Tag

 Sebenarnya ini adalah cerita lama. Tentang perjalanan saya mengelilingi beberapa negara di Eropa. Tapi sengaja saya akan ulang lagi lantaran sekedar ingin memberikan sejumlah informasi bagi neter kita di tanah air yang bermimpi ingin jalan jalan ke luar negeri. Menganggap luar negeri adalah sorga.Lantaran saya adalah informan yang jujur, mudah mudahan sehabis membaca ini para pemimpi itu berubah pikiran.

Perancis adalah negeri yang unik. Campuran antara intusi dan kematian kreatifitas. Airport di Paris misalnya diambil dari nama seorang Jendral yang sewaktu perang dunia kedua secara gagah berani melawan tentara pendudukan Jerman dengan cara…mencari perlindungan di Inggris. Mungkin itu sebabnya mengapa Charles de Gaulle Airport terlihat tidak bersih dan arsiteknya memusingkan. Tabung tabung itu monseur…seperti oversize sedotan teh botol di warung warung Jakarta. Pindah dari satu terminal ke terminal yang lain seperti mendapatkan PR pelajaran kimia di sma. Saya hampir tidak bisa nyontek lantaran hampir semua orang Perancis tidak atau pura pura tidak mengerti bahasa Inggris.

Naik bus untuk kemudian naik kereta ke Paris. Keretanya biasa biasa saja. Di luar sana berkilo kilo meter panjangnya nampak grafiti para preman mengotori dinding. Pengalaman pertama masuk kota itu adalah saya nyasar sampai 3 jam saat mencari alamat hotel di daerah namanya kalau tidak salah Pont De St Cloud. Lantaran saya berada turun di daerah yang berbeda juga bernama St Cloud. Benar, Paris nampak artistik dan lumayan bersih. Tapi manajemen kotanya memusingkan. Nama jalan berada melintang di depan dan hampir semuanya dimulai dengan " rue " . Kemudian pemakaian nama jalan kadang panjang panjang seperti Rue du Faubourg St-Honere atau Terrase Du Bord De Le'eau ( speak english pleaseee…) Orang Indonesia jauh lebih simpel memberikan nama jalan misalnya Jalan Sudirman. Jalan Sukarno-Hatta.

Harus diakui museum di Paris memiliki koleksi art yang terbaik di dunia. Tapi ukuran museumnya seperti Louvre ( 22.000 square meter ) terlalu aujubilah. Kaki serasa hampir lepas lantaran harus berjalan demikian jauh dan berdiri sekian lama berhadapan dengan ratusan jika bukan ribuan masterpiece. Dan lukisan Monalisa? Well sampai sekarang saya tidak mengerti dimana kelebihannya. Ukuran lukisan itu jauh lebih kecil dari poster yang sering anda lihat. Mengantri setapak demi setapak untuk menyaksian Monalisa adalah pemborosan waktu. Lebih menarik menikmati lukisan impresionis seperti Renoir atau Monet. Di Louvre saya adalah satu dari 6 juta pengunjung rata rata museum itu tiap tahun.

Musee d' Orsay, musium yang ukurannya jauh lebih kecil rasanya lebih nyaman dan simple. Beberapa karya Rodin,Cezanne dan Camille Pissarro sempat membuat saya berdiri cukup lama di sana. Dan ini bukan mengada ngada jika saya bilang bahwa Habe juga punya bakat menjadi seni cukup tinggi ( lain kali akan saya kasih liat hasil sketsa -sketsa Habe ) Jika anda menyenangi seni ketika di Paris anda harus menjauhi musium Guggenheim yang berisi modern art. Datang mengunjungi Guggenheim adalah seperti blind date dengan cewek yang jauh dari kece yang memaksa anda nonton film roman buatan India. Anda bakalan kecewa kenapa begitu berharap sedemikian rupa.

Manusia Perancis tidak seperti manusia di Amerika yang mandi 2 kali sehari, mereka amat irit dengan air. Bau badan mereka lebih memabukan dari bau pestisida dicampur pupuk urea. Selama di Amerika seingatnya, saya cuma pernah mencium bau badan orang ketika berhadapan dengan seorang homeless di 42nd street New York City. Tapi di Paris saya mencium body odor hampir tiap kali naik bus dan metro.


Jika saya suatu saat menulis buku panduan tour di Paris- 2 hal penting yang harus diingatkan pada pembaca
adalah : awas copet dan gunakan masker bila naik kendaraan umum. Walaupun begitu french women memang banyak yang menarik. Ukuran mereka langsing. Mode berpakaian memang oke. Melihat cara orang mengemudi di Paris, anda bakalan heran dan bertanya tanya apakah mereka sedang kebelet buang air besar mengejar toilet umum? Dan jika benar mereka harus menyediakan recehan lantaran tidak ada yang gratis di Paris kecuali bau badan.

Di Montmartre, sebuah village of artist di atas sebuah bukit. Saya menemukan karakter orang Perancis yang amat ramah tamah saat saya sambil berjalan sibuk memvideokan para artist yang sedang beratraksi membuat sketsa atau melukis di hadapan begitu banyak turis. Seniman cewek berambut jagung itu bilang kira kira bunyinya begini " Muzu de au quaides ndasmu ta'tampol en'tar " What? kata saya bingung..lalu dia ngomong begini "speak french, idiot! lu jangan seenaknya aja ngambil film tanpa ijin.." Darah rendang saya lansung seperti santan mendidih, saya balas " Lu yg mestinya speak english, goblik! English bahasa dunia "
" f*ck you, chinese!" Eh dia sangka saya cina. " f*ck you and f*ck your smeely armpit, you bozzo"
" Keluar lu dari Perancis! " eh dia sangka saya mau apa hidup di negara yang makanan elitnya adalah bekicot ? " gua tinggal di Amerika tau? Tanpa Amerika lu orang bakalan ngomong Jerman dan nenggak bir tiap malam" Beberapa turis ketawa ketawa seperti mendukung omongan saya. Kelihatannya mereka turis dari USA.

Paris walaupun nampak cantik, di pinggirannya nampak lebih bleketek dari Pasar Induk di Jakarta. Imigran berasal dari afrika merajalela. Pelacur bertebaran hampir tiap blok. Kecuali es krim dan wine, saya lebih rela memakan makanan tahanan rutan Salemba dari makan makanan orang Perancis. Rindu makanan Asia, saya masuk restoran Vietnam. Pho soup yang seharusnya lezat, di Paris bahkan orang Vietnampun ikut ikutan hilang skill masak memasak. Soup itu serasa menyeruput kuah empek empek yang bikin anda mau muntah bertubi tubi, dan hey kenapa daging dan tetelannya cuma secuil?

Nah bagi neter yang bermimpi jalan jalan ke Paris, sebaiknya membatalkan diri. Walaupun keindahan kota di Indonesia jauh kalah dari keindahan kota di Eropa. Keindahan alam negara kita jauh lebih alami dan kita tidak mesti kelaparan kelayapan di luar negeri. Dan ngapain jauh jauh ke benua lain jika kita bisa ke Bukittinggi,Pengalengan, Bali,Batu,Danau Toba, atau ke Bunaken.Jalan jalan di Indonesia paling kurang kita tidak harus menahan napas seperti setiap kali berdekatan dengan orang Perancis.

November 26, 2008

Habe