Rabu, 27 Agustus 2008 Tiga hari yang lalu, 25 Agustus 2008, saya berada di sebuah desa bernama Selorejo di kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Apa yang dapat saya beritakan mengenai tempat ini?? Apakah ada sesuatu yang istimewa di situ??

 Kota Malang tingginya hanya 444 meter dari permukaan air laut. Selorejo jauh lebih tinggi dari dataran kota Malang, mungkin sekitar lebih seratus meter beda tingginya. Jauh jaraknya dari kota Malang hanya mencapai 20 kilometer lebih ke arah Barat Laut. Udara sudah sejuk sekali pada sore hari. Anda tentu akan menduga para penduduknya pasti petani. Itu benar.

Petani apa? Yang menarik perhatian saya adalah buah jeruk jenis yang lazim disebut jeruk manis dan ini sesuai dengan rasanya. Memang manis.
Bagi kita yang sudah biasa berada di kota besar, maka untuk bisa  mendapatkan jeruk seperti ini terntu saja akan mudah, karena di jual di pasar atau supermarket dan warung-warung buah-buahan di sepanjang pinggir jalan dan lain-lain tempat pejualan.
Beberapa orang yang bisa ditemui di jalan, menerangkan bahwa buah jeruk jenis apa saja, termasuk keprok, telah dicoba dan bisa tumbuh dengan baik di situ. Saya sempat menanyakan kepada orang-orang yang sedang berada di sebuah tempat pengepakan jeruk untuk dikirim ke luar daerah Selorejo.
Percakapanpun dengan sendirinya terjadi dengan akrab:
“Jeruknya manis, pak?”
“Iya tentu saja manis, akan tetapi pemetiknya masam!” Yang dimaksudkan adalah nasib para pemetiknya tidak manis.
“Iya, setiap orang tentu mengalami masam dan manisnya kehidupan. Kehidupan memang tidak selalu manis” jawab saya.

 Dapat dipahami apabila para pemetik atau para buruh kasar yang kerjanya  mengangkut produk bukanlah orang-orang yang kaya, akan tetapi sepanjang jalan yang menuju ke desa Selorejo saya lihat keadaan yang tidak menggambarkan kehidupan yang masam. Benar-benar amat berlainan sekali pemandangan rumah-rumah yang berjajar di sepanjang jalan utamanya. Banyak rumah yang bertingkat dua dan luas tanahnya sedikitnya boleh saya perkirakan sekitar dua ratus meter persegi. Semua bentuk dan model serta bahan bangunan tepat seperti tiruan bentuk dan model-model rumah-rumah yang ada di kota-kota kecil yang ada di kota Malang. Bahkan ada yang modelnya mencolok lebih baik, di antara yang berjajar di sepanjang jalan tersebut. Baik pagar maupun pintu pagarnya tampak dibuat dari bahan mengkilat (kalau bukan yang divernikel maka bahannya mungkin besi anti karat). Pagar seperti ini digunakan juga oleh rumah Inul bintang hiburan di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Jadi secara keseluruhan, rumah tampak memamerkan banyaknya uang yang telah digunakan untuk membangun  rumah-rumah tersebut. Sungguh saya lega meskipun kekayaan itu selalu diketahui tidak pernah merata hampir di seluruh lokasi yang ada di dunia. Tetapi sungguh menggugah pikiran saya bahwa rakyat kita yang mampu berproduksi, berdaya bangkit, dapat terjadi tanpa campur tangan pemerintah. Tangan pemerintah yang berkeliaran di desa ini, saya diberi tau, ada yang mengatakan, telah banyak yang bertindak dan berlaku bagaikan benalu. Para aparat pemerintah ini selalu menjadi sebab banyaknya  penduduk desa yang harus mengeluarkan biaya ekstra bagi para pegawai dari pemerintahnya sendiri, yang memang meminta bekal berupa materi. Sebuah beban tersendiri bagi masyarakat. Biarpun  tanpa penyuluhan sekalipun dari pemerintah di sini, mereka sudah selalu siap dan mampu bertani kapan saja, dengan menggunakan pupuk kandang yang disiapkan oleh masyarakat setempat secara mandiri. Tanah di situ  memang telah makmur sejak dahulu kala.  

 Sebuah kesuburan yang memang amat menunjang upaya rakyat  mengebunkan buah-buahan. Saya bawa pulang ke Jakarta jeruk-jeruk ini cukup untuk oleh-oleh.  Dalam tulisan berjudul Jago Kandang saya mengemukakan kekurangan kita kalau dibandingkan dengan petani dan para pengusaha dari Thailand dan Vietnam serta negara-negara sekitar yang mengekspor buah-buahannya sampai ke pasar di Kanada dan negara-negara Barat lain, yang nun jauh disana.

Tulisan itu adalah sebuah imbauan agar para petani diberi tempat yang seyogyanya, dengan maksud agar tidak diganggu oleh segala macam beban birokrasi yang memberati mereka. Juga meggugah dan mengimbau agar pemerintah memberikan cara-cara tambahan kemudahan lebih kepada para pengusaha ekspor hingga membantu mereka bisa melaksanakan ekspor produk-produk Indonesia ke negara-negara lain dibelahan bagian Barat dari Planet Bumi ini.

 Sudah layak dan sepatutnya seluruh rakyat dianjurkan agar dapat  meningkatkan produksi yang dihasilkan dari kerja baik pertanian dan perkebunan, bukan hanya mengekspor semata-mata sebagai bahan mentah seperti minyak metah, karet mentah serta hasil-hasil  tambang berupa bijih. Alangkah baiknya kalau semua ekspor itu setelah melalui proses nilai tambah yang tentu saja akan menyerap jutaan tenaga kerja. Di sini diperlukan kerjasama yang jeli dan erat antara aparat pemerintah, produsen dan para pengusaha ekspor. Arahkanlah seluruh rakyat masyarakat petani untuk berproduksi dan secara positip berusaha dengan cara-cara sehat, sehingga mereka sampai ke tingkat yang berkedudukan dan bermartabat lebih, di dalam kalangan masyarakat pekerja Indonesia.

Anwari Doel Arnowo
Rabu, 27 Agustus 2008 – 21:10:22