Tag

 Perjuangan Ulil mendendangkan kemoderatan Islam saya dengar cukup intens. Setelah membaca beberapa tulisannya timbul juga perasaan iba lantaran secara psikologis nampaknya dia berada dalam posisi yang amat rapuh.
Ini adalah salah satu contoh. Tulisan Ulil yang mengecam Abu Bakar
Ba’asyir sebagai orang orang penuh ilusi dengan keinginannya
memberlakukan syariat Islam dan ke anti-demokrasian yang bertentangan
sunnah Nabi. Saya baca ulang beberapa chapter sejarah Islam. Inginnya
saya membenarkan Ulil dan menyalahkan Ba'asyir. Mencoba untuk menjadi
pengamat yang netral – adalah kebohongan moral untuk menyalahkan
Ba'asyir. Di periode Madinah, bukan saja Islam memiliki ciri ciri
teokrasi atau Allah-krasi tapi nabi Muhammadnya juga adalah pemimpin
yang paling antikritik alias anti oposisi. Seperti Khomeini atau Hitler,
dia tidak memberi ampun pada orang yang berani menentang pendiriannya.
Beberapa penyair yang dianggap melakukan penghinaan dibunuh atas restu
Muhammad. Adalah sebuah penghinaan terhadap terhadap akal sehat jika
kita memberikan predikat Muhammad cap seorang liberal atau demokrat
yang toleran.

Ulil nampaknya mengalami semacam konflik spritual. Saya yakin dia tahu
persis bahwa bukan Ulil yang mewakili wajah Islam sesungguhnya, tapi
Ba'asyirlah yang benar benar wajah Islam.

Orang yang terakhir ini bukan cuma mempraktekan ajaran Nabi dengan baik
seperti memaksakan syariat Islam, ethnic cleansing, anti Nasrani dan
Yahudi. Tapi juga simbol murni Arab Imperialis. Ulil yang mencoba memamerkan wajah Islam liberal justru sedang melakukan kampanye kebohongan historis.Tidak ada liberalisme di jaman nabi. Semua perjanjian yang dibuat dulu adalah keputusan politik yang selalu menguntungkan umatnya. Begitu Muhammad menguasai Mecca, kebebasan lenyap beserta dengan runtuhnya semua dewa orang pagan di dalam Kabbah. Mecca dengan sekejab cuma bisa dihuni oleh umat penyembah Allah (baca Islam). Keputusan yang sangat aliberal tentu saja.

Saya tidak menyalahkan Ba'asyir sebab dia justru mewakili good moslem
atau Islam yang sesungguhnya.Muslim yang mempraktekan agamanya dengan
sungguh sungguh akan melahirkan muslim yang intoleran dan brutal.
Keberuntungan kenapa kebrutalan di Indonesia tidak separah di negara
negara berbahasa arab lantaran-mayoritas muslim Indonesia adalah muslim kultural. Sebagian besar mereka tidak paham bahasa Arab. Mereka melakukan upacara ritual dengan jampi jampi yang tidak dimengerti.Ironis memang-seorang Muslim yang setengah setengah justru adalah Muslim yang lebih manusiawi.Walaupun pembagian antara 2 tipikal muslim begitu amat mudah, yang sangat problematik justru adalah posisi Ulil ini.

Susah untuk memposisikan dia sebagai a good moslem lantaran apa yang dia
sedang perjuangkan justru inkarul sunnah alias pengingkaran terhadap ajaran Rasullulah.

Tapi menyebut dia sebagai seorang muslim kultural juga hampir tidak
mungkin.Kebiasaan dia membaca menunjukan bahwa dia bukan seorang muslim
yang biasa biasa.Hati dari orang yang berniat baik seperti dia, pastilah merasa begitu tersiksa oleh paradoks dan kontradiksi di agamanya sendiri, bukan di Abu Bakar Ba’asyir.

Saya pernah merasa seperti Ulil dulu sekali. Mencoba memperbaiki imej
Islam dan mencoba memposisikan diri di tengah. Tapi sampai satu titik
akhirnya saya harus mengakui bahwa apa yang saya perjuangkan adalah
sebuah fallacy. Ulil nampaknya belum berani melangkah keluar dari
comfort zone. Amat tersiksa memang begitu anda melangkah, anda akan
menyadari bahwa anda merasa begitu sendirian.A long and lonely road.
Penuