Tag

Bisa diasumsikan bahwa studi, penulisan dan seminar – diskusi dan perdebatan – mengenai masalah sejarah,  kongkritynya mengenai 'Peristiwa 1965' akan berlangsung terus dalam waktu panjang. Bukan tidak mungkin benarlah kiranya apa yang ditulis sejarawan Rusia,  Roy Medvedev. Tulis Medvedev:  'BIARLAH SEJARAH YANG MENJADI HAKIM'.  Di satu segi sikap seperti itu bisa diangap  prediksi  pesimis. Dilain fihak mungkin justru  suatu sikap optimis. Karena  percaya bahwa sejarah, penelitian, pengungkapan dan studi sejarah dengan sikap dan pandangan kritis,  yang dilakukan oleh para pakar dan masyarakat, akhirnya  tokh akan mengungkap dan menemukan, paling tidak – sesuatu yang paling dekat dengan kebenaran.

Apa yang dianalisis oleh Prof Dr WimWertheim, kurang lebih
duapuluhtahun yang lalu, masih relevan. Oleh karena itu, tetap berguna
bagi siapa saja yang cinta dan peduli sejarah, sebagai ilmu,  demi
mengungkap fakta-fakta  sejarah yang benar, yang selama ini masih
tersembunyi. Agar bangsa ini tidak  terus terombang-ambing mengenai
penulisan sejarahnya!

*   *   *
SEJARAH 1965 YANG TERSEMBUNYI <Bg 3, akhir>
Oleh Prof Dr Wim F Wertheim

Untuk saya, pada saat ini, sulit memberi jawaban. Saya sudah lanjut
usia. Saya harap dalam ruangan ini barangkali orang Indonesia dapat
meneruskan penyelidikan itu untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang
masih ada.

Tentu gampang menyangka bahwa rencana itu tercipta dikalangan militer
dan bahwa Kamaruzzaman- Sjam telah memainkan suatu peranan yang
berarti dalam hal ini. Sangat mungkin juga, bahwa beberapa perwira
agak tinggi dari angkatan udara, seperti BARANGKALI Obrus Heru
Atmodjo, dan sudah tentu Mayor Sujono – yang sebagai saksi dan sebagai
terdakwa seringkali memberi keterangan yang tidak masuk akal dan
saling bertentangan – pastilah sangat aktip dalam merencanakan seluruh
aksi. Sujonolah yang memperkenalkan Untung dan Latief dengan Sjam dan
dua pembantuanya, Pono dan Bono.

Juga ada kesaksian bahwa yang sebenarnya memberi perintah pada Gathut
Sukrisno untuk membunuh jenderal-jenderal dan kapten Tendean yang
masih hidup di Lubang Buaya, bukan Sjam melainkan Sujono. Begitu juga
pendapat Dr. Holtzappel yang telah menulis suatu nalisa penting
tentang peristiwa 1965 dalam "Journal of Contemporary Asia" pada tahun
1979.

Pembunuhan yang sengaja itu juga tentu merupakan bagian dari seluruh
provokasi terhadap PKI. Menurut Holtzappel, sebagai DALANG dalam
Angkatan Bersenjata barangkali harus dianggap Jenderal Sukendro,
pernah kepala military intelligence, dan kolonel Supardjo, Sekretaris
KOTRAR yang pernah menjadi pembantu dari Sukendro. Presiden Soekarno
agaknya sangat benar dalam analisa pendeknya, waktu ia membela diri
dimuka MPRS dengan keterangan tertulis 'Nawaksara' pada tanggal 10
Januari 1967 terhadap tuduhan-tuduhan. Kesimpulannya ialah: "1)
keblingernya pimpinan PKI, 2) kelihaian subversi Nekolim, dan 3)
memang adanya oknum-oknum yang tidak benar". Arti istilah Nekolim pada
masa itu ialah: Neokolonialisme, kolonialisme dan imperialisme.

