Senin, 06 Oktober 2008  Anak ke lima (bungsu) saya sekarang sudah 34 tahun umurnya, sedang memutarkan sebuah favourite saya dan keluarga, film yang berjudul The Sound of Music (buatan 1965) yang dipenuhi dengan lagu-lagu Rodgers and Hammerstein. Dia putar VCDnya di pesawat televisi dan anaknya (umur dua setengah tahun, cucu keenam kita yang paling muda) mendengarkan dengan asyik. Demikian pula halnya kami  neneknya dan saya, kakeknya.

Pada adegan awalnya, seorang gadis bernama Maria, yang baru saja melewati masa remajanya, berlari sambil merentangkan kedua tangannya ke samping di sebuah padang berbukit yang semuanya hijau dan berlangit biru dengan latar belakang puncak-puncak gunung yang diliputi es dan salju, dengan suara soprannya yang  teramat lantang, medendangkan sebuah lagu: “The hills are alive ….. with the sound of music ….. With songs they have sung for a thousand years ….. The hills fill my heart with the sound of music …….. My heart wants to sing every song it hears ………..”  

[tube]KtQdYoK64S4[/tube]
Bukan main, setelah lebih dari empatpuluh tahun lamanya sejak film ini dibuat, saya masih bisa mengikutinya dengan tepat semua lagu yang mengisi seluruh jalannya cerita di dalam film tersebut. Saya memang telah menontonnya berkali-kali di dalam gedung bioskop dan di siaran TV Kabel, di rumah, dalam perjalanan di dalam kapal terbang dan di kamar hotel-hotel tempat saya kebetulan menginap.Maria yang sedang menjalani pendidikan untuk mejadi seorang biarawati, mempunyai suara istimewa karena sesungguh-sungguhnya memang dipunyai oleh pemeran gadis Maria tadi, yakni aktris Julie Andrews.

Pasangan mainnya sebagai seorang bekas Kapten Laut adalah Aktor Christopher Plummer yang  juga berperan selaku duda beranak enam orang. Alur ceritanya amat memikat dan siapapun kalau tidak menyukainya, maka susunan lagu-lagunya, antara lain: Climb Ev'ry Mountain (Mother Abbess);   Do-Re-Mi (Maria And The Children);  Edelweiss (The Captain);   I Have Confidence (Maria)  Maria (The Nuns);    My Favorite Things (Maria);    Sixteen Going on Seventeen (Maria And Liesl);     Sixteen Going on Seventeen (Rolf And Liesl);     So Long, Farewell (The Children);      Something Good (Maria And The Captain);     The Lonely Goatherd (Maria And The Children  The Sound Of Music (Maria) pasti akan memikat pandangan kita ke alunan lagu-lagunya.

Kapanpun film ini diputar, sebagian anggota keluarga saya yang sedang beruntung bisa menyaksikannya atau hanya kebetulan mendengar musiknya pasti asyik mengikutinya. Begitu gemarnya saya, istri saya dan anak-anak saya yang lima orang dengan musik yang ditampilkan. Demikian juga sekarang cucu kami yang perempuan dan yang keenam. Heran cucu-cucu yang lain tidak terlalu suka untuk ikut  menyanyikannya, mungkin mereka menyibukkan diri mereka dengan  kegemarannya yang lain-lain, yang hampir  semuanya melalui permainan digital games atau malah playstation dan MP3 atau lagu-lagu yang populer saat ini. Sempat saya sampaikan sewaktu sedang memutar The Sound of Music, bahwa mengapa belum ada lagi film yang  setara dengan film ini, sebuah musik serius tetapi amat santai dalam menghibur melalui nyayian-nyanyian bermutu dan diiringi dengan sebuah atau lebih orchestra yang besar dan serius pula. Bukan dengan band yang diawaki oleh tiga atau empat orang saja, tetapi orchestra dengan alat-alat musik dawai yang digesek. Band kecil dengan anggota yang empat orang tentu saja secara menggemparkan pernah juga dilakukan oleh The Beatles pada jamannya dan mendunia.

Begitu istimewanya mereka sehingga ada di antara mereka yang pongah, berani mengatakan behwa mereka lebih terkenal dari Jesus Kristus. The Beatles menghasilkan uang pajak yang besar sekali kepada negara asal mereka, sehingga mereka semua mendapat gelar Lord dari Kepala Negaranya, Inggris.

Seminggu yang lalu seorang teman sebaya saya melalui pembicaraan telepon memberitau saya bahwa ada sebuah film yang bagus sekali yang sedang diputar dan dia sudah menyaksikannya di gedung bioskop. Dia bilang: “Pokoknya bagus dan banyak lagunya, yang kita akan bisa ikut menyanyi!!” He !! (ini seru saya di dalam hati saja).
Dalam tempo kurang dari dua jam bersama istri, saya sudah mengantongi dua buah tanda masuk Cineplex 21 di Theater I di Pondok Indah Mall Dua, Jakarta. Suara stereo DOLBY yang dipamerkan dengan demonstrasi seakan full throttlenya pedal gas Formula One yang digila-gilai oleh para pengunjung night time open race tracks di Singapore.

Berisik dan keras, tetapi amat nyaman di telinga saya.

