Kamis, 18 September 2008  "Put your hand on a hot stove for a minute, and it seems like an hour. Sit with a pretty girl for an hour, and it seems like a minute. THAT'S relativity." –  Taruhlah tanganmu diatas pemanggang api untuk satu menit lamanya, dan itu terasa bagaikan satu jam. Duduklah dengan seorang perempuan yang jelita selama satu jam, dan itu akan terasa hanya seperti satu menit saja.

 

Ini adalah kata-kata yang dipergunakan dalam menggambarkan masalah kejelasan atas Teori Relativitas yang terkenal, karena dunia pengetauan telah dibantu dibuat terang oleh Albert Einstein (seorang Amerika kelahiran Jerman, ahli fisika yang telah berhasil mengembangkan Teori Relativitas baik yang umum maupun yang khusus. Dia adalah seorang penerima Hadiah Nobel untuk Ilmu Fisika pada tahun 1921. Lahir pada tahun 1879 dan meninggal pada tahun 1955).

Sudah berulang kali saya menyitir bahwa tidak ada yang tetap di dunia ini, baik dalam bentuk fisik (seperti alam dan segala isinya) maupun dalam bentuk non fisik (seperti halnya pemikiran dan ajaran-ajaran serta ilmu pengetauan dan kepercayaan).

Itulah mengapa saya berpikir bahwa manusia atau makhluk lain-lainnya itu tidak dapat tidak, telah dibatasi dalam menjalani hidup di dalam  kehidupannya diatas Planet Bumi yang kita cintai ini. Kalau terlalu lama, misalnya lebih dari 140 tahun, maka dia akan begitu mapannya dengan kebiasaannya dan kenyamanannya, dia tidak akan mau berubah, meski hanya satu mili meterpun. Mengapa kita dilahirkan lengkap dengan cinta dan benci? Itu sudah memang menjadi kelengkapan hidup kita. Kita mencintai anak-anak keturunan kita, tetapi pada abad yang lalu, telah banyak juga orang yang sadar bahwa bukti cinta kita itu harus diwujudkan dengan cara menciptakan alam yang nyaman, yang akan bisa dinikmati oleh anak keturunan kita dan keturunan mereka juga, nantinya. Kelengkapan kita yang lain, di antaranya: lahir dan mati. Sebelum lahir, kita ini apa? Yang kita tau hanya secara ilmu biologi dengan adanya sprema dan tercipta seorang Manusia atau Makhluk yang dilahirkan. Setelah mati, apa yang terjadi? Yang kita tau hanya tubuh yang sudah tidak berdaya karena ada sesuatu yang meninggalkannya. Apa yang telah meninggalkan tubuh kita itu? Menurut kepercayaan dan ilmu keTuhanan, yang pergi dan meninggalkan tubuh itu adalah nyawa, spirit atau sukma atau jiwa atau ruh. Dari sudut pandang Ilmu kedokteran, yang meninggalkan tubuh kita itu masih belum bisa di identifikasi, karena belum dikenal dalam istilah yang ada di dalam Ilmu Kedokteran, karena masih dalam tahap nol besar. Itu adalah kondisi sampai pada saat ini. Mungkin pada seratus tahun lagi akan ada penjelasan yang bisa diterima oleh akal semua pihak. Oleh karena sebagian besar orang pada saat ini hanya peduli kepada kondisi pengetahuan sampai dengan saat ini saja, maka mereka hanya peduli sampai nanti kalau sampai pada saat ajal saja. Sesudah itu, secara ilmu pengetahuan yang ada, masih belum bisa diharapkan datangnya penjelasan yang mantap yang bisa diterima oleh mayoritas penduduk di Bumi sekarang.

Mengingat hal-hal tersebut tadi, maka tidak perlu sebenarnya bagi kita yang masih hidup di dunia ini mempertahankan semua pendapat, dalil dan dogma dengan mengorbankan nyawa kita. Kita ini telah lahir dengan kelengkapan berupa akal dan budi, berupa kemampuan berkomunikasi, biarpun dengan makhluk lain yang bukan manusia. Seperti saya dengan anjing piaraan saya, manusia lain dengan binatang peliharaannya atau yang liar sekalipun. Kita telah diberi kemampuan berpikir dan lain-lain kemampuan yang bisa menyenangkan hidup kita maupun hidup sesama kita. Juga telah dilengkapi segala kelengkapan dengan kemampuan yang semuanya bertentangan dengan kemampuan-kemampuan yang telah saya sebutkan terdahulu. Bisa destruktip, bisa membangun, bisa membinasakan dan bisa mencipta apa saja. Semua sifat kita yang positip maupun yag negatip, semuanya terpulang kepada manajemem diri kita dalam mengelola semua perangkat yang ada di dalam tubuh kita itu. Semua perangkat tadi telah melekat di dalam tubuh kita sejak lahir, bukan dipasang (diinstall) setelah kita lahir. Sekali lagi terpulang kepada kita, kita mampu atau tidak mampu mengelolanya dan menyelia semua perangkat tadi. Pengelolaan dan penyeliaannya akan menentukan menjadi jenis manusia apa kita, manusia biasa, manusia pilihan yang baik atau buruk, atau bahkan manusia yang  luar biasa tetapi baik atau buruk juga. Baik dan burukpun tergantung kepada cara pandang dan cara memantaunya serta bagaimana suasana situasionalnya.

