Ramadhan telah tiba. Selamat datang ya Ramadhan. Itulah yang kita baca kemana pun kita pergi, kemana pun mata ini memandang. Di majalah, di koran di layar kaca dan tentulah pula dalam format kain besar yang direntang ditengah jalan, di sudut-sudut kota yang strategis, dalam tulisan-tulisan mencolok yang tentulah harus pula BESAAAR. Untuk lebih menekankan bahwa kita ini bangsa yang RELIGIUS dan bahwa kita ini adalah bangsa yang amat sangat  SEDERHANA (don’t forget to use BIG CAPITAL LETTERS , MAN……BIG…yes, BIG Man). Supaya mereka (whoever mereka are) tahu dan sadar bahwa ini negeri dimana muslim (bukan Islam !) adalah mayoritas……….

 Ramadhan telah tiba. Dengan segala gegap gempitanya. Dengan segala teriakan salat tarawih. Dengan beragam kumandang azan dan salawat bersahut-sahutan. Dengan perang tanding antar jutaan pengeras suara. Seolah Tuhan pekak dan tuli, dan karena itu amat sangat perlu disapa dengan berteriak. Dengan segala perda (= peraturan daerah) yang mewajibkan mereka yang tidak berpuasa menghormati muslim yang sedang berpuasa. Seolah-olah muslim berpuasa dengan tujuan dihormati orang. Tegasnya dihormati orang yang non-muslim. Dihormati orang yang tidak berpuasa. Lupakah mereka bahwa tujuan orang berpuasa adalah “…la’allakum tattaquun….”, “semoga engkau bertakwa” ? Mengapa ayat Al Qur’an ini diplintir ? Mengapa begitu tega orang memelintir ayat Al Qur’an ? Supaya lebih leluasa menyatakan sikap arogan sebagai seorang muslim ? Arogansi mayoritas ? Bayangkan bila Anda, wahai muslim saudaraku, berada ditengah-tengah komunitas non-muslim, dimana Anda tidak lagi mayoritas, tapi minoritas. Masih beranikah Anda bersikap arogan karena Anda seorang muslim ? Kalau begitu tentulah sikap “beragama”  Anda ditentukan oleh posisi komunitas pemeluk agama Anda ? Mayoritas atau minoritas ?

 Ramadhan telah tiba. Ramadhan dimana orang yang (kebetulan) tidak berpuasa terpaksa menyelinap-nyelinap mencari sarapan pagi, makan siang dan minum teh sore, di negara dimana mereka (dipaksa) merasa diri sebagai minoritas. Atau mungkin juga mereka muslim secara normatif, tapi belum terpanggil untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Sebenarnya restoran tetap saja bertebaran tapi sekarang secara khusus perlu dibalut dalam “busana Ramadhan”, yaitu sehelai kain yang menyelimuti bahagian luarnya sehingga tersembunyi dari pandangan orang. Begitu munafikkah kita sehingga membiarkan praktek-praktek keberpura-puraan ini terus saja berjalan ? Why not call a spade a spade ? Tahun demi tahun sama saja. Mengapa tidak jujur-jujur saja : buka saja tempat-tempat makan itu. Buka saja seperti biasa. Hapuskan semua perda-perda yang absurd itu. Biarkan orang yang kebetulan memang tidak berpuasa – apakah tersebab kayakinannya, apakah karena kondisi kesehatannya, apakah karena memang belum terpanggil untuk berpuasa –  biarkanlah mereka makan minum disitu, tanpa harus merasakan ketakutan akan “kedapatan” makan minum di bulan “suci”-nya sang muslim ? Bukankah justru dengan demikian Islam akan kelihatan lebih ramah ? Lebih dekat dengan kaidah “rahmatan lil ‘alamiin” ? Bukankah hanya muslim/muslimah saja yang wajib berpuasa ? (walaupun himbauan formalnya berbunyi “Wahai para yang beriman……….”). Mengapa mereka yang tidak berpuasa harus ditekan sehingga harus sembunyi-sembunyi mencari tempat makan di siang hari ? Bolehkah penganutan agama itu dipaksa-paksakan ? Mengapa kita tidak bisa menerima keberagaman ? Padahal keberagaman jelas-jelas adalah sunnatullah ?

