Banyak yang telah diucapkannya membuat orang yang membacanya maupun mendengarnya langsung, menjadikan orang nerasa gregetan, gemes dan menimbulkan keiginan orang untuk melontarkan komentar kembali.

Siapa saja yang berbuat seperti itu: Gus Dur? Amien Rais? Bahkan mungkin sekali Jusuf Kala?

Wah kali ini saya akan menunujuk seorang pimpinan dari negeri lain, Jepang.

Namanya Taro Aso. Jabatannya Perdana Menteri Kekaisaran Negara Jepang.

Kemarin pak Aso ini terpaksa meminta maaf lagi setelah dia berbuat hal yang sama, beberapa kali sebelumnya. Kali ini berkat komentarnya yang kontroversial, menyerang, entah sengaja atau tidak sengaja atau karena lepas kendali saja. Dia bilang  bahwa orang-orang lanjut usia yang sakit-sakitan itu kurang berusaha untuk hidup sehat. Hal seperti ini tidak disadari akan bisa menyinggung perasaan orang-orang usia lanjut yang jumlahnya makin banyak setiap hari, bukan saja di Jepang sendiri, tetapi di seluruh dunia. Apa sebab pertumbuhan jumlah orang usia lanjut makin bertambah lajunya? Itu berkat ditemukannya solusi penyembuhan penyakit-penyakit yang tadinya merupakan kasus yang tiada harapan. Itu juga berkat kesadaran semua manusia untuk menjaga kesehatan yang tadinya tidak dilakukan. Berkat olah raga yang tepat telah  dilakukan untuk menjaga kondisi penyakit yang ada agar tidak menurun menjadi lebih jelek. Dalam kondisi seperti itu Jepang melihat kenyataan bahwa jumlah orang usia lanjut bertambah banyak saja. Mengenai mereka ini, para lanjut usia, pak Aso ini juga memberi gambaran sebagai orang-orang yang tertatih-tatih dan sering pergi ke dokter. "Buat apa saya harus membayar biaya kesehatan mereka, padahal mereka tidak aktif berbuat sesuatu, hanya makan dan minum saja?".

Kepada Panel pembicara-pembicara mengenai ongkos yang meroket terhadap pembiayaan kesehatan, dia mengatakan: "Biaya kesehatan saya pribadi amat jauh lebih murah karena saya kan setiap hari berjalan kaki dan melakukan cara-cara lain untuk keperluan berupaya hidup sehat. Saya pembayar pajak, lalu mengapa saya harus ikut membiayai para orang yang berusia lanjut? Dalam reuni sekolah untuk yang berusia 67 dan 68 tahun saya hanya menyaksikan bahwa banyak mereka adalah orang-orang tua yang renta yang sering menjadi pengunjung tempat praktik dokter." Pak Taro Aso ini memang berasal dari keluarga yang kaya raya, jadi mungkin kurang bisa merasakan nasib mereka yang sudah menjadi tua, juga yang hanya mempunyai akses yang terbatas dalam bidang keuangan untuk membiayai hidup yang sehat ideal.

Dia malah masih mempunyai komentar yang aneh, sewaktu dia berbicara di depan para Gubernur dalam membicarakan kekurangan tenaga dokter di derah terpencil, pada tanggal 19 Nopember yang lalu, katanya: "Saya sungguh mengerti mengapa Rumah sakit yang berada di daerah terpencil, menghadapi kesulitan dalam mendapatkan dokter. Banyak sekali para dokter yang kekurangan kesadaran akan perlunya menggunakan  pikiran sehat. Mereka ini memang agak lain".

Demikianlah maka pembicaraan hal penting seperti pembiayaan yang meningkat terhadap masalah kesehatan, sebuah topik yang amat sangat penting bagi kalangan bidang kesehatan dan para pensiunan. Dari kalangan media maka liputannya menjadi amat seru, sesudah teks pidato yang lengkap dimuat keesokan harinya, tanggal 20 Nopember. Kata koran Yomiuri Shinbun kemarin, komentar-komentar yang muncul, mungkin sekali akan bisa diinterpretasikan sebagai menimpakan kesalahan kepada orang yang sakit.

Pak Aso ini tidak kekurangan akal. Dia menarik kembali komentar-komentarnya mengenai hal kesehatan ini dan mengatakan: "Saya meminta maaf karena telah menyinggung mereka yang kebetulan sekarang sedang sakit. Kalau saya telah menyakiti hati siapapun yang sekarang sedang menderita sakit, gomennasai – saya minta maaf. Masalahnya adalah   terjadi perbedaan yang amat tajam antara mereka yang peduli memelihara kesehatannya dan mereka yang peduli terhadap perlunya mencegah sakit dengan mereka yang sama sekali tidak peduli. Media hanya mengutip sebagian saja dari seluruh ucapan yang saya sampaikan." Meneliti semua komentarnya yang tidak mengena seperti itu, Pak Aso ini malah menggerus lebih dalam popularitasnya yang memang sudah kurang baik itu.

Pak Aso juga pernah membuat blunder karena masalah sederhana. Dia tidak mengira bahwa hadirin di depannya adalah juga orang tua murid, karena di dalam pikirannya, mereka hanya guru dan pihak pengelola sekolah bersama para muridnya. Apa yang dikatakannya? " Saya sungguh menghargai pernyataan Direktur Sekolah yang mengatakan bahwa sesungguh-sungguhnya yang perlu didisiplinkan itu adalah para ibu daripada anak-anak mereka".

Belum cukup yang seperti itu blundernya, dia masih membuat pernyataan pada sebuah kesempatan lain, pada tingkat kepercayaan untuk sebaiknya mengekspor beras ke China: "Beras berkualitas standar dijual dengan harga 16000 Yen per karung disini. Tetapi bisa laku dijual di China seharga 78000 Yen sekarungnya. Mana yang lebih mahal? Orang yang sedang menderita Alzheimer saja dapat mengerti itu"

Sebelum jabatan sekarang, selaku Menteri Luar Negeri dia telah membuat keributan dan memancing kemarahan dengan memuji kebrutalan pemerintahan Jepang, sewaktu menjajah sebelum Perang Dunia Kedua di Taiwan, karena kata Pak Aso telah menaikkan kemampuan membaca di Taiwan. Malah dia mengatakan bahwa Jepang telah berjasa kepada Taiwan.

Kita lihat saja selanjutnya apa yang akan terjadi terhadap Pak Taro Aso, si pesilat lidah ini.

Mengapa saya gunakan pada awal tulisan ini kata pimpinan dan bukan pemimpin?

Pimpinan adalah seseorang yang menduduki jabatannya karena dia itu ahli dalam suatu bidang karena "dipasang" di kedudukan tersebut. Bisa saja dia seorang professional, tetapi bekerja sendirian menurut polanya sendiri, kurang memperhatikan sekelilingnya dan bawahannya.

Tetapi seorang pemimpin adalah seorang terkemuka dan mengemuka, dapat menjadi panutan atau leader karena mampu melakukan arti kata to lead atau pimpin, mengarahkan bawahan untuk suatu tujuan, didengar oleh bawahannya dan diturut perintahnya serta ditiru perbuatannya. Pemimpin adalah seorang Leader. Saya tidak pernah tau Pak Taro Aso ini bagaimana sesungguhnya.

Pimpinankah atau pemimpinkah?

Gambatte kudasai ne, Dai Jin sama …

Be brave, Mr. Prime Minister ….

Semoga engkau selamat, Pak Perdana menteri ..…

 

Anwari Doel Arnowo

Jumat, 28 Nopember 2008 – 21:36:33