Rabu, 3 Desember 2008  FAKHRUDIN Halim, adalah sosok jurnalis di Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Kendati mukim di daerah, saya amati, ia rajin aktif bermilis di internet. Pada Ramadan 2008 lalu, ia salah satu peserta Literary Journalism Workshop bagi blogger, media kampus, media komunitas, yang kami adakan, dengan dukungan PT. Pertamina. Ia sepakat, banyak hal remah, terkadang terlewatkan, padahal jika ditulis, menjadi bacaan enak, sekaligus perlu.

Terinspirasi oleh tulisan saya Bali Durenologi: Sudah Beli “Dihina” Pula: http://presstalk. info/tajuk/ detail.php? no=195, Fakhrudin menulis komentar. Saya memintanya menuliskan ulang. Jadilah tulisan pengalaman langka orang Indonesia, melahap durian mendam di perut Gajah.

Dan jika Anda membaca, sebagaimana tulisannya di bawah ini, saya hanya ingin mengatakan, bahwa inilah satu fakta, bahwa jurnalisme warga, melalui blog di internet, bisa menjadi ajang medium komunikasi, bermanfaat saling berbagi, saling mengisi, saling bernarasi.

Berikut Fakhrudin menarasikan:

FAJAR baru menyingsing di pertengahan Juli 2000. Suasana belum terang tanah. Kabut membalut. Saya, Tedy dan Sudarman, menyibak jalan setapak melangkah diselimuti dingin pagi, selepas subuh di tapal desa kami; Beringin Datar, Pino Masat, Bengkulu Selatan.

Tedy sepupu, sebaya saya. Sudar, begitu ia akrab disapa, tak lain Pak Cik – – dalam tradisi Bengkulu, sapaan untuk adik bapak atau ibu yang bungsu.

Kami menuju ke kebun durian yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah kakek di kaki hutan. Kami membawa obor bambu berisi miyak tanah bersumbu sabut kelapa tua. Mendekati bibir kebun, aroma durian menjegal hidung.

Pak Cik segera mencabut golok.

"Kalian di belakang," bisiknya.

“Siapa tahu ada harimau.”

Penikmat durian bukan hanya manusia. Harimau dan gajah, juga fans berat, selain monyet macam Siamang.

Paman maju ke depan. Saya dan Tedy menyusul di belakang. Kami melangkah pelan.

Tiba di hamparan pepohonan durian berbatang berukuran drum minyak, bertebaran buah durian masak. Sejak malam buahnya berjatuhan – – di saat musim, buah matang bergedibam di malam hari.

Tanpa membuang waktu, saya membuka sebuah. Duren yang saya pilih berkulit agak kehijau-hijauan sebesar kepala orang dewasa. Durinya tajam. Rasanya empuk, manis, sedikit pahit. Bijinya tak lebih besar dari jempol orang dewasa.

Setelah puas, kami mulai mengumpulkan buah durian yang berserakan.

Sejenak kemudian mata saya tertumbuk melihat bulatan laksana bola. Bola itu dibalut oleh dedaunan sejenis tebu dan tanaman merambat lain. Lilitannya rapi. Persis seperti bola terbuat dari daun. Ada pula sedikit kotoran bagaikan kotoran kerbau, hijau tua, berserat rumput.

Melihat bola itu saya tertegun. Pak Cik mendekat.

"Itu tahi gajah. Berarti semalam ada gajah ke sini."

Daun di balutan bola itu berfungsi menutupi duri-duri duren. Sehingga ketika ditelan durinya tidak akan melukai mulut atau usus gajah.

Saya masih penasaran. Bola itu sebesar kepala orang dewasa. "Buka saja, duren mendam di perut gajah enak rasanya," kata Pak Cik.

Saya masih ragu. Ada perasaan jijik.

Tanpa menunggu reaksi saya selanjutnya, segera saja Pak Cik mengambil parang yang terselip dipinggangya lalu mengayunkan kearah buntut durian.

