USAI memberikan ceramah di sebuah kantor di kawasan Jakarta Selatan sekitar enam tahun yang lalu, saya bertanya kepada seorang panitia, di mana saya bisa mengambil air wudu dan melaksanakan salat Asar. Saat saya salat, secara lamat-lamat saya mendengar bisik-bisik di balik punggung, "Lho, Mas Ulil kok salat, katanya liberal."

Saat di Boston, saya aktif mengikuti kegiatan yang diadakan oleh sebuah
kelompok pengajian bernama IQRA. Selain ingin menikmati masakan
Indonesia yang dihidangkan oleh ibu-ibu anggota pengajian, saya juga
bisa belajar bagaimana teman-teman yang tinggal di Amerika memaknai
Islam. Kadang-kadang saya juga memberikan ceramah, tetapi lebih sering
menjadi pendengar saja. Kadang saya juga didaulat menjadi imam salat.

Saat Ramadan, seluruh kegiatan buka puasa hampir tak pernah saya
lewatkan. Selain isteri saya memang gemar sekali memasak dan ingin
berbagi masakan itu dengan teman-teman Indonesia yang lain, saya juga
menikmati pertemuan-pertemuan seperti itu karena membuat saya bisa
merasakan "getaran" bulan puasa. Ibadah puasa tidak terlalu asyik jika
dilaksanakan sepenuhnya secara "personal" dan "soliter". Sejak kecil,
saya menikmati puasa sebagai "tindakan kolektif". Pengalaman sosial
seperti itu tak saya jumpai selama di Amerika, sebab di sini jumlah
umat Islam sedikit sekali.

Dengan mengikuti momen-momen buka puasa atau melaksanakan salat tarawih
secara bareng-bareng, saya merasakan kembali "suasana sosial" dalam
ibadah puasa. Pengalaman sosial dalam beragama ini bukan hanya khas
Islam; dalam agama apapun, dimensi "bebrayan"
atau sosialitas ini sangat penting. Pengalaman yang membekas pada para
pemeluk agama biasanya bukan sekedar "kesyahduan individual" saat
seseorang melakukan meditasi untuk berkomunikasi dengan Tuhan, misalnya
dalam sembahyang. Pengalaman yang paling membekas biasanya adalah
pengalaman beragama secara sosial itu.

Kelompok paguyuban semacam IQRA atau yang lain memiliki makna yang
penting bagi masarakat Muslim yang hidup di luar negeri karena membantu
mereka untuk mengalami kembali pengalaman sosial dalam beragama dan
beribadah.

Itulah sebabnya, dengan suka cita saya mengikuti kegiatan bulan puasa
yang diadakan teman-teman Indonesia di kota Boston. Sekali lagi, saya
mendengar bisik-bisik di baik punggung, "Kok Mas Ulil puasa, padahal liberal."

SEJAK Mei 2001, bersama dengan teman-teman muda di Jakarta, saya
mendirikan sebuah kelompok bernama Jaringan Islam Liberal, disingkat
JIL. Kata "jil" selain enak diucapkan sebagai akronim, juga merupakan
kata Arab yang artinya "generasi". JIL adalah sebuah generasi pemikiran
yang muncul di tengah-tengah masyarakat.

Tujuan utama kelompok ini secara umum ada dua. Pertama, melakukan
kritik atas pemahaman keislaman yang fundamentalistis, radikal dan
cenderung pada kekerasan. Paham-paham semacam ini muncul bak cendawan
setelah era reformasi di Indonesia sejak 1998. Bagi saya, paham Islam
yang radikal, eksklusif, dan pro-kekerasan ini sangat berbahaya bukan
saja bagi masyarakat Indonesia yang plural, tetapi juga bagi Islam
sendiri. Sebagai seorang Muslim, saya tidak mau agama saya"dibajak"
oleh kaum radikal-fundamentalis untuk mengesahkan kekerasan atas nama
agama.

Kedua, untuk menyebarkan pemahaman Islam yang lebih rasional,
kontekstual, humanis, dan pluralis. Di mata saya dan teman-teman yang
menggagas JIL, Islam harus terus-menerus dikonfrontasikan dengan
realitas sosial yang terus berubah. Jawaban yang diberikan oleh agama
atau ulama di masa lampau, belum tentu tepat untuk zaman sekarang. Oleh
karena, sikap kritis dalam membaca pemikiran Islam yang kita warisi
dari ulama masa lampau sangat penting.