Secara kebetulan saya baru menerima email dari seorang teman yang amat rajin menambahi pengetauan saya dalam banyak bidang, yang selalu amat saya syukuri dengan senang hati. Saya bagikan kepada anda pengetauan dan sarana dalam merenungkannya.
Untuk menambah ketajaman visi dari apa yang telah kita bicarakan ini, saya anjurkan kepada anda para pembaca yang tersambung dengan internet, untuk membuka link berikut dan mengamati dengan tajam, kalau perlu berulang-ulang melihat, setiap kali dengan lebih teliti. Silakan buka dan KLIK DUA KALI di sini:         FantasticTrip(Jeje).pps (1169KB) .  Anda akan tercenung dan terkesan luar biasa. MELIHAT dengan kasat mata, apa yang ada di diri kita, di atas diri kita dan di bawah kita serta apa saja yang membentuk opini bagaimana hal-hal yang selama ini telah tidak pernah menjadi atau malah tidak pernah menarik perhatian kita. Teman pengirim email ini membuat pernyataan, setelah meresapinya, dengan kata-kata: Who am I, really ???
Saya sendiri merasa kecil sekali, bagaikan sebuah debu sebuah matter atau zat yang tidak ada arti dalam besarannya. Itulah gunanya kita punyai wawasan, memilikinya dan menyadarinya, bagaimana cara  meletakkan diri kita dalam menjalani hidup di dunia. Menghadapi pluralnya bagian-bagian dunia. Tidak pernah tetap, akan berubah pada setiap saat, menjalani siklus kehidupan yang dijalani, mau atau tidak, rela atau tidak, semua bermula dan semua berakhir.

Kita tidak lupa kebesaran seseorang, kebesaran sebuah pemerintahan, kerajaan dan kedigdayaan sejak sebelum jaman Nabi Luth,  Samson, Pharaoh, Napoleon, dan segala macam bentuk paham dan dalil serta dogma serta kepercayaan, telah bergerak perlahan dan membesar. Apa yang terjadi setelah membesar? Yang terjadi adalah meletusnya, meledaknya kebesaran dan menjadi berkeping-keping. Itulah fakta. Raden Wijaya, Kaisar Nero atau Kubilai Khan serta Hittler dan Mussolini. Bagaimana pula nasib Stalin dan Komunismenya serta kejayaan Prancis dalam berperang melawan gerakan nasionalisme di Viet Nam? Semua menggelembung dan berakhir terpecah menjadi bagian-bagian kecil-kecil dan dilupakan orang selamanya. Ini semua menggugah kita dan mengingatkan kita mengenai kenisbian, mengenai ketidak-berdayaan kita, mengenai labilnya bentuk dan rupa apapun di dunia ini sejak dahulu kala, sekarang dan sampai yang akan datang sekalipun. Bagi siapa saja di antara kita yang merasakan dirinya telah menjadi besar, bersiap-dirilah untuk menurun dan juga untuk mengecil sekecil apapun yang menjadikan anda tidak besar lagi. Siapa bisa berpikir bahwa seorang anggota dpr kita bisa jatuh pamor dan dipenjara? Eksekutif pemerintah juga, seperti eks Menteri Agama dan Duta Besar kita yang Jenderal Polisi? Presiden John Fitzgerald Kennedy dan pendeta Martin Luther King serta petinju Mohammad Ali juga telah menemui akhir yang tidak diharapkan.  

Kita tidak perlu mengatakan bahwa apa yang kita percayai adalah selama-lamanya, bahwa itu eternity-kekekalan-keabadian dan kebakaan..
APA ETERNITY itu?
Eternitypun adalah relatip jadi juga bersifat relativitas.
Saya mengakhiri tulisan ini dengan kata-kata sang maestro, seorang besar dalam ilmu, tetapi sedikit eksentrik dan selalu dikenang, Albert Einstein lagi, yakni: "Life is like riding a bicycle. To keep your balance you must keep moving" Hidup seperti mengendarai sepeda. Untuk menjaga keseimbangan anda harus tetap bergerak.
 
Anwari Doel Arnowo
Kamis, 18 September 2008 – 22:55:34

—ooo000ooo—-