Jumat, 12 September 200  TULISAN berjudul Motor, menjadi berseri-seri – – dari Tajuk Rakyat, hingga Sketsa. Di sini. Motor V, tentang Genk Nero Hingga Brigez. Motor IV: Si, Sophaan dan Lumenta. Kini, berkait ke menghangatnya kembali kontroversi kamatian Sophaan Sophiaan. Benar kecelakaan tunggal? Atau sebaliknya, tertabrak pengendara moge lain setelah terjungkal karena jalanan jelek, lembek.

Malam di penghujung Mei 2008 itu, saya menumpang mobil Nissan X-trail hitam. Di
kiri saya, pemilik mobil, seorang pria 60-an tahun. Ia saya kenal dari sebuah
Forum  di internet yang anggotanya lebih dari 10 ribu orang.

Kepada saya sosok ini menceritakan turut serta dalam rombongan moge bersama-sama
almarhum Sophaan Sophiaan. Tetapi ia hanya ikut sampai Jogja, lalu naik pesawat
ke Surabaya karena ada urusan lain. Ketika peristiwa yang menimpa Sophiaan, ia
tidak melihat sendiri. Peristiwa terjadinya di KM 18-19 Mantingan, Ngawi,
Jawa-Timur, 17 Mei 2008.

Pria yang di kiri saya itu, pernah mengirim foto-foto lucu tentang kelakuan
orang bermotor. Dari banyak foto ihwal motor yang dikoleksinya, yang paling saya
sukai: sosok pria separuh baya, menutup kepala dengan sebuah baskom plastik,
sebagai pengganti helem.

Kejenakaan yang sama pernah saya saksikan bagaimana seorang supir Metro Mini
jurusan Manggarai-Blok M, Jakarta, ketika awal mula sabuk pengaman mulai
diwajibkan pakai bagi pengendara mobil. Karena takut dirazia, supir yang saya
amati itu, melilitkan beberapa pilin tali rapia, plastik, ke badannya. Saya
lihat sosoknya, tanpa dosa.

Dari keterangan ihwal moge dari kawan semobil tadi, saya mendapatkan gambaran.
Bahwa, di dalam konvoi yang besar, ada adab tidak tertulis. Jika terjadi saling
langgar, saling tabrak tanpa sengaja, itu sudah menjadi resiko peserta. Maka
tidak menjadi ranah hukum – – saya memilih lema sebagai ranah kolega yang mesti
dibela.

Karena kekolegaan itulah, saya yakini, tak seorang pun peserta konvoi itu
berkeinginan menabrak sesama kawannya. Di kekerabatan macam begini, rasa
perkawanan tumbuh mengental. Tak seorang pun tentu berharap kawannya cedera atau
dicederai. Karenanya sebelum konvoi ada penjelasan soal aturan, teknis, komando,
hingga persiapan P3K.

Menjadi persoalan kemudian, sesuai dengan keterangan Widyawati, isteri almarhum
Sopan Sophian, “Suami saya lehernya patah, tulang rahang patah, tulang dada juga
patah, dan ada yang menyaksikan suami saya ditabrak.”

Hingga di situ, sejak sepekan lalu isu ini menjadi buah bibir, terutama di media
gossip di acara berlabel infotainment di televisi. Benar ditabrakkah Sophaan
atau kecelakaan tunggal?

Tanpa bermaksud larut dalam kotroversi itu; karena sulit mencari sumber utama,
saksi mata langsung, kendati di beberapa media saya membaca ada sosok seorang
ibu, yang memberi keterangan ke sebuah media, menyaksikan Sophiaan tertabrak,
hingga kini masih dalam penyidikan polisi, saya tidak belum dapat mendalami.
Sedangkan Jenderal Roesmanhadi, mantan kapolri, yang disebut-sebut kebetulan
menabrak, telah membantah melalui konperensi pers pekan lalu.

Saya cenderung mengupas ihwal kontroversi yang terjadi. Jika saja benar Sophaan
jatuh dan meninggal tertiban motornya, polisi secepatnya mengungkap hal itu
secara transparan, lengkap dengan saksi, kronologis, sejak awal.

Sebaliknya, jika memang tertabrak, toh acuan adab tak tertulis ada dan menjadi
pegangan masing-masing peserta konvoi, sudah seharusnya sejak awal pula ada
pendekatan kepada keluarga almarhum. Sehingga tidak mengemuka suara, terlebih
dari keluarga almarhum, berkalimat yang kemudian menimbulkan kontroversi itu.

Di ranah itulah, dalam beberapa tulisan presstalk.info ini, saya menulis
bagaimana pah-pohnya komunikasi yang dilakukan pejabat publik, sehingga membuat
warga hidup dalam kontroversi menahun dalam kasus menambun

Sebut saja mulai dari soal Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), kasus G 30
S PKI – – ihwal pledoi Kolonel Latief yang hadir di rumah sakit menemui
Soeharto, empat jam sebelum aksi menjelang penjemputan tujuh jenderal, juga
urusan sosok Sjam Kamaruzzaman- – di ranah politik, sebagai contoh kontroversi
yang ada. Juga belakangan soal peristiwa Mai 1998, benar tidaknya pemerkosaan
terhadap warga keturunan? Sejarah, belum melakukan verifikasi fair. Padahal
sejarah yang lurus berguna untuk masa depan, sehinga tidak berbuah
hujat-menghujat dan melahirkan dendam sepanjang zaman.