Tidak semua hal yang tertera dalam Quran dan hadis harus dimaknai
secara harafiah. Quran dan hadis dibentuk oleh konteks yang spesifik,
dan karena itu harus terus-menerus dikontekstualisasikan, terutama
ajaran-ajaran yang berkenaan dengan kehidupan sosial-politik. Bagi saya
dan teman-teman JIL, misalnya, sistem pengelolaan "negara" yang pernah
dicontohkan oleh Nabi dan sahabat-sahabat sesudahnya di Madinah tidak
mesti kita contoh mentah-mentah untuk dipraktekkan pada zaman sekarang,
sebab kita berhadapan dengan konteks sejarah yang berbeda.

JIL sama sekali tidak mengungkit-ungkit masalah ibadah. Saya sadar
tidak semua hal dalam agama bisa dirasionalkan. Ada dimensi-dimensi
tertentu dalam agama yang tak bisa sepenuhnya dipahami secara rasional.
Contoh yang baik adalah masalah ibadah. Yang saya maksud di sini adalah
ibadah dalam pengertian yang terbatas, yaitu apa yang sering disebut
dengan ibadah mahdah
alias ibadah murni seperti salat, puasa dan haji. Tata cara ibadah
dalam Islam, menurut saya, berlaku sepanjang zaman dan tidak bisa
dirasionalkan.

Tentu ada sejumlah tata-cara ibadah yang bisa didiskusikan ulang. Tidak
semua hal berkenaan dengan tata-cara ibadah bersifat "harga mati".
Misalnya, saat saya kecil di kampung dulu, ada diskusi hangat antara
kalangan NU dan Muhammadiyah mengenai boleh tidaknya menyampaikan
khutbah Jumat dalam bahasa selain Arab. Kiai-kiai NU berkeras bahwa
khutbah Jumat harus disampaikan dalam bahasa Arab, sebab Nabi dulu
memakai bahasa itu dalam khutbah.

Kalangan Muhammadiyah berpandangan lain: khutbah tujuan pokoknya adalah
untuk memberi pengertian dan informasi kepada jamaah. Bagaimana
pengertian itu bisa sampai kepada mereka jika tak memakai bahasa yang
bisa mereka pahami? Dalam hal ini, cara berpikir Muhammadiyah, menurut
saya, cenderung liberal, sementara kiai-kiai NU cenderung konservatif.

Sekarang, praktek khutbah dengan bahasa non-Arab sudah diterima secara
umum baik oleh kiai NU maupun, apalagi, tokoh-tokoh Muhammadiyah.
Meskipun di kampung saya, hingga sekarang masih ada beberapa kiai yang
tak bisa menerima khutbah dalam bahasa Indonesia atau Jawa. Paman saya
di kampung yang mengelola sebuah pesantren, masih tetap memakai bahasa
Arab dalam khutbah Jumat. Dia tetap berpandangan bahwa khutbah yang
disampaikan dalam bahasa lokal, bukan Arab, tidak sah dan karena itu
salat Jumat juga menjadi tidak sah pula.

Masalah serupa sekarang muncul dalam konteks salat: apakah kita boleh
memakai bahasa non-Arab dalam salat? Sebagaimana kita tahu, salat
adalah kata Arab yang secara harafiah artinya doa. Apakah kita harus
berdoa hanya dalam bahasa Arab saja, atau bolehkah berdoa dalam salat
dengan bahasa lain, misalnya Jawa, Madura, Sunda, atau Batak? Bukankah
doa dengan bahasa lokal yang kita pakai sehari-hari lebih baik
ketimbang bahasa Arab yang untuk beberapa orang sama sekali tak
dipahami?

Umumnya umat Islam tidak bisa menerima ide tentang salat memakai bahasa
non-Arab. Bahkan kalangan Muhammadiyah yang cukup "liberal" dalam kasus
khutbah Jumat, umumnya bersikap konservatif dalam masalah yang satu ini.

