Bandung, 13 November 2008  Seseorang yang berada di tataran akar rumput, dengan penghasilan yang pas-pasan untuk makan bersama keluarganya setiap hari, serasa mustahil diajak dan diajarkan untuk menabung. Bagaimana mau menabung, wong sudah mepet sekali. Apa yang mau ditabung?

Dua minggu yang lalu saya berkesempatan menyaksikan suatu karya yang menurut ukuran nalar saya tergolong luar biasa. Seorang teman yang terpanggil naluri filantropiknya mengajak saya untuk melakukan suatu tinjauan lapangan. Ia bersama beberapa orang telah menggalang suatu dana yang mereka sepakati untuk disalurkan sebagai bantuan kepada wirausaha menengah kecil (small, medium enterprises), tanpa mengharapkan imbalan ataupun dikembalikannya dana tadi. Kawan saya merasa tidak lagi kompeten dan sudah terlalu uzur untuk mengawali, mengurus sendiri prakarsa ini. Ia mulai mencari ‘kendaraan’ yang sudah terbukti keberhasilannya dalam menyelenggarakan terapan misi seperti ini. Maka diputuskanlah untuk melihat dari dekat suatu lembaga keuangan yang berasaskan pada nilai-nilai pemberdayaan ekonomi rakyat kecil. Pengelolaan lembaga ini dikontrol secara terbuka dan demokratis oleh para anggotanya yang merangkap sebagai pemilik. Lembaga ini dinamakan: Credit Union SAWIRAN, berkantor pusat di Nongkojajar, suatu desa kecil di dekat kota Malang , Jawa Timur.

Pencetus ide dan penggerak upaya luhur ini adalah Romo Willy M. Batuah CDD, seorang rohaniwan Katolik yang sangat bersahaja penampilan fisiknya. Namun, dari sorot mata dan cara berbicaranya jelas terlihat ‘api’ yang membara, penuh percaya diri, persisten dalam menjalankan semua konsepnya. Romo Willy pada awalnya mengelola rumah retret bagi umat Katolik di desa Sawiran, Nongkojajar dan di Bali (untuk informasi lebih lanjut tentang Romo Willy, silakan mencari di google). Ia mulai dengan mendidik para karyawannya di rumah-rumah retret tsb untuk belajar menabung. Mereka diberi pencerahan bahwa mereka harus ‘memaksakan diri’ untuk secara disiplin menyisihkan sebagian dari pendapatannya; seberapapun kecilnya yang penting disiplin setiap bulan harus ditabung. Mereka dicerahkan betapa pentingnya arti menabung itu bagi masa depannya. Lingkar kecil di sekitar Romo Willy mulai mencoba mengikuti ajakan ini. Rupanya gerakan ini sempat ditularkan kepada lingkar yang lebih besar, termasuk mereka yang mempunyai fungsi yang sederhana, seperti para pemelihara kebun, pembantu di dapur dsb. Mulailah roda menggelinding. Koperasi konsumsi didirikan guna memenuhi kebutuhan para anggota dengan harga yang lebih murah daripada di toko. Tabungan diperbolehkan dipergunakan untuk keperluan mendadak. Semua prosedur teknis sangat dipermudah, tidak berbelit, tapi tetap akuntabel. Romo Willy juga mendorong para karyawannya untuk memulai suatu wirausaha kecil-kecilan sendiri, menggalang jiwa enterpreneurship. Saat ini, hampir seluruh karyawannya mempunyai penghasilan sampingan dari berbagai macam usahanya. Ada yang mempunyai kafe kecil, kedai kopi dsb.

Mouth-to-mouth advertising rupanya berhasil memperluas tersebarnya gagasan menabung ke seluruh pelosok desa kecil ini. Tiada pilihan lain kecuali mendirikan suatu sarana berbadan hukum untuk menampung dana yang terkumpul. Kegiatan ini sebenarnya adalah sejenis koperasi simpan-pinjam. Namun, CU Sawiran enggan disebut sebagai koperasi simpan-pinjam, agaknya karena stigma yang terlanjur menempel pada koperasi jenis ini yang dikelola secara petualangan. Artinya, setelah berhasil terkumpul sejumlah dana, maka pengurusnya kabur. Karena itu tanggung jawab manajemen CU Sawiran sungguh terasa lebih berat. Mereka sadar sepenuhnya, di negeri kita yang masih bercirikan low trust economy ini membutuhkan extra energy guna meningkatkan kinerja pengelolaan dana yang terkumpul. Para anggota harus diberi keyakinan bahwa tabungannya ‘aman’. Jelas ini tidak mudah. Namun bukan mustahil.

Di luar dugaan pencetusnya sendiri, bola salju menggelinding kian besar dan laju. Lembaga ini ditingkatkan baik SDM manajemennya, maupun sarana fisik perkantorannya. Saya sempat meninjau beberapa kantor cabangna yang berlokasi dekat sentra-sentra ekonomi rakyat kecil seperti pasar dll. Wah, tampilan kantornya tidak kalah dibandingkan kantor BCA atau Bank Mandiri di sekitarnya.

Tinjauan berkutnya adalah terjun langsung ke Pasar Dinoyo, salah satu suburb kota Malang. CU Sawiran sengaja merekrut tenaga-tenaga muda, bergelar S1 berbagai disiplin ilmu, khusus untuk ditugaskan sebagai pengumpul tabungan para pedagang kecil di pasar tsb. Mengapa harus S1? Karena dengan bekal studi yang cukup mereka akan lebih mampu memberikan pencerahan, himbauan untuk menabung. Muda, energetik, tampilan yang menawan dengan busana necis dan terutama penuh dedikasi. Itu yang sempat saya tangkap dari pengamatan sekilas secara kasat mata. Tiga regu ditugaskan secara bergiliran pada jam-jam tertentu menyebar di pasar tsb. Setiap hari. Tujuh hari seminggu. Luar biasa idenya. Menjemput bola. Bukan menunggu seperti kebanyakan lembaga sejenis.

