Selasa, 30 September 2008  Dongeng adalah: 1. cerita yang dikarang-karang saja karena banyak hal di dalamnya yang tak masuk akal atau tidak dapat ditemukan di kenyataan hidup sehari-hari misalnya orang yang bisa terbang, dapat menghilang, dapat menjelma ke dalam tubuh yang lain, binatang yang dapat berkata-kata  2. cerita yang tidak benar: ah, itu hanya dongeng saja, aku tak percaya

 

1. dan 2. adalah sajian/definis/keterangan kata dongeng di dalam KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia) karangan dua Professor Doktor, JS Badudu dan Sutan Mohammad Zain.

Tulisan ini saya buat karena saya menerima kiriman dalam bentuk sebuah streaming video yang menayangkan seorang ibu mengakhiri sebuah pembacaan dongeng dari sebuah buku untuk anak perempuannya yang sudah terlentang di atas tempat tidur di dalam selimut, dan diharapkan seperti biasanya, akan jatuh tertidur  biarpun pembacaan dongeng belum tamat. Yang ini lain !! Matanya masih setara cahaya bola lampu seratus Watt dan bertanya kepada ibunya.

Begini jalannya dialog antara ibu (I) dan anak (A), pada akhir pembacaan dongeng:

I. …..and the Prince took the beautiful young girl in his arms, and said: "Will you marry me?" —  "Yes, -she whispered- I will be your princess" … … …

A. Did they live happily ever after??

I.  Of course, Elizabeth …

A. How do you know??

I. Because she was a good little girl, if she had been naughty, the Prince would have run away ..

A. What a pile of shit !!!

Dengan mata melotot meskipun tetap berbaring, sang anak telah mengatakannya dengan lantang dengan suara tegas.

Orang-orang yang masih seumur dengan umur saya tentu juga pernah diceritai seperti itu, mengenai Djoko Tingkir, mengenai Si Malin Kundang, Ande-Ande Lumut, Sangkuriang atau mungkin saja mengenai  Samson serta Ben Hur, Maha Bharata dan Seribu Satu Malam, bahkan Santa Claus dan lain-lain dongeng. Pada umumnya kami yang sekarang orang-orang yang sudah tua, sudah lama beranggapan bahwa semua itu telah dibumbui dengan segala macam bullshit. Setelah melalui masa sebagai kanak-kanak dan tumbuh menjadi agak dewasa, maka pikiran dan akal mulai berkembang dengan sendirinya di segala ruang lingkup lingkungan dan waktu. Siapa yang bisa mencegah pengembangan pikiran dan penarikan kesimpulan manusia lain??

Maukah lagi kita percayai bahwa seorang manusia bernama Minak Jinggo dari ujung paling Timur bagian Selatan Pulau Jawa di kerajaan Blambangan, hanya bersenjatakan wesi (besi) kuning, mempunyai kekuatan yang luar biasa. Sakti tiada lawan. Ya tentu saja Sang Raja Minak Jinggo itu kan belum pernah mengenal apa  yang disebut dengan Tank Scorpion dan pesawat tempur Sukkhoi. Kalau melihat dua benda ini Minak Jinggo pasti langsung ke Toilet (kalau ada) dan atau akan terkencing-kencing ditempat. Guyonan (lawakan) tadi pasti amat penuh di dalam benak dan memory anak-anak jaman sekarang (jarang) yang sungguh amat berlainan dengan anak-anak jaman dulu (jadul).

Hari ini tanggal 30 September 2008, saya membaca tulisan sdr. Asvi Warman Adam, seorang yang bekerja di Lipi (Lembaga Ilmu Pengetahuan) sebagai Ahli Peneliti Utama, seorang sejarawan yang tulisan-tulisannya amat diminati mengenai G-30-S yang terkenal itu.

 

Saya juga membaca informasi bahwa dia amat lekat sebagai keluarga korban keganasan Tentara kita dalam memberantas mereka yang pernah  dikatakan dan diduga sebagai PKI, sebagai simpatisannya.

Yang diberantas itu sampai ke akar-akarnya termasuk anak-anaknya sekalian, kalau bisa, akan dimusnahkan . Anak-anak itu telah dilarang menjadi Pegawai Negeri dan dilarang menjadi ABRI (Agkatan Bersenjata Republik Indonesia). Itu semua adalah sejarah, kita sulit mengingkarinya dan sukar sekali mengembalikan seperti aslinya. Aslinya seperti apa?

Atas pertanyaan Aslinya seperti apa? , maka jawabannya tidak bisa lain, hanya : WAH !!??!!

