Sebagai konsekwensi dari bisnis yang baru kurintis, bulan Ramadhan tahun ini akhirnya benar-benar kuhabiskan di jalan. Setelah makan malam terakhir di pantai Jimbaran tanggal 24 September lalu, aku akhirnya menyelesaikan pekerjaanku menemani 15 orang anggota grup yang kujemput beberapa waktu yang lalu di Yogyakarta.

Tapi besok harinya sebelum sempat pulang ke rumah, aku harus langsung
bekerja kembali karena aku mendapat kiriman klien baru dari Gilles
yang harus kujemput di Bali untuk dibawa ke Jawa. Sejak tanggal 25
sampai hari ini aku masih terus bersama dua orang tamu ini, Jean-Marc
dan Annick Jubault, suami istri berumur 50 tahunan yang berasal dari
Paris.

Bersama Jean-Marc dan Annick aku memulai perjalanan dengan
mengunjungi situs wisata di sekitar Ubud dan Kintamani, mulai dari
mengunjungi Pura Gunung Kawi di Tampak Siring, Danau Batur di
Kintamani, Pemahat Patung Kayu di Kemenuh, Pura Taman Ayun di
Mengwi, Tanah Lot di Tabanan dan Pura Ulun Danu Bratan di Bedugul,
selanjutnya kami menginap dua hari di Munduk, melakukan tracking di
tengah sawah dengan pemandangan ke arah Singaraja, mengunjungi air
terjun Munduk yang bertingkat-tingkat melalui kebun cengkeh yang
sedang dipanen, lalu menginap semalam di Lovina untuk kemudian
melanjutkan perjalanan dengan menyeberang kapal ke Banyuwangi.

Waktu akan meninggalkan Lovina tanggal 29 september pagi, sebenarnya
Annick ingin terlebih dahulu melihat lumba-lumba dengan menyewa kapal
nelayan setempat. Tapi Kadek, sopir bergaya modis berumur 26 tahun
asal Bajera, Tabanan yang kusewa dalam perjalanan ini menyarankan
agar kami berangkat ke Banyuwangi pagi-pagi sekali. Kami harus
berangkat lebih awal supaya kami bisa mendapatkan antrian terdepan,
soalnya seperti diberitakan di TV dan juga informasi yang diterima
Kadek dari temannya sesama sopir angkutan pariwisata, sehari
sebelumnya antrian pemudik yang ingin menyeberang dari Bali ke Jawa
di pelabuhan Gilimanuk sangat panjang sampai mencapai 5 kilometer,
sampai-sampai ada bayi yang meninggal akibat kepanasan karena terlalu
lama menunggu dalam antrian.

Annick bisa mengerti alasan Kadek dan diapun mengakui kalau momen
yang mereka pilih untuk berlibur kali ini agak kurang tepat dan tidak
keberatan untuk berangkat pagi-pagi tanpa sempat melihat lumba-lumba.
Setelah semua koper dan barang belanjaan dinaikkan ke mobil, Kadek
lalu memacu Suzuki APV Arena warna hitamnya menuju arah Gilimanuk dan
untungnya jalur yang kami lalui, jalur Singaraja yang terletak di
bagian utara pulau ini, hari ini tidak terlalu banyak dilalui
kendaraan. Mungkin sepinya jalur ini disebabkan karena perantau dari
Jawa yang akan mudik ke pulau asalnya hampir seluruhnya tinggal di
bagian selatan pulau Bali, lebih khusus lagi sekitar Denpasar dan
Kuta. Situasi lengang ini lebih memudahkan Kadek untuk memacu mobil
dengan kecepatan tinggi, kulihat speedo meter di depan setir
menunjukkan angka di atas 100.

Hanya 1 jam 20 menit kami sudah sampai di Gilimanuk, dan setibanya di
sana ternyata pelabuhan Gilimanukpun sepi. Rupanya kemarin, hari
minggu tanggal 28 september yang merupakan H -2 Lebaran adalah puncak
arus mudik dari Bali ke Jawa. Hari ini jumlah pemudik sudah sangat
jauh menurun, karena tidak ada hambatan kami langsung masuk ke
pelabuhan membayar karcis penyeberangan sebesar 96.000 rupiah dan
langsung masuk ke kapal. Aku dan juga Kadek minta maaf pada Jean-Marc
dan Annick karena telah salah perkiraan soal arus mudik, baik Jean-
Marc maupun Annick sangat memahami situasi yang kami hadapi dan tidak
menyalahkan Kadek atas gagalnya rencana Annick untuk melihat lumba-
lumba.

