Hari ini ada yang mengindikasikan bahwa ada budaya mengingkari, yang terjadi di kalangan elite koruptor di Indonesia, di dalam sebuah tulisan karya William Chang yang dapat disimak di link berikut ini, silakan membaca selengkapnya di SINI. Itu di Indonesia.

Pada tanggal 19 Agustus 2008, saya mengikuti penyampaian sebuah petisi ke Kedutaan Besar belanda di Jalan Rasuna Said, Jakarta Pusat, bersama dengan Komite Utang Kehormatan belanda (KUKb) yang dipimpin oleh sdr. Batara Hutagalung, disertai dengan sedikit demonstrasi kecil. Demonstrasi ini diadakan karena keperluan untuk menunjukkan  adanya kekejaman belanda, yang telah melakukan pembunuhan-pembunuhan berupa pembantaian rakyat kecil, selama kurun waktu 17 Agustus 1945 sampai dengan hari Penyerahan Kedaulatan kepada Indonesia yakni pada tanggal 27 Desember 1949. Yang dikemukakan oleh tindakan-tindakan KUKb ini adalah hanya dalam kurun waktu tersebut saja. Sama sekali belum menyinggung kurun waktu yang lebih dari 300 tahun lamanya sampai penjajah lain, Kekaisaran Jepang, mengusir  pemerintahan penjajah belanda dari wilayah Nusantara (atau lebih baik apabila dikatakan lari pontang panting dengan sendirinya). Dalam demo kecil ini hadir beberapa janda dan korban langsung dari rakyat desa Rawagede, sebuah desa yang letaknya di sebelah Timur Jakarta, dengan jarak kurang dari 100 kilometer, atau tepatnya ada di antara Karawang dan Bekasi, seperti judul karya Chairil Anwar yang terkenal itu. Pembantaian rakyat Rawagede itu menyebabkan korban tewas sebanyak 431 orang dengan sekali pembantaian. Diantara yang ikut demo ada pak Sa'is yang ditembak setelah terlebih dahulu tertembak di bagian lain dari tubuhnya. Dalam keadaan tengkurap dia ditembak lagi punggungnya dan peluru menembus tubuhnya dan keluar lagi di dada bagian atas.

Ternyata pak Sa'is ini masih juga hidup sampai sekarang ini.  

Apa yang dikerjakan oleh KUKb ini telah berlangsung beberapa tahun lamanya, dan para korban ini beberapa di antaranya, pernah di ajak oleh sdr. Batara Hutagalung pergi ke negeri belanda, menemui beberapa elite politik dan anggota Parlemen di sana, yang mendukung KUKb tentunya. Mendapat respons yang baik dari mereka. Sampai hari ini pemerintah belanda belum pernah mau merundingkan apa-apa dengan upaya-upayanya KUKb, karena hanya berhasil masih dalam batas-batas sampai sekitar dukung-mendukung saja, tanpa pengakuan apapun dari pemerintah bekas penjajah kita itu, belanda. Itulah sebabnya saya selaku pelaku protes pribadi, selalu menulis dimana sempat, kata belanda dengan menggunakan huruf kecil saja. Itu cara saya sendiri, plus: saya tidak akan pernah mau menginjakkan kaki saya di tanah bawah permukaan air laut, yang biasa disebut dengan netherland atau holland atau nederlands, sampai mereka secara resmi mengakui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Wakil-Wakil Bangsa Indonesia: Soekarno – Hatta. Saya silakan anda melihat hasil photo-photo saya yang dimuat di link berikut dibawah ini, dimana saya ikut serta mengikuti demo kecil, tetapi amat besar artinya bagi diri saya. Saya sadar sepenuhnya bahwa banyak di antara kita bangsa Indonesia yang tidak memedulikan masalah pengakuan belanda, toh sudah diakui PBB dan banyak sekali negara-negara lain. Karena bagi saya hal ini adalah masalah prinsip, maka saya pikir tidak akan berguna bagi siapa saja bilamana bermaksud membujuk saya untuk menghentikan cara-cara saya itu. Saya tidak mengganggu siapapun, baik rakyat Indonesia maupun rakyat belanda yang ingin bersilaturahim dengan sesamanya. Saya juga idak mengatakan sesuatu yang jelek bagi mereka yang masih menerima uang pensiun dari belanda, karena pernah bekerja sama dengan belanda dalam macam-macam bidang. Saya tidak mendendam kaum Co (dari cooperative) yakni mereka yang pernah memihak dan bekerja untuk Nica (Netherlands Indies Civil Administration)  selama periode 1945 sampai 1949. Saya tidak mempunyai sentimen yang negatif terhadap rakyat belanda, karena sadar bahwa dendam itu adalah beban, akan tetapi kepada pemerintah belanda saya tidak bisa memberi ampun sampai mereka meminta maaf kepada rakyat Indonesia dan pemerintah Negara Indonesia secara resmi. Saya mohon kepada para pembaca agar jangan mengaitkan hal ini dengan masalah pampasan perang atau semacamnya, kalaupun pada suatu saat nanti akan ada, karena saya tidak mempunyai interes atau afeksi terhadap uang atau materi dari pihak belanda, yang telah mereka dapatkan dari jutaan keringat dan darah serta jiwa rakyat Indonesia, yang selama sekian ratus tahun selama masa pendudukan dan penjajahan di Nusantara.