Durian masih utuh. Baunya wangi menyengat. Begitu dibelah, saya mengambil satu biji, rasanya empuk, lebih empuk dari yang pernah saya rasakan. Wanginya pun terasa lain dari duren biasa. Warnanya kuning gading gajah.

Menurut Pak Cik, gajah jika akan memakan durran pasti memilih buah yang bagus. Gajah memiliki penciuman tajam akan buah yang matang. Caranya memilih dengan mencium, lalu memukul-mukulkan belalainya ke buah durian.

Mengapa durian dalam perut tidak pecah?

Inilah yang masih jadi pertanyaan saya.

Tapi menurut ayah saya, pencernaan gajah tidak kuat mencerna kulit durian. Apalagi gajah tidak pernah mengunyah makanan yang dimakan. Gajah hanya menelan. Ukuran tubuh dan usus gajah memang jumbo. Durian bervolume makanan besar dikeluarkan dari perut dalam keadaan utuh. Kulit durian yang keras membuat usus gajah tidak mampu memprosesnya.

Lah, buat apa gajah suka pula makan durian?

Ternyata gajah tertarik karena aroma durian. Penciuman gajah tajam. Hal ini dapat kita ketahui, setiap musim durian datang, maka gajah-gajah biasanya akan turun gunung. Kadang dari gunung-gunung yang jauh dari Gugusan Bukit Barisan. Jadi gajah memang tertarik karena wanginya.

Untuk orang yang pertama kali melihat durian yang keluar bersama kotoran gajah, bisa jadi merasa jijik, tapi begitu buah durian dibuka, amboi, siapa yang tahan. Kalau memang orang tersebut pencinta durian, maka dia akan mencium cita rasa berkualitas, lain dari biasa.

Tapi sayangnya malam itu kami hanya menemukan sebuah durian mendam di perut gajah, alias durian tahi gajah.

Akhir-akhir ini gajah populasinya sudah semakin berkurang. Apalagi banyak pemburu yang menginginkan gading gajah untuk dijual. Padahal era 1970-an ketika Pak Cik masih duduk di Sekolah Dasar, setiap pagi bisa membawa pulang 20 sampai 30 biji durian tahi gajah. Kebanyakan pembeli durian tahi gajah adalah mereka penikmat durian sejati

Banyak juga orang-oarang perantauan Sumatera yang masa kecilnya sudah terbiasa menyantapnya. Sama halnya dengan kopi luwak. Itu kopi dari tahi musang. Wah di kampung saya juga terkenal. Bahkan di berbagai situs saya baca, kopi luwak yang sudah diolah menjadi bubuk kopi harganya selangit, bisa Rp1 juta 100 gram. Memang selain rasanya yang nikmat, kopi luwak juga menjadi lambang
bagi pengopi kawakan.

Pada 2006 lalu, ketika di Bengkulu, durian tahi gajah ditawarkan antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu/buah.

Dan malam bersama Pak Cik itu, bukan hanya gajah yang menikmati durian.

Saya juga menemukan duren bekas santapan harimau. Bagai, mana bentuknya?

Buah duren itu terlihat masih utuh. Tapi begitu saya senggol dia akan pecah. Dan daging duren sudah habis, yang ada tinggal biji duren tanpa daging. Biji itu durian disusun rapi kembali oleh harimau.

Harimau memakan durian sama persis seperti manusia. Tapi biji-bijinya kembali disusun seperti sedia kala. Lalu buah durian itu ditutup kembali. Bisa jadi karena faktor macan, gajah keburu pergi, sehingga kami hanya menemukan sebutir saja buah durian peraman perut gajah. Gajah keburu kabur kareana penikmat durian lainnya pun bermunculan.

BEGITULAH Fakhrudin menuliskan.

Saya sendiri, ketika pada 1970 di kampung di sebuah desa di Lambau, Sungai Geringging, Sumbar, di usia enam tahun pernah berpengalaman mencekam. Dini hari, saya mendengar durian jatuh di kebun tak jauh dari rumah, yang lokasinya memang terpencil. Saya sengaja ke luar memungutnya. Di saat tangan hendak meraih durian, sesosok tangan berbulu berkuku tajam sama-sama menjulur.