Itu adalah beberapa contoh tata cara ibadah yang masih terbuka untuk
didiskusikan. Tetapi, pada umumnya, tata cara ibadah bersifat "fixed"
alias harga mati. Jumlah rakaat salat, misalnya, tidak bisa kita
diskusikan lagi. Waktu salat juga sudah ditentukan oleh agama. Kita tak
usah terlalu jauh mempersoalkan kenapa salat Magrib berjumlah tiga
rakaat, Isya empat rakaat, Subuh dua rakaat, dan seterusnya. Boleh saja
kita mereka-reka alasan di balik tata cara itu. Pada akhirnya, hal-hal
yang berkaitan dengan ritual itu bersifat ta'abbudi, alias tidak bisa
dirasionalkan.

Sebagai seorang Muslim liberal, saya tak pernah mempersoalkan
masalah-masalah yang masuk dalam wilayah ibadah murni itu. Sebuah hadis
terkenal menegaskan, "al-salah mukh-kh al-'ibadah", salat atau berdoa adalah
"the crux"
atau inti ibadah. Hadis ini dengan tepat sekali memotret fenomena
keberagamaan bukan saja dalam Islam, tetapi juga dalam semua agama.
Kalau kita telaah agama-agama dunia, berdoa, meditasi, sembahyang atau
praktek-praktek serupa adalah unsur pokok di sana yang tak bisa
dihindarkan.

Oleh karena itu, sembahyang buat saya memiliki kedudukan yang penting
dalam keislaman yang saya pahami. Sembahyang di sini saya mengerti
dalam dua makna sekaligus, yaitu sembahyang secara teknis yang sering
disebut salat
dengan tata-cara yang sudah ditetapkan dalam Islam, maupun sembahyang
dalam pengertian berdoa dan meditasi secara umum. Saya melakukan dua
hal itu sekaligus.

Spiritualitas menempati kedudukan penting dalam modus keberagamaan
saya. Meminjam istilah William James yang dikenal luas melalui bukunya The
Varieties of Religious Experience" itu, beragama yang "genuine" ditandai oleh
semacam gejala seperti "flu berat" (acute fever).
Beragama yang hanya mengikuti tradisi saja tanpa pengalaman
spirtualitas yang mendalam oleh James disebut sebagai pengalaman yang
menyerupai "baju bekas", (istilah yang dipakai oleh James adalah second hand
religious life).

Dengan demikian, salat atau sembahyang menempati kedudukan yang penting
dalam pemahaman Islam liberal saya. Entah dari mana sumbernya, ada
suatu persepsi di sebagian kalangan masyarakat bahwa Islam liberal sama
dengan tidak salat, tidak puasa, dan mengabaikan ibadah sama sekali.
Ini jelas persepsi yang keliru sama sekali.

PERBEDAAN mendasar antara saya berserta teman-teman Muslim liberal lain
dengan kalangan Islam konservatif pada umumnya adalah pada aspek
interpretasi dan perspektif pemahaman. Meskipun saya berpandangan bahwa
tidak semua hal dalam agama bisa dirasionalkan, pada saat yang
bersamaan saya juga berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama
harus melulu dianggap sebagai semata-mata perintah Tuhan yang tidak
bisa dicari dasar-dasar rasionalisasinya, tak bisa dinalar.

Islam memang berarti ketundukan. Muslim berarti orang yang
tunduk. Kalangan Islam konservatif, dengan interpretasi tertentu,
hendak mengatakan bahwa sebagai Muslim, kita harus tunduk pada perintah
Tuhan tanpa reserve, tanpa ba-bi-bu. Kita tak diperbolehkan
untuk mempertanyakan kenapa Tuhan memerintahkan hal ini, melarang itu.
Tugas manusia nyaris seperti "budak" yang taat tanpa berpikir pada
sebuah perintah.

Pemahaman keislaman seperti ini, dalam pandangan saya, jelas sama
sekali tak tepat. Dalam Quran sendiri, berkali-kali kita menjumpai
ayat-ayat yang disudahi dengan sebuah pertanyaan retoris berbunyi "afala
ta'qilun", apakah kalian tak memakai akal, atau "la'allakum tatafakkarun" atau
"afala tatafakkarun", apakah kalian tak berpikir.

Ayat yang menarik perhatian saya sejak dulu adalah berikut ini, "inna syarra
al-dawabbi 'inda al-Lahi al-shumm al-bukm al-lazina la ya'qilun."
(QS 8:22). Terjemahan bebas ayat itu: seburuk-buruk binatang melata di
muka bumi adalah orang-orang tuli dan bisu yang sama sekali tak memakai
akal mereka.