Film ini berjudul Mamma Mia dan dibintangi oleh aktris dan aktor terkenal: Meryl Streep dan Pierce Brosnan. Dua pemain watak yang memegang sebagai pemeran utama ini sungguh tidak di sangka-sangka amat piawai menunjukkan performa yang amat mengagumkan dan amat professional dalam bernyanyi. Sungguh bukan mudah bagi saya untuk  begitu saja bisa menerima Piecrce Brosnan yang biasa berperan amat maskulin, memegang pistol dan melakukan gerakan ilmu bela diri Karate dan Tae Kwon Doo dalam peran-perannya sebagai James Bond di masa lalu, dapat berperan dalam  menyanyikan lagu-lagu yang gembira, melankolik dengan menyanyi bersuara berat dan sempuna. Sukar kita menduga bahwa dia bisa berkemampuan berakting yang seperti ini, biarpun penyutradaraannya memang sempurna, hampir tanpa cela dan apalagi dengan hadirnya sarana suara digital yang menggelegar, hebat. Tiap kali ada nyanyian maka di dalam film originalnya ada text kata-kata lagu yang sedang dinyanyikan, sehingga seperti karaoke layaknya. Kata KARAOKE berasalah dari Jepang, yang merupakan rombakan dua kata Jepang: KARA berarti kosong dan OKE yang asal katanya kependekan dari orchestra berlogat Jepang.

[tube]yzhxHsqQvsI[/tube]

Kalau di film The Sound of Music didominasi oleh hasil karya Rodgers and Hammerstein, maka di film Mamma Mia lagu-lagunya didominasi oleh lagu-lagu yang pernah di populerkan oleh Band ABBA. Adegan awalnya dimulai dengan lagu: I HAVE A DREAM yang mengalun mesra: “I have a Dream ….., a song to sing.  To help me cope with anything,. If you see the wonder ……” Meskipun dengan nada sendu ketika dua kalimat pertama, maka menginjak kalimat ketiga, dengan irama gembira dua per empat yang berangsur-angsur cepat, maka kaki ikut bergerak seirama dan amat terasa dilakukan oleh para penonton bersama-sama, tua muda dan tanpa hambatan. Semuanya terbawa bergembira dan melihat mimik muka para pemainnya yang benar-enar menghayati perannya.

Lagu-lagu lain juga dari ABBA,  seperti :   Money, Money, Money – Thank You for the Music –  Mamma Mia –  Chiquitita –  Dancing Queen – Voulez-Vous –  Lay All Your Love on Me – The Name of the Game – Gimme! Gimme! Dan beberapa yang lain. Adapun ikhtisar atau ringkasan alur ceritanya awalnya adalah seorang gadis bernama Sophie yang berumur 20 tahun ingin menikah dengan Sky yang sudah saling mencinta. Ibu Sophie adalah Donna Sheridan yang tinggal di sebuah pulau dan mengusahakan sebuah usaha perhotelan. Sophie mengirim tiga surat undangan kepada tiga pria bernama Sam Charmichael (Pierce Brosnan) yang berperan sebagai seorang architect yang sukses dan Harry serta dan ? Ketiga mereka diundang, karena Sophie menemukan catatan harian rahasia ibunya, Donna, yang menulis bahwa dia telah menjalin hubungan dengan tiga pria itu, pada waktu sekitar sebelum kelahiran Sophie di dunia. Sophie sendiri terobsesi untuk mengetaui sipakah ayah biologisnya, biarpun dia menduga kuat bahwa Sam Carmichaellah ayah yang diduganya.
Buku catatan harian Donna, didapat oleh Sophie dan ibunya tidak mengetaui apapun bahwa “rahasia”nya telah menjadi sebab dugaan anak tunggalnya. Ironisnya dan sesungguhnya ibunya sendiri, sama sekali juga tidak mengetaui dengan pasti siapakah sebenarnya diantara ketiga pria itu yang memang benar-benar ayah biologisnya Sophie. Biarpun cerita ini sebenarnya dramatis, akan tetapi karena telah sengaja  disajikan sebagai hidangan teatrikal dan musikal serta humourous, maka adegan yang menggambarkan keluarnya air mata sedih justru sering mengundang tertawa, karena memang itulah maksud utama film hiburan yang menarik ini. Benar-benar berhasil mengusir suasana cengeng berlebihan, biarpun sebenarnya kalau digambarkan dengan cara konvensional seperti gaya film-film selama ini, maka adegannya akan penuh suara membentak dan teriakan marah, serta tangis dan air mata yang seperti Tsunami. Di dalam alur cerita Mamma Mia saya menyaksikan suasana penuh tawa dan canda, bahkan pada akhir film dinyanyikan lagi lagu: I Have a Dream. Itu pun belum berakhir benar karena banyak penonton yang keluar ruangan, padahal adegan-adegan masih berlangsung lagi dan lagi, penuh tawa sambil Donna masih mngintip seakan memeriksa apakah penonton sudah pergi semua?? Ini saya lihat kembali kejadian yang sama pada waktu dua hari kemudian saya pergi melihat untuk kedua kalinya di Teater yang sama bersama cucu saya yang pertama berusia 13 tahun.

 

Saya duga film yang semacam akan lama lagi sejak sekaran, akan ada dan diproduksi.
I have a dream:  

[tube]qFHbwikzNds[/tube]