Sabtu, 30 Agustus 2008  Yang harus kita bayar itu apa saja? Yang dimaksud: apa saja yang harus kita bayar dengan uang?

Ternyata banyak sekali, terbukti hal-hal itu bukan saja hanya terjadi selama kita, masih berupa masih makhluk manusia hidup.

Sebelum kita lahir sekalipun sudah ada biaya-biaya yang harus dibayar oleh orang tua. Sejak tes pertama mengenai kehamilan sudah ada biaya, mula-mula biaya transport pergi ke laboratorium, kemudian biaya pembayaran jasa laboratorium. Atau membeli perangkat tes kehamilan, yang bisa dilakukan sendiri. Disusul dengan menyampaikan khabar kepada pasangannya atau kepada suaminya, sudah ada pula yang ingin mengabarkannya dengan upacara khusus, tidak cukup  dengan kata-kata saja. Dengan sedikit gaya surprise-kejutan, misalnya menyiapkan upacara makan agak istimewa berdua saja dan sebagainya. Kemudian ada biaya-biaya ke dokter ahli kandungan, pembelian vitamin-vitamin tertentu, dan juga obat-obat tertentu pula. Senam khusus untuk mereka yang hamil dan segala pernak-pernik masalah persiapan menunggu kelahiran sampai tiba waktu kelahiran, baik khusus kesehatan ibu dan anak maupun menuruti adat istiadat serta ritual keagamaan atau kepercayaan lain. Semua ini memerlukan pembiayaan dan uang tunai.

Hampir tidak ada yang gratis.

Apakah sesudah mati ada juga biaya??

IYA ADA !! He, masak iya ??

IYA MEMANG BETUL-BETUL ADA !!

Nomor Satu: semua utang-utang yang meninggal dunia sepanjang waktu  masih hidup, yang masih belum bisa sempat untuk dibayar lunas, tetapi terlebih dahulu nyawa meninggalkan tubuh/jazad nya.

Nomor Dua: biaya sewa tanah per tiga tahun ( ada yang Rp.90.000,– dan ada yang Rp. 125.000,–)  di kuburan untuk tempat menampung jenazah kita kalau disimpan di pekuburan yang ada di bawah Dinas Pemakaman DKI Jakarta Raya.

Dalam hal biaya-biaya sebelum lahir kalau tidak ada ke mampuan untuk mengadakannya, maka pada jaman sekarang, kemungkinan besar  sekali akan membahayakan proses kelahiran bayi, atau malah bisa batal lahir.

Biaya-biaya setelah mati kalau tidak dilunasi pada waktunya, bisa  menyebabkan jenazah bisa diberi status tidak berhak menempati kuburan yang telah dihuninya, yang berarti diusir. Atau dengan kejam akan dianggap tidak ada dan ditumpuk/ditindih dengan jenazah orang lain. Bisa saja tanpa setau yang berkaitan sebagai sanak dan saudara dengan almarhum yang tidak bisa membayar uang sewa tanahnya itu. Hanya kali ini, tentu saja tidak mengalami  keadaan yang bisa disebut gagal mati atau bisa hidup kembali.

Tragis atau memasygulkan dan juga memilukan.

Memang hal seperti itu tidak menimpa seluruh ummat manusia di muka bumi. Di bagian bumi yang kurang maju, pasti biaya-biaya seperti itu, ada yang lebih baik, karena ada yang tidak mencapai  sebanyak/semahal seperti yang ada di tempat-tempat yang maju dan modern, tetapi sebaliknya ada yang nol (kosong, hampa atau nihil) atau nil (nir biaya atau tanpa biaya).

Di Jakarta mungkin sekali bisa paling mahal karena mungkin pembiayaan ekonomi kehidupan manusianya yang pasti lebih tinggi dari daerah lain.

Apa benar demikian? Mungkin juga tidak.

Anda dapat menemui sebuah tempat di luar Jakarta, terletak di daerah Bekasi dan Selatan Bogor, di mana anda dapat membeli sebuah lokasi yang harganya luar biasa, mencapai miliaran Rupiah untuk satu kuburan. Untuk apa? Untuk makam bagi siapa yang bisa membayarnya. Untuk apa? Saya tidak mengerti !!

Kalau saya tidak mengerti apakah berarti saya bodoh? Ah mungkin bagi mereka, para pemilik tanah mahal spesial untuk kuburan ini, saya memang bodoh. Hanya saja, saya sendiri tidak merasa terlalu bodoh dalam masalah seperti ini apalagi untuk malah sok pintar.

Ingatlah perlakuan orang lain, yang menganggap jenazah itu tidak berharga, tidak penting, tidak perlu dihiraukan, malah dilupakan  saja, ternyata ada banyak di dunia ini. Ada yang dibakar dan hanya disimpan abunya. Ada yang kemudian abunya ini disebarkan di mana-mana. Ada yang jenazahnya dimasukkan ke dalam tanah dan melupakannya. Di mana yang seperti itu? Di Saudi Arabia. Kuburan rajanya sekalipun tidak diberi tanda apa-apa. Akan tetapi orang Saudi ini tidak menolak segala upacara tetek bengek dan remeh temeh yang mahal dan luar biasa, tetapi makamnya ternyata tidak ada, dan tidak peduli lagi. Itu bisa disimak dari upacara pemakamam Raja Saudi Fahd yang terakhir, yang digantikan oleh Raja Abdullah yang memerintah sekarang. Berapa puluh Kepala-Negara dari seluruh dunia yang berdatangan dan hadir untuk suatu upacara yang sedikit  aneh. Petugas keamanannya menggunakan banyak anjing-anjing pelacak yang bermutu tinggi keahliannya, dalam masalah keamanan. Upacara berpawai atau bersama-sama berbaris sampai ke sebuah titik tertentu dan bubar/selesai disitu; jenazah sang Raja dibawa kesuatu tempat, dan dimakamkan, tanpa diberi tanda atau tanpa bernisan. Lalu untuk apa upacara fisik seperti itu? Saya tidak ingin mendalami, demi untuk mencegah penafsiran yang bisa salah karena ini amat erat hubungannya dengan adat istiadat yang begitu banyak di  seluruh tempat-tempat di dunia ini.