Manajemen CU Sawiran sadar sepenuhnya mereka menghadapi rakyat kecil, sederhana, kebanyakan belum terdidik baik. Karena itu, mereka sangat menyederhanakan prosedur dan persyaratan teknis. Kata orang Betawi, guampang banget. Bagaimana orang-orang kecil ini punya keberanian untuk pergi ke sebuah bank, ingin menabung, wah, pasti ia harus begini, begitu. Pusing. Belum lagi  adanya rasa rendah diri dsb.

 
Saya takjub, terkesima menyaksikan semua adegan di Pasar Dinoyo. Sempat saya amati bagaimana petugas lapangan (yang diberi pangkat sebagai Business Officer) mendatangi mereka. Menurut data, 95% dari seluruh pedagang di Pasar Dinoyo sudah menjadi anggota CU Sawiran. Berapa sih tabungan harian para pedagang itu? CU Sawiran memberikan peraturan tabungan harian minimum Rp 5.000.-. Berikut beberapa cuplikannya.

–         Pak Suparno, pedagang cabe merah, yang menjajakan dagangannya sambil jongkok di depan sebuah kios, menabung Rp 20ribu/hari. Jumlah tabungannya sudah mencapai Rp 500ribu.- lebih.

–         Ibu Yayuk, pedagang ayam potong, menabung Rp 10ribu/hari, total tabungan Rp1juta lebih.

–         Pak Abd. Basir, pedagang martabak, Rp 50 ribu/hari, tabungan hampir Rp 1juta.

–         Pak Asrul Junaedi, pedagang bumbu (kemiri, ketumbar, merica, dll), Rp 30ribu/hari, tabungan Rp 600ribu lebih.

–         Ibu Lely, pedagang ikan segar, Rp 25ribu/hari, tabungan Rp 1,6juta lebih.

Untuk keperluan mendadak, mereka diijinkan untuk menarik tabungannya sendiri. Untuk kasus tertentu (membeli motor misalnya), mereka dapat memperoleh pinjaman dengan bunga ringan dari CU Sawiran, tanpa agunan. Perolehan bunga kredit pada akhir periode diperhitungkan dengan semua biaya, dan ‘laba’ yang diperoleh kemudian dibagikan secara merata sesuai perbandingan besarnya tabungan para anggotanya.

Sebelum ini, banyak lintah darat yang menawarkan pinjaman dengan suku bunga sampai 120% per tahun. Sejak CU Sawiran turun ke lapangan, para lintah darat ini tidak mempunyai ruang gerak lagi. Mulailah mereka mencoba mengganggu dengan menebarkan isu-isu yang bernuansa keagamaan dsb. Namun, para anggotanya bergeming, bahkan menangkalnya dengan menyatakan yang penting: Bukti! Mereka memang sudah merasakan manfaatnya.

 

Tinjauan kami beralih ke Tosari, suatu desa pegunungan yang masih asri dan dingin, dekat sekali dengan Gunung Bromo yang terkenal. Para petani yang kami temui kebanyakan petani kentang dan sayuran. Pengamatan sekilas memberikan kesan rakyat di Tosari cukup makmur. Rumah, motor dan sarana publik seperti sekolah dan tempat-tempat ibadah cukup baik dan terpelihara. Yang unik dari mereka yang tergolong suku Tengger ini adalah hasrat dan niat untuk mewariskan sebidang tanah bagi keturunannya. Salah seorang petani menceritakan bahwa ia dulu diwarisi sebidang tanah oleh orangtuanya. Kini, dia harus mampu mewariskan kepada keempat anaknya masing-masing sebidang tanah. Keinginan seperti ini menjadi suatu obsesi yang mungkin diwujudkan dengan hadirnya CU Sawiran. Mereka menabung. Mereka dibantu modal kerja untuk membeli bibit, pupuk, dsb. Suku bunga sangat ringan. Pada akhir periode masih mendapat pembagian ‘laba’ perusahaan.

Tosari dan desa kecil Ngadiwana terletak sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut. Dapat dibayangkan para petugas lapangan (Business Officers) yang berkendara sepeda motor mengunjungi satu per satu nasabahnya, door-to-door. Mereka seringkali bekerja sampai jam 8-9 malam diterpa hawa dingin dan air hujan. Saya yakin imbalan yang mereka terima sebagai petugas lapangan bukan penggerak utama cara kerjanya yang tiada kenal lelah.  Itu lebih karena dedikasi yang amat tinggi terhadap pekerjaannya. Kami semua kagum dibuatnya.

Untuk ukuran lembaga CU Sawiran, saya telah dibuat kagum oleh brosur, buletin dan aneka macam promosi dalam bentuk cetakan. Semua tulisan dan tatarupa dilaksanakan secara in-house. Rapi, estetis dan yang penting efektif menyampaikan berbagai informasi.

Apa yang paling utama dari hasil jelajah kami? Sebelum ini saya berpendapat bahwa budaya menabung itu tidak mungkin diajarkan, ditularkan. Bagi saya, semuanya menjadi terbalik.

Budaya menabung dapat dibangun, diajarkan dengan ketekunan, ketulusan.

Dasar dari semua dasar: Kasih.

Betul, Kasih kepada sesama.

Itu yang saya saksikan.