Ayat di atas bukan semacam kutukan bagi mereka yang secara fisik
menderita cacat tuli dan bisu. Dua kata itu dipakai dalam ayat di atas
secara metaforis. Ayat itu sudah menjelaskan dirinya sendiri: tuli dan
bisu di sana merujuk kepada orang-orang yang tak memakai akal. Yakni
mereka yang hanya tunduk pada tradisi dan pemahaman yang sudah berlaku
umum, tanpa memeriksa pemahaman itu secara kritis dengan akal sehat.

Memakai akal adalah perintah Tuhan itu sendiri. Jika seseorang
mengikuti perintah agama dengan sikap kritis, itu bukan berarti ia tak
tunduk pada perintah tersebut, tetapi justru ia melaksanakan perintah
itu sendiri. Sebab, dalam banyak ayat Tuhan mengkritik perilaku mereka
yang hanya mengikuti apa yang sudah ada tanpa berpikir kritis. Bacalah
ayat berikut ini: qalu wajadna aba'ana kazalika yaf'alun
(QS 26:74). Terjemahan bebas: mereka berkata, kami hanya mengikuti saja
apa yang telah dilakukan oleh bapak-bapak kami sebelumnya.

Ayat itu adalah kritik terhadap masyarakat pada masa Nabi Ibrahim yang
"ngotot" merawat tradisi keagamaan mereka tanpa berpikir kritis. Mereka
menolak dakwah Ibrahim dengan alasan yang sangat "tipikal" pada semua
masyarakat manapun: kami hanya mengikuti tradisi yang sudah dijamin
teruji; kami tak mau ambil resiko mengikuti anda yang belum jelas
reputasinya. Masyarakat manapun memang cenderung konservatif, alias
menjaga tradisi dan merawatnya secara membabi-buta, walaupun
bukti-bukti rasional menunjukkan bahwa praktek yang ada itu sudah tak
tepat sama sekali dan berlawanan dengan semangat zaman.

Ayat itu relevan sebagai kritik bukan saja untuk masyarakat pada masa
Nabi Ibrahim, tetapi juga keadaan umat Islam sendiri saat ini. Semangat
taklid buta tanpa berpikir kritis sangat dikecam dalam banyak ayat di
Quran.

Itulah "tuli" dan "bisu" yang dikritik oleh Quran: sikap keras kepala,
tak rasional, tak mau membuka diri pada perembangan baru yang ada dalam
masyarakat. Orang-orang seperti ini mempunyai prinsip yang khas:
pokoknya agama mengatakan A, ya sudah, saya mengikutinya tanpa bertanya
apapun. Orang-orang semacam ini merasa tunduk pada perintah Tuhan,
padahal mereka mengabaikan perintah Tuhan yang lain untuk berpikir
kritis.

Oleh Quran, orang-orang semacam ini disebut sebagai "syarr al-dawabb", binantang
melata yang paling buruk. Kata "dabbah" (bentuk tunggal dari kata "dawabb")
secara harafiah berarti "kullu ma yadibbu 'ala al-ard",
segala hewan yang merangkak atau melata di muka bumi. Meskipun kata
"dabbah" biasa dipakai untuk menyebut hewan yang biasa dikendarai
sebagai alat transportasi (seperti kuda, keledai, atau unta), yang
dimaksud dengan kata itu dalam ayat di atas adalah manusia. Dengan kata
lain, seburuk-buruk manusia adalah mereka yang tak memakai akal mereka.

Dengan bersembunyi di balik alasan "tunduk pada perintah Tuhan",
orang-orang yang disebut "syarr al-dawabb" itu menolak untuk memakai
pendekatan yang kritis dalam memahami perintah-perintah agama.

Pemahaman Islam liberal yang saya kembangkan ingin mengajukan cara
pandang yang lain. Berpikir kritis, termasuk dalam memahami
perintah-perintah Tuhan, adalah bagian dari keislaman itu sendiri.
Berpikir secara rasional dalam masalah agama adalah bagian dari
perintah agama itu sendiri. Berpikir kritis dalam agama bukan berarti
membangkang terhadap agama.

DENGAN mengecualikan aspek ibadah murni, saya cenderung mengembangkan
pemamahan keislaman yang rasional, kontekstual, dan humanis. Banyak hal
yang selama ini dianggap sebagai perintah agama, tetapi sebetulnya jika
kita telaah dengan kritis hanyalah cerminan dari keadaan sosial pada
masa tertentu yang makin tak relevan dengan berlalunya zaman.