Tentu maksudnya Soekarno bahwa ada dalang sebenarnya yang dari luar
negeri. Bagaimana dengan Amerika Serikat, dan CIA? Sudah dari awal
tahun 50an A.S. campur tangan dengan politik Indonesia. Telah mulai
dengan Mutual Security Act  dari tahun 1952, yang dahulu
ditandatangani oleh menteri luar negeri Subardjo dari kabinet-Sukiman,
dan yang lantas dibatalkan. Juga ada campurtangan AS sewaktu
pemberontakan Dewan Banteng dan Permesta, dan  sesudahnya waktu
didirikan PRRI, dalam tahun 57-58. Peter Dale Scott, yang dulu menjadi
diplomat dan sekarang guru besar di Universitas California, menulis
beberapa karangan penting tentang campurtangan A.S. dalam tahun 60an:
dahulu karangannya diumumkan dalam tahun 1975, dan lantas di "Pacific
Affairs" tahun 1985: "The U.S. and the Overthrow of Soekarno". (Ada
terjemahan dalam bahasa Bel anda yang diterbitkan oleh Indonesia Media).

Dalam tahun 1990 ini seorang ahli sejarah yang saya tidak kenal
namanya Brands, menulis seolah-olah sejak permulaan tahun 65 U.S.A.
sama sekali tidak campur tangan lagi dalam politik Indonesia; beliau
dengar ini dari tokoh CIA – masa dapat dipercaya? Sekarang kita sudah
tahu dengan pasti bahwa dari awal Oktober 65 baik kedutaan A.S. maupun
CIA sangat campur tangan, misalnya dengan memberi daftar berisi nama
5000 tokoh PKI dan organisasi kiri lain pada KOSTRAD – supaya mereka
ditangkap; diplomat dan staf CIA tidak perduli kalau korbannya juga
akan dibunuh! Tetapi bagaimana SEBELUM 1 Oktober? Ada suatu
keterangan  dari ahli sejarah Amerika yang termasyur: Gabriel Kolko.
Ia menulis dalam buku yang diumumkan dalam tahun 1988 (yang judulnya
"Confronting the Third: U.S. Foreign Policy 1945-1980"), bahwa semua
bahan dari ked utaan A.S. di Jakarta dan dari State Department (yaitu
kementerian Luar Negeri) untuk tiga bulan SEBELUM 1 Oktober tahun 1965
sama sekali ditutup, dan tidak boleh diselidiki oleh siapapun juga.

Dalam suatu keterangan yang ia tambah dari tanggal 13 Agustus 1990 ia
mengatakan bahwa ia tidak kenal suatu masa manapun juga di kurun 1945
sampai 1968 yang ditutup dengan rahasia yang demikian untuk
menyembunyikan informasi yang sungguh penting. Hal itu sangat aneh,
dan menimbulkan persangkaan bahwa ada kejadian yang sangat rahasia
yang harus ditutupi. Moga-moga penyelidikan yang sekarang akan
dijalankan oleh Congress di Washington tentang daftar yang dibuat
sesudah 1 Oktober 1965 oleh suatu tokoh dari kedutaan A.S. di Jakarta,
tuan Martens, akan memberi kesempatan untuk anggota Congress supaya
menuntut informasi tentang periode tiga bulan itu, dan supaya arsip
itu akan 'de-classified' , jadi akan dibuka untuk diselidiki oleh ahli
sejarah dan dunia keilmuan umumnya. Kolko juga memberitahu bahwa
Jenderal Sukendro pada tanggal 5 November 1965 minta pertolongan yang
tersembunyi dari A.S. untuk menerima pesenjataan kecil dan alat
komunikasi yang akan dipakai oleh pemuda Islam (ANSOR) dan nasionalis
bagi menghantem PKI. Kedutaan A.S. setuju akan mengirim barang-barang
itu yang disembunyikan sebagai obat-obatan (Kolko, hal. 181), dan teks
kawat-kawat dari Kedutaan A.S . ke Washington dari 5/11, 7/11, … dan
11/11-65.

