Kamis, 16 Oktober 2008    Sudah layak kalau kita mendalami arti kata patriot, yang sedikit lain, tidak seperti yang selama ini lazim atau dilazimkan dipakai dengan penuh semangat pengabdian, mengorbankan segala milik kita, baik harta maupun nyawa. Semua pengorbanan dilakukan demi untuk sesuatu yang dipercayainya sendiri, atau dimasukkan kedalan hati sanubarinya atau kedalam pengertian di dalam benaknya oleh pihak lain. Pihak lain itu bisa saja berupa kepercayaan, agama, anutan aliran politik dan fanatisme lain, seperti kebiasaan penyelenggara negara.

Patriot sesungguhnya adalah sesuatu yang berhubungan dengan cinta tanah air seseorang, yang mengarah kepada nasionalis dan chauvinis, malah salah satu Kamus Bahasa Indonesia mendefinisikan seorang patriot itu sebagai seorang pencinta Tanah Air yang agak lebih dari sekedar gigih. Seorang penyelenggara Negara pada umumnya akan membuat para pengikut pola pikirnya mengenai nilai patriotis menjadi sesuatu yang luhur, dijunjung ke tempat yang tinggi, lebih tinggi daripada apapun. Di sinilah kalau terjadi gerak yang mengarah ke pemujaan cult seperti hanlnya kultus individu, maka akan mudah diselewengkan menjadi kesetiaan yang tanpa batas. Matipun mau, disiksapun rela dan kehilangan harta bendapun tidak keberatan.

Saya kira kita semua sekarang ini sudah sepatutnya membalik pengertian seperti itu.

Di Amerika sekarang, pemandangan pesawat mendarat dari tempat-tempat konflik DI LUAR AMERIKA SERIKAT, membawa jenazah prajurit yang mati karena pemerintah Amerika amat gemar melibatkan diri atau memang sengaja melibatkan diri ke konflik-konflik internasional, seperti telah terbukti selama hidup saya. Sejak kecil saya sudah tau siapa Jenderal McArthur dan Eisenhower. Mereka menanamkan bendera Amerika di Jepang, Korea dan di mana-mana. Ada di Okinawa, ada di Pilipina dan ada di Vietnam dan ada di Beirut, Sudan, Libanon, Panama dan seluruh tempat penuh konflik. Berapa negara di sekeliling Amerika Serikat ini yang bermusuhan statusya? Kuba, Venezuela dan lain lain. Di mata pemerintah Amerika (USA) mereka, korban sia-sia para prajurit ini, adalah pahlawan patriot dan anak bangsa terbaik bangsa Amerika. Saya tidak bisa memandang dengan cara dan pendapat sama. Melihat keterlibatan Amerika yang sengaja terlibat di setiap konflik kecil maupun besar, dan semuanya dilakukan di luar Amerika, saya dengan amat menyesal terpaksa memberi label; penjahat perang, bahkan teroris. Sebabnya?? Karena mereka melakukan aksi membunuh dengan cara-cara perang modern, melukai dan membunuhi rakyat tidak bersenjata dan berdosa, di negeri rakyat yang menjadi korban itu sendiri. Seorang bekas pilot yang mengebom, Viet nam, ditembak jatuh pesawatnya dan menawan sang pilot  tersebut selama beberapa lamanya. Taukah kita, bahwa periode ini, periode ditawan oleh para pejuang Viet Nam, dianggap sebagai periode pengabdiannya kepada negerinya (USA). Sang Pilot saat ini mungkin akan menjadi Presiden (bernama John McCain) terhitung sejak Januari tahun 2009 untuk pemilihan umum pada awal Nopember 2008, kalau dia nanti dinyatakan sebagai pemenang.

