Minggu, 07 September 2008 Seseorang amat jengkel karena kondisi kehidupannya yang membingungkan dia.
Dia telah lulus pendidikan sarjana.

Oleh karena dia tidak pernah peduli dengan 'ilmu' yang mendalami perihal menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri, maka dia memang tercipta utuk menjadi seorang yang bisanya bertujuan untuk bisa bekerja bagi orang lain. Dia menjadi orang gajian atau salary man yang dalam bahasa Jepang dijiplak menjadi sararimang (ini cara mengucapkan / pronunciation-nya) .

Di dunia ini memang cuma ada dua pilihan dalam masalah seperti ini.

Yang Kesatu: menjadi pegawai, pesuruh, pembantu, sarariman (ini cara mengejanya) atau bahasa inteleknya: executive. Jadi, executive itu adalah pegawai saja, tidak lebih, karena dia hanya bisa bekerja kalau dibawahi oleh pihak lain atau sekelompok orang-orang bisnis atau pemodal. Orang macam begini tidak disiapkan untuk bisa menjadi boss atau pemodal, kecuali setelah belajar lagi ilmu-ilmu lain yang bisa menciptakan lapangan kerja. Bisa saja seorang General Manajer masih tergolong di dalam orang seperti ini, karena kalau dia meningkat kedudukannya menjadi pemegang saham, kemungkinan dia tidak dapat mengambil sesuatu keputusan, itu adalah hal yang masih mungkin sekali.

Yang Kedua: menjadi Boss untuk dan juga terhadap dirinya sendiri. Orang boleh menertawakan terhadap jenis pilihan kedua ini. Saya tidak menertawakannya. Ini adalah masalah serius dan tidak main-main. Disiplin yang harus diterapkan adalah disiplin yang tidak mudah dan justru lebih sulit dari yang diterapkan di pilihan Kesatu. Yang diatur, disuruh, diminta bantuannya, justru dirinya sendiri. Itu disiplin tinggi.

Saya sudah pernah menjadi orang di Pilihan Kesatu beberapa lama saja dan pernah menjadi orang Pilihan Kedua.

Conto paling mudah ialah: kalau usahanya milik sendiri berupa restoran dan banyak kawannya datang serta makan di situ, dia biarkan tidak membayar, maka usahanya tidak akan bisa maju. Kalau dia memang mau menggratiskan kawan-kawannya, maka dia harus membayar dengan uang tunai setara nilai makanan yang dikonsumsi kawan-kawannya itu setiap kali. Dengan harga yang di diskonpun (harga rabat) tetap saja  mereka, kawan-kawannya itu, tetap harus membayar sendiri atau dibayari olehnya, sang pemilik. Perhitungan di Kasir restoran akan lengkap dan lancar. Dan menjadi jelas.

Saya lebih suka menjadi orang Pilihan Kedua.

Bagi saya menjadi boss bagi dan juga terhadap diri sendiri, yang amat menyenangkan hati saya adalah: kebebasan berpikirnya.

