Jumat, 03 Oktober 2008  Tanggal 2 Oktober hari Kamis, libur kedua Lebaran resmi.

Pesawat Garuda Indonesian Airways dari Palembang ke Jakarta.

Schedule: ETD (Estimate Time of Departure); 07:40 AM

Komunikasi terjadi beberapa kali antara P (Penumpang) yang berada di Palembang, sudah check ini dan dapat boarding pass menunggu saat boarding dengan J (Penjemput) yang sudah berada di Bandara Sukarno Hatta (Cengkareng) melalui percakapan telepon genggam maupun sms.

P bicara: Ini sudah pk 07.30 belum ada tanda-tanda mau boarding

J: Iya, bagaimana lagi, tunggu saja.

Beberapa menit kemudian, P: Ada pemberitauan bahwa  pesawat GA 113 masih melakukan pengecekan teknis dan refueling, akan diberangkatkan pada pukul 10:00 nanti.

P menunggu dan menunggu, makan dan minum di Cengkareng.

Sekitar pk. 09:30 P: Ada pemberitauan lagi bahwa pesawat GA 113 tidak laik terbang dan para penumpamng akan dipindahkan ke pesawat lain GA 115, ini malah baru saja diberi snack untuk obat hati, karena telah dan masih menunggu.

J: Kalau diberi snack begitu maka berarti masih lama take-off nya

Benar saja, terlihat bahwa menurut pengamatan CP bahwa barang-barang bagasi diturunkan dari pesawat GA 113 dan dipindah ke arah GA 115 yang kebetulan parkir bersebelahan.

Sementara di layar Monitor kedatangan di Cengkareng tertera bahwa tulisan yang menunjukkan jadwal GA 113 sudah menghilang dan kadang-kadang timbul lalu menghilang sama sekali, yang ada terus adalah haya GA 115 yang schedulenya mendarat pada pukul 12:05.

J berusaha mencari counter Garuda di Terminal II di F, tetapi tidak menemukan karyawan Garuda seorangpun yang berada di luar di area tempat penjemput. Beberapa petugas menganjurkan bertanya saja ke Information. Counter Information ditemukan tanpa petugas sama sekali dan tempatnya kotor tidak dibersihkan, rupanya sudah lama kotor begitu, mungkin liburan Lebaran?

Pada pukul 10:36 sms masuk dari P, bunyinya: Akhirnya aku masuk pesawat nih, pake yang ga 113, tapi aku nggak yakin kita berangkat nih. This is the Joke of the Year

Pukul 10:54 J membalas SMS, bunyinya: 113 sudah tidak ada di layar monitor kedatangan, 115 estimate time of arrival 12:05

J terus melihat layar monitor yang tegantung di atas, dari waktu ke waktu karena sadar bahwa P sudah masuk pesawat GA 113 tetapi tadi belum yakin akan berangkat. Mengapa?

Kalau penumpang sudah berada di dalam pesawat terbang, maka komunikasi dengan lisan antar telephone maupun sms, tidak dapat diakukan.

Pertanyaan-pertanyaan lain tidak dapat penjelasan dari siapapun. Tiada lain yang bisa dilakukan selain menunggu .. menunggu ….

pengeras suara berbuyi memberitaukan pada pukul 11:45 bahwa pesawat dengan nomor penerbangab GA 113 telah mendarat. Terkejut dan senang rasa hati J karena Pesawat GA 113 yang tidak terdaftar di monitor ternyata telah mendarat di Cengkareng, meskipun telah menjadi pesawat hantu selama sekitar satu jam lamanya.

Sepuluh menit kemudian pada pukul 11:55 pengeras suara memberitaukan lagi bahwa pesawat GA 115 telah mendarat juga.

J yang bisa melihat para penumpang yang datang untuk mengambil barang bagasinya, telah melihat P yang ada di situ di tempat pengambilan bagasi nomor 10 di Terminal II F. Lama sekali waktu menunggunya, terbukti dengan para penumpang GA 115 yang sudah turun dan semuanya telah selesai mengambil barang bagasinya di tempat pengambilan barang nomor 11 sama sekali sudah tidak ada seorangpun. Di tempat penambilan barang bagasi no. 10 barang bagasi belum satu buahpun muncul.

