Selasa, 18 Nopember 2008 Hari ini saya baca di Superkoran, mengenai Melewati Batas 1.500.000 Pengunjung. Alhamdulillah!!
Ternyata dari banyaknya penulis, masalah yang ditulis dan banyaknya para pengunjung maka Komentar adalah hal penting sekali dalam "kehidupan" Superkoran kita ini. Saya ingat telah memberi selamat pada tanggal 17 Agustus yang lalu, memberi ucapan Selamat Berulang Tahun kepada Superkoran, dan tentu saja, dialamatkan kepada Administrator nya. Saya benar-benar ikut gembira bahwa pada ulang tahunnya yang ke tiga itu pengunjungnya telah melewati angka satu juta pengunjung. Itu saya lihat sebagai prestasi. Sebagai tonggak sejarah, sebuah media yang dikelola dari luar Indonesia, berbahasa Indonesia, untuk orang Indonesia baik yang sedang berada di luar negeri maupun untuk yang sedang berada di dalam negeri Indonesia. Sungguh sebuah prestasi lagi hanya dalam tempoh tiga bulan berikutnya naik lagi jumlah pengunjungnya dengan angka fantastis: 50%, satu setengan juta. BUKAN MAIN.

Sebuah komentar pernah saya tuliskan untuk sebuah tulisan di Superkoran, agar dalam urusan polemik pemilihan Presiden Amerika Serikat, kita tidak terlalu ikut terlarut kedalam suasana emosional, sehingga terjadi eyel-eyelan yang kurang perlu, apalagi mendalam sampai pro Republik maupun Demokrat. Terhadap komentar saya ini ada yang memberi sebuah counter jawaban, bahwa superkoran adalah tempatnya sebagian besar orang yang sedang berada di luar negeri .. dsb. ..dsb. Seingat saya sudah sejak lama sebelum 17 Agustus 2008, Superkoran memiliki pengunjung yang justru dari Indonesia sendiri, yang jumlahnya berada jauh di atas 50% dari jumlah seluruh pengunjung. Inilah, Bung yang saya ingin tunjukkan kehebatan prestasinya. Orang-orang Indonesia sendiri yang tinggal di dalam negeri Indonesia mengunjungi koran yang di kelola dari luar Indonesia; jangan-jangan tidak terlalu banyak yang sadar bahwa koran yang dihadapinya dikelola dari luar negeri. Ada bedanyakah dengan koran lokal Indonesia? (catatan admin Superkoran: jumlah pengunjung dari Indonesia pada awal sejarah Superkoran memang masih kira kira sama dengan yang dari LN. Tapi sejak 1 tahun terakhir, pengunjung dari Indonesialah yang paling besar. Dalam 2 bulan terakhir pengunjung datang dari 60 negara – yang dari Indonesia sekitar 70-80%,  US dan Kanada 20% dan 57 negara lainnya sekitar 10%an)