Saya yang ketika pada tahun 1965 telah berumur 28 tahun, banyak membaca kertas resmi maupun tidak resmi, membaca berita-berita, menyaksikan keajdian-kejadian yang terlihat oleh mata muda saya dengan jelas dan gamblang. Sekarang ini saya berani mengatakan bahwa aslinya G-30-S itu seperti apa, saya tidak mengetaui dan tidak mengerti. Jumbuh dan rancu!! Banyak dugaan dan banyak kesimpulan telah berlalu lalang di dalam pikiran saya, akan tetapi saya merasakannya seperti melihat sampah yang bertambah lama bertambah busuk. Penuh hal bohong dan hal dusta serta tutup-sampahnya yang sekarang sudah robek-robek di sana-sini. Telah banyak rasa keadilan di injak-injak dan tidak dipedulikan oleh manusia-manusia intelektual dan beragama serta katanya berbudi luhur. Mereka ini banyak yang tangannya telah terlumuri darah orang-orang tidak berdosa. Seluruh dunia telah ikut mengulas dan menduga serta menyimpulkan apa dan bagaimana G-3-S itu? Coba anda baca tulisan sdr. Asvi ini di link berikut:

 http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini/versi-mutakhir-gerakan-30-september-1965-2.html .

 

Bagi anda yang tidak terhubung dengan internet pada waktu membaca ini, silakan membaca copy paste yang berikut ini:

 

Versi Mutakhir Gerakan 30 September 1965

Monday, 29 September 2008

Pada saat Gerakan 30 September diumumkan, perwira di sekeliling Soeharto sudah berkeyakinan bahwa itu didalangi Partai Komunis Indonesia (PKI).

 

Buku yang pertama diterbitkan Pusat Sejarah Hankam berjudul 40 Hari Kegagalan 'G-30-S' dan dicetak akhir tahun 1965 itu sudah menyinggung keterlibatan PKI.Versi ini bertahan selama 30 tahun masa pemerintahan Orde Baru. Disusul oleh versi lain tulisan Ben Anderson dkk––kemudian dikenal sebagai Cornell Paper––yang menganggap bahwa itu persoalan intern Angkatan Darat (AD).

 

Buku ini dilarang dan penulisnya dicekal masuk Indonesia. Tahun 1995 Institut Studi Arus Informasi (ISAI) menerbitkan buku tipis tentang tiap versi Gerakan 30 September. Selain dari PKI dan AD disebutkan pula versi lain, yakni CIA, Soekarno, dan Soeharto. Namun buku ini pun dilarang oleh Kejaksaan Agung.

 

Dalam suasana demikian, ketika Soeharto jatuh tahun 1998, bermunculanlah di Tanah Air berbagai (terjemahan) tulisan tentang Gerakan 30 September. Analisis yang diberikan beragam,mulai dari kudeta merangkak (Saskia Wieringa, Peter Dale Scott, Subandrio) sampai dengan kudeta yang disengaja untuk gagal (Coen Hotzappel). Tiap teori dalang Gerakan 30 September itu mengalami kelemahan. Kalau PKI secara organisasi memberontak, kenapa 3 juta anggota partai ini tidak melakukan perlawanan ketika diburu dan dibunuh pascaperistiwa itu. Analisis yang menyebutkan itu persoalan intern AD juga tidak memuaskan; bukankah Sjam dan Pono juga terlibat?

 

Sementara itu, versi Soekarno sebagai dalang juga diragukan. Bila sang Presiden mengetahui sepenuhnya rencana aksi ini sebelumnya, kenapa dia berputar-putar di Kota Jakarta sebelum menuju pangkalan udara tanggal 1 Oktober 1965?

Mengapa Presiden Soekarno tidak langsung saja dari Wisma Yaso kediaman Ratna Sari Dewi (sekarang Museum Satria Mandala,Jalan Gatot Subroto) menuju Halim Perdanakusuma?

 

Demikian pula Soeharto tidaklah terlampau "jenius" untuk bisa merancang suatu perebutan kekuasaan secara sistematis. Walaupun masih perlu diinvestigasi lebih lanjut seberapa jauh Soeharto mengetahui rencana tersebut sebagaimana disampaikan Kolonel Latif dalam pertemuan malam sebelumnya di Rumah Sakit AD Gatot Subroto.

 

Amerika Serikat (AS) tidaklah ikut campur pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965 walaupun berbagai dokumen menyebut keterlibatan mereka sebelum dan sesudah peristiwa berdarah tersebut. AS tidak ingin Indonesia yang memiliki posisi strategis dan sumber daya alam melimpah jatuh ke tangan komunis. ***

 

Setelah menunggu empat dekade, akhirnya tahun ini terbit buku John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal. Buku ini menyederhanakan misteri dengan metode detektif.Sjam Kamaruzzaman bukanlah agen ganda melainkan pembantu setia Aidit sejak bertahun-tahun. Pelaksana Biro Khusus PKI yang ditangkap tahun 1968 ini baru dieksekusi tahun 1986.

 

Dia bagai Putri Scheherazad yang menunda pembunuhan dirinya dengan menceritakan kepada raja sebuah kisah setiap malam sehingga mampu bertahun 1001 malam. Sjam bertahan lebih 18 tahun dengan mengarang 1001 pengakuan. Kelemahan utama Gerakan 30 September adalah tidak punya satu komando.

Terdapat dua kelompok pimpinan, yakni kalangan militer (Untung, Latief, dan Sudjono) dan pihak Biro Khusus PKI (Sjam, Pono, Bono).Sjam memegang peran sentral karena dia penghubung antara kedua pihak ini.