Pada jaman awal Republik kita berdiri, saya masih melihat cikal bakal perlawanan fisik secara nyata terhadap bangsa lain yang pernah menjajajah negeri kita. Saya melihat para pemuda, yang lebih tua dan bahkan yang sudah renta sekalipun, baik wanita maupun pria, semua berkonsentrasi melawan orang asing, yang bentuk fisiknya adalah Gurkha (asal India) bagian dari Tentara Sekutu di atas yang terdiri dari Tentara  belanda, Inggris, dan kemampuan senjatanya seperti bandingan David and Goliath; nama yang terakhir ini mewakili Tentara Sekutu tersebut. Gerombolan "Si David" ini menggunakan senjata yang diandalkannya hanyalah berupa keris, bamboe runtjing atau Take Yari yang sehari-hainya disebut Takeari atau Takiari, parang, pisau, bayonet dan katapel serta sorban dan doa dari para Hisbullah. Laskar terakhir inilah yang amat banyak menjadi korban, karena terlalu yakin bahwa doanya telah membuat dirinya kebal peluru. Demikian banyaknya kesatuan-kesatuan yang terbentuk di dalam masyarakat berlatar belakang pluralisme, nasionalisme dan kepercayaan agama dan spiritualisme, semuanya ingin menyumbangkan tenaga untuk membantu melawan bekas penjajah yang ingin kembali lagi melakukan penjajahan ulang. Mereka, para penjajah ini berikut simpatisannya, masih berpikir bahwa Hindia belanda itu masih ada, dan Repoeblik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 itu tidak sah. Sampai dengan hari inipun, belanda yang terdiri dari Kabinet pemerintah belanda, anggota-anggota Parlemen belanda dan orang-orang belanda, dan sebagian kecil orang asal Indonesia serta simpatisan yang tergolong pro VOC dan Hindia belanda, masih berpola pikir seperti itu. Mereka berpikir dan berpendirian bahwa belanda itu benar kalau hanya mengakui kemerdekaan Indonesia, adalah Indonesia yang telah diserahi kedaulatan / kemerdekaan oleh belanda melalui Konperensi meja Bundar pada tanggal 27 Desember 1949, bukan Indonesia yang memaklumkan dirinya merdeka dan akhirnya menyatakan kemudian bahwa negaranya adalah sebuah Republik, bernama Repoeblik Indonesia, The Republic of Indonesia. Republik ini diserbu dan diterror serta dipecah-pecah awalnya oleh Tentara Sekutu kemudian  dilanjutkan oleh NICA (Nederlands Indie Civil Administratie). Nica mengatakan bahwa aksinya di Indonesia itu adalah Aksi Polisionil terhadap bandit-bandit dan terroris yang terdiri atas kesatuan-kesatuan di dalam masyarakat Indonesia yang telah disebutkan di atas, di seluruh Tanah Air. Jadi Soekarno, Hatta, Sjahrir dan semua pemuka masyarakat Indonesia antara 17 Agustus tahun 1945 sampai dengan 27 Desember 1949, seluruhnya adalah kaum bandit dan  teroris serta pengacau dan lain-lain sebutan yang jelek.

Sudah berkali-kali masalah ini saya sitir dan kemukakan, tetapi dengan amat mengejutkan saya menerima pendapat dari orang-orang Indonesia yang sudah berumur dan juga masih muda, yang mengatakan, mengapa harus saya masalahkan lagi soal ini. Bukankah RI sudah diakui oleh berpuluh-puluh negara lain, bahkan di Perserikatan Bangsa Bangsa. Saya perlu melakukan sedikit elaborasi, mengapa saya lakukan ini. Indonesia yang terbentuk sebagai akibat dimaklumkannya Proklamasi 17 Agustus 1945, diserbu dan dipecah belah oleh NICA, menjadikan Republik Indonesia seperti sebuah republik hantu. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta dan lain-lain pemimpin Republik Indonesia diasingkan ke Pulau Bangka. Beliau-beliau ini telah dengan cerdas terlebih dahulu membuat sebuah Pemerintahan Darurat yang ibu kotanya di Bukittinggi dan Presidennya Sjafroeddin Prawiranegara. Selama kurun waktu itu dengan penekanan dari Nica dan tentaranya, di wilayah Repoeblik Indonesia telah dibentuk Negara Pasoendan, Negara Jawa Timur, Negara lain-lain, yang keseluruhannya berkiblat ke belanda yang negaranya ada di Eropa sebelah Barat dan terletak di dataran yang berada di bawah permukaan laut. Mereka telah berhasil membangun negaranya menjadi sebuah wilayah yang nyaman dan teratur dan seharusnya patut berterimakasih kepada wilayah Noesantara yang  menjadi salah satu dari jajahan-jajahannya di dunia. Khusus wilayah Noesantara ini telah dijajah selama tiga setengah abad, dimulai dengan kedatangan VOC dengan kapal yang dipimpin oleh nakhoda Van Houtman yang mendarat di Banten. Tetapi karena di sana telah ada tentara Portugis maka terjadilah pertempuran antara kedua belah pihak, yang mengakibatkan kapal VOC lari terbirit-birit ke Jawa Timur dan mendarat di daerah Gresik. Di sana para "pedagang" belanda yang berada di atas kapal ini telah terlibat dengan kerusuhan yang mengakibatkan terbunuhnya seorang bangsawan Madura tewas. Benarkah berdagang dimulai dengan membunuh? Dengan kejadian ini saya sama sekali tidak bisa menerima bahwa tujuan VOC datang ke Noesantara sebenarnya ingin berdagang rempah-rempah.  