Sejumlah contoh bisa saya sebutkan di sini.

Hingga sekarang, masih banyak negeri-negeri Arab teluk, termasuk Saudi
Arabia, yang menolak mengangkat perempuan sebagai anggota parlemen.
Berdasarkan "petuah" dan "fatwa" ulama konservatif di negeri-negeri
itu, mereka berpandangan bahwa praktek mengangkat perempuan menjadi
anggota parlemen berlawanan dengan Islam. Sebuah hadis terkenal sering
dijadikan sebagai sandaran argumen, "ma aflaha qawmun wallau amrahum imra'atan."
Terjemahan bebasnya: bangsa yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang
perempuan tak akan beruntung, alias akan gagal.

Beragama secara rasional dan kritis seperti saya pahami dalam kerangka
Islam liberal akan mencoba mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.

Benarkah perempuan tak mampu menjadi pemimpin? Apakah secara empiris
itu dibuktikan dalam realitas empiris? Bukankah banyak perempuan yang
sukses menjadi pemimpin? Kalau perempuan dalam masyarakat tertentu tak
mampu menjadi pemimpin, apakah hal itu karena faktor intrinsik dalam
diri mereka, atau karena masyarakat tak memberikan kesempatan pada
mereka untuk memperoleh ketrampilan sebagai pemimpin? Taruhlah hadis
itu benar diucapkan oleh Nabi, apakah ia tetap relevan diberlakukan
hingga sekarang, ataukah itu terkait dengan keadaan spesifik pada zaman
Nabi saja? Apakah masuk akal ajaran agama yang konon berasal dari Tuhan
menghalangi hak perempuan untuk menjadi pemimpin dalam masyarakat,
padahal jumlah mereka adalah separoh dari penduduk bumi? Tuhan macam
apa yang memberikan ajaran semacam ini? Ataukah kita sendiri yang tak
tepat memahami ajaran Tuhan itu?

Bertanya secara kritis semacam ini bukan melawan esensi Islam sebagai
agama ketundukan. Sebagaimana sudah saya tunjukkan di muka, bertanya
secara kritis adalah bagian dari perintah agama itu sendiri. Sekali
lagi, kita tunduk pada perintah Tuhan bukan seperti "budak bego" yang
sama sekali tak berpikir. Kita tunduk tetapi harus dengan cara-cara
yang rasional. Tunduk secara membabi-buta tanpa berpikir disebut oleh
Quran sebagai tindakan orang-orang yang masuk kategori "syarr
al-dawabb", "the ugliest animal", binatang yang teramat buruk.

Contoh lain yang relevan untuk keadaan yang kita saksikan di sejumlah
negeri-negeri Islam saat ini adalah masalah hukum hudud
yaitu hukum pidana Islam seperti potong tangan, cambuk, dan lontar
batu. Sebagaimana kita tahu, hukuman bagi pidana pencurian yang
memenuhi syarat-syarat tertentu menurut Quran adalah potong tangan (QS
5:38). Saat ini, muncul sejumlah gerakan Islam yang ingin menerapkan
syariat Islam sebagai hukum negara. Hukum potong tangan adalah salah
satu ajaran yang hendak mereka perjuangkan untuk menjadi hukum negara
yang tentu bisa di-enforce melalui aparat pemerintah.

Membaca ayat di atas, kita bisa mengajukan sejumlah pertanyaan: apakah
teknik menghukum pidana pencurian bersifat statis? Bukankah teknik
pemidanaan dan penghukuman berkembang terus sesuai dengan perkembangan
peradaban dan kematangan mental manusia? Bukankah hukum potong tangan
itu warisan dari praktek-prektek penghukuman pada masyarakat kuno yang
sangat kejam? Bukankah Islam hanya meminjam saja praktek-praktek
penghukuman yang sudah ada? Jika perkembangan teknik penghukuman
berkembang terus, apakah kita tak perlu meninjau "hukum Tuhan" itu?
Bukankah yang penting adalah esensi penghukuman, bukan cara menghukum?

Sekali lagi, bertanya seperti itu adalah bagian dari perintah agama,
bukan melawan perintah agama seperti dikesankan oleh kaum Islam
fundamentalis di mana-mana.