Di bidang ekonomi tak ketulungan banyak kontroversi. Mulai dari mengapa koperasi
yang tumbuh di negeri ini, hingga kasus BLBI, pengelapan pajak tambun PT Asian
Agri yang mencapai Rp 1,3 triliun, misalnya, justeru bermuara dikalahkannya
media seperti TEMPO dalam tuntutan perdata.

Perlakuan kartel SMS yang terbukti dilakukan operator selular sebagaimana
diungkap oleh KPPU; kasus aliran dana BI, yang menurut terdakwa Hamka Yandhu,
seluruh anggota komisi IX masa lalu menerima, termasuk Paskah Suzetta; Dari
pihak BI, yang ketua YPI BI-nya Aulia Pohan, tidak kunjung tersangka.

Kini menghangat aliran 400 cek Miranda Goeltom ke anggota DPR, sebagai indikasi
sogokan. Ranah dunia pertambangan, kontrak yang merugikan, menghangat kembali
mengkontroversi. Bila diteruskan tak ketulungan panjang, deretan masalah bisa
ditulis merambah ke masalah mengapa dunia pertanian kita tak kian tumbuh,
mengapa hutan tropis kita habis tanpa memberikan kekayaan berarti terhadap
bangsa? Begitu pula potensi kelautan; ikan hingga hamparan mutiara laut selatan
yang berharga tinggi itu, tidak menjadi lahan yang mensejahterakan rakyat
kebanyakan?

Belum pula di bidang budaya. Intinya secara kaffah, di semua lini, dibidang
ipoleksosbudhankam, masalah kontroversi berkibar-kibar, tidak pernah terurai
cair, sehingga laksana air yang bening, kita tak bisa berkaca kepadanya. Keadaan
itu diperparahj oleh sistem peradilan negeri ini yang belum bermuara kepada
keadilan; kasus Sengkon dan Karta, sebagai tersangka salah tangkap, salah
penjara, yang ditabalkan untuk tak terjadi lagi di ranah hukum kita, kini
terulang lagi, dan pengulangan yang sama mesti berkali-kali. Kontroversi seakan
menjadi bagian hidup sehari-hari yang enggan pergi.

BERUNTUNG Rabu, 10 September 2008 lalu, saya bisa berjumpa kembali dengan
Bugiakso, sosok yang pernah saya tulis mengenai pagelaran lagu rohani berbahasa
Jawa, Kelayung-layung, juga belum lama ini meluncurkan situs
http://www.setiaindonesia.com, itu.

Di Coffe Club di lantai dasar Plaza Senayan, seusai mengikuti acara berbuka
puasa dengan Keluarga Besar Putera Puteri Polisi (KBP3), di mana Bugi Ketua
Umumnya, datang berkopiah dan berbatik lengan pendek. Kami mendiskuikan soal
beragam hal yang mengkontroversi di dalam kehidupan.

Secara jenaka, Bugi memandu saya bahwa kontroversi itulah sesungguhnya bisa
disebut sebagai goro-goro.

Beberapa waktu lalu Bugi menitipkan buku tentang Jayabaya kepada saya. Di dalam
buku yang berisi “ramalan”, atau bisa disebut sebagai futurolog Jawa masa lalu
itu, memang mengemuka kehidupan perjalanan bangsa Indonesia. Kendati dilahirkan
di seberang di Sumatera, dari beberapa topik yang digambarkan dalam Jayabaya,
belakangan, believe it or not, membuat saya percaya pada apa yang sudah
diceritakan di dalam buku tersebut.

Toh kembali ke urusan motor, tadi siang saya dibonceng menumpang naik motor
kawan ke bilangan Komdak, Sudirman, Jakarta Pusat. Mak, setelah turun motor, bau
asap di badan kian tajam melekat. Jumlah motor yang berlalu lintas di dalam kota
Jakarta kian tak masuk akal saja. Polusi asap mobil dan terlebih motor saban
hari menjadi-jadi.

Karenanya sejak lama saya kritisi program Departemen Perindustrian yang
mendukung penjualan motor sebanyak-banyaknya, bahkan menjadi acuan pertumbuhan
ekonomi pula.

Sebaliknya tarnsportasi massa yang sehat, macam subway, hingga hari ini masih
jauh panggang dari api, upaya mewujudkannya. Pembangunan telah digiring oleh
pemimpin-pemimpin yang bukan negarawan.

Ketika plaza yang menjadi slah satu landmark warga Jakarta itu tutup, kami
sepakat bahwa kontroversi di berbagai lini itulah gogo-goro. Dan itu artinya,
bila tahun ini goro-goro itu menjadi-jadi, maka berkaca kepada Jayabaya,
seharusnya 2009 tampil pemimpin muda baru – – sosok yang belum pernah muncul dan
banyak ditulis media selama ini.

Sosok itu saya yakini memang yatim piatu, lahir di kaki Gunung Lawu, memiliki
trisula, dan keberpihakannya nyata kepada warga, sebagaimana dalam buku
Jayabaya. Mau tahu siapa orangnya? Kita tunggu sajalah siapa tahu memang Satrio
Piningit itu memang ada. Anda boleh tertawa***

Iwan Piliang, sketsa di presstalk.info