Benarkah berdagang akhirnya becokol di Noesantara selama sekian abad, sehingga bisa mengangkut keuntungan-keuntungannya untuk membangun wilayahnya tang lebih rendah dari permukaan laut itu, menjadi negara seperti sekarang.

Benarkah berdagang tetapi telah membunuh sekian ratus ribu orang-orang Jawa yang dipaksa menanam tebu, menjadi kuli pembangunan jalan yang terkenal dibangun oleh Daendels, tanpa upah dan berpisah dari keluarganya serta berpisah untuk selama-lamanya. Bahkan tercipta daerah-daerah koloni baru di Suriname di Amerika Selatan. Di dalam koloni itu amat banyak orang-orang asal Jawa yang terbawa arus kebutuhan penjajah belanda yang dimulai oleh VOC.

Bagaimana mungkin sebuah usaha dagang seperti VOC dapat melaksanakannya tanpa bantuan negara seperti belanda?

Itulah yang telah terjadi, di mana banyak negara boneka telah terbentuk oleh Nica sehingga terbentuklah RIS (Repoeblik Indonesia Serikat) yang menampung peleburan Negara-Negara Boneka tersebut.

Ini sebagian latar belakang sejarah sebagai kata pengantar dari PETISI KUKB (Komite utang Kehormatan belanda) tanggal 15 Agustus 2008 yang disampaikan di kedutaan besar belanda di jaan Rasuna Said di Jakarta:

 

Pada 27 Desember 1949, Pemerintah Belanda "melimpahkan kewenangan" (soevereniteitsoverdracht) kepada Pemerintah RIS. Pada 16 Agustus 1950, Presiden RIS Sukarno menyatakan pembubaran RIS, dan pada 17 Agustus 1950 dinyatakan berdirinya kembali Negara Kesatuan Republik yang proklamasi kemerdekaannya adalah 17 Agustus 1945.

Tahun 1956, Indonesia secara sepihak membatalkan Uni Belanda –  Indonesia, dan menghentikan sisa pembayaran utang Pemerintah India-Belanda kepada Pemerintah Belanda sebesar setengah milyar gulden. Hingga tahun 1956, telah dibayar secara mencicil sebesar 4 milyar gulden, yang sangat membantu menghidupkan perekonomian Belanda yang hancur setelah Perang Dunia II. Hal ini yang paling ironis, karena Indonesia menanggung biaya yang dikeluarkan Belanda untuk melancarkan agresi militernya ke Indonesia, setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Sampai 17 Agustus 2005, pemerintah Belanda tetap tidak mau mengakui samasekali  baik de facto maupun de jure Republik Indonesia, dan baru pada 16 Agustus 2005 Menteri Luar Negeri Belanda Ben Bot menyatakan, bahwa kini Pemerintah Belanda menerima proklamasi 17 Agustus 1945 secara moral dan politis, artinya hanya de facto, dan tetap tidak mau mengakui de jure kemerdekaan RI adalah 17.8.1945. Pemerintah Belanda tetap menyatakan bahwa de jure kemerdekaan RI adalah 27 Desember 1949.