Tetapi kita harus insyaf bahwa selain dari CIA badan A.S. masih ada
badan intelijens negara lain yang 25 tahun yang silam mungkin
berkepentingan dalam menjatuhkan rezim Soekarno: misalnya Pemerintah
Inggris, yang pada masa itu masih terlibat dalam pertentangan antara
Indonesia dan negeri baru yang didirikan oleh Inggris: Malaysia. Dan
lagi negara Jepang mungkin juga harus diperhatikan sebagai calon
dalang kejadian itu. Heran bahwa pada tanggal 2 Oktober 1965 hanya ada
SATU surat kabar diluar negeri yang tahu siapa Jenderal Soeharto dan
dapat mengumumkan biografinya: Asahi Shimbun. Jepang lagi banyak
mendapat manfaat dalam kerjasama dengan Orde Baru. Mengapa masih
penting untuk menyelidiki sejarah peristiwa tahun 1965?

Saya akan baca pendapat saya yang baru ini saya umumkan dalam
pendahuluan saya untuk buku kecil yang berisi sajak dari Magusig O.
Bungai. Judul kumpulan sajak itu ialah "Sansana Anak Naga dan
Tahun-Tahun Pembunuhan". Dalam sajaknya Hutan pun bukan lagi di mana
rahasia bisa berlindung, Magusig O. Bungai menulis tentang pembunuhan
massal antas perintah Stalin: 50 tahun berlalu 50 tahun hutan Katyn
menutup rahasia 15.000 prajurit polan dimasakre di tengah rimba 50
tahun kemudian waktu memaksa kekuasaan terkuat membuka suara menutur
kebenaran. Menurut saya penting sekali bahwa Magusig mendorong
anak-anak negerinya agar mencari kebenaran. Ahli sejarah
Abdurahcman Suriomihardjo dalam "Editor" 2 Juni 1990 menulis, bahwa
"pembukaan dokumen yang semula rahasia itu sangat membantu
rekonstruksi sejarah". Akan tetapi duduknya perkara masakre di
Indonesia 25 tahun yang lalu agak berlainan dari pembunuhan Katyn yang
menimpa 15.000 orang perwira Polandia. Kelainannya ialah oleh karena
masakre di Indonesia itu pada hakikatnya tidak ada rahasianya sama
sekali. Pembunuhan massal di Indonesia atas tanggung jawab Jenderal
Soeharto bukanlah suatu rahasia.

Si penanggungjawab ini justru terus-menerus bangga akan perbuatannya.
Terhadap masakre benar-besaran dalam tahun-tahun pembunuhan sesudah
1965, Soeharto tidak pernah memperlihatkan penyesalannya atas
pelanggaran hak azasi manusia yang luar biasa itu. Sebaliknya, ia
selalu memamerkan dengan bangga tindakannya yang durjana itu. Tentang
ini telah terbukti sekali lagi baru-baru ini.

Dengan adanya pengakuan pers Amerika Serikat, bahwa staf kedubes
Amerika Serikat di Jakarta menyerahkan daftar nama-nama kader PKI dan
ormas yang dekat dengannya kepada Angkatan Darat Indonesia agar mereka
itu ditangkap dan dibunuh, tidak seorangpun juru bicara pemerintah
Orde Baru yang memungkiri telah terjadinya pembantaian massal, ataupun
mengucapkan penyesalan mereka terhadap peristiwa yang terjadi 25 tahun
yang lalu itu.
Mereka ini cukup berpuas diri dengan penegasan pengakuan: bahwa
militer Indonesia sama sekali tidak perlu menerima daftar tersebut
dari pihak asing, oleh karena mereka sendiri cukup mengetahui
siapa-siapa kader-kader PKI! Juga di dalam otobiografinya, Soeharto
sama sekali tidak menunjukkan tanda, bahwa ia menyesali terhadap
jatuhnya korban rakyat sebanyak setengah atau
satu juta.