Sikap kritis semacam ini perlu kita kembangkan untuk memahami sejumlah
ajaran dalam Islam. Sekali lagi, saya menganjurkan sikap ini di luar
masalah ibadah murni. Dalam masalah ritual murni, saya menjalankan saja
perintah agama dengan ketentuan-ketentuan yang ada. Meskipun
detil-detil ketentuan itu masih bisa tetap diperdebatkan.

Kenapa sikap kritis saya berhenti pada saat berhadapan dengan masalah
ibadah murni? Ini pertanyaan yang diajukan oleh beberapa teman kepada
saya. Tidak mudah menjawab pertanyaan ini, dan saya tak memiliki
pretensi untuk bisa menjawabnya secara memuaskan. Secara umum, jawaban
saya adalah sebagai berikut. Masalah-masalah ibadah murni cenderung
bersifat arbitrer, alias acak dan tanpa alasan yang jelas.

Sebagai perbandingan, kita bisa mengambil sejumlah contoh tindakan
arbitrer dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh adalah praktek
berlalu-lintas di sebelah kiri seperti kita jumpai di Indonesia. Kita
bisa bertanya, kenapa kita tak memakai sistem lain, yaitu lalu-lintas
dari sebelah kanan seperti berlaku di banyak negeri Eropa atau Amerika.
Tentu kita bisa memberikan alasan pembenar untuk masing-masing praktek
itu. Tetapi, pada akhirnya, jawaban yang paling masuk akal adalah: itu
semua adalah pilihan suka-suka saja, alias arbitrer. Baik kanan atau
kiri tidak mengandung alasan yang subtansial. Yang penting, lalu-lintas
aman dan tertib.

Masalah ibadah murni kurang-lebih sama dengan hal itu, meskipun tidak
persis. Kita bisa bertanya, kenapa salat Magrib berjumlah tiga rakaat,
kenapa tida empat, kenapa tidak lima; kita juga bisa mencoba memberikan
alasan-alasan pembenar. Tetapi, pada akhirnya, tak ada alasan yang
masuk akal kecuali bahwa hal itu bersifat arbitrer. Tuhan sudah
menentukan demikian, kita tinggal menjalankannya saja. Bagi saya, semua
jenis ibadah yang dipraktekkan oleh agama apapun, sama statusnya: yaitu
arbitrer. Yang penting di mata saya adalah bukan bagaimana cara
beribadah, tetapi apakah anda bisa menghayati spiritualitas yang
"genuine" dengan cara ibadah yang anda ikuti itu atau tidak.

Semua orang beribadah dengan tujuan yang sama: membangun komunikasi
dengan Tuhan sebagai Sumber, Pemberi, dan Pemelihara Kehidupan.
Masing-masing agama memiliki cara ibadah yang "arbitrer". Tak ada
alasan yang substansial di balik tata-cara ibadah itu.

Inilah pemahaman Islam liberal yang ingin saya kembangkan; yakni
beragama yang secara individual menekankan spirtualitas yang mendalam,
dan secara sosial memakai pendekatan yang rasional dan kontekstual.
Inilah corak agama yang memenuhi definisi Islam sebagaimana saya pernah
pelajari waktu duduk di madrasah ibtida'iyah (setara dengan SD) puluhan tahun
yang lalu.

Waktu kecil dulu, Islam, menurut buku pelajaran tauhid yang saya pakai
saat itu, adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW untuk membawa
kebahagiaan di dunia sekarang dan akhirat kelak. Hingga sekarang saya
masih ingat teks Arab definisi itu: al-Islam huwa al-din al-lazi ja'a bihi
Muhammadun SAW li sa'adat al-insani fi al-'ajili wa al-ajili.

Kebahagiaan ukhrawi, dalam pandangan saya, dicapai melalui pengembangan
spirtualitas yang mendalam. Sementara itu, kebahagiaan duniawi dicapai
melalui usaha membangun kehidupan sosial-politik yang masuk akal.
Definisi Islam seperti saya pelajari waktu kecil itu menarik sekali
karena relevan untuk kita terapkan pada hampir semua agama. Inti
definisi itu menggambarkan dengan baik sekali fungsi agama: yaitu
mencapai kebahagiaan, entah di dunia sekarang, atau dalam kehidupan
kelak. Tekanan ingin saya letakkan pada kata "kebahagiaan".