Ramadhan telah tiba. Malah jauh sebelum Ramadhan benar-benar diambang pintu, orang sudah bergegas mencari keperluan lebaran. Baju baru, model baru, sepatu baru, jas baru, baju koko baru. Serba baru. Lemari es baru. Mesin cuci baru. Kalau perlu mobil baru. Pokoknya serba baru. TV baru. Semakin lebar dan semakin tipis, semakin afdol untuk ditonton Lebaran nanti. Dan yang paling penting : untuk ditimpali dengan decak kagum….ck…cek…cek…ck…

Ramadhan telah tiba. Dan kita pun sibuklah mengirim/membalas sms “mohon maaf lahir batin dan selamat menunaikan ibadah puasa…etc…etc…” Bermaaf-maafan sebelum puasa Ramadhan memang sangat dianjurkan. Tapi mengapalah (kebanyakan) dari kita membatasi permohonan maaf itu hanya kepada sesama muslim/muslimah ? Tak pernahkah kita juga membuat kesalahan-kesalahan tertentu kepada kawan-kawan non-muslim  ? “Lewat” begitu sajakah kesalahan-kesalahan iu tanpa harus dipertanggung-jawabkan, setidak-tidaknya dengan mohon maaf ?  Begitukah ajaran Islam ?

 Ramadhan telah tiba. Dan sibuklah para pedagang menjajakan dagangannya masing-masing. Semuanya mengambil “hikmah” puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Belilah ini, niscaya puasa Anda akan terasa khusyuk ! Pakailah ini, niscaya Lebaran nanti akan terasa lebih menggairahkan. Dari peralatan dapur, busana muslim, bahkan apartment dan townhouse yang aduhai sangat menawan. Dan diserbu oleh serangan konsumerisme serempak yang begitu dahsyat, lunglailah pertahanan para “sarary man dan sarary woman”. Lembaga perbankan pun tidak lupa menjajakan kemudahan-kemudahan berbelanja dengan kartu debit yang baru dilaunch secara perdana. Beli, beli, beli…………..Itulah kata kunci masyarakat konsumptif.

Ramadhan telah tiba. Dan sejak sebelum Ramadhan orang konon sudah antri untuk mendapatkan tiket untuk mudik nanti menjelang Lebaran. Supaya masih kebagian. Supaya bisa mudik. Sebab, bukankah lebaran tanpa mudik akan  terasa sangat hambar ? Jadi kita berpuasa untuk mudik ? Bukan untuk meraih martabat “orang yang bertakwa” ? Atau, mungkinkah martabat “orang yang bertakwa”  dibatasi hanya untuk mereka yang bisa mudik ?

Ramadhan telah tiba. Dan, alhamdulillah, Ramadhan ternyata juga  mengajak orang melakukan refleksi. Mengajak orang merenung. Menghimbau orang kembali ke Fitrah. Duduk bersimpuh dan berupaya memahami rangkaian pesan-pesan sakral Qur’an. Baik yang tersebar di dalam Al Qur’an, maupun yang bertebaran di alam raya. Memikirkan relevansi ayat-ayat, atau malah irrelevansi ayat-ayat tertentu dalam konteks ke-kinian dan ke-disinian. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan penafsiran ulang karena bukankah Islam itu “saalih likulli zamaan wa makaan”, “elok untuk setiap masa dan setiap tempat” ?  

Bukankah Ramadhan juga – bahkan terutama sekali – harus dihayati sebagai wahana pelatihan untuk menahan diri ? Menahan diri dari segala perilaku negatif yang merusak diri dan mungkin juga lingkungan sosial ?

Ramadhan telah tiba. Maafkan aku kawan. Maafkanlah aku sahabat. Sebagaimana juga engkau, aku pun sedang membersihkan hatiku, semoga Tuhan berkenan singgah di hatiku. Alhamdulillah apabila engkau memang mau memaafkan aku. Tapi seandainya engkau ternyata tidak berkenan memaafkan aku, insyaallah aku tetap lega, karena setidak-tidaknya aku sudah minta maaf. Aku tidak memaksakan pendapatku kepadamu. Aku merasa bebas untuk berpendapat apa pun, sejauh kebebasanku berpendapat tidak mengurangi kebebasanmu ikut berpendapat juga.

 

Selamat berpuasa Ramadhan.

 

Salam,

Arifin Abubakar