Ban berjalan yang memutar terus tanpa satu barangpun secara terus menerus mungkin sekitar 30 menit tanpa barang. Akhirnya barang datang juga dan J bertemu langsung. Di dalam mobil P becerita beberapa hal yang diserapnya dari percakapan petugas dengan petugas, yang berteriak-teriak dan petugas dengan penumpang yang marah-marah di Palembang tentang bagaimana latar belakang kekacauan hal di atas bisa terjadi:

A.  Pilot Pesawat GA 113 tadi pagi mendaratkan pesawatnya di runway Bandara Palembang yang tidak seharusnya, keliru, mengakibatkan roda pesawat ada yang rusak dan perlu diganti. Penggantian perlu dilaporkan ke Jakarta dan secara prosedur Jakarta harus melakukan inspeksi/pemeriksaan langsung untuk investigasi dan laporan. Itu sudah bisa diterima sebagai SOP (Standard Operation Procedure) yang dianut oleh Perusahaan Garuda.

B.  Entah karena koordinasi antar petugas tidak lancar sehingga timbul kejadian seperti kejadian A. Tidak bisa mengemukanya  (rahasia?), maka cara kerja tampak dari luar menjadi kacau. Itu yang terasa diantara calaon penumpang yang menyaksikan pengeluaran barang-barang bagasi dari GA 113 dibawa ke GA 115 dan dikeluarkan lagi dari GA 115 dan dimasukkan lagi ke GA 113.

C.  Mengapa perintah kepada penumpang kok simpang siur? Penumpang yang berjalan ke GA 113 disilakan dan diteriaki itu salah dan dipersilakan ke GA 115 dan sewaktu mengubah langkah lagi ke GA 115, ada teriakan lagi supaya menuju ke GA 113. Apa yang ada di pesawat GA 113? Kosong melompong. Tidak ada crew seorang pun, tiada stewardess, steward atau pilot atau petugas ground crew di pintu pesawat yang biasa mengatakan selamat datang kepada para penumpang.  Setelah para penumpang banyak yang duduk, maka para crew muncul berurutan.

D.  Pesawat terbang dengan biasa, meskipun telah dinyatakan tidak laik terbang. Sampai di Cengkareng pesawat GA 113 berhenti di apron, dimana , kurang jelas. Peneumpang diminta turun tetapi naik sebuah bus. Ini normal saja, tetapi tidak biasa.

Biasanya pesawat berhenti di tempat yang ada Garbaratanya dan penumpang bisa langsung turun dari tangga pesawat dan masuk gedung terminal.

Ini menjawab mengapa barang bagasinya sampai ditempat pengambilan barang bagasi No. 10 amat lama dari biasa.

Memang tidak terjadi accident apapun kecuali terlihat tata cara kerja aparat di mata umum tidak professional.

Seperti diketaui kecelakaan pesawat biasanya amat mengerikan selain karena kemungkinan kehilangan nyawa dan materi yang amat tinggi nilainya, memang amat dikhawatirkan orang-orang di luar Indonesia yang melihat pesawat terbang di Indonesia tidak safe sama sekali.

Pesawat GA 113 ini selama satu jam dan sembilan menit – sejak pukul 10:36 sampai pukul 11:45 – telah menjadi PESAWAT HANTU karena tak bisa dilacak seperti layaknya biasa dilihat di monitor kedatangan pesawat terbang. Tidak ada petugas Garuda  yang bisa dimintai keterangan, karena mereka raib di terminal II F dari muka umum. Ini bukan sesuatu yang perlu disembunyikan karena kemungkinan pesawat yang telah dikatakan tidak laik terbang tetapi masih dioperasikan. Meskipun tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan kecuali kesemrawutan penyelenggaraan dan tata cara kerja yang tidak rapi, media sama sekali tidak memberitakan yang semacam ini.

GARUDA pernah di ejek pada tahun 1950an dengan julukan Good And Reliable Under Dutch Administration, karena waktu itu masih kerja sama dengan maskapai lain (KLM?) dan pilot-pilot berkulit putih masih mendominasi cockpitnya.

Sekarang singkatan itu jadi berubah sampai puluhan tahun, yakni: GOOD AND RELIABLE UNTIL DELAY ANNOUNCED.

Apa kita sebagai orang Indonesia mau marah?

Jangan deh, a waste of time …

Anwari Doel Arnowo

Jumat, 03 Oktober 2008 – 13:47:59