Saya bisa memanipulasi pikiran-pikiran yang timbul kapan saja saya ditantang memajukan usaha, memajukan dari tingkat konsep sampai ke tingkat implementasi. Boleh dibilang sejak tahap awal yang hanya sebuah idea biasa saja, sampai ke tahap kegiatan lapangan, yang pada akhirnya bisa membuat orang lain bisa bekerja dan mendapat nafkah untuk kurun waktu tertentu. Saya sudah bisa berbahagia sekali kalau melihat 500 orang bekerja karena idea dasar yang menjdi cikal bakal adalah karena hasil manipulasi pemikiran saya sendiri. Berapa orang bisa ikut mendapat hasil guna dari pekerjaan yang tercipta untuk lima ratus orang? Paling tidak seorang istri atau seorang suami dengan dua orang anaknya. Jumlahya bukankah bisa menjadi duaribu orang? Bisa sekolah dan bisa hidup layak. Saya sungguh bahagia kalau bisa terjadi seperti ini. Dalam dunia ekplorasi dalam usaha pertambangan, periode eksplorasi bisa saja tidak selama-lamanya, akan tetapi yang disebut dengan eksplorasi biasanya terjadi di daerah terpencil, bukan yang kesampaian daerahnya mudah dan nyaman. Bisa memasuki daerah yang secara nyata belum pernah dirambah oleh manusia lain. Ingat kata-kata film seri Strar Trek ………… where no man has ever gone before. Itulah sebabnya megapa pembiayaan untuk usaha ini tidak pernah murah, dan hasilnya? Belum tentu akan menjanjikan apapun. Dalam salah satu tahap eksplorasi saja,  sebuah perusahaan mineral mengeluarkan biaya bisa saja mencapai sampai sebanyak dua puluh juta Dollar Amerika Serikat. Hasilnya bisa saja juga nol besar sama sekali. Untuk para pengusaha "amatir" yang sudah biasa mendapat keuntungan yang sifatnya "hit and run", pekerjaan eksplorasi adalah usaha yang tidak menarik. Itulah sebabnya hampir semua Bank di Indonesia tidak membiayai kegiatan eksplorasi. Istilah para "bankers" ini adalah: usaha yang HIGH RISK (berRISIKO TINGGI). Itulah pula sebabnya uang yang paling sesuai yang bisa digunakan untuk kegiatan eksplorasi adalah uang yang ada penyertaan dana publiknya atau lebih terkenal dengan GO PUBLIC.

Uang untuk persiapan go public bisa didapat dari dua sumber, yakni: Private Placement dan Penjualan Saham melalui Bursa Saham. Tetapi ingat bahwa tidak semua Bursa Saham mau membiayai usaha eksplorasi pertambangan. Hanya sedikit yang mau, misalnya Australia, Canada dan mungkin Amerika Serikat atau lainnya. Itu adalah salah satu conto dimana utak atik pikiran dan manipulasi kesempatan dapat menghasilkan kesempatan untuk bisa memperoleh penghasilan halal bagi orang banyak, orang lain yang diluar diri saya sendiri. Kalau kurun waktu eksplorasi yang bisa diwujudkan hanya enam bulan atau malah ada yang sepuluh tahun, itu bukan masalah besar, karena pengangguran yang tinggi tingkatnya di Indonesia menjaikan tenaga-tenaga itu, bisa bekerja dengan segera. Banyak tenaga menganggur yang amat mendalami bidang-bidang keahlian geologi, pertambangan dan administrasi serta logistik. Saya sendiri mempercayai, meskipun sudah ada teknologi dalam bidang remote sensing dan menggunakan satellite (penginderaan jarak jauh), eksplorasi itu masih perlu dilakukan dengan cara membuat kaki para explorer yang melakukannya, menjadi basah dan penuh lumpur serta luka-luka kecil atau malah digigit lintah dan binatang melata. Tidak ada cara lain melakukan eksplorasi, apalagi bila melakukan eksplorasi dengan cara hanya menghadapi komputer serta utak atik keyboard dan hanya berada di dalam ruangan berpendingin udara serba nyaman. Pada jaman sekarang, sudah biasa para geologist membawa laptop dan mengolah data langsung di lapangan, di depan sebuah perkampungan atau desa orang Dayak di tengah hutan di Kalimantan atau di Sulawesi dan Sumatra serta Papua. Tetapi mereka tetap saja masih bisa  berhubungan dengan Kantor Pusatnya di kota besar melalui mesin Fax atau Telepon Satellite yang bisa melaksanakan kelanjutan pekerjaan yang lebih canggih lagi. Ada sedikit selingan yang bisa dicatat di sini: Untuk mendapatkan mineral yang dikehendaki dengan cepat dan gampang, maka carilah seorang geologist yang berkemampuan seperti Ontorejo, sang mythos di dalam dunia wayang yang bisa menyelam ke kedalaman tanah secara tak terbatas.