Justru sebaliknyalah, terhadap prajurit-prajurit pembunuh pun ia tidak
mencela perbuatan mereka. Misalnya dalam hal kolonel Jasir Hadibroto,
dalam "Kompas Minggu", 5 Oktober 1980 ia menceritakan pengakuannya
kepada Soeharto, yaitu bahwa ia telah membunuh ketua PKI DN Aidit
tanpa keputusan pengadilan. Dengan jalan demikian Aidit tidak bisa
membela diri di depan sidang
pengadilan, dan karenanya pula penguasa dengan leluasa dapat menyiar-
kan 'pengakuan' Aidit yang palsu. Kolonel ini justru dihadiahi
Soeharto dengan kedudukan sebagai gubernur Lampung. Dalam hal ini
tentu saja Soeharto sendirilah yang bertanggung- jawab. Karena
pembunuhan itu hanya terjadi sesudah Jasir Hadibroto menerima perintah
dari Soeharto yang, menurut Jasir, mengatakan: "Bereskan itu semua!".

Masih cukup banyak hal yang harus dibukakan di depan mata seluruh
rakyat Indonesia. Sejarah peristiwa 1965 dan lanjutannya, seperti yang
tertera didalam tulisan resmi para pendukung Orde Baru, seluruhnya
harus ditinjau kembali dan dikoreksi. Misalnya tentang pembunuhan
terhadap para anggota PKI atau BTI (Barisan Tani Indonesia) yang
selalu dibenarkan dengan dalih, seakan- akan mereka dibunuh karena
"terlibat dalam Gestapu/PKI 1965". Barangkali benar, ada beberapa
kader PKI yang telah ikut memainkan peranan dalam peristiwa 1 Oktober
1965 itu. Tetapi bisakah ratusan ribu kaum tani di Jawa dituduh
terlibat dalam peristiwa penyerangan terhadap 7 orang jenderal pada
pagi-pagi buta 1 Oktober 1965 saat itu di Jakarta? Dari berita "The
Washington Post" 21 Mei 1990 menjadi jelas, bahwa sejak semula
Soeharto telah berketetapan hati untuk menghancur-leburkan PKI.

Dalih umum yang dikemukakan oleh Mahmilub atau pengadilan semacamnya
adalah bahwa semua anggota atau simpatisan PKI ' terlibat dalam
peristiwa G30S-PKI '. Dalih demikian pulalah yang dipakai pemerintah
untuk membenarkan pembuangan tanpa pemeriksaan pengadilan lebih dari
10.000 orang yang dipandang sebagai simpatisan gerakan kiri ke Pulau
Buru, yang pada umumnya selama 10 tahun lebih.

Mereka itu dianggap sebagai 'terlibat secara tidak langsung dalam
Gestapu/PKI' . Lalu, siapakah yang terlibat langsung? Yang betul-betul
terlibat LANGSUNG adalah seorang yang paling memperoleh untung dari
kejadian itu, tak lain tak bukan ialah Jenderal Soeharto sendiri.
Semua bahan-bahan itu tentu sangat penting untuk meninjau kembali
sejarah peristiwa 1 Oktober 1965. Ada beberapa hal lagi yang perlu
diterangkan.

Di tengah-tengah terjadinya pembantaian massal terhadap orang-orang
yang dianggap PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sejumlah kader PKI
yang berhasil terluput dari malapetaka berhasil mendapatkan tempat
berlindung di daerah pegunungan di Kabupaten Blitar Selatan. Di sini
mereka hidup bersatu dengan kaum tani miskin setempat, sehingga untuk
sementara mereka berhasil membangun lubang perlindungan untuk
menyelamatkan jiwa mereka. Akan tetapi pada 1968 tentara dengan
operasi Trisula menghancurkan tempat perlindungan ini, dan menangkap
serta membunuh sebagian besar mereka itu.