Mereka yang belajar filsafat Islam, akan dengan mudah menemukan
relevansi konsep kebahagiaan ini dalam tradisi filsafat Islam yang
sangat kuat dipengaruhi oleh filsafat Yunani. Kalau kita telaah
karya-karya Al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina (w. 1037 M) atau Ibn
Miskawayh (w. 1030 M), kita akan menjumpai pembahasan yang menarik
tentang konsep kebahagiaan. Dalam pandangan mereka, ada dua jenis
kebahagiaan, yaitu kebahagiaan teoretis (al-sa'adah al-nazariyyah) yang
diajarkan oleh filsafat, dan kebahagiaan praktis (al-sa'adah al-'amaliyyah) yang
diajarkan oleh para nabi. Dua-duanya sangat vital dalam mencapai hidup yang
bahagia.

Dalam filsafat Yunani, terutama dalam tradisi Plato, kita kenal konsep
eudaimonia, yaitu kombinasi antara "kebajikan" (arete) dan "pengetahuan"
(episteme). Dalam konsepsi ini, kebahagiaan sudah mengandung dua elemen
sekaligus, yaitu pengetahuan (antara lain mengenai yang baik dan buruk) dan
kebajiikan atau "virtue".
Istilah "virtue" ini diterjemahkan dalam tradisi filsafat etika Islam
sebagai "akhlaq". Sementara itu, istilah akhlak sendiri sering
didefinisikan dalam filsafat Islam klasik sebagai "malakah" atau
"habitus", yakni kebiasaan yang terbentuk dalam fakultas mental kita
dan kemudian diterjemahkan menjadi suatu tindakan praktis. Akhlak atau
"virtue" dalam pengertian "malakah" adalah semacam "etika yang
tertubuhkan" (embodied ethics).

Dengan kata lain, agama adalah jalan menuju kepada kebahagiaan itu.
Kebahagiaan akan dicapai jika seluruh fakultas mental kita diberi
keleluasaan untuk bekerja, bukan dikekang atas nama tradisi atau
pemahaman tertentu. Oleh karena itu, etika kebebasan menjadi sangat
vital dalam usaha mencapai kebahagiaan itu. Mereka yang tak bebas
secara mental jelas mengalami depressi, dan itu sama sekali tidak
bahagia.

Tetapi kebahagiaan juga tidak cukup hanya dengan mengembangkan fakultas
mental belaka. Kita harus bertindak secara benar dalam kehidupan
sehari-hari. Saat berbuat sesuatu yang benar dan baik, seseorang akan
mengalami perasaan bahagia dan bebas. Sebaliknya, seseorang yang
bertindak salah akan merasa resah, tertekan, dan tidak bahagia.

Agama adalah jalan mencapai kebahagiaan "teoretis" dan "praktis" semacam itu.

Oleh karena itu, mereka yang mengajarkan keislaman dengan cara
merepresi kebebasan akal dan berpikir secara kritis, sama saja
mengajarkan kebahagiaan yang tak seimbang, seperti burung dengan satu
sayap saja. Tak ada gunanya kita tunduk pada perintah harafiah Tuhan
jika kita tak bisa mempertanyakan perintah itu. Bertanya secara kritis
adalah bagian integral dalam proses menuju kebahagiaan atau sa'adah.

Inilah perpsepektif Islam liberal yang ingin saya kembangkan. Inilah
cara saya memahami Islam. Saya merasa tenteram dan bahagia dengan
pemahaman semacam itu. Sebetulnya, pandangan semacam ini sudah ada pada
banyak kalangan dalam masyarakat. Hanya saja, jarang orang yang berani
mengatakannya dengan terus terang, entah khawatir "diteror" oleh
kalangan Islam radikal-fundamentalis, takut di-cap sesat, atau khawatir
kehilangan "posisi soial" tertentu.

Kita tak boleh tunduk atau takut pada ancaman kaum radikal-fundamentalis.

Ulil Abshar Abdalla

Tulisan Ulil lainnya yang berkaitan

Ulil Abshar-Abdalla: Doktrin2 yang kurang perlu dalam Islam
http://www.superkoran.info/content/view/1259/88888889/

Ulil Abshar Abdalla: Beberapa pengalaman salat Jumat di Jakarta
http://www.superkoran.info/content/view/1995/88888889/

Ulil Abshar Abdalla:Sejumlah kontradiksi dalam cara berpikir Abu Bakar Ba’asyir
http://www.superkoran.info/content/view/1998/88888889/