Saya telah mencoba menggambarkan bagaimana susahnya mengusahakan jenis pekerjaan eksplorasi yang selalu menuntut biaya ekstra tinggi dan menggunakan tenaga-tenaga ahli dalam bidang pertambangan baik bangsa Indonesia atau bangsa asing: Pilipina, New Zealand, Australia, Amerika Serikat dan Canada. Mengapa masih perlu orang asing? Itu menyangkut masalah permodalan awal usaha ini. Karena tidak ada orang Indonesia yang mau membiayai eksplorasi pada sekitar 15 tahunan yang lalu, sedangkan jumlah uang yang dibutuhkan memerlukan uang besar, yang tidak ada di Indonesia, maka dicarilah ke negeri-negeri lain. Para pemodal dari negeri asing ini, seperti halnya pemodal Indonesia sekalipun akan memerlukan sarana berkomunikasi dengan arah usaha permodalannya. Yang dianggap bisa berkomunikasi dan berbicara dengan jelas dalam hal ini adalah mereka yang geologist maupun para manajer yang menguasai bahasa ibu para investor ini, terutama bahasa Inggris. Sudah saya tawarkan untuk menggunakan tenaga kerja yang mampu bertindak sebagai tenaga penerjemah yang bisa membuat pelaporan yang pasti, seperti dikehendaki, dengan format yang disiapkan sebelumnya, mereka beranggapan bahwa yang seperti itu tidak akan effective. Tetapi saya pernah bisa mendobrak hal seperti ini. Dari 12 orang geologist asing (gajinya paling murah USDollar 4000,– sebulan waktu nilai tukar sekitar yang variannya antara RP3500an sampai Rp9000an) dan hanya tiga geologist Indonesia (gajinya hanya sekitar RP6000.000an sampai RP10.000.000an sebulan), saya telah berhasil dalam tempo 18 bulan mengubahnya menjadi hanya 3 geologist asing dan lima belas geologist Indonesia. Bagi saya, geologistIndonesia lebih effective karena mereka biasa berkemampuan berbahasa daerah: Jawa, Madura, bahasa Banjar.

Pada tahun 1996, saya pernah mengajak seorang petinggi sebuah Bank milik pemerintah untuk mendalami tata cara detil mengenai cara-cara memanfaatkan uang publik di Kanada, hingga bisa digunakan untuk kegiatan eksplorasi pertambangan mineral. Saya bisa menanggung semua biaya dan lain-lain selama dia melakukan pendalamannya. Dia tetap tidak mau  menerima tawaran saya untuk mendapatkan perolehan uang besar dari negeri asing, atas biaya dan risiko saya. Saya telah yakin, kalau saja dia mau, maka dia akan menjadi tenaga yang amat dibutuhkan kalangan pebisnis Indonesia, karena uang yang akan didapat dari Stock Exchange akan amat berguna, bukan bagi usaha saya sendiri pribadi, tetapi bagi negara Republik Indonesia. Padahal sudah saya terangkan bahwa kerja dia itu hanya akan berada di belakang meja kerja di ruangan bersuhu udara nyaman dan tinggal di kota Vancouver, di British of Columbia di Kanada bagian Barat. Sebuah kota yang nomor satu diminati orang di dunia untuk bertempat tinggal. Saya tau dia sedang terlibat mengenai pendanaan beberapa usaha real estate yang tumbuh sebagai jamur di musim hujan, kala itu di Indonesia. Real Estate di mata saya TIDAK REAL dan bukanlah usaha yang menjanjikan, juga High Risk. Lihat saja berapa banyak bank-bank di Indonesia menjadi bangkRUT karena terlalu bernafsu mendanai usaha Real Estate. Dua tahun lalu (tahun 2006) ekonomi USA juga gonjang-ganjing karena kejatuhan kekuatan modal untuk Prime Mortgage jatuh berantakan. Beribu-ribu tenaga kerja di Citibank dan Bank-Bank besar Amerika lainnya di-lay-off (dihentikan statusnya sebagai pekerja)

