Tag

 Kalau bukan karena undangan yang disampaikan kepadaku oleh Gogol (Amsterdam) dan Mintardjo (Oestgeest) mengenai rencana pertemuan di Indonesia 'Open House'-nya Mintardjo, sungguh Rabu malam yang lalu, aku tak akan keluar rumah. Soalnya angin dingin terus saja bertiup keras menyasar pepohonan, yang dedaunannya sudah banyak rontok. Sebagian lagi menguning kemerah-merahan. Belum lagi hujan rintik-rintik tak henti-hentinya. Tapi, mau bilang apa. Begitulah cuaca dan suasana musim gugur di Belanda. Bisa diperkirakan bila aku memenuhi undangan itu, pulangnya pasti hari sudah malam dan mungkin akan turun hujan lebih deras lagi.
.
Namun, biasanya, jika ada 'kumpul-kumpul' di rumah 'Pak Min'
(sapaan akrab para mahasiswa Indonesia yang kenal Mintardjo) dengan
yang datang dari Indonesia dan kawan-kawan PPI, jarang undangan itu
kutolak. Rumah Mintardjo di Korenbloemlaan 59, Oestgeest – Leiden,
sudah lama menjadi 'INDONESIA OPEN HOUSE'. Mohon jangan salah
tafsir. Nama 'Indonesia Open House'-nya Pak Min, itu aku sendiri
yang memberikan. Sebelumnya, tak ada orang lain yang menyebutnya
begitu. Bukan apa-apa! Tapi, ini penting dijelaskan. Jangan sampai
fihak KBRI Den Haag menjadi salah faham. Bukankah bagi setiap orang
Indonesia, KBRI-ah yang merupakan 'Indonesia House', yang
selalu 'open'?

Namun, kenyataanya rumah Mintardjo itu sudah bertahun-tahun lamanya
praktis adalah 'INDONESIA OPEN HOUSE'. Dalam arti dan makna yang
sesungguhnya. Dari rumah Mintardjo itu berhembus angin dan
semangat segar patriotisme, motivasi dan jiwa serta rasa
kepedulian terhadap nasib bangsa Indonesia dan haridepannya.

Lebih-lebih lagi kali ini, undangan Mintardjo <PPI Leiden dan Yayasan
Sapu Lidi> tak mungkin ditolak. Karena disertai pemberitahuan, sbb:
Sebelum acara dimulai, kita makan sore bersama. Wah, fikiran terus
saja melayang pada sop-buntut masakan khas Mintardjo yang
disuguhkan bila mengajak tamu-tamunya makan bersama. Ini guyon, tapi
juga sungguhan!

* * *

Begitulah jadinya! Rabu malam tanggal 12 November itu, sekitar
tujuhpuluhan mahasiswa (S-1 dan S-2 — banyak diantaranya sibuk
dengan program kandidat PhD, — bersama teman-teman Indonesia
lainnya dari Eindhoven, Woerden, Zeist, Amsterdam dan lain-lain
tempat berkumpul di rumah Mintardjo. Mereka berkumpul di situ untuk
mendengarkan uraian Max Lane, penulis buku barunya 'Unfinished
Nation: Indonesia Before adn After Suharto'.

Max Lane adalah seorang sarjana Australia , aktivis 'prodem' dan
budayawan. Ketika Indonesia masih di bawah Orba, Max Lane yang ketika
itu adalah seorang diplomat di Kedutaan Besar Australia di
Indonesia, membikin 'kejutan diplomatik'. Didorong oleh
kepeduliannya terhadap Indonesia, dan keinginan memperkenalkan sastra
modern Indonesia yang maju kepada publik mancanegara, Max Lane
telah menterjemahkan novel 'Bumi Manusia' kedalam bahasa
Inggris. 'Bumi Manusia' adalah jilid satu dari tetralogi terkenal
Pramudya Ananta Tur (terkenal dengan nama roman pulau Buru).
Bayangkan betapa marahnya Orba. Bukankah 'Bumi Manusia' ketika itu
dilarang Orba beredar di Indonesia. Tak lama kemudian Max Lane
digeser dari Kedutaan Australia di Jakarta.

Tapi, yang ingin sedikit kuceriterakan ialah mengenai pertemuan
di 'Indonesia Open House-nya' Mintardjo. Diajukan sebagai tema
malam itu, uraian dan tanya jawab: Politik, Ingatan sejarah, dan
Gerakan Pembaruan.

Kiranya fihak PPI Leiden dan Yayasan Sapu Lidi, adalah yang
sebaiknya membuat laporan yg agak lengkap mengenai pertemuan malam
yang penuh isi dan berarti, penuh kepedulian dengan nasib bangsa kita
di masa lampau, masa kini dan hari depannya. Dan catatan tsb agar
disimpan sebagai dokumentasi!

* * *

Yang ingin kukemukakan ialah hal-hal yang memberikan kesan-kesan
mendalam padaku pada hari itu. Max Lane dengan keyakinan
menjelaskan, bahwa, meskipun Reformasi boleh dikatakan berhenti di
tengah jalan, merajelalnya 'money-politics' yang melibat semua
parpol menjelang pemilu dan pilpres, namun Max Lane tidak pesimis
sedikitpun mengenai haridepan Indonesia.