Ah, pernah ada posting seseorang di sebuah Milis yang menulis bahwa bagi mereka yang sedang mempunyai masalah dengan pemerintah Indonesia baik incumbent atau bukan, lalu lari ke luar negeri dan menulis serta memaki-maki negerinya sendiri, karena merasa aman jauh dari Indonesia. Saya tidak tau bahwa pendapat yang melakukan posting itu begitu getirnya, sehingga dia berpendapat seperti itu. Saya sendiri juga banyak berada di luar negeri dan saya sering menulis yang tidak sejalan dengan policy pemerintah, sekali lagi: baik yang incumbent maupun yang tidak incumbent, tanpa perasaan gentar karena status yang seperti itu. Perhatikan apa yang ditulis di atas, para pengunjung banyak yang tinggal di Indonesia dan banyak juga tulisan yang saya kirim kalau sedang berada di Indonesia, mengenai Indonesia dan segala hal yang saya pikir memang patut dituliskan. Saya merasa kalau yang mengingatkan adalah bagian dari bangsa sendiri tentu akan lebih "nyaman" dari pada yang mengingatkan itu berasal dari orang/pihak asing?! Betul?! Nah saya bukan satu kali atau beberapa kali tetapi puluhan kali, menulis sewaktu sedang berada di dalam negeri dan saya tidak pernah satu kalipun menggunakan nama samaran, menulis apa adanya. Yang saya tuju sebagai sasaran juga saya sebut namanya dengan jelas bukan singkatan atau bersembunyi di belakang kiasan-kiasan yang berbelit-belit. Sampai saat ini saya masih selamat dan paling jelek yang bisa timbul adalah: pembaca yang tidak setuju dengan isi tulisan saya itu. Itu adalah hak azasi pembaca tersebut sepenuhnya. Saya malah mengharapkan pembaca tersebut bersedia untuk menuliskannya dengan tulisan yang agak panjang dan lebih detail, bukan komentar pendek. Akan tetapi saya tetap hormat kepada siapapun yang mau menuliskan komentar biar pendek sekalipun, karena itu baik dan amat menunjang tingkat inteligensianya sendiri. Kalau lisan, selain saya sendiri tidak bisa mendengar, saya yakin pembaca tersebut paling-paling hanya merasa  terhilangkan rasa kesalnya atau tidak setujunya, untuk kurun waktu sebentar saja. Tulislah, dan tulislah di Superkoran, biar sehat seperti saya, biar awet tua seperti saya. Bagaimanapun juga, menulis adalah sebuah latihan mental dan sebuah hasil karya yang berasal dari berpikir dengan menggunakan akal, yang telah ada di dalam tubuh kita sejak kita terlahir.

Saya berterima kasih adanya kemajuan-kemajuan yang bisa amat bermanfaat karena adanya internet dan media elektronik yang sekarang sedang marak, dan nyata sekali amat sulit dicegah oleh kekuatan apapun. Gunakanlah kesempatan ini oleh kita untuk diri kita sendiri, untuk orang-orang di sekeliling kita dan untuk anak-anak dan cucu-cucu kita nanti. Saat ini saya sedang berada di Singapura untuk waktu cukup lama dan seperti mereka yang lain, tetap bisa, kalau mau, mengamati Indonesia, mengomentari dan menulis kritik serta menganjurkan apapun dalam bentuk apapun melaui media manapun, yang bagi saya nyaman kalau: melalui Superkoran. Saya akan kembali ke Indonesia pada waktunya dan akan meneruskan hidup saya di negara lain di mana saya telah menjadi penduduk tetap, di Kanada. Paspor saya masih bergambar burung garuda dan saya tidak pernah lupa bahwa saya orang Indonesia.

Menulis mengenai komentar seperti di atas menggugah saya untuk mengungkapkan bahwa menulis, mengutarakan, memberi  komentar adalah sebuah pekerjaan yang mungkin akan bisa berlangsung untuk segala jaman. Setiap jaman.