Silakan menyimak link: http://picasaweb.google.com/anwaridarnowo/KUKBPetisiDiKedutaanBelanda untuk bisa  mengikuti serta melihat photo-photo demo kecil, termasuk korban dan janda-janda dari Rawagede, di Kedutaan Besar belanda di Jakarta. Salah satu spandoek yang kita bawa berbunyi: Hubungan Bilateral Adalah masalah Hukum, Tanpa Pengakuan Hukum De Jure Adalah Illegal (Bilateral Relatie Is Een Rechtaken, Zonder De Jure Erkening, Geen Recht Relatie). Jadi hubungan kedua negara meskipun ada Kedutaan Besarnya di masing-masing negara, bisa dikatakan sebagai illegal. Spandoek yang lain berisi kata-kata yang mengingatkan kejahatan-kejahatan lain di luar masalah Rawagede seperti: pembunuhan massal oleh kapten Raymond Westerling terhadap ribuan rakyat biasa di Sulawesi Selatan dan Gerbong Maut dari karesidenan Besoeki, Jawa Timur.

Baik juga kita lihat, bagaimana sebuah negara lain (ITALIA) mau mengakui kesalahannya kepada bekas negara jajahannya (LIBYA) di masa lalu yang diberitakan di harian Kompas pada hari ini, 1 September 2008, seperti dapat dibaca dibawah ini:

 

KILAS LUAR NEGERI

Senin, 1 September 2008 | 00:29 WIB

Italia Minta Maaf kepada Libya

Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi, Sabtu (30/8), meminta maaf kepada Libya atas segala kerugian dan kerusakan akibat kolonialisme Italia selama 30 tahun, dengan memenuhi kompensasi sebesar 5 miliar dollar AS. Berlusconi dan Pemimpin Libya Moammar Khadafi menandatangani memorandum komitmen kompensasi dalam bentuk proyek konstruksi, beasiswa, dan uang pensiun bagi tentara Libya yang berdinas pada era Perang Dunia II. "Menjadi kewajiban saya untuk mengungkapkan penyesalan yang mendalam dan minta maaf atas luka akibat perbuatan kami," kata Berlusconi ketika berkunjung ke kota Benghazi.

Sungguh mengherankan di negeri belanda di Den Haag (The Hague) ada sebuah badan pengadilan ad hoc, yang disebut dengan: INTERNATIONAL CRIMINAL TRIBUNAL (ICT) yang mengadili banyak penjahat perang dunia, sejak dari para pelaku pemerintahan Adolf Hittler sampai ke, antara lain, Radovan Karadžić, anggota dan pendiri serta menjadi Presiden dari Partai Demokrat Serbia sampai 19 Juli 1996 dan menjadi Presiden dari Dewan Keamanan Nasional Serbia dari Repblik Bosnia dan Herzegovina. Dia menjabat Presiden dari sebuah Presidium Serbia terdiri dari tiga orang sejak 12 Mei 1992 sampai  17 Desember 1992. Sampai dengan tanggal tersebut dia juga menjabat sebagai Presiden tunggal dari Republika Srpska serta Panglima Tertinggi dari angkatan bersenjatanya. Pengadilan khusus untuk Radovan Karadžić ini disebut dengan  ICTY (ICT for the former Yugoslavia). ICT diakui oleh dunia internasional dan juga United Nations.

Kalau penjahat-penjahat perang seperti itu dapat dituntut dan dihukum di negeri belanda melalui ICT, maka para anggota pimpinan pemerintahan belanda sejak raja- raja dan ratu-ratu negeri liliput ini mulai penjajahannya di Nusantara pun, harus bisa dituntut sampai tuntas. Kita perlu personil yang kuat dan mantap di dalam pemerintahan kita, yang bisa dengan tegas dan kuat serta tegar dalam menghadapai masalah ini. JANGAN DIBIARKAN SAMPAI SEKARANG, 63 TAHUN LAMANYA.

Bukankah ratu belanda terkenal sebagai monarki yang paling kaya di planet bumi ini? Dari mana bisa didapat  kekayaannya itu?

Juga sungguh mengherankan bahwa pemerintah kita sendiri terbukti tidak berdaya apa-apa terhadap negeri liliput nederland. Sengaja istilah liliput saya gunakan berkali-kali, agar pemerintah kita, yang mengelola negara yang kita cintai ini, bisa disemangati agar tidak gentar. Selama masalah dengan belanda tersebut di atas masih belum bisa diselesaikan, maka dengan sangat menyesal saya tidak bisa memberi penghargaan yang terhormat dan bermartabat, kepada pemerintah-pemerintah beberapa kabinet Indonesia yang lalu, termasuk juga yang sekarang.

Tidak ada yang bisa seperti Gatutkaca, otot kawat balung wesi (otot kawat tulang besi).