Ketika perang usai (awal 50-an), para pejuang yang berasal dari pelajar  SMP dan SMA memang berpencar ke mana-mana, walau sebagian besar akhirnya kembali ke bangku sekolah. Tentara Pelajar (TP) Brigade XVII Solo/Jateng pimpinan Achmadi (belakangan menjadi menterinya Bung Karno, dan ikutan dibui Suharto selama sekian tahun dalam rangka kudeta merangkak) memang banyak yang terdiri dari anak-anak elit,  salah satunya adalah Benny Murdani.

 
 Banyak dari mereka yang kemudian menjadi pejabat negara. Kalau reunian, paling tidak hingga awal 1990-an, mereka melakukannya di rumah Achmadi di belakang STM Penerbangan Kebayoran, hingga akhirnya rumah itu dijual dan mereka tidak punya lagi tempat untuk kongkow. Di tempat itulah, penulis Siapa Menabur Angin Menuai Badai, yang notabene juga eks TP, dengan menangis mengaku bahwa dia menulis buku yang  mendiskreditkan Bung Karno itu karena disuruh Harmoko, karena takut bendera merah sudah mulai berkibar lagi. Pengusulan Megawati sebagai presiden, dalam kadar embrio, juga dilakukan oleh para mantan TP. Pendek kata, mereka adalah Sukarnois klas berat.
 
Sebagian eks  TP yang bernasib baik disekolahkan oleh pemerintah Indonesia ke Eropa dan Inggris (kiblat pendidikan elit masa itu), misalnya Achadi, yang kemudian juga menjadi menterinya Bung Karno (menteri termuda Indonesia, karena usianya belum lagi 35 tahun).
 
Meskipun  Ron orangnya pandai, tapi entah kenapa dia tidak ikut disekolahkan ke Eropa oleh pemerintah, mungkin juga karena dia tidak mendaftar. Bisa dimengerti kalau dia kemudian menjadi bangga bisa lulus dari perguruan tinggi Eropa  atas beaya sendiri, mengingat orang tuanya, pak Suparmo adalah "hanya" seorang kepala percetakan Van Doorp, Semarang, artinya bukan orang super kaya raya. Ron jelas mempunyai fighting spirit tinggi, mampu  hidup di negara asing dengan membeayai diri sendiri.  Tak jelas sebabnya kenapa dia kemudian membenci Bung Karno, tidak seperti para TP lainnya. Mungkin dia terlalu banyak membaca buku2 Belanda tentang Sukarno yang penulis2nya  anti BK (ada juga kan penulis Belanda yang pro BK), termasuk tuduhan BK sebagai kolaborator Jepang. Usai lulus, rupanya Ron tidak kembali ke Indonesia dan meneruskan petualangannya melanglang jagad.
 
Mengingat di Indonesia ini amat jarang orang berusia di atas 65 tahun yang main internetan (apalagi di milis rock n roll macam Apakabar), maka lebih langka lagi ketika  Ron ikutan di milis dalam usia 76 tahun! Begitulah, ketika dia  menulis dengan susunan kata yang membingungkan, itu bisa dipahami. Itulah sebabnya saya suka senyum2 saja kalau membaca tulisan Ron yang ngeyelan dan bikin lawan tulisnya pada geregetan. Mereka itu tidak tahu bahwa yang sedang dihadapi adalah seorang kakek berusia  76 tahun, yang di Indonesia biasanya untuk mengetik saja sudah tidak mampu lagi

Apakah benar dia sukses materiil di negeri orang? Lamat-lamat saya ingat adik2nya pernah mengatakan demikian adanya.
 
Di bawah ini  adalah konfirmasi  dari Wal Suparmo, jadi ini bukan rumor.
 
gono
============
 
 
Terimakasih atas perhatian dan kiriman berita dari Bapak. Sementara in ada kabar duka cita dari kakak saya  RON SUPARMO (yang suka menulis email di APAKABAR  dan SUPERKORAN), pada tgl 1 Agustus 2008,telah mengalami kecelakaan lalulintas di Washington dan tewas dalam umur 76 tahun.
Wasalam,

Wal Suparmo