaikat dari Terminal 3 Cengkareng.  Sekarang bulan Nopember tahun 2008

Apa sebenarnya yang terjadi di dunia ekspor kita yang jumlahnya dinilai amat banyak?

Ekspor apa? Tenaga kerja! Dinilai terlalu banyak? Iya, Tenaga Kerja Wanita kelas Pembantu Rumah Tangga atau Domestic Helper atau apapun namanya. Orang Filipinas atau Pilipina menyebutnya dengan istilah yang amat terhormat: The Little Angels. Kita semua sudah tau bahwa mereka adalah penghasil devisa bagi negara, jumlahnya besar sekali. Berapa? Pilipina meraup sebesar

Ada yang menggunakan istilah Pahlawan Devisa. Okay, itu sudah bagus, ada kata Pahlawannya. Betul, kan?

Mari kita tinjau hal-hal berikut:

A.     Dalam tulisan tahun 2004 itu terbukti mereka diperas sebisa-bisanya di Terminal Tiga. Ini menimbulkan tanda tanya besar apakah ini menandakan bahwa Terminal Tiga itu dibuat khusus untuk memudahkan mereka atau memudahkan mereka diperas?

B.     Saya tidak tau bahwa yang seperti itu sudah ada perbaikannya atau belum, tetapi saya pernah diberitau bahwa ada seorang wanita biasa yang datang di Cengkareng dan dia bukan salah satu dari TKW. Waktu hampir sampai di dekat jalan menuju counter imigrasi, dia diarahkan agar mengikuti rombongan yang menuju ke Terminal 3. Terjadi debat kecil tetapi keras dan akhirnya wanita tersebut bisa melepaskan diri dari tekanan agar ke terminal 3. Selamatlah dia.

Saya selalu ingat di Singapura sejak tahun 1970an, kalau kita jalan-jalan di Orchard Road pada hari Sabtu dan Minggu sampai malam hari, maka banyak tempat akan menjadi tempat berkumpulnya para Little Angels dari Pilipina dan lumayan ada juga dari Indonesia. Pemandangan seperti ini banyak juga di Hong Kong pada waktu dan hari-hari yang sama.

Berdua dengan istri, saya juga menjelajahi Singapura dari waktu ke waktu. Saya sudah berjalan kaki, naik MRT (Mass Rapid Transit) dan taksi serta naik bus atau bas (bahasa Malaysia) dan bis (Indonesia). Kalau anda naik ke bus lantai dua dan beruntung mendapat tempat duduk yang paling depan, anda dapat mengamati dengan lebih detail gerak masyarakat manusia di Singapore secara fisik: kebersihannya, keteraturannya dan kedisiplinannya, meskipun amat jarang kita melihat polisi berseragam. Semua ini bisa dirasakan, berkat-tanda-tanda dan petunjuk-petunjuk yang jelas tertulis maupun tergambar di aspal jalan, dipinggir-pinggir jalan di atas tiang-tiang kecil tanda petunjuk lalu lintas resmi atau tidak resmi. Tidak ada corat coret liar, apalagi di atas tanda-tanda lalu lintas resmi, seperti di Jakarta dan kota-kota lain di negara kita. Saya sekarang tidak perduli kalau ada yang mengaggap hal seperti yang saya kemukakan di atas, misalnya mengatai saya sok luar negeri, menghina negerinya sendiri dan segala ţèţèk bengèk "nasionalisme sempit lain". Karena saya tau bahwa diri saya itu nasionalis tulen, bukan nsionalis Partai atau apapun yang merugikan bangsa Indonesia, maka pengamatan saya mengenai kondisi tertentu di Indonesia atau di Kanada serta negara-negara lain, ya apa adanya. Tidak mencari apa-apa yang tidak ada. Saya mengamati kota Singapura ini sudah sejak tahun 1959 saya pertama kalinya datang dan sampai saat ini saya sudah puluhan kali datang kesini. Setiap tahun mana kala anda datang pasti ada sesuatu yang baru, jembatan, gedung, perumahan dan daerah baru serta peraturan-peraturan dan undang-undang yang direvisi, hampir semuanya menuju ke arah perbaikan.

Melihat di mana-mana ada perbaikan itu, saya memperhatikan lebih detail mereka yang tadi kita sebut dengan the Little Angels baik di jalan-jalan, di tempat-tempat makan dan di toko-toko atau di taman-taman, mereka dan rekan-rekan kita bangsa Indonesia sering secara mencolok berkumpul-kumpul ria. Pakaian mereka apik-apik dan kadang-kadang modern serta sedikit "kelewat" modern. Itu pandangan mata kuno saya, apa iya?? Sepintas, meskipun bukan sanak saya dan bukan kadang saya (bahasa Jawa sanak kadang artinya sanak saudara), saya senang melihat kondisi mereka yang tampak bersih dan bisa menata diri. Mereka bergembira dan kalau sempat berkata-kata satu dengan yang lainnya mereka penuh senyum. Maklum pertemuannya bukan terjadi sebarang waktu seperti kemauan mereka, mungkin paling cepat bisa diatur dua minggu sebelumnya.