Sebaliknya, Max Lane penuh optimisme sehubungan dengan situasi dan
perkembangan kegiatan, gerakan dan fikiran maju di kalangan generasi
muda kita. <Bandingkan ini dengan sementara suara sumbang dari
jurusan kalangan tertentu, yang sudah tak punya harapan lagi mengenai
hari depan negeri kita. Sehingga di kalangan mereka tercetus kata-
kata : 'Malu jadi orang Indonesia'>.

Dengan tegas dikemukakan Max, bahwa, anak-anak muda Indonesia yang
dewasa ini terlibat dalam gerakan dan kegiatan prodem dan fikiran
maju, secara kwantitatif jauh lebih besar terbanding masa
sebelumnya, ketika gerakan tsb dimulai sejak tahun 1970-an sampai
jatuhnya Presiden Suharto oleh gelombang besar gerakan Reformasi.
Namun, keadaan mereka masih terpencar-pencar. Diperlukan waktu yang
cukup panjang bagi generasi ini untuk bisa mencapai taraf kesatuan
dan persatuan yang benar-benar tangguh.

Ketika meninjau sejarah Indonesia, lahir dan berkembangnya nasion
Indonesia, dalam proses perjuangan melawan kolonialisme untuk
kemerdekaan bangsa dan negeri, Max menekankan arti penting
pendidikan politik yang diberikan Bung Karno sebagai salah seorang
pemimpin nasional yang terkemuka. Sementara pakar Indonesianis dan
lain-lain sejarawan, pernah berucap, bahwa peranan Bung Karno di
masa perjuangan kemerdekaan terbatas sekadar pada demagogi dan
orasi mengenai persatuan.

Tidak demikian, kata Max. Tidak benar Bung Karno hanya berdemagogi,
berorasi mengenai perlunya persatuan dalam perjuangan melawan
kolonialisme. Bung Karno jelas sekali bersikap. Beliau amat kritis
dalam usaha mempersatukan bangsa. Pertama-tama beliau melakukan
analisis, pemisahan antara mana yang benar dan mana yang salah
dalam sikap masing-masing aliran politik utama ketika itu,
Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme.

Dalam karya klasiknya pada masa awal gerakan melawan kolonialisem
Belanda, berjudul 'Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme' (Suluh
Indonesia Muda, 1926), Bung Karno mengeritik sementara sikap yang
tidak punya political wil dan kemampuan ketiga gerakan nasional tsb.
Bung Karno mengecam kaum Marxis yang sektarian dan tidak bisa dan
tidak mau bersatu dengan kaum nasionalis dan Islam. Bung Karno juga
mengeritik kaum nasionalis sempit yang tidak bisa bersatu dengan kaum
Muslim dan kaum Marxis. Juga dikecam sikap kaum Islamis yang
tidak mau bersatu dengan kaum Marxis dan kaum Nasionalis, dalam
perjuangan bersama untuk kemerdekaan nasional.

* * *

Seperti pernah diuraikan waktu ceramah yang diberikannya di KITLV,
24 September 2008, sekitar benang merah yang menjelujuri
bukunya "UNIFINISHED NATION: INDONESIA BEFORE AND AFTER SUHARTO"
<Terbit Mei 2008>, Max Lane menjelaskan sekitar faktor utama jatuhnya
Suharto, teristimewa bentuk khusus DIMENANGKANNYA KEMBALI – 'the re-
winning of' – metode-metode perjuangan politik dalam tahun 1990-an —
yang mula-mula diintroduksikan dalam kehidupan politik pada tahap-
tahap permulaan revolusi kemerdekaan, yaitu AKSI MASSA. Catat: Aksi-
massa, atau massa-aktie, adalah salah satu ciri khas dan
fundamental ajaran Bung Karno mengenai bentuk-bentuk perjuangan yang
dianjurkannya sejak awal masa perjuangan bangsa kita melawan
kolonialisme Belanda. Saat itu Bung Karno sebagai salah seorang
pemimpin perjuangan kemerdekaan yang berpengaruh dan terkemuka,
menentang bekerjasama (berkoperasi) dengan pemerintah kolonial, dan
menganjurkan non-koperasi. Bung Karno memilih jalan mobilisasi massa
rakyat secara langsung. Beliau tidak percaya pada niat baik
pemerintah kolonial Belanda. Maka mengandjurkan agar langsung
bersandar pada massa rakyat, pada kaum Marhaen.

Sehubungan dengan uraian Max Lane mengenai ajaran-ajaran Bung Karno,
Joesoef Isak, pemimpin penerbit Hasta Mitra, pernah menyebut Max
Lane itu sesungguhnya adalah seorang SUKARNOIS.

