Lega juga rasanya menyaksikan ribuan orang, yang pria pakai baju koko dan songkok putih-putih yang tidak sangar, seperti yang saya saksikan di layar kaca dalam kegiatan “Indonesia Berzikir” di Masjid Istiqlal Jakarta, Minggu (24/8/08 ), sepekan menjelang Ramadan, yang disiarkan secara langsung oleh dua TV swasta.

Mereka bukan saja tidak sangar, tetapi tidak sedikit yang berwajah bersih dan tampan-tampan belaka. Malah di antara jemaah wanita, tidak sedikit yang yang berwajah permai dan sangat wangi tentu saja. Karena selain dihadiri sejumlah seleb, acara yang digelar oleh Bakrie Telecom itu bersama 3 ustadz: Habib Hasan Bin Ja’far Asegaf, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dan Muhammad Arifin Ilham itu juga dihadiri oleh Firdani Sauqy, perempuan jelita isteri Anintya Bakrie, putra Taipan Grup Bakrie, yang oleh Majalah Forbes dinyatakan sebagai orang terkaya nomor 1 di Indonesia tahun lalu.

Acara dibuka oleh Anintya sang ketua Panitia, disusul dengan Tausiah Habib Hasan Bin Ja’far Asegaf, yang sejujurnya, tidak ada yang ingat oleh saya apa yang diomong tu Habib. Saya kemudian terkesiap ketika melihat Aa Gym yang tampak agak tua, kusut dan lelah tampil tanpa greget. Sangat berbeda dengan si Aa dua tiga tahun yang lalu, yang selalu jadi primadona pada setiap acara.

Cianjur Sukabumi. Badan terlanjur (menikahi Teh Rini), jadi begini.

Dan bintang lapangan di acara tersebut—tentu saja—-Ustadz Arifin Ilham yang memang dikenal sebagai Ustadz spesialis zikir dan doa bersama. Diawali dengan ucapan khidmad kepada “Ayahanda Aburizal Bakrie” dan “Ananda Anintya Bakrie”, sang ustadz langsung menggebrak.

Dengan suaranya yang khas, serak-serak basah, kadang-kadang tinggi kadang-kadang rendah, adakalanya setengah menangis dan meratap, mata sejumlah Jemaah yang disorot kamera terlihat mulai basah.

“Ingat, rakhmat Allah, mendahului murka-Nya!” sergahnya. yang membuat sebagian Jemaah tambah hanyut.

(termasuk saya, suueer . Sampai-sampai ketika itu dia sama sekali gak ingat korban lumpur Lapindo).

Kamera lalu menyoroti para Jemaah yang tidak sedikit tampak menangis terisak.

“Jangan merasa diri lebih, dan menghakimi orang lain,” lanjutnya, yang membuat saya semakin terkagum.

Sang Ustadz kemudian melanjutkan bimbingan doanya—yang seperti biasa—sangat mempesona itu, sehingga waktu satu jam hampir terlewati dengan tidak terasa.

Sebelum mengakhiri tausiah dan bimbingan doanya, Sang Ustadz memanjaatkan doa secara khusus bagi para mujahidin di Falestin, di Irak dan di Afganistan, yang juga, langsung saya amini.

Dan dengan setengah meratap Ustadz kita ini, mengakhir acara Zikir bersama hari itu, dengan jeritan yang sangat tidak terduga yang langsung membuat saya tersedak:

“Ya Allah, mengapa Habib Rizieq Engkau tahan!”

Antahlah yuuaang

Wassalam, Darwin
Depok, 30/9/2008