Tag

 Tahun 2002 di Kampung Bongkaran, Tanah Abang. Saat cuti ke Indonesia saya mampir di sana berputaran dari gang ke gang mencari netter yang cuma dikenal lewat internet bernama Achang Hasanudin. Walaupun dia tidak pernah mau secara langsung ditemui dan ogah ditolong saya sudah kepalang janji untuk membantu kakak perempuannya-pasien tumor kepala biaya berobat sebisanya.

 

Suami kakak Achang cuma pegawai rendahan sebuah perusahaan swasta. Istri dia hanya memiliki warung yang berhadapan dengan tembok pembatas rel kereta dikenal namanya sebagai " bongkaran " tidak begitu jauh dari sebuah kali yang begitu bau dan keruh, kata dia. Tiap jam sang kakak menangis dan merintih kesakitan lantaran tumor atau kanker akut di kepalanya. Biaya berobat telah menghabiskan seluruh tabungan plus dengan begitu banyak utangan. Operasi di rumah sakit di Jakarta hampir tidak mungkin lantaran terlalu mahal.

Satu satunya yang agak menolong adalah saudara mereka di Yogya, memiliki kontak dengan sebuah rumah sakit di sana yang mau melakukan operasi dengan biaya yang jauh lebih murah. Itupun masih berjumlah dalam bilangan jut jut. Jangankan sejuta, untuk ongkos ke Yogya betiga saja mereka paspasan, kata Achang. Mustahil kata anda masa buat ongkos saja susah? Kesangsian anda bakalan sirna jika anda mencoba menginjakan kaki di kampung itu. Jujur, saya tidak pernah mengira walaupun pernah tinggal-sejak lahir sampai tamat SMA di Indonesia- ada tingkat kemiskinan yang begitu frontal seperti di kampung Bongkaran.

Perkampungan itu lebih mirip dengan gheto para gembel. Atau gheto mungkin jauh nampak mewah karena memiliki bangunan permanen. Di kampung Bongkaran, manusia hidup dalam bangunan yang seperti tidak memiliki fondasi. Ibu dan anak tidur dalam gerobak. Alas tidur mereka potongan kardus dan kain rombeng. Bau kemiskinan begitu menyengat. Wajah manusia begitu pasrah dan letih. Jika anda ingin tahu alasan kenapa saya begitu antipati dan mengkritik semua ulama sejuta ummat yang kondang di Indonesia. Kritik itu makin kental setelah saya menginjakan kaki di kampung si Achang. Berbusa busa mulut mereka bicara tentang iman,kebaikan,Allah,surga, neraka, rasul dan kegombalan lainnya, lalu pulang naik Mercedez Benz.Tapi jutaan manusia -sementara sang hipokrit balik ke istana dan pelukan bini mudanya-hidup dalam kualitas yang lebih rendah dari kucing dan anjing jalanan.

Di tengah bau yang begitu menyiksa saya berhenti berkali kali dan mencoba mencari warung Achang.Tapi ada puluhan warung disana dan rasanya tiap beberapa meter ada saja orang yang mencoba jualan segala yang bisa dijual. Saya tatap dengan penuh horor sungai keruh penuh sampah menjijikan itu. Gas yang keluar dari timbunan sampah pastilah gas methane yang sanggup membunuh manusia secara pelan pelan. Perkampungan ini tidak sehat dan layak huni.Di Amerika tempat seperti ini bakalan disegel oleh departemen kesehatan sebagai biang toksik yang berbahaya buat manusia.

Tidak ada yang kenal Achang. Achang kemungkinan cuma nickname, lalu saya coba tanya last namenya- Hasanudin. Pak, ada ratusan nama Hasanudin alias pak udin di sini, kata mereka. Saya coba keberuntungan bertanya tentang seorang perempuan sakit yang punya tumor di kepala. Mereka menjawab banyak orang sakit di sini pak. Telunjuk mereka bergerak kiri kanan membidik sejumlah perempuan yang bergeletakan bersisian dengan tembok Bongkaran. Rasa sedih dan frustasi membuat saya sempat kesal dengan Achang. Beberapa minggu lalu sebelum saya cuti, saya sudah kirim uang pada abang ipar saya dan memberikan nomor telepon dia buat Achang.Saya pesankan Achang untuk mengontak abang ipar saya untuk menerima bantuan infak itu. Tapi harga diri manusia miskin ini lebih tinggi dari semua orang yang pernah saya kenal bahkan semua ulama atau pendeta yang saya pernah dengar. Akibatnya saya jadi pusing mencari sendiri sosok hantu dia seperti ini.

