Kamis, 11 September 2008 Jawabannya sukar didapat dengan jelas. Singkatnya memang bagian dari ke-tidak-jujur-an.
Bayar biaya ekstra untuk membuat Akta Kelahiran dan mungkin juga Surat Kematian.  Kartu Tanda Penduduk juga gratis, katanya … . Tidak ada yang gratis di dunia ini, itu pada umumnya di dunia.  Di Indonesia? Mari kita telaah.

Masuk sekolah ada biaya masuk dengan berbagai nama: biaya pembangunan gedung, biaya administrasi dan biaya-biaya terkejut atau terkaget serta terperangah dan terkesiap. Taman Kanak-Kanak saja sekali biaya masuk bayar sekitar tiga juta dan tiap paket tertentu selama tiga bulan ada uang bulanannya yang sekian juta juga. Orang punya duit saja, bisa terkejut-kejut, karena tidak menyangka harus bayar. Menjadi calon  mahasiswa PTIK (Ilmu Kepolisian) atau AMN (Militer)? Iya bayar, bukan murah, ratusan  juta (boso Jowo: Handritan Miliun – Boso Inggeris: More than one hundred million). Pasti ini akan dbantah tetapi saya tentu justru akan kaget lagi kalau ada yang masih membantah juga. Bukankah saya juga pernah diberitau bahwa ada yang telah ingin dan memang bisa menjadi Direktur di Pertamina yang harus setor sebelumnya sekian miliar kepada siapapun yang di atas sana, pada jaman Orde yang lalu? Saya lalu mencari tau dari banyak sumber apa bisa dipercayai desas desus yang seperti itu? Sebagian yang saya anggap pasti tau, karena kedudukan dan jabatannya yang memang tinggi di pemerintahan, menjawab saya dengan sinis; “Begitu saja ditanyakan, anda pura-pura tidak tau atau jangan-jangan anda ini intel?” Waduh!!

Apapun gerak kita kalau tidak berhati-hati, maka akan terpaksa membayar alias mengeluarkan uang sim salabim. Saya pernah mengambil kiriman buku dari luar negeri di kantor Pos Pusat di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat. Minta tanda  pengenal, saya berikan paspor saya, dia minta KTP, saya memang sudah tidak punya KTP lagi, karena sudah Penlu (Penduduk Luar Negeri), petugas Pos minta saya membuat Kartu Pengenal Pos. Tahu syaratnya? Ya harus punya KTP dulu baru buat Kartu Sakti itu. Itu kan berbelit-belat dan kelabok-labik? Saya menyanggah dan mengatakan bahwa KTP itu peringkat keabsahannya di bawah paspor, dia tidak mau tau. Lalu penyelesaiannya harus dengan membayar uang ekstra? Saya tidak mau. Akhirnya saya bertemu seorang teman yang memiliki Kartu Pengenal Pos seperti yang diminta, saya didampingi dia yang menunjukkan Kartu Saktinya,  untuk mengambil buku saya. BISA. Ajaib. Ini sulapan macam mana pula ini? Bukankah alamat penerima harus sesuai dengan nama yang tercantum di atas kartu? Saya menunjukkan muka saya yang  masam kepada petugas tersebut sambil membeliakkan mata saya, dan dia tidak gentar sama sekali. Dia merasa benar. Saya juga merasa benar.

Membuat SIM dan NPWP tidak semudah seperti sekarang tahun 2008.
Membayar pajakpun saya pernah mengalami kesukaran, berkali-kali.

Saya mau menjual rumah pada tahun 2005. Karena persyaratannya adalah PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) harus lunas pada tiga tahun terakhir, diperiksa oleh Kantor Pajak DKI di Pancoran Jakarta, dilihat dari komputer, dinyatakan masih ada yang belum lunas selama dua tahun di masa yang lalu. Kapan?  Tahun 1989 dan 1993!! Ternyata saya sudah membayar setiap tahun tetapi melalui Bank Bumi Daya di Jalan Soepomo. Karena sudah lebih dari lima belasan tahun lamanya, saya tidak menyimpan arsipnya dengan baik. Mereka menyatakan belum menerima dari Bank Bumi Daya. Apa pula ini? Bukankah kalau saya membayar di Bumi Daya sudah menggunakan komputer? Waktu membayar di Kantor Pajak DKI, yang dinamakan Bank Bumi Daya sudah almarhum, karena merger dengan bank-bank lain yang setengah bangkrut. Apa solusinya? Saya disuruh menulis surat dengan tulisan tangan pun boleh, kepada  .. dst. … dst. Dan setelah selesai saya diminta menghadap ke sebuah ruangan lain, cari saja ibu yang pakai jilbab, tambahnya. Nah menghadaplah rakyat yang satu orang ini kepada beliau yang terlihat oleh mata saya seperti malaikat penolong. Dia tanya: Apa yang bisa saya bantu? Saya ceritakan singkat dan menyodorkan tulisan tangan  saya. Dia tidak melihat sedikitpun apa yang saya tulis, tetapi mengatakan singkat juga. Apa katanya? “Bayar saja, seratus lima puluh ribu.” Dengan berat hati saya bayar, tanpa tanya dan tanpa tau untuk apa saya bayar dan saya diminta pergi ke Kasir. Kasir anak muda ngganteng dan kelihatan terpelajar, tidak seperti halnya si malaikat tadi.  Sekarang ternyata saya bisa bayar tagihan tahun kesekian yang dua kali itu dan lancar saja seperti tidak terjadi apa-apa. Saya tanya kasir itu, jadi tadi apa yang menghalangi saya mau bayar tagihan yang saya dianggap telah berbohong tadi, sampai saya disuruh menulis tangan dan tidak dibaca oleh malaikat tadi, dan sekarang saya bisa membayar berikut denda pula. Dia diam seribu bahasa dan sebelum saya pergi, saya bilang semoga anda selamat dalam menempuh hidupmu dengan cara seperti itu. Dia juga tetap diam sejuta bahasa. Saya bisa pergi, hanya bertujuan agar saya bisa menjual rumah sekarang dan berangkat menjadi imigran beremigrasi ke Kanada. Selamat tinggal DKI, dengan sistemnya. Mungkin sekali bukan DKI saja.