Beberapa hari yang lalu saya membaca mengenai gaji orang Singapura. Presiden dan Perdana menterinya bergaji sekitar tiga juta Dollar untuk masa bekerja selama satu tahun. Sayang saya lupa memperhatikan itu USDollar atau SINGDollar, yang manapun itu besar sekali sam;pai saya geleng-geleng kepala. Karena masa resesi dunia yang sedang melanda maka sebagai tanda ikut prihatin, efektif segera, mereka memotong gajinya sebesar sekitar 19% sehingga bersisa menjadi sekitar dua juta Dollar lebih. Itu berarti sama dengan sekitar 5500 Dollar per hari. Nah yang perlu dibandingkan adalah catatan mengenai gaji terendah di Singapura yang ditulis dengan jelas ialah tigaratus Dollar sebulan. Siapa ini? Ya banyak sekali, misalnya pembantu tukang masak di warung-warung makan. Nah saya tau sekarang bahwa gaji pembantu (domestic helper, amah atau nama lainnya) itu gajinya rata-rata adalah sekitar itu. Berikut adalah catatan yang saya dapatkan mengenai TKW Indonesia di Singapura:

1.    Bergaji sekitar 300 Singapore Dollar

2.    Sebagian besar tidak diberi satu hari liburpun dan hari libur ini dikompensasi dengan uang sebesar Sing$20 per bulan, per tahun akan berjumlah sekitar 240 Dollar, yang berarti lebih kecil dari gaji sebulannya. Kebanyakan di atara mereka mau dan bersedia karena terpaksa. Hal ini disebabkan tawaran ini biasanya adalah take it or leave it.

3.    Sebagian besar tidak dibolehkan memiliki Cellular atau Hand Phone karena dikhawatirkan bahwa mereka akan berhubungan dengan orang-orang yang tidak baik kelakuannya, minum minuman keras atau pacaran. Hal ini ada yang mengalami kebalikannya yang dapat dibaca di dalam Link-Link yang saya cantumkan dibawah ini.

Saya pernah condong mengatakan orang Singapore itu congkak dan tamak, ini kalau melihat apa yang sekarang sedang terjadi, tetapi bila berpikir lebih dalam, saya akan menarik kembali jalan pikiran saya, kalau diberlakukan secara menyeluruh, yang berarti seluruh majikan yangorang Singapura. Seperti kita ketaui sebenarnya penduduk amat tunduk kepada undang-undang dan mereka biasa selalu tidak berani melanggarnya. Tentu saja ada pelanggaran di sana dan di sini, tetapi pelanggaran amat jarang terjadi. Yang saya ingin diperhatikan adalah: adakah upaya pemerintah kita dalam melindungi warganya, mengupayakan agar:

A.   Bergaji sedikitnya sebesar upah minimum yang berlaku di negara itu dengan persyaratan sebagai tersebut di dalam butir-butir berikut:

B.   Harus libur dalam satu minggu selama satu hari penuh (24 jam)

C.   Diberi makan dan minum yang layak sebanyak tiga kali sehari dan menjamin seluruh biaya kesehatan mereka

D.  Dibolehkan berhubungan (komunikasi telepon, surat dan fax atau email) dengan teman dan mengutamakan yang dengan sanak familinya, terutama yang berada di negeri asalnya yakni Indonesia, serta memberikan nomor telepon di mana dia bekerja.

E.   Membebaskan dia dari segala pajak yang terjadi selama dia bekerja di tempatnya.

Saya hanya menyampaikan masalah-masalah pokok yang bisa diajukan sebagai persyaratan utama saja. Sebab menyangkut yang seperti itu saja, di Saudi ataupun di Kuwait dan Bahrain bukanlah sesuatu yang mudah, karena menjadi pembantu di daerah Timur Tengah menyebabkan "status"nya menjadi sama dengan budak. Makin detail memang makin rumit, tetapi rumit bukanlah berarti tidak dapat dibuat mudah.

Hal-hal yang dikemukakan di atas adalah menjadi tugas pemerintah kita melalui para anggota kabinetnya, bukan oleh orang per orang waganegaranya. Mereka, para TKW ini, adalah orang-orang yang karena terpaksa menerima bekerja sebagai underdog, orang yang diduga kuat akan merugi dan kehilangan segala sesuatunya. Mereka adalah para malaikat, The Little Angels, kata orang Pilipina dan mereka jelas pahlawan karena mendatangkan kemakmuran dalam tingkat yang mereka punyai di desa asal mereka masing-masing.