Kegeraman campur aduk dengan rasa iba dan tidak lupa sambil mengutuki sejumlah nama dai kondang- saya berjalan balik ke arah jalan kampung jalan Haji Sabeni yang walaupun miskin tidak separah kampung Bongkaran. di sebuah warung cukup permanen bersebelahan dengan plang (kalau tidak salah kelompok pengajian NU cabang whatever) saya berhenti. Bertanya siapa ketua pengajian itu pada pemilik warung. O itu suami saya kata dia. Bisa ketemukan saya dengan dia? Wajah si ibu ragu lalu bertanya buat apa? Saya ingin ngomong hal yang penting. Lalu tidak beberapa lama di ibu masuk dan memanggil suaminya yang bertubuh kurus berkulit legam.Dia menyilahkan masuk dan bertanya secara santun. Saya teliti wajahnya, rasanya wajah orang baik dan bisa dipercaya. Saya terangi alasan saya masuk kampung Bongkaran di belakang. Lalu saya bilang karena misi saya gagal, saya akan memberikan infak yang ala kadarnya buat penduduk kampung itu. Saya bilang uang infak itu dari teman teman bukan cuma uang sendiri. Berikan infak itu bagi orang yang paling membutuhkan, kata saya sambil berpikir apatis, jumlah infak itu cuma segelas air buat ribuan tenggorokan manusia yang haus. Pak kepala pengajian berjanji dan hati saya begitu lega. Kakak Achang mungkin tidak akan pernah saya ketemui dan pernah dibantu. Tapi paling kurang beberapa tetangga dia bisa bernapas beberapa hari lebih lega dan mungkin bisa makan lebih enak.Itu saja membuat saya berasa sudah masuk surga.

Merayakan rasa surga, begitu keluar saya mampir ke warung bu kepala pengajian NU.Seorang bocah ingusan saya tawarkan es krim merek murahan merek Woddy dan Walls beserta adiknya yang juga ingusan.

Mereka tertawa tawa senang. Lalu di pojokan seorang bocak pitak tanpa alas kaki dan telanjang dada kelihatan cemburu saya tawari satu, dia lalu lari lari menjauh so happy. Tidak lama segerombolan bocah entah dari mana muncul memanggil manggil saya om dan ingin ikutan merasakan es krim.Saya bagi mereka semua sambil ketawa ketawa melihat tingkah mereka yang begitu lucu. Ibu pemilik warung juga senang lantaran dagangan es dia ikutan naik tingkat omsetnya. Setelah lebih dari 20 batang es krim, saya mulai panik ketika seperti riot bukan saja anak kecil tapi sejumlah ibu ibu yang datang dengan anak digendongan muncul menyerbu saya di samping warung tersebut. Ibu pemilik warung juga ikutan panik mungkin lantaran dia takut bisnisnya dirangsak orang.Dia langsung menutup frezernya dan teriak sudah habis!..sudah habis!Sesuatu yang cute dan lucu menit yang lalu, dalam sekejab berubah menjadi seperti sebuah episode film horror zombie dan sebangsanya. Saya sempat ketakutan jelas saja. Setelah cepat cepat saya bayar, saya say good bye.

Di tengah perjalanan pulang kembali ke hotel perasaan saya makin campur aduk. Lega lantaran misi saya tidak sia sia. Sedih memikirkan penderitaan warga kampung Bongkaran. Bahagia melihat bocah bocah miskin bisa menikmati es krimnya. Dan makin antipati pada orang kaya terutama jika mereka punya titel ulama. Mungkin ini cuma sekedar mencari pembenaran. Walaupun saya tidak pernah hidup miskin dalam artian "miskin" dan sekarang saya hidup jauh dari kemiskinan. Selama bertahun tahun Email saya tetaplah proletar lantaran saya sadar dengan menggunakan proletar, nama itu selalu mengingatkan bahwa saya pernah hidup secara semi proletaris bertetanggaan dengan para real proletariat.

Es krim di kampung miskin dinikmati sedikit orang. Es krim yang membuat saya berkhayal alangkah nikmatnya agama Islam jika memiliki orang seperti Mother Teresa rela berjuang membantu orang papa di kampung Bongkaran. Saya berjanji masuk Islam kembali asal Islam mampu menaikan harkat orang di kampung Bongkaran walaupun saya yakin hal itu hampir mustahil bakalan menjadi kenyataan. Saya rela diledek dan dihina sesama sohib agnostic sebagai orang yang tidak konsekwen. Its ok with me.Maka jika saya sekarang tidak percaya akan esensi Tuhan karenanya saya tentu tidak bisa bersumpah demi Tuhan -oleh  karena itu saya akan bersumpah demi es krim merek Hagendazz saja…I do solemnly swear!
 
December 1, 2008
 
Habe