Max Lane: Aksi massa istimewa krusial, karena struktur otoriterisme
Suharto dibangun justru disekitar penindasan terhadap cara perjuangan
ini. Tujuan Orba adalah menghancurkan samasekali semua aksi-massa
politik. Untuk mencegah adanya aksi-aksi politik massa, diberlakukan
konsep 'massa mengambang'. Akibatnya a.l — dalam waktu panjang di
Indonesia tak ada perspektif bagi suatu ideolgi nasional. Sebagai
akibat dari otoriterisme Orba, terjadilah situasi 'pembodohan'
bangsa, khususnya di kalangan kaum terpelajar, yaitu ketiadaan
keberanian berfikir sendiri, takut berfikir secara berdikari. Mereka
tidak mengenal budaya dan kesusasteraan Indonesia.

Dimenangkannya kembali metode perjuangan aksi-massa, punya arti
spesifik dalam dinamika sejarah Indonesia masa panjang. Bersamaan
dengan itu, Max Lane menunjukkan betapa pentingnya memenangkan
kembali aksi-massa sebagai metode aksi politik, dengan memenangkan
kembali ideologi politik progresif yang terkait dengan revolusi
nasional.

Max Lane memberikan penekanan istimewa pada saling hubungan antara
kesadaran untuk mengadakan aksi massa politik dengan pemahaman dan
pengertian kaum progresif terhadap sejarah dan kebudayaan bangsa.
Pemahaman dan pengertian amat perlu, karena dalam waktu panjang
periode Orba, hanyalah penguasa yang punya monopoli untuk menentukan
sendiri, apa itu dan bagaimana yang dimaksudkan dengan sejarah dan
kebudayaan nasional.

Ketiadaan kesadaran dan pemahaman hakiki terhadap sejarah dan
kebudayaan bangsa yang sebenarnya, menyebabkan ketiadaan kesadaran
tentang arti penting dan perlunya aksi massa politik untuk mengubah
Indonesia menjadi suatu bangsa yang benar-benar sedar akan
identitasnya sebagai bangsa dan negara yang bebas dan demokratis.
Sebagai contoh kelangkaan pemahaman dan pengertian sejarah, dewasa
ini, menurut Max sedikit sekali kaum intelektuil Indonesia, khususnya
para pelajar dan mahasiswa yanusasteraan Indonesia dalam periode
Orba, Max a.l mengungkapkan sedikitnya yang pernah membaca buku SURAT-
SURAT KARTINI.

Ketiadaan kesadaran itu pula yang menyebabkan fragmentasi di kalangan
kaum progresif sehingga kekuatan mereka terpencar-pencar dan
ketiadaan persatuan dan kesatuan aksi politik, yang bertujuan suatu
solusi yang fundamental. Ketiadaan suatu ideologi nasional yang
progresif menjelaskan tentang ketiadaan resistensi terhadap neo-
liberalisme. Menjelaskan pula, mengapa semua parpol-parpol mainstream
di DPR, boleh dikatakan samasekali tidak menentang masuk dan
berdominasinya neo-liberalisme di Indonesia. Parpol-parpol tsb
samasekali tidak punya prinsip politik yang mengutamakan kepentingan
nasional. Demi mencapai kekuasaan parpol atau golongannya sendiri,
mereka tidak segan-segan berkoalisi dengan siapa saja. Ini
ditunjukkan dalam pilkada yang berlangsung selama ini. Untuk melihat
sampai dimana semangat Reformasi parpol mainstream seperti Golkar
dan PKS, baca saja pernyataan mereka yang mengusulkan agar Suharto
dinobatkan sebagai 'pahlawan nasional' dan 'guru bangsa'.

Max Lane: Suatu konsep (dan gerakan) sosial-demokrasi yang tegas dan
jelas, dewasa ini tidak ada di Indonesia. Sebabnya: Lagi-lagi karena
fragmentasi di kalangan aktivis dan kekuatan progresif.

Di lain fihak, berkembangnya kesadaran untuk memiliki pemahaman dan
pengertian yang benar dan obyektif mengenai sejarah bangsa, tampak
pada kegiatan para sejarawan muda seperti a.l Aswi Warman Adam,
Bonnie Triyana, dll. Arus ini sedang terus mengalami perkembangan,
bagaimanapun lika-liku dan rintangan yang harus dilaluinya. Ini bisa
disaksikan antara lain dari banyaknya penulisan-penulisan baru
mengenai peristiwa sejarah dan budaya Indonesia sebelum dan sejak
Reformasi, yang jumlahnya mencapai 2000 lebih.

* * *

Demikian sedikit ceriteraku yang hendak kubagikan pada pembaca
mengenai pertemuan kami
di 'Open Indonesia House' -nya Mintardjo di Korenbloemlaan 59,
Oestgeest, Leiden.

Ketika kembali ke Amsterdam, Francisca Pattipilohy yang pulang dengan
keretapi bersama aku
malam itu, mengatakan: Sayang Indonesia House di Amsterdam sudah
ditutup. Tidak tahu apa akan dibuka yang baru !

Segera aku merespons:
Nyatanya sudah lama ada 'Open Indonesia House'. Itu kan, yang di
rumahnya Mintardjo.

Oh iya, reaksi Pattipilohy. Benar, benar! Suatu 'Indonesia House'
yang selalu OPEN sudah ada sejak lama di Korenbloemlaan 59,
Oestgeest, Leiden.!