Bagaimana orang Indian Amerika? Jenazah ditaruh di suatu tempat dipermukaan tanah dan ditimbuni batu-batu besar.

Saya pikir ini tentu saja dengan maksud agar tidak dirusak jenazahnya oleh binatang ukuran besar dan berkaki empat atau burung pemakan bangkai. Tetapi bagaimana kalau pemangsanya adalah binatang melata dan serangga yang kecil-kecil yang juga pemakan bangkai??

Orang Indian dari suku yang lain juga ada yang menempatkan jenazah di atas sebuah bangunan dari empat tiang kayu, jadi lepas dari permukaan tanah.

Untuk apa? Ah, saya juga kurang paham.

Jadi tidak seperti halnya di Jakarta, Tanah Kusir misalnya, di mana bagi sanak keluarganya telah menjadi beban yang kelihatannya tdak ringan dan menyebabkan biaya tinggi, meskipun dilakukan dengan ikhlas hatinya dan hati seluruh keluarganya.

Khusus mengenai hal ini pada tahun 2003an saya telah menulisi anggota keluarga saya dan anak-anak sebuah surat serta memberi salinan photo-copy kepada para teman saya, bahwa jenazah saya:

1.    Boleh dikubur dimana saja, sedekat mungkin dimana saya meninggal agar tidak menimbulkan konsekuensi biaya yang mahal. Seperti diketaui, membawa jenazah dari kota Toronto, Ontario, Kanada ke Indonesia memerlukan biaya mungkin lebih dari USDollar 10.000. Di kubur disana pun mungkin biayanya sekitar USDollar 7.000. Kalau di Indonesia boleh dimana saja juga, termasuk di Tanah Wakaf sekalipun, asal sesuai dengan peraturan yang ada dan masuk akal, artinya tidak di halaman rumah tinggal, terutama karena yang seperti itu adalah illegal.

2.    Agar anggota keluarga terdekat saya tidak "sibuk" menangis berlebihan, sehingga jenazah saya di "suci"kan oleh tetangga dan kerabat lain. Saya pikir sebaiknya oleh keluarga dekat saya sendiri dengan segala upacaranya kalau itu memang dianggap sebagai keharusan. Saya sendiri beranggapan makin sedikit melakukan upacara, maka akan semakin baik. Apalagi toh saya tidak akan tau, baik atau buruk, cukup atau kurang cukup. Saya yang sudah hanya akan berupa nyawa tidak lagi menguasai tubuh yang saya tinggalkan, berada di dunia fana. Kalau ada yang megiringi doa terhadap kematian saya, arahkanlah kepada arwah saya saja. Itu sudah amat baik, dari pada menghormati jenazah saya. Segala biaya yang terjadi lebih baik digunakan bagi yang hidup apalagi bagi yang kekurangan, karena akan lebih bermanfaat.

3.    Masih ada banyak lagi yang tidak saya tuliskan disini

4.    Saya juga mengakhiri surat saya dengan menambah satu poin lagi: kuburan saya tidak dikunjungi juga tidak apa-apa. Kalau kuburan saya berada di Indonesia dan anak yang yang paling jauh (12 jam beda zona waktunya) di Toronto, Canada akan harus mengeluarkan biaya sekian ribu CanDollar hanya untuk menengok kuburan saya saja, itu economically unjusifiable (tidak sehat secara nilai ekonomi)

Tanpa maksud untuk menularkan pendapat-pendapat saya di atas, saya tetap merasa perlu menyampaikan, apa yang telah amat lama, hal- hal yang mengganjal tersebut di atas, dari dalam hati saya.

Mengapa demikian?

Dalam keadaan ekonomi dunia yang saya duga tidak akan membaik secara berarti, terutama dengan bertambahnya laju pertumbuhan jumlah penduduk di seluruh dunia, ditambah dengan penurunan kualitas hidup yang makin ganas, maka tidak patutlah kita menghamburkan apa yang kita punyai dengan cara kurang bijaksana, apalagi memberi pendidikan kepada orang lain yang menyebabkan konsekuensi biaya yang berlebihan, diluar kemampuan. Konsekuensi biaya kehidupan itu amat tergantung kepada manajemen kehidupan pribadi setiap orang yang berlain-lainan. Pada usia yang sudah lanjut, hal-hal seperti ini sungguh amat terlambat, tetapi kalau sudah dimulai sejak belia , baik pengertianya maupun prakteknya, alangkah akan dapat  menyenangkan nantinya di kemudian hari.

Saya berpendirian bahwa biaya-biaya yang perlu ditanggulangi untuk dilunasi adalah biaya-biaya yang dipikul oleh mereka yang sedang menjalani kehidupan, bukan bagi mereka yang sudah  menyelesaikan masa kehidupannya di dunia.

 

Anwari Doel Arnowo

Minggu, 31 Agustus 2008 – 1:41:06 AM