Dalam tahun 70an 'tokoh-tokoh Blitar Selatan' ini dihadapkan ke muka
pengadilan.
Di pengadilan umumnya mereka tidak dituduh ' terlibat persitiwa
G30S/PKI '.Jelas, bahwa pengadilan tidak bisa membuktikan
'keterlibatan' demikian. Maka merekapun lalu dituduh sebagai
'subversi', yang sejak 1963 juga bisa mengakibatkan jatuhnya hukuman
mati bagi siterdakwa. Ini berarti, bahwa pada hakikatnya mereka
dituduh subversi untuk kebanyakan dijatuhi hukuman mati, semata-mata
karena mereka berusaha menyelamatkan diri dari pembunuhan massal yang
sama sekali haram itu. Rencana pembunuhan massal ini ternyata akhirnya
terbukti jelas oleh siaran pengakuan-pengakuan di dalam pers Amerika
Serikat tersebut di atas.

Tokoh-tokoh seperti Munir, Gatot Lestaryo, Rustomo dan Djoko Untung
tewas dieksekusi dalam tahun 1985. Tapi pada saat inipun masih ada
empat tokoh lagi, yang semuanya berasal dari peristiwa Blitar Selatan
itu, yang diancam oleh pelaksanaan eksekusi. Penting sekali bagi dunia
luar agar berusaha dengan segala daya untuk menyelamatkan jiwa Ruslan
Wijayasastra, Asep Suryaman, Iskandar Subekti dan Sukatno – dan lebih
dari itu untuk menyelamatkan jalannya kebenaran sejarah. Untuk ini
penelitian kembali sejarah tahun-tahun 1965 dan seterusnya merupakan
sarana dan wahana pertolongan satu-satunya. Ada sebuah kewajiban lagi
yang penting, yaitu meneliti kembali duduk perkara Gerwani di dalam
peristiwa 1 Oktober 1965.

Dari semula penguasa menuduh gadis-gadis Gerwani di Lubang Buaya
berbuat paling keji dan tak tahu malu. Melalui media pers
bertahun-tahun disiarkan, seolah-olah mereka dihadirkan di sana oleh
PKI untuk melakukan upacara 'harum bunga' sambil menari-nari lenso
untuk mengantar jiwa jenderal- jenderal itu, melakukan
perbuatan-perbuatan tak senonoh, dibagi-bagikan pisau silet, dan
lantas ikut ambil bagian dalam perbuat jahat serta menyiksa jenderal-
jenderal itu sebelum mereka tewas. Sebagai akibat dari cerita-cerita
demikian terbentuklah bayangan, seakan-akan Gerwani adalah perkumpulan
perempuan lacur, jahat dan bengis yang harus dihinakan dan bahkan
dibinasakan.

Cerita-cerita demikian sebenarnya tidak terbukti. Tidak pernah ada
suatu proses, di mana dakwaan demikian bisa dibenarkan. Seorang saksi
dalam sidang yang, menurut Sudisman 'terbuka tapi tertutup' dan 'serba
umum tapi tidak umum', bernama Jamilah dan yang mereka gunakan sebagai
dasar bangunan dongengan itu, adalah seorang perempuan bayaran belaka.

Beberapa tahun yang lalu Profesor Benedict Anderson, di dalam majalah
ilmiah "Indonesia", memuat keterangan resmi dari lima dokter yang
memeriksa mayat-mayat para jenderal itu sesudah diangkat dari Lubang
Buaya. Jauh sebelum itu, keterangan resmi para dokter ini pun telah
diumumkan oleh Soekarno di depan sidang kabinet, sengaja untuk
membantah dongengan yang beredar saat itu, yang antara lain mengatakan
bahwa mata para jenderal itu telah dicungkil dan bahwa kemaluan mereka
dipotong-potong sebelum ditembak mati. Keterangan dokter-dokter resmi
itu ringkasnya mengatakan, bahwa tiddak ada tanda penyiksaan pada
korban, dan tidak sebiji matapun dicungkil sebelum mereka dibunuh.
Penting sekali membersihkan Gerwani dari tuduhan yang tidak adil itu.