 

Kepada Repoeblik Indonesia Serikat inilah belanda menyerahkan kedaulatan yang dibanggakan pemerintah belanda sampai saat ini. Tetapi sesuai dengan perkembangan sejarah bukankah RIS itu telah lebur dan dimasukkan kedalam wilayah Repoeblik Indonesia kembali kepangkuan Repoeblik Indonesia hasil Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejak saat itulah ( ……. 1951) yang menguasai wilayah Noesantara dan berpemerintahan sendiri adalah sama dengan pemerintahan NKRI sekarang ini.

Dengan kejadian ini tidak dapat dengan alasan macam apapun bagi belanda untuk tidak mengakui bahwa Negara yang sekarang menghuni wilayah yang dulu dikenal dengan Noesantara itu adalah Republik Indonesia yang diundangkan proklamasinya pada tanggal 17 Agustus 1945. Mau tidak mau belanda harus mengakui negara ini dengan sendirinya karena negara ini mempunyai pemerintahan yang hanya mengakui tanggal 17 Agustus 1945 sebagai Hari Kemerdekaan yang diakui resmi. Bukan saja resmi oleh Pemerintah Repoeblik Indonesia saja tetapi oleh Pemerintah-Pemerintah dari sekian puluh negara-negara yang tergabung di PBB atau United nations Organisation.

Lihat sebagian kecil kutipan saya atas Press release Harry van Bommel:

Ketua KUKB, Batara Hutagalung menyampaikan, bahwa hingga saat ini pemerintah belanda tetap tidak mau mengakui de iure kemerdekaan Republik Indonesia adalah 17 Agustus 1945. Pada 16 Agustus 2005, Menlu Belanda waktu itu, Ben Bot, menyatakan bahwa kini pemerintah Belanda menerima 17 Agustus 1945 secara politik dan moral, namun tidak secara yuridis, karena pengakuan secara yuridis telah diberikan pada 27 Desember 1949, yaitu kepada Republik Indonesia Serikat (RIS).

Pemerintah Belanda juga tidak menganggap Indonesia sebagai mitra yang sejajar. Sebagai contoh adalah diberlakukannya kebijakan pemberian visa on arrival bagi warga Belanda. Artinya, seorang pemuda Belanda dengan ransel punggung (back-packers) dan uang yang minim, dapat berkunjung ke Indonesia tanpa masalah, kaena tidak perlu meminta  visa terlebih dahulu. Namun bagi seorang milyuner Indonesia , tidak mudah untuk memperoleh visa Belanda. Negara tetangga kita, Malaysia , ke mana-mana juga tidak perlu meminta visa. Cukup visa-on-arrival.

Sepanjang belanda bersikeras tidak mau mengakui Republik Indonesia, maka hubungan kedua negara lima puluh delapan tahun lebih sejak tanggal 16 Agustus 1950 hari dilakukan pembubaran Repoeblik Indonesia Serikat, menjadi Republik Indonesia sesuai dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka pantas bisa disebut bahwa kedua negara telah melakukan hubungan illegal dan kedua pemerintah sepatutnya memberhentikan tingkat hubungan diplomatik antara kedua negara secepatnya. Kalau pemutusan hubungan tidak dilaksanakan maka tingkat hubungan setingkat Duta Besar sebaiknya diturunkan ketingkat Konsulat saja. Semua masalah yang menyangkut belanda dapat ditangani oleh Kedutaan Besar Indonesia terdekat, misalnya Kedutaan Republik Indonesia di Kerajaan Inggris di London. Mari kita biarkan orang-orang belanda bertengkar sendiri di dalam negerinya mengenai ini dan kita akan dapat lebih ringan dalam menjalankan kehidupan negara TANPA belanda. Sampai saat ini saya pribadi para pengelola negara di belanda sudah berada di tingkat kurang ajar.