Eh belum selesai soal membayar pajak jual beli rumah di depan Notaris. Notaris ada yang mengatakan uang pajak jual beli rumah yang lima persen itu diyakini tidak akan sampai di Kas Negara, tetapi ke kantong-kantong pegawai pajak sendiri. Masak begitu pak Notaris? Iya, jawabnya. Ah, biar saja toh saya menyelesaikan kewajiban saya dengan baik. Itu sesuatu yang penting BAGI DIRI SAYA. Membubuhkan tanda tangan dan terima pembayaran setelah menanda tangani Akta Jual Beli, Notaris menyuruh salah seorang petugas di kantornya pergi secepatnya membayar ke Kantor Pajak. Waktu itu pukul sebelas pagi. Petugas kembali dan mengatakan akan bisa membayarnya besok pagi saja. SUDAH TUTUP KASIRNYA!! Biarpun saya terguncang dan sedikit marah, saya diam saja dalam satu miliar bahasa. Saya bilang kepada pak Notaris: “Pak Notaris, kalau saya mempunyai urusan yang menyebabkan uang masuk seperti Kantor Pajak itu, saya akan buka kasir dua puluh empat jam!!” Pak Notaris tersenyum saja karena maklum melihat muka saya yang terlihat marah.
Ah Pajaaaaaak, Pajak.
Maka saya ingat masalah pajak lainnya yang mengecewakan.
Sebelum itu saya mengalami segala macam perlakuan petugas pajak yang miring-miring, kurang saya gubris. Ada urusan-urusan di dalam usaha saya yang lalu, minta restitusi karena kelebihan bayar pajak. Urusan ini meliputi jumlah sekitar lebih dari satu miliar Rupiah pada sekitar tahun 1996an. Setelah berbulan-bulan lamanya sibuk melengkapi dukumen ini dan itu, saya diberitau, sudah mencapai tahap akhir. Tetapi ada permintaan khusus. Disampaikan kepada saya selaku pimpinan perusahaan, bahwa bisa dicairkan jumlah-jumlah restitusi ini, tetapi diminta bayar tunai di muka sebesar lima puluh persen dari jumlah restitusi pajaknya. Karena saya mempunyai partner-partner dagang di Kanada yang menggunakan uang publik dari Toronto Stock Exchange dan lain-lain Stock Exchange, apalagi menggunakan auditor-auditor tingkat  internasional, maka saya menolak dan saya biarkan saja uang restitusi tidak dicairkan. Kalau ada kerugian di kalangan lingkungan usaha saya, maka masih ada keuntungan bagi Indonesia, kalau memang masih dalam kekuasaan Kas Negara. Itu adalah keputusan yang saya ambil sendiri seratus persen. Saya tau di Amerika Serikat ada “kesopanan” yang dijaga di antara pengusaha, bahwa korupsi sampai seratus USDollar dalam sehari, mungkin bisa diabaikan. Tetapi lebih dari jumlah tersebut, maka saya akan rentan terhadap tuntutan hukum, apalagi ini adalah uang publik. Saya tidak berani. TAKUT. Mungkin sekali saya akan disebut pengecut, tidak apa-apa.

Di atas sudah saya singgung tadi sejak lahir sampai sesudah mati kita masih bisa dibebani dengan bebang pembayaran. Anda bisa simak tulisan saya yang berjudul: Biaya Yang Harus Dibayar di link superkoran.info seperti berikut http://www.superkoran.info/content/view/2022/88888889/.
Sekarang seperti diberitakan di media saja cikal bakal para legislator dan Penyelenggara Negara kita telah memulai  karirnya dengan jalan yang sama sekali salah, karena secara illegal menggunakan jalur suap menyuap, yang terjadi di  dalam lingkungan partainya sendiri, di lembaga yang mengatur seluk beluk Pemilu yang selalu memilukan hati para pemilihnya, yakni rakyat biasa. Silakan baca: http://www.detiknews.com/read/2008/09/11/082820/1004090/159/setor-puluhan-juta-hingga-miliaran-rupiah. Kalau nanti sudah terpilih jadi legislator, pasti dia tidak lupa untuk mengumpulkan dana bagaimanapun caranya, untuk reimburse pendanaan awal yang telah dilaklukannya, apakah itu uang pinjaman, uang support oleh para “dermawan” penyandang dana yang mungkin seorang politikus dan atau seorang pegusaha ataupun manusia dibalik layar yang bermukim di luar Indonesia.

Dengan melihat apa yang telah dan sedang terjadi, kita tentu akan bisa paham mengapa mutu dan akhlak para legislator dan eksekutif pemerintahan kita menjadi seperti yang telah diberitakan di media selama ini. Sudah terkenal alim beagama, telah Es Tiga gelarnya, telah jenderal pangkatnya dan telah menebar pesona dengan pergaulannya yang top class, tetapi mengecewakan konstituennya dengan mencuri dan kelakuan-kelakuan lain yang tidak senonoh.
Kelihatan susah sekali untuk membuat negeri kita ini menjadi teratur dan kuat, karena kerusakan bisa menjadi parah dan berlangsung lama. Penderitaan kaum kelas bawah sudah terlalu parah dan para pimpinan di pemerintahan justru semakin buruk kualitasnya.