Terutama sangat perlu, oleh karena sebelum 1965 Gerwani sangat aktif
dalam membela dan memperjuangkan hak-hak perempuan. Seperti diketahui,
sejak Orde Baru berkuasa semua perjuangan untuk kepentingan perempuan
melalui pergerakan yang bebas dan mandiri, dianggap oleh penguasa
sebagai kegiatan yang harus diharamkan dengan mengingat kepada
'perbuatan Gerwani' dalam akhir taun 1965 itu. Ada satu tuduhan lagi
yang harus dibantah. Dari sejak awal telah disiarkan cerita, bahwa
seolah-olah di rumah-rumah orang PKI terdapat (kecuali cungkil mata
dan kursi listrik) daftar nama-nama orang yang memusuhi komunisme, dan
yang harus dibinasakan sesudah PKI beroleh kemenangan dengan
gerakannya di akhir 1965 itu.

Tidak selembar daftar seperti itu bisa dipertunjukkan di pengadilan
manapun. Sekaranglah, sesudah adanya pengakuan pers Amerika Serikat
itu, kita ketahui bahwa sesungguhnya daftar orang-orang yuang harus
dibinasakan itu memang ada. Tetapi, inilah bedanya, daftar yang ada
justru bukan daftar bikinan komunis, melainkan daftar yang diberikan
oleh Kedubes Amerika Serikat kepada Soeharto yang memuat ribuan nama
komunis Indonesia yang harus dibunuh! Dongeng ini seperti dongeng
tentang maling yang teriak "Tangkap Maling!"

Penting sekali kesadaran dibangun kembali: Bahwa sebelum 1965 PKI
merupakan kekuatan yang patut dibanggakan, oleh karena banyak hal yang
telah berhasil dicapai oleh partai dan gerakannya itu. Di dunia Barat
sekarang timbul kecenderungan anggapan, bahwa komunisme, dan bahkan
sosialisme, telah gagal sebagai ideologi.

Kesimpulan seperti ini salah sama sekali! Yang gagal adalah SEJUMLAH
PEMERINTAH yang dikuasai oleh berbagai partai komunis. Yang terbukti
gagal adalah, bahwa sistem diktatorial tanpa cukup peranan dari rakyat
bawah tidak bisa bertahan dalam jangka panjang. Jadi, untuk Indonesia,
kegagalan seperti itu hanya bisa berlaku bagi rezim Soeharto. Rezim
Soeharto pada hakikatnya juga merupakan suatu sistem diktatorial,
dengan berbedak demokrasi yang semu belaka.

Tetapi sebaliknya, baik ideologi maupun praktek, komunis di Indonesia
sama sekali tidak mengalami kegagalan. Ia hanya ditimpa oleh
malapetaka dan penindasan secara perkosa, yang ditolong oleh kekuatan
anti komunis luar negeri. Tentu saja ada sementara tokoh komunis yang,
dalam menghadapi keadaan baru dan sangat sulit pada tahun-tahun 60an,
melakukan kesalahan penting. Dalam hal ini tentu saja sangat perlu
adanya otokritik yang mendalam. Tetapi cukup alasan bagi setiap
penganut ideologi kiri untuk mencamkan kata-kata penulis kumpulan
puisi itu, yaitu agar 'mulai menghargai harkat diri' dan memulihkan
perasaan bangga diri.

Terima kasih!

Makalah Prof. Wertheim yang diterbitkan sebagai suplemen pada majalah
ARAH, No. 1 tahun 1990. Makalah Prof. Wertheim ini pernah disampaikan
dalam sebuah ceramah pada tanggal 23September 1990 di Amsterdam.
Panitia Peringatan 40 Thn. Tragedi Nasional 1965 di Negeri Belanda.
<Selesai>