Saya mengetaui bahwa selama ini semua negara-negara di Eropa, khususnya negara-negara Barat lainnya, selalu merujuk belanda kalau ingin berhubungan mengenai sesuatu hal dengan Indonesia. Banyak data di belanda yang informasinya akan amat menunjang bagi mereka yang akan berhubungan dengan Indonesia. Barang-barang penting berupa arsip asli dan informasi-informasi tetapi dalam bentuk illegal banyak berada di museum-museum di belanda, termasuk pakaian perang dan perlengkapannya yang telah digunakan oleh Teuku Umar. Akan tetapi kita harus berani nantinya juga menyatakan juga mengakui, bahwa orang-orang belanda itu adalah tukang tadah dari barang curian. Biarpun rasanya nanti kita harus membuka luka-luka dan menjadi malu karena pencurinya ternyata bangsa sendiri, seperti keluarga kerajaan di Solo dan Yogya serta siapapun para bangsawan yang telah dibuka masalahnya oleh media dan pengadilan-pengadilan selama ini.

Dengan bermodalkan sekelumit pengetauan di atas, kita bisa memulai membangun persatuan Indonesia yang cerai berai akhir-akhir ini. Dulu Bung karno telah pernah membuat rasa nasionalisme bersatu padu waktu kita melakukan Konfrontasi Irian Barat terhadap belanda. Para pemberontak di dalam negeri sekalipun menjadi putus asa dan menyerah serta kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, NKRI. Marilah kita mulai tanpa biaya perang yang besar, tetapi perang sosial dengan belanda, sebuah negeri liliput yang telah pernah menguasai Noesantara sekian lamanya. Jangan menganggap Indonesia lemah. Kita stop saja segala bantuan yang asal belanda dan kita stop juga semua eksport kita ke sana. Marilah menjadi bangsa kuat ditengah ekonomi yang toh memang sedang carut marut oleh karena rentannya system kapitalisme Barat. Kita stop hasil tambang kita yang dibeli oleh negara Barat selama ini. Dan mari kita menjadi bangsa yang lebih miskin sedikit dan lalu kita MULAI BARGAIN (TAWAR MENAWAR) kembali khusus mengenai bisnis tambang, bisnis agro dan bisnis apapun yang selama ini merugikan bangsa Indonesia. Mari kita jadikan belanda biang kerok dari segala kesukaran bangsa Indonesia selama ini dan kita akan mendapat keuntungan yang lebih besar, berupa: PERSATUAN BANGSA INDONESIA yang lebih kokoh. Kita akan mampu bekerja dan berkonsentrasi memajukan produksi dalam negeri, meskipun berupa tempe dan tahu saja sekalipun. Mari kita hentikan segala import makanan yang bukan asli Indonesia menjadi lebih sederhana dan tidak lagi mengimport makanan-makanan itu, kecuali kalau dikenakan pajak yang tinggi. Jangan takut terhadap globalisasi yang telah disetujui (saya pribadi belum pernah setuju dengan globalisasi) selama ini, kaena toh semuanya itu ternyata amat merugikan Indonesia. Kita punya hasil  tambang untuk anak cucu kita dan bukan untuk kita sendiri, apalagi untuk anak cucunya orang lain. Itu penting. Itu patriotisme gaya yang saya inginkan, kita lakukan bersama dan nikmati bersama.

Saya mempunyai keyakinan bahwa para pembaca, kalau sudi sedikit tenang memikirkan usul saya di atas, akan dapat mendalami makna yang saya gandrungi: kesatuan bangsa, yang amat penting untuk bisa dipakai sebagai pendorong bekerja lebih keras memperbaiki kesalahan-kesalahan kita selama ini. Kita telah terlalu percaya kepada dogma-dogma ekonomi, HAM dan kepatutan-kepatutan yang ditanamkan kedalam kepala kita selama ini, tetapi sebenar-benarnya tidak sesuai bagi bangsa kita. Kita memerlukan pemimpin-pemimpin yang berani, yang berpikir maju dan mau memandang kedepan dan menghargai kemampan bangsa sendiri. Sekali lagi kita ulangi: kita bukan bangsa bebek!

Kita harus seperti Gatutkaca, otot kawat balung wesi, seperti Wrekudoro bisa menguasai angkasa seperti Ontoseno yang menyelami laut-laut kita dan seperti Ontorejo yang bisa membumi ke dalam kerak bumi yang paling dalam.

Kita bisa menjadi bangsa yang bukan bangsa pemimpi, tetapi menjadi bangsa yang bisa damai dengan anak bangsanya sendiri serta suka beribadah yang paling penting, yakni: bekerja keras dan berpenghasilan halal.