Tag

 Mereka berbondong-bondong datang ke kampungku dengan muka garang dan pedang di dalam sarungnya. Kata mereka, “Muka kami mencerminkan ketegasan dan keseriusan dan cinta kami terhadap Gusti Agung. Pedang kami akan terus tinggal dalam sarungnya selama tidak ada yang mencaci maki Gusti Agung, sang pencipta”

Dalam hati kuberkata, “Muka kamu itu garang dan pedang kamu itu akan menghunus badan seorang tak bersalah di saat pertama sesuatu yang tidak sesuai keinginan kamu terjadi.”

Kuingin sekali bersuara keras dan mengucapkan semua kata-kata itu agar ku dapat terpisah dari kaum munafik, namun kumasih cinta badanku, kumasih cinta hidupku, kumasih cinta keluargaku maka kuterdiam, hening, kelam.

Kata mereka, “Junjungan kami, Gusti Agung itu, adalah junjungan paling pengasih dan penyayang. Jika kamu semua mengikuti kami, terjamin sudah keselamatan dunia dan akhirat.”

 Dalam hati kuberkata, “Junjungan kamu, Gusti Agung itu, adalah junjungan palsu yang haus darah, yang tidak mampu memahami cinta kasih dan penuh amarah.”

Kuingin sekali bersuara keras dan mengucapkan semua kata-kata itu agar ku dapat terpisah dari kaum munafik, namun kumasih cinta badanku, kumasih cinta hidupku, kumasih cinta keluargaku maka kuterdiam, hening, kelam.

Kata mereka, “Ikutilah kami dan tinggalah bersama kami, saudara-saudaramu yang dapat menjagamu dari kaum laknat yang akan mencelakakan kamu.”

Dalam hati kuberkata, “Kamulah kaum laknat yang sebenar-benarnya, kaum yang tidak dapat dipercaya dan dapat menghunuskan pedang ke badanku apabila kamu tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hatiku.”

Kuingin sekali bersuara keras dan mengucapkan semua kata-kata itu agar ku dapat terpisah dari kaum munafik, namun kumasih cinta badanku, kumasih cinta hidupku, kumasih cinta keluargaku maka kuterdiam, hening, kelam.

Pada akhirnya kusadar bahwa kita kaum yang terjerat norma, terjerat sopan santun, terjerat rasa tenggang rasa yang tidak mampu mengutarakan isi hati sebenarnya. Kita semua adalah kaum munafik, karena mereka yang tidak munafik, telah menghembuskan nafas terakhirnya setelah jantungnya berhenti berdetak terhunus pedang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di saat ini, saat hujan turun rintik-rintik, akhirnya tak dapat lagi kupungkiri bahwa cintaku juga adalah cinta kaum munafik.

source: Rima's blogs: http://rimafauzi.com/blogs/?p=1289