 

Namun ketika upaya ini tidak mendapat dukungan dari Presiden Soekarno, bahkan diminta dihentikan, kebingungan terjadi. Kedua kelompok pecah. Kalangan militer ingin patuh, sedangkan Biro Khusus tetap melanjutkannya. Ini dapat menjelaskan mengapa antara pengumuman pertama dengan kedua/ketiga terdapat selang waktu sampai lima jam.

 

Pada pagi hari mereka mengumumkan bahwa Presiden dalam keadaan selamat. Sementara pengumuman berikutnya siang hari sudah berubah drastis (pembentukan Dewan Revolusi dan pembubaran kabinet). Suatu kekeliruan besar dalam kudeta.

 

Karya ini berjasa mengungkapkan bahwa Gerakan 30 September lebih tepat dianggap sebagai aksi (untuk menculik tujuh jenderal dan menghadapkan kepada Presiden), bukan sebagai gerakan.Karena peristiwa ini merupakan aksi sekelompok orang di Jakarta dan Jawa Tengah yang dapat diberantas dalam waktu satu-dua hari.

 

Namun aksi ini (yang kemudian ternyata mengakibatkan tewasnya enam jenderal) kemudian oleh Soeharto dkk dijadikan dalih untuk memberantas PKI sampai ke akar-akarnya yang di lapangan mengakibatkan terjadinya pembunuhan massal dengan korban lebih dari setengah juta jiwa. Kalau para jenderal yang diculik itu tertangkap hidup-hidup,mungkin sejarah Indonesia akan lain. Massa PKI akan turun ke jalan dan menuntut para jenderal itu dipecat.

 

Presiden akan didesak untuk memberikan kursi departemen kepada golongan kiri itu karena sampai tahun 1965 Soekarno tidak pernah memercayakan pimpinan departemen kepada tokoh komunis kecuali menteri negara.

 

Riset yang dilakukan John Roosa menggunakan arsip yang jarang diulas secara utuh selama ini seperti dokumen Supardjo,tulisan-tulisan Muhammad Munir dan Iskandar Subekti yang tersimpan di Amsterdam,wawancara dengan tokoh-tokoh PKI seperti "Hasan"yang meminta dirahasiakan identitasnya sampai dia meninggal.

 

"Hasan" sendiri sudah menulis memoar yang sudah diserahkan kepada penulis buku (John Roosa) yang dapat dipublikasikan setelah dia meninggal. Di samping dokumen-dokumen penting itu serta wawancara mendalam dengan tokoh sentral organisasi kiri itu, arsip-arsip yang berasal dari Departemen Luar Negeri AS membantu menjelaskan berbagai hal. ***

 

Dokumen Supardjo dianggap cukup sahih––sebagai semacam pertanggungjawaban setelah peristiwa itu terjadi––yang ditulis ketika dia belum tertangkap. Beberapa saksi, termasuk Letkol Udara Heru Atmodjo yang sama-sama dipenjara dengan Supardjo, mengakui keberadaan surat tersebut.Pihak keluarga juga mengiyakan informasi yang pernah disampaikan Supardjo.

 

Dokumen itu memperlihatkan bahwa kelemahan utama Gerakan 30 September adalah karena tidak adanya satu komando. Versi John Roosa memiliki berbagai kelebihan. Pertama,menggunakan dokumen yang selama ini diabaikan seperti dokumen Supardjo, pleidoi Iskandar Subekti, dan tulisan Muhammad Munir.

 

Kedua,Roosa berhasil melakukan wawancara mendalam dengan "Hasan", tokoh kunci yang mengetahui kiprah unit yang disebut sebagai Biro Khusus PKI.

Ketiga,sumber-sumber di atas dilengkapi dengan arsip-arsip AS yang telah terbuka dari waktu ke waktu. Keempat, John Roosa berhasil menyusun narasi baru bahwa Gerakan 30 September sebenarnya bukan gerakan, melainkan suatu aksi yang ternyata dijadikan dalih untuk melakukan pembunuhan massal.

 

Kelima, upaya yang sudah dilakukan dosen sejarah Universitas British Columbia, Kanada, itu menjadikan perdebatan tentang siapa dalang G- 30-S itu sudah sepatutnya diakhiri. Seyogianya diskusi kini beralih tentang bagaimana proses pembunuhan massal 1965 itu terjadi dan mengapa sampai memakan korban demikian banyak?

 

Jadi yang patut dipertanyakan bukan lagi "siapa dalang G-30-S" melainkan "siapa dalang pembantaian 1965"?. Roosa memberikan perspektif baru bahwa ini adalah aksi bukan gerakan, tetapi kemudian dijadikan dalih untuk melaksanakan peristiwa berikutnya yang lebih dahsyat, yaitu pembantaian 1965).(*)

 

Asvi Warman Adam

Ahli Peneliti Utama LIPI

 

Kita akhiri sementara sambil menunggu data selengkapnya, mungkin  43 tahun lagi, seperti G-30-S yang pada hari ini telah 43 tahun umurnya.

WHAT A PILE OF SHIT………

 

Anwari Doel Arnowo

Selasa, 30 September 2008 – 11:25:19 AM

—ooo000ooo—