Masih ingat RUU Anti Pornografi dan Anti Pornografi (APP) yang sempat memancing kontroversi  panjang dan disertai aksi masa “sejuta umat” itu?

[tube]WW5Cj-grvh8[/tube]

Sejujurnya saya mulai lupa, kalau tidak menonton acara “Debat” di sebuah TV
Swasta, yang menampilkan Dr Musdah Mulia dan seorang anggota Pansus RUU yang
sudah berganti nama menjadi RUU Anti Pornografi saja dengan substansi yang tidak
banya berbeda—tetapi tidak setuju dengan RUU tersebut di satu pihak, dengan
Anggota DPR dari Fraksi Partai Bulan Bintang Ali Mochtar Ngabalin yang menjadi
Anggota Badan Legislatif DPR—-yang tentu saja mendukung dan seorang wakil dari
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di pihak lain.

Sepertinya tidak terendus oleh media-media cetak yang beroplah besar, dalam
debat  itu terungkap, bahwa RUU-AP sudah siap dibawa ke Bamus dan Paripurna DPR
dalam bulan September ini, dan Oktober sudah siap untuk diundangkan. Bahkan
Presiden SBY sudah menugaskan tiga Menteri untuk hadir di Rapat Paripurna, yaitu
Menag, Mendagri dan Meneg Pemberdayaan Perempuan.

Ada nuanasa politiskah di sini?

Politis atau bukan, kalau RUU ini diundangkan akan menimbulkan sejumlah
implikasi, seperti dibatasinya kreativitas dan diskriminasi terhadap kelompok
minoritas. Dr Musdah menekankan pentingnya pendidikan dalam keluarga dalam
pencegahan pornografi, dan menganggap peraturan perundang-undang yang yang ada
waktu ini sudah cukup untuk menangkal pornografi kalau dilaksanakan dengan baik.
Sementara pembicara yang lain yang menegaskan bahwa masalah moral tidak dapat
diatur dengan undang-undang, juga mengkhawatirkan kalau RUU Pornografi ini
diundangkan dapat memicu timbulnya Perda-Perda “Syariah”.

Tentu saja hal itu dibantah oleh   Ali Mochtar Ngabalin dan seorang wakil
HTI—yang setiap mereka bicara sering diikuti pekik “Allahu Akbar” oleh para
pendukung—yang banyak mengemukakan argumentasi yang bersifat normatif.

Secara pribadi saya sependapat dengan Dr Musdah. Peringatan Komisi Penyiaran
Indonesia (KPI) terhadap sejumlah stasiun televisi yang menayangkan tokoh
kebanci-bancian ternyata cukup “mangkus”. Sejumlah program dihentikan mendadak,
artis banci menghilang dan sebagian tokoh tetap tampil dengan gaya normal (lihat
http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/03/index.html.)

Tapi apalah awak ini

Wassalam, Darwin