Baru-baru ini, belum sebulan yang lalu, seorang detektip polisi polisi dihukum penjara, demikian juga halnya seorang ibu rumah tangga yang mengalami hal yang sama, dihukum penjara. Dua orang ini dihukum karena mencederai pembantunya asal indonesia yang kedua-duanya sudah tidak lagi berada di Singapura, karena sudah balik pulang ke negaranya, Indonesia. Kejadian-kejadian seperti ini banyak diberitakan di media, akan tetapi saya kira itu semua karena pemerintah kurang sekali bersikap cepat tanggap dengan tata cara yang perlu dibakukan, demi melindungi warga negaranya sendiri.

Mari kita coba simak apa kata seorang Singapura terhadap perbaikan peri laku yang ditimpakan kepada mereka, para TKW di Singapura:

 

Please Treat Your Foreign Domestic Helpers Better

Posted by Rocky

May 13, 2008

Came across an article from musings blog by Melvin, which I agree with his point of view:

I think Singaporeans could treat their foreign domestic helpers a whole lot better. For a meagre $350 or less a month, many Singaporeans (to our shame) demand a lot, if not the impossible — a maid who can understand complex instructions in a language which she is unfamiliar with (ie. English, or possibly one of our other official languages or dialects), who can cope with daily cooking, cleaning and coaching of the kids, who doesn't make the occassional mistake (like break a dish), who doesn't mind being yelled at or ordered around, who doesn't need time off or to sleep, and who runs on solar power (ie. gets only instant noodles to eat for lunch and dinner).

Some people just don't get it. We need to show more understanding to deserve being understood. If not, we ourselves won't be happy. What's your view?

Rocky yang memasang Posting di atas mengatakan bahwa hanya dengan gaji sekitar Sing. $350 (sekitar RP.2.700.000,-)  atau kurang setiap bulannya, banyak warga Singapura (sungguh memalukan kita orang Singapura) menghendaki secara berlebihan, malah kadang-kadang tidak memungkinkan, seorang TKW,  yang dapat mengerti perintah-perintah yang kompleks yang diucapkan didalam bahasa yang asing yang dia tidak pahami (misalnya: Inggris, atau mungkin salah satu bahasa maupun dialek resmi Singapura),yang bisa menanggulangi pekerjaan sehari-hari seperti memasak, membersihkan dan mengasuh anak-anak, yang tidak selalu melakukan kesalahan biasa seperti memecahkan barang pecah belah, yang tidak bereaksi apapun meski dibentaki dan diperintahi segala macam, yang tidak memerlukan waktu istirahat atau tidur dan yang hidup ddalam ketiadaan (misalnya hanya makan siang dan malamnya berupa makanan mi instan). Banyak khalayak yang tidak memahami. Kami harus lebih banyak menunjukkan agar patutbisa  dimengerti. Kalau tidak maka kami sendiri akan tidak senang. Apa pendapat anda??

Terbukti kan, bahwa tidak seluruh majikan TKW di Singapura itu congkak, pongah dan tamak. Mereka itu juga manusia seperti kita orang Indonesia. Di Singapura kalau seseorang berbuat salah, biasanya karena kesalahannya itu ditindakkan oleh ketidak-jelasan peraturannya atau undang-undangnya. Itulah sebabnya daripada kita selalu menyalahkan semua hal, di kiri maupun di kanan, majikan atau undang-undang, apakah kita, saya, anda dan pemerintah kita sudah menjajagi pendekatan-pendekatan secara psikiologis, secara kaidah hukum dan secara perundingan-perundingan internasional, untuk menanggulangi perbaikan nasib warga kita itu, para TKW kita? Apakah usul-usul saya seperti telah tertuang di  dalam butir-butir A. sampai dengan F. di atas telah pernah secara serius ditangani, di-opèn-i, ditindak-lanjuti dan benar-benar dihayati dengan hati yang bersih dan itikad yang baik??

Di bagian bawah ini masih ada link-link yang akan menambah wawasan kita, meskipun negara yang bergiat bukan Singapura saja tetapi Pilipina juga. Tentunya di Indonesia sudah patut sekali kalau ada seperti yang dibuat oleh Pilipina itu.

 

http://www.gaylegoh.com  

He will have become just another young man sentenced to death in our city-state, …

I offer a simple smile to the domestic helper who hangs clothes out to dry one …

http://www.gaylegoh.com – 87k – Cached

 

 Pilipina.   http://www.rsis.edu.sg/publications/WorkingPapers/WP99.pdf

                  http://www.philcongen-hk.com/media/news010807.htm

Lain-lain   http://www.eurekastreet.com.au/article.aspx?aeid=868

 

Anwari Doel Arnowo