Pada saat ini orang Indonesia memandang pertambangan batubara amat menjanjikan dan kelihatannya mudah. Itu tidak benar. Kalau benar-benar mengikuti undang-undang dan peraturan maka apa yang terjadi sekarang tidaklah mungkin telah bisa merusak alam dan melanggar banyak hal yang sungguh-sungguh tidak memberi rasa peduli kepada rakyat kecil. Banyak para pengusaha tambang batubara yang mempunyai area kecil berupa KP (Kuasa Pertambangan – 10.000 hektar) yang merambah (dan mngambil serta mencuri batubaranya) di area milik konsesi lain yang berstatus PKP2B (Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Penambangan Batubara – 100.000 hektar) yang belum aktif, secara NGAWUR, merusak alam dan bersifat keruk habis tanpa peduli gradenya (mutu spesifikasinya) Toh nantinya akan di lakukan blending (mencampur mutu rendah dengan yang bermutu tinggi sehingga mempunyai hasil yang agak tinggi. Apa akibatnya? Mereka bekerja dengan cara membabat habis semua alam sekitarnya, pohon-pohon berharga dan kehidupan untuk anak dan cucu kita di masa yang akan datang. Pajak sebisanya dan memang biasanya tidak dibayar dengan baik, karena kong kali kong dengan para Petugas Busuk (ini termasuk Politikus Busuk). Jadi yang jelek itu bukan pengusahanya saja, tetapi termasuk petugas pemerintah kita, yang nota bene dibayari gajinya oleh uang yang milik Rayat Indonesia. Itu adalah pertambangan yang menyangkut komoditi batubara yang sekarang menjadi pima dona.

Belum lagi komoditi yang menyangkut minyak dan gas serta mineral lain.

Nah kendala usaha kita di Indonesia itu terjadi karena dipicu oleh perolehan modal tunai, perolehan investor usaha besar dan amburadulnya kondisi manajemen pemerintahan kita dalam menjalankan undang-undang dan peraturan-peraturan yang ada.

Kalau dirangkum semua keadaan yang negatif tadi, itu semua merupakan ranjau-ranjau yang harus dihadapi oleh orang yang (Pilihan) Kedua seperti di sebut di atas. Kalau saja orang yang (Pilihan) Kedua ini mempunyai sifat TIDAK MAU melakukan korupsi dan dengan sendirinya juga akan tidak mau memberi uang sogok serta tidak mau terlibat uang suap, maka dia akan mudah jatuh di tengah jalan. Dan dengan penuh tingkat sifat latah, banyak anggota masyarakat akan ikut-ikutan mencela dan menghujat pengusaha saja. Padahal suap menyuap selalu ada dua sisi atau pihak: yang di dan yang menerima SUAP. Yang menerima suap amat jarang diurusi, mendapat perlindungan yang amat berlebihan dari rekan-rekannya sendiri di pemerintahan. Pihak pengawas, misalnya Kementerian Lingkungan Hidup, Badan Pengawas Keuangan dan lain-lain pengawasan seperti Inspektorat-Inspektorat Jenderal, justru lolos dari tuntutan yang jenisnya macam-macam.

Negara Jerman dan Negara Jepang mempunyai nasib sama: sama-sama kalah dalam peperangan waktu berakhirnya Perang Dunia ke-dua; sama-sama dunia politik negaranya menjadi lemah gemulai akan tetapi tetap mampu bertahan. Tetapi dunia usahanya menjadi kuat dan kedua-duanya telah amat cepat membangun kembali dirinya dengan mengenyampingkan masalah politik menjadi prioritas nomor kedua bahkan mungkin prioritas nomor ketiga. Usaha dagang dan manufaktur menghasilkan pajak dan pendapatan negara yang lain. Itulah pokok yang paling penting dalam menghasilkan ekonomi sehat dan pikiran serta kelakuan positif. Bukan penghamburan uang rakyat hanya dipakai untuk pemilihan kaum Politikus Busuk yang sekarang sedang tersebar di mana-mana.  

Sekarang anda termasuk yang mana? Yang Kesatu atau Yang Kedua, tentukan pilihan sejak awal dan ini biasanya akan membahagiakan. Kalau anda memang sadar bahwa anda adalah orang yang ditakdirkan untuk menjadi orang yang (Pilihan) Pertama maka anda akan mungkin terbebas dari banyak kendala di atas, dan kendala-kendala itu akan menjadi tantangan boss anda sendiri, orang yang (Pilihan) Kedua.

Pakailah kebijakan yang telah ada di dalam diri anda sejak lama.

Bangunkanlah kebijakan itu, karena mungkin masih setengah tertidur.

 

Anwari Doel Arnowo