Tag

 (Habe-reporter amatiran Superkoran) Air Show itu berlangsung hari Sabtu dan Minggu di Nellis Air force Base di North Las Vegas. Saya datang Minggu pagi sekitar jam 7:30. Mendung dan gerimis dingin menyertai saya memarkir mobil di parkiran Las Vegas Motor Speedway. Sejam kemudian lusinan bus yang disiapkan panitia penyelenggara datang menjemput dan membawa ribuan manusia dan salah satunya adalah reporter kawakan yang dulu pernah meliput perang Irak dan Bosnia* ini- masuk kedalam base yang sehari harinya biasanya sangat terlarang buat orang awam.

Security tidak begitu ketat. Tentara Amerika yang muda muda jauh dari sangar penampilannya. Seragam mereka abu abu blang. Tidak seperti TNI yang belum apa apa bikin ngeper mental civilian yang paling preman sekalipun, tentara Amerika rasanya terlalu ramah. Keramahan ini membuat saya sempat hilang orientasi, saya serasa sedang berada di kota Parakan di dekat Wonosobo, yang semua manusianya seperti bersedia mengangkat anda sebagai saudara. Maulani teman saya dulu di Los Angeles rasanya benar waktu bilang, tentara Amerika kebanyakan tampan tampan (sorry HH Samosir tidak masuk hitungan he he ) Ibunya bilang dia bersedia mengangkat seorang US Marine jadi menantu asal cowok ini mau masuk Islam dan tinggal di Bengkulu. Dan kali ini saya benar benar setuju.

 Berjalan kaki pertama kali, yang menyambut di depan adalah sebuah pesawat maha gede C-5 Galaxy. Pesawat angkut buatan Lockheed ini konon adalah salah satu pesawat terbesar di dunia. Dibandingkan dengan C-5 , pesawat jenis Hercules apalagi dengan pesawat CN-235 bikinan Nurtanio/Casa -seperti 2 liliput berdiri bersisian dengan Goliath. Di kanan kiri berserakan segala macam jet fighter dan helikopter. Tapi lantaran pengetahuan saya tentang pesawat cuma terbatas dari nonton Military Channel atau History Channel tiap malam, saya cuma hapal beberapa. Misalnya F-16 semua orang bentuknya sudah tahu. F-15 juga sama saja.F-18 Hornet agak unik. Dan yang lebih unik lagi adalah ketika seorang cewek latino berdada ukuran tank Abram lewat memintas di antara pesawat klasik P-51 Mustang dan A-6 Intruder. Saya sempat lupa akan tugas saya menjadi reporter Superkoran karenanya.

Di antara selingan akrobatik segala macam jet di udara. Dari A-10 Thunderbolt yang melesat sampai pameran F-16 Fighting Falcon dari tim The Thunderbird yang membuat dada bergetar lantaran kagum campur bangga, saya mengaku sempat mengintip beberapa dara yang lagi lagi ukuran dadanya mengingatkan saya akan kapal induk Nimitz. Im so proud of America. Amerika bukan saja negara besar tapi ukuran breast perempuannya juga monumental.( Rima Fauzi harus mau mengaku kalah soal yang satu ini Tongue out)

Takjub melihat B-1 Bomber jarak jauh. Pesawat itu bertampang hantu dengan badan langsingnya yang menakutkan. Lebih takjub lagi ketika saya berdiri sekitar 3 meteran dari F-35 Lighting Strike. Tapi itu belum apa apa, berdiri disampingnya dengan gagah adalah King of all King the F-22 Raptor yang membuat saya menganga. Konon fighter siluman itu sampai sekarang belum ada tandingannya. Saya sempat berpikir dengan selusin F-22A Raptor mungkin sudah cukup untuk menghabisi kekuatan AURI di Indonesia. Jika benar terjadi konflik antara Indonesia dan USA tidak bakalan ada satu pahlawan dan jagoanpun yang mampu melayani dia. Cuma Gatot Kaca rasanya yang mampu menyelamatkan negara kita dari pemusnahan, F-22 yang bukan cuma tidak bisa dilacak radar, tapi berkecepatan tinggi ( 2 mach ) dan mampu melacak langit setinggi 50.000 kaki alias 15 km dari permukaan bumi.

 Tidak kalah menarik saya menemukan pesawat tanpa awak MQ-1 Predator. Yang beberapa prestasinya adalah membunuh pemimpin Al Qaida di Irak dan Pakistan. Disampingnya terpakir dengan wajah yang lebih sangar abang kandungnya the Reaper. Di sana saya sempat berpikir betapa beruntungnya situs Superkoran yang memiliki reporter gratisan -yang dengan sukarela menuliskan hasil pengamatan tajamnya yang bukan saja digila gilai ( disebut gila maksudnya ) oleh organisasi humanis dan toleran seperti Front Pembela Islam. Bahkan koran Kompas dan majalah Tempo tidak akan pernah punya penulis dan reporter yang unik seperti Habe si tukang jalan yang ugalan. ( tidak…saya bukan bermaksud minta honor dari bung adminis superkoran..saya tidak miskin miskin amat sumpah! )

Pertunjukan akrobatik oleh Mig-17 cukup oke. Begitu juga oleh sang former superstar F-15. Tapi lagi lagi bintang hari itu adalah ketika sang Raptor melesat lebih kencang dari suara lurus 90 derajat menghilang ke balik awan untuk menukik 90 derajat dan kemudian melayang horizontal membelah udara di atas landasan pacu. 10 Menit kemudian sang Raptor berbarengan terbang pelan dengan P-51 Mustang dan F-15 memberikan atribut buat para veteran. Wuah…peragaan sang pemenang dari 3 generasi membuat saya haru biru yang membuat saya melupakan atensi atas segala ukuran dada perempuan yang bertebaran. Pemandangan ini lebih mengesankan dari nonton bokep pertama kali ( please dont debate me about this Mr Matt Kopling )

Maka jika saya boleh memberikan opini buat para jendral yang sok gape di tanah air. Jika ingin bergaya gaya sok tentara dan menyenangi konflik, sebaiknya ente memerangi negara seperti Fiji atau Papua New Guinea. Atau paling kurang ganyang saja Malaysia. Situ bakalan menang perang dengan negara yang angkatan bersenjatanya kekurangan gizi atau jendralnya bergelar datuk yang skill terbaiknya adalah menangkapi pahlawan nasional kita, pekerja illegal di Johor sana. Jangan sekali kali memerangi Amerika. Umur ABRI tidak bakalan panjang melawan mereka.

Sekian reportase ini

* boro boro pernah meliput perang di Irak atau Bosnia. Lihat ayam dipotong aja saya ngibrit…

November 12,2008

Habe