Menurut sejarah, dunia pernah terkena keadaan ekonomi yang amat jelek dan terkenal disebut sebagai  keadaan yang amat tidak menyenangkan dan istilah yang digunakan adalah MALAISE dan orang-orang Melayu menyebutnya menjadi Jaman Malese, malah menggunakan istilah yang menggambarkan keadaan yang mereka sebut dengan jaman meleset yang mirip dengan bunyi kata malaise. Keadaan tersebut hampir seperti yang sedang terjadi pada saat ini: ECONOMIC MELT DOWN, yang mula-mula secara nyata dialami oleh sebuah perusahaan, Lehman Brothers, yang bangkrut. Goncanglah semua sistem keuangan global dan pemerintah Amerika Serikat yang sedang panik, meminta ijin DPRnya yang mula-mula tidak menyetujui tetapi berakhir sebaliknya dengan menyetujui. Pengucuran dana sebesar US$700 000 000 000, untuk tegasnya angka tujuh dengan sebelas angka nol di belakangnya dalam mata uang Dollar Amerika Serikat, terbukti tidak membantu sifat melting down yang terjadi di mana-mana. Development Bank of Singapore yang biasa dikenal dengan singkatan DBS, pada akhir minggu lalu memberhentikan (lay off) 900 karyawannya. Ada seorang anak saya bekerja di DBS Jakarta, tentu sedang bertanya-tanya apa masa depannya di DBS, meskipun di Jakarta. Citibank di seluruh dunia akan memberhentikan lebih dari 50000 karyawannya. Karyawannya di Singapore saja, termasuk anak saya yang lain juga bekerja di situ, ada sebanyak 9000 orang, tentu di antara yang sekian ribu itu ada yang akan mengalami nasib kurang baik seperti itu. Perusahaan-perusahaan industri mobil di Amerika Serikat Sendiri banyak yang memberhentikan puluhan ribu karyawannya yang bekerja di Chrysler, GM dan lain-lain merek. Jepang dan Eropa tidak ketinggalan. Semua usaha dan semua perusahaan internasional maupun lokal, tidak bisa tidak akan mengalami seperti dicubit, dipukuli atau bahkan digebug berkali-kali. Seluruh dunia usaha terutama yang ikut globalisasi, tentu akan merasakan MALAISE (rasa kurang enak di badan). Bisa digambarkan seperti tubuh yang meriang, demam atau feverish.

Sekarang apa yang bisa saya catat, komentar yang dilemparkan oleh para pengamat ekonomi, oleh ahli-ahli ekonomi internasional dan juga, tentu saja, politikus, mencuat dari mana-mana, dari media dan dari badan-badan pemerintah-pemerintah. Seorang petinggi Singapore menganjurkan sebagai berikut: Kalau anda berada di dalam posisi di mana masih bisa mampu membelanjakan uang, janganlah berhenti membeli dan tetaplah berbelanja, baik barang maupun jasa. Hal ini akan tetap membuat roda ekonomi bergerak dan membuat ekonomi bergairah kembali. Anda baca kembali kata-kata: KALAU ANDA BERADA DI DALAM POSISI ..dst. … . Jadi anjuran seperti ini dapat diberikan sebagai komentar bagi mereka yang di dalam posisi … Kalau tidak dalam posisi, misalnya seperti orang Indonesia di daerah-daerah terpencil di Indonesia, yang ekonominya tidak bisa menunjang kehidupan rakyat yang biasa saja, maka nasihat atau komenar di atas yang khusus untuk masyarakat di Singapura, tentu tidak akan sesuai. Singapura sebelum ini adalah salah satu di antara sepuluh negara-negara terkaya di dunia. Tentu lain sekali dengan Pendapatan Rata-Rata orang Indonesia yang hanya sekitar satu per sepuluhnya dari Pendapatan Rata-Rata orang Singapura yang lebih dari USDollar 33 000 per kapita per tahun. Ada juga komentar yang saya dengar bagi para investor: JANGAN TERGESA-GESA MEMBELI ASSET, MEMBELI SAHAM ATAU MEMBELI APAPUN yang anda tidak yakin akan mempunyai nilai tambah. Hal ini adalah akan menambah kerugian di masa mendatang.

Dua komentar dan nasihat yang amat berlainan sekali !!! Yang pertama disuruh belanja dan yang kedua disuruh mencegah berbelanja. Beberapa kejadian setelah nasihat-nasihat dan komentar di atas, memang saya lihat harga minyak dunia dan harga emas per ounce-nya bergerak cepat turun dan tidak menentu. Wah, saya pikir memberi  komentar secara umum kepada umum itu, memang gampang dan nikmat juga barangkali rasanya, tentu saja bagi sang pemberi komentar.

Seperti kata pepatah: TALK IS CHEAP.

Maklumlah  jaman Malaise !!

 

Anwari Doel Arnowo

Selasa, 18 Nopember 2008 – 18:18:19