Sampai di pelabuhan Ketapang waktu masih menunjukkan pukul 9.00 WIB,
kami langsung menuju kota Banyuwangi, sesuai program yang aku buat,
kami akan berkeliling kota Banyuwangi mengunjungi pasar tradisional
dan selanjutnya mengunjungi kelenteng Hoo Tong Bio, tempat
persembahyangan tiga agama Cina (Kong Hu Cu, Tao dan Buddha) dengan
naik becak. Aku menyewa 3 buah becak masing-masing satu untukku,
Annick dan Jean-Marc, Kadek langsung dengan mobil menunggu kami di
Kelenteng.

Saat naik becak Annick sangat antusias, karena ini adalah pengalaman
pertamanya naik becak. Dia tidak henti-hentinya menjepret kamera
Canonnya saat becak yang kami tumpangi melewati jembatan, lalu
melintasi alun-alun Kota di depan Kodim Banyuwangi yang memampang
spanduk dengan gambar anggota TNI angkatan darat sedang latihan
tempur berlatar belakang beberapa tempat dan pulau-pulau di Indonesia
termasuk ada gambar Mesjid Raya Baiturrahman, disamping gambar itu
tertulis ANGKATAN DARAT BENTENG TERAKHIR NKRI. Spanduk ini
digantungkan di atas patung ABRI Manunggal yang terbuat dari beton,
karakter patung-patung ini digambarkan dengan tentara yang memegang
senjata berdampingan dengan petani bertelanjang dada yang mengenakan
celana 4/5 warna hitam dan topi caping menutupi kepala sambil
memegang cangkul, di samping patung petani ada patung ulama yang
berpakaian putih-putih ala Pangeran Diponegoro, lengkap dengan
jenggot putihnya memegang Al Qur'an di tangan kiri dengan tangan
kanan dan jari telunjuk mengacung ke atas dengan mimik wajah yang
mengingatkanku pada Rhoma Irama ketika sedang berkhotbah di sela-sela
konser dangdut Soneta Grup. Jean-Marc suami Annick juga tidak henti-
hentinya mengarahkan lensa handycam Sonynya ke segala arah sambil
mulutnya berkomat-kamit menjelaskan apa yang dia rekam.

Becak yang kami tumpangi berhenti di depan pasar Banyuwangi, kami
turun untuk melihat-lihat suasana pasar. suasana di pasar hari ini
berbeda dengan biasanya, jika pada hari biasa jalanan di depan pasar
yang menghubungkan Mesjid Agung Banyuwangi dengan Alun-alun meskipun
dipinggirnya dipenuhi pedagang sayur, rempah-rempah, daging dan ikan
tapi masih menyisakan ruang yang luas di tengahnya untuk dilalui
mobil dan kendaraan lainnya, hari ini tidak. Jalanan yang membelah
pasar sekarang dipenuhi tenda-tenda dadakan tempat orang berjualan
kue lebaran, sehingga jalan itu hanya bisa dilewati sepeda motor,
atau becak dengan sedikit memaksa. Jenis kue yang dijual di tenda-
tenda itu seragam, bermacam kacang dan kue kering olahan berbahan
dasar tepung terigu dan margarin. Kepada Annick dan Jean-Marc aku
menjelaskan bahwa kue-kue itu adalah kue lebaran yang nantinya akan
disajikan pada tamu-tamu yang berkunjung. Kepada mereka aku juga
menjelaskan bahwa lusa yang merupakan hari lebaran adalah hari libur
paling penting di Indonesia, saat itu setiap orang akan saling
berkunjung ke tetangga, teman dan tentu saja keluarga. Mendengar
penjelasanku mereka berdua manggut-manggut karena sebelumnya ketika
berada dalam kapal saat menyeberang aku juga sudah menjelaskan betapa
istimewanya hari ini bagi orang Indonesia.