Saya perhatikan pemilik lengan, ternyata macan. Entah mengapa, sang macan itu tidak marah, atau menerkam kepala saya yang lugu, atau memang karena saya keburu kaku, tidak mampu lagi kaget. Membiarkan saya!?

Agaknya, di alam, sesama penggemar durian, berlaku hukum, dilarang saling menyantap, apalagi cuma menggigit. Toh melotot saja tidak.

Dari narasi Bung Fakhrudin tadi, tampak jelas, macan pun makan durian dengan beradab. Ia merapikan sampah kulit, membulatkan itu durian kembali. Saya menduga, agar aroma durian di alam sekitar, tetap mengembang, mengalir ditingkah angin.

Toh gajah saja memakan durian, hanya untuk menikmati aroma, melepas sekadar selera, walaupun sang buah yang berisiko merobek usus, bagaikan berjalan di tol, mengalirkan durian utuh kembali.

Dan itulah kekayaan flora dan fauna Indonesia, yang kini terdesak digilas lepas ditingkah penebangan kayu tropis terhebat di dunia.

Bila hari-hari kini terjadi banjir dan longsor di berbagai daerah jangan salahkan alam, selayaknya umat yang mengaku manusia bertanya, apa yang telah diperbuatnya terhadap sesama makhluk di muka bumi.

Dalam hal kepongahan manusia terhadap flora dan fauna itu, siang tadi saya mendapatkan cerita unik dari matan pekerja di perusahaan minyak di onshore di bilangan hutan Jambi, pada 2001. Namanya Stevie Peterson

Kepada saya, Stevie, begitu ia akrab disapa, menceritakan bahwa ketika hendak memancangkan rig, di belahan hutan di lokasi operasinya, ada banyak pohon durian. Karena tertarik akan aroma buah matang, ia mencari pohonnya. Ia memanjat menggunakan tangga dan peralatan rig naik ke pohon durian yang besar. Tiba-tiba, seekor monyek jenis Siamang bertangan panjang, ikut pula memanjat.

“Siamang itu saya perhatikan menatap saya, melotot. Ia seakan ingin menantang,” ujar Stevie

Tak lama kemudian Siamang itu meloncat-loncat, menggoyangkan dahan. Maka jatuhlah sebuah durian matang. Stevie yang di atas pohon menyimak laku monyet itu. Siamang menatap wajahnya seakan mengajak balap mengambil ke bawah.

“Saya bilang ke Siamang, ya kau ambillah.”

Siamang itu cekatan turun, lalu tak lama kemudian naik kembali dan duduk sedepa di hadapan Stevie. Tangan kiri Siamang memegang durian. Tangan kanannya seakan memberi hormat. “Siamang itu lalu dengan wajah nakal mencibirkan lidah ke arah saya,” tutur Stevie menirukan.

“Hendak, marah, Siamang!”

“Sampai kapan pun pengalaman itu tak akan saya lupa.”

Nah, Sidang Pembaca, ternyata kita manusia yang mengaku berotak lebih hebat dari jenis monyet, bisa diledek. Dan di alam kini, seharusnya segenap orang, termasuk yang mengaku pemimpin, yang sesungguhnya cuma pengelola yang diberi amanah rakyat itu, maulah sekali-kali berkaca kepada alam. Bukankah alam terkembang layak dijadikan guru?

Jika macan, gajah, enggan menyakiti manusia, bahkan monyet pun bisa bersrimulat menghibur jenaka, bila sebaliknya pemimpin di berbagai lapisan justeru “menyiksa” rakyatnya hingga melemah daya belinya, sulit hidupnya, redup gizinya, rusak peradabannya, tentulah mereka semua, akan lebih hina dari pada fauna Indonesia nan kaya.***

Iwan Piliang, presstalk.info