Selasa 23/9/08 Selasa ini Rancangan Undang-Undang Pornografi akan disahkan DPR, demikian berita sebuah TV swasta tadi malam. TV tersebut juga menayangkan penolakan terhadap RUU kontroversi tersebut di Solo dan Yogyakarta. Di Yogya penolakan juga secara terang—terangan dilakukan oleh Kanjeng Ratu Hemas, isteri HB-X yang sedang digadang-gadang untuk tampil sebagai Capres pada Pilpres 2009 yang akan datang.

Tetapi Detik.com tadi pagi memberitakan bahwa DPR akan membahas kembali, yang pada awalnya merupakan RUU-APP dan menyikapi hal tersebut, Forum Umat Islam (FUI) menuntut agar dilakukan format ulang terhadap RUU tersebut dan juga menuntut agar substansi UU-APP merujuk kepada ketentuan syariat Islam, dengan tetap memberikan pengecualian bagi masyarakat tertentu.

Seperti diketahui, rencana pengundangan RUU-AP ini menimbulkan diskusi yang cukup hangat di Forum dengan pengunjung yang melampaui 1.000 orang.

Sementara itu, masalah pembagian zakat di Probolinggo yang menimbulkan korban jiwa 21 orang—-yang juga menjadi bahan diskusi yang cukup panas di Forum dengan pengunjung yang melampaui 1.500 orang—-seperti mulai dilupakan orang. Salah satu kata kunci dari peristiwa adalah masih kurangnya kepercayaan kepada Badan Amil Zakat. Hal itu terang-terangan dikemukakan dalam kegiatan pemberian zakat di sebuah Pesantren—masih di Probolinggo—satu hari setelah peristiwa zakat maut tersebut, tetapi lebih dipersiapkan dengan relatif baik dengan penjagaan ketat aparat.

Sesuai dengan syariah Islam, zakat memang seyogyanya disalurkan melalui Amil, di mana mereka juga berhak memperoleh bagian dari zakat yang akan disalurkan. Namun dari sebuah diskusi di sebuah TV swasta terungkap, kenaikan pengeluaran untuk amil pada tahun terakhir, lebih besar dari pada kenaikan penerimaan zakat itu sendiri.

Ketika wajah kemiskinan begitu telanjang di Indonesia, dan umat Islam belum berhasil melakukan pemeberdayaan dan “institusionalisasi” zakat, hal semacam itu akan berulang terus. “Institusionalisasi”, di samping kurangnya ketulusan hati, memang masih merupakan problem di Indonesia, termasuk dalam penyelenggaran Ibadah Haji. Sampai saat ini dalam hal yang terakhir ini, Indonesia memang masih jauh tertinggal jauh dari negara jiran Malaysia.

Salah satu isu lain yang cukup hangat di Indonesia, adalah bisnis daging busuk—yang diolah dari sampah yang berasal dari hotel dan restoran, yang setelah diolah dan diberi zat pewarna dijual ke pasar-pasar tradisional dan menjadi konsumsi masyarakat lapisan bawah. Seperti biasa, mengahadapi hal-hal semacam ini pihak-pihak terkait seperti kebakaran jenggot, lalu bersikap defensif reaktif. Berbagai raziapun dilakukan kepada pasar-pasar tradisional dan swalayan. Di sejumlah pasar tradisional daging glondongan (daging dari sapi yang sebelum dipotong dipompakan air dengan selang ke perutnya supaya lebih “gemuk”) dan ayam busuk diketemukan dan di pasar swalayan dijaring sejumlah makanan kedaluarsa dan makanan impor yang tidak terdaftar di BPOM.

Hampir dipastikan sehabis Lebaran orang akan mulai lupa terhadap hal ini. Sampai saat ini belum ada yang tertarik membawa hal ini ke Forum.

Salah satu peristiwa lain yang menyebabkan bulu kuduk berdiri, yang juga belum ada yang tertarik membawa hal ini ke Forum —dan tentu saja bukan peristiwa satu-satunya di Indonesia—adalah peristiwa salah tangkap dan salah pengadilan terhadap tiga orang di Jombang diduga membunuh Asrori yang mayatnya dibuang di kebun tebu di Kebun Tebu Bandarkedung Mulyo, Jombang, Jawa Timur, namun dari hasil tes DNA ternyata mayat itu bukan Asrori melainkan Fauzin.

Dalam hubungan ini, Ketua Mahkamah Agung (MA), Bagir Manan, menyatakan proses peradilan terdakwa yang dituduh membunuh "Asrori", tersebut harus dihentikan. Sebab, polisi sudah menyatakan mayat itu adalah Fauzin Suyanto, bukan Asrori

“Biar langit runtuh asal hukum tegak”, hal ini di kedepankan fihak kejaksaan dan Pengadilan Negeri Jember, yang keukuh meneruskan proses hukum terhadap ketiga terdakwa.

Adagium “lebih baik membebaskan 100 orang bersalah dari pada memenjarakan satu orang yang tidak bersalah,” rupanya belum menjadi pegangan fihak kejaksaan dan hakim pengadilan, walaupun sudah mejadi rahasia umum bahwa itu hanya berlaku terhadap wong cilik. Walaupun demikian—seperti diberitakan media masa, keluarga salah seorang terpidana semapt dipalak sebesar 4 juta rupiah.

Yang mengerikan dari peristiwa salah tangkap ini selain dirampasnya kemerdekaan orang tidak bersalah adalah masih sering digunakannya cara-cara penyiksaan oleh Polisi untuk memperoleh pengakuan tersangka. Bahkan Budi Harjono, yang pada tahun 2002 dipaksa aparat Polres Metropolitan Bekasi untuk mengaku bahwa dirinyalah yang membunuh ayahnya, Ali Harta Winata, menyusul tewasnya pemilik Toko Material Trubus itu, dalam sebuah dialog Apakabar malam di TV-One, tidak saja menceritakan penyiksaan yang diterimanya juga menceritakan omongan seorang Polisi bahwa dengan 25 juta rupiah, kasusnya ini dapat “ditutup”

Sangat mengerikan bukan?

Wassalam, Darwin