Di belakang tenda itu seperti hari biasa dipenuhi deretan penjual
sayur dan kebutuhan dapur lainnya, seperti bumbu , rempah-rempah dan
tidak ketinggalan daging, ayam dan ikan dengan segala variannya,
mulai dari ikan asin, ikan segar, kepiting, udang, cumi-cumi dan lain-
lain, semuanya dijual di pinggir jalan tepat di depan toko-toko emas,
toko elektronik, toko plastik dan toko kain milik pedagang keturunan
Cina maupun Arab.
Kepada Jean-Marc dan Annick aku menjelaskan 'peta ekonomi' seperti
yang mereka lihat ini bisa dilihat hampir di semua kota di Indonesia,
dimana toko-toko di tempat strategis hampir pasti dimiliki pedagang
keturunan Cina, sementara yang berjualan sayur dan hasil bumi kelas
emperan hampir pasti pribumi alias PS (penduduk setempat),
pengecualian antara lain ada di Kota Banda Aceh dan Kota Padang.
Sayangnya kedua kota yang saya sebutkan itu terhitung kota kecil yang
pengaruhnya kurang diperhitungkan dalam peta ekonomi nasional,
sehingga tidak heran kalau perekonomian negara ini hampir 90%
dikuasai oleh pengusaha keturunan Cina.

Toko-toko emas yang berjejer disepanjang jalan itu semuanya sesak
dipenuhi pembeli. Di kota ini dan di kota-kota lain yang banyak
penduduk suku Maduranya memang ada tradisi membeli emas di hari
lebaran, biasa untuk pamer ke tetangga dan kerabat, untuk menunjukkan
keberhasilan usaha selama setahun, biasanya sehabis lebaran toko emas
kembali dipenuhi orang, tapi kali ini untuk menjual.

Setelah berkeliling di pasar, kami kembali naik ke becak untuk menuju
klenteng Hoo Tong Bio, sambil melintasi kota aku memperhatikan depan,
kanan dan kiri jalan. Ketika kuperhatikan baik-baik aku merasa hari
ini suasana di Banyuwangi sangat religius karena di sepanjang jalan
kulihat bertebaran spanduk dan umbul-umbul dari berbagai produk,
banyaknya spanduk dan umbul-umbul itu kutemui bukan hanya di kota ini
tapi sejak akan menyeberang di Gilimanuk tadi, di kiri kanan jalan di
dalam pelabuhan dipenuhi oleh iklan berbagai produk untuk berpromosi,
mulai dari kain sarung, mie instant, operator selular, motor, mobil,
rokok sampai partai politik. Beberapa produk malah mendirikan posko
khusus di pelabuhan, di pelabuhan Ketapang ada posko Pop Mie, Motor
Suzuki, Toyota dan tentu saja operator selular.

Yang membuat suasana kota tampak religius adalah karena kata-kata
yang tertulis dalam iklan produk-produk itu. Semuanya sangat indah,
bijaksana, menyentuh dan menyejukkan hati. Menjelang lebaran ini
kuperhatikan semua produk yang mengiklankan diri itu tiba-tiba
menjadi sangat islami. Di Pelabuhan Ketapang dalam papan reklame
berukuran besar milik kartu bebas dari operator selular XL, kulihat
Luna Maya tersenyum manis seperti seorang gadis salihah lulusan
pesantren yang tidak pernah mengenal pergaulan dengan lawan jenis,
rambut indah Luna yang biasanya tergerai kali ini ditutupi dengan
Jilbab oranye yang merupakan warna khas XL. Di pojok lain pelabuhan
yang sama dalam papan iklan ukuran yang sama besarnya pula, Sandra
Dewi gadis keturunan Cina asal Bangka yang sama sekali bukan penganut
islam tampak anggun dengan kerudung dan baju kurung berwarna merah
terlihat tertawa lepas dan dengan tangan mengembang terbuka saat
mengiklankan produk Telkomsel, Kartu Simpati.

Produk rokok seperti Jarum milik keluarga Cina kristen taat dan
Sampoerna yang sekarang dimiliki oleh Raksasa rokok Philip Morris
asal Amerika, yang sekarang produknya sedang jadi kontroversi soal
Fatwa haram dari MUI, setelah kemunculan sajak Taufik Ismail yang
membandingkan bahaya rokok dengan bahaya daging babi memenuhi jalanan
dengan berbagai umbul-umbul dan spanduk yang berisi kata-kata sejuk
yang menenangkan hati, kata-kata yang tertulis di situ mirip isi
khotbah AA Gym atau Ustadz Jeffry, alias UJE yang mencitrakan dirinya
sebagai seorang Ustadz Gaul. Di bawah tulisan-tulisan yang penuh
hikmah dan menenangkan jiwa itu tertulis MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN
KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN,
semuanya ditulis dalam huruf kapital.

Iklan produk partai politik juga bertebaran di mana-mana, misalnya
iklan dari PKS yang sekarang tampaknya sedang mengalami masa puber,
kuperhatikan sekarang PKS sedang gemar berpantun mengikuti tren gaul
anak muda sekarang yang banyak terpengaruh pergaulan ala sinetron.
Tapi dari sekian banyak iklan produk partai politik di kota ini, yang
kulihat paling menonjol adalah ucapan selamat Idul Fitri dari
Abdullah Azwar Anas, yang di bagian kanan spanduk ucapan selamatnya
terpampang foto dirinya mengenakan kopiah hitam sedang tersenyum
manis, di bawah foto itu tertulis, Abdullah Azwar Anas, Anggota
Komisi (saya lupa nomornya) DPR RI Fraksi Kebangkitan Bangsa dari
Dapil VII Jawa Timur. Saya tidak tahu apakah Abdullah Azwar Anas yang
mewakili PKB dari daerah pilihan Banyuwangi ini ada hubungannya
dengan Azwar Anas seorang Soehartois dedengkot Golkar yang mantan
gubernur Sumbar dan mantan ketua umum PSSI itu.

Iklan lain dari produk partai politik yang kulihat juga terlihat
menonjol di kota ini adalah ucapan selamat hari raya dari dua pasang
calon gubernur Jawa Timur yang memenangkan pemilihan geubernur dan
wakil gubernur Jatim pada putaran pertama dulu, pasangan Soekarwo dan
Syaifullah Yusuf yang menyingkat panggilannya dengan Karsa yang
diusung oleh PAN dan Khofifah Indar Parawansa dan Mayjend (pur)
Mudjiono yang menyingkat panggilan mereka dengan KaJi yang diusung
oleh PPP.

Di antara lautan spanduk ucapan klise selamat Idul Fitri, mohon ma'af
lahir batin lainnya yang biasa kulihat di mana-mana ada beberapa
spanduk yang menarik perhatianku. Spanduk-spanduk itu adalah spanduk
milik pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Soekarwo dan
Syaifullah Yusuf, meskipun isi spanduknya juga klise mengucapkan
selamat hari raya dengan berbagai pilihan kata-kata indah yang
tampaknya oleh si pemilik spanduk ucapan itu diucapkan dengan tulus
dari lubuk hati mereka yang terdalam, sebagai mana tulusnya
perusahaan rokok, otomotif dan operator selular ketika mengucapkan
selamat hari raya hanya sayangnya dari sekian banyak ucapan indah dan
tulus di spanduk itu tidak satupun yang kuingat persis isinya.
Justru yang menarik perhatianku dan yang paling kuingat adalah sebuah
tulisan di bawah foto pasangan calon gubernur yang disingkat Karsa
itu, dalam foto itu terlihat calon Gubernur dan Wakilnya ini sedang
tersenyum ramah keduanya berkumis (Soekarwo berkumis tebal ala Pak
Raden sedangkan Gus Ipul berkumis tipis). Tulisan yang menarik
perhatianku itu berbunyi Ojo Lali Coblos Brengose Rek!…Brengos
adalah kumis dalam bahasa Jawa Timuran.

Demikianlah suasana menjelang lebaran di Banyuwangi, tempat aku
merayakan hari kemenangan Umat Islam sedunia pada tahun ini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 Hijriyah, mohon maaf lahir dan
bathin.

Win Wan Nur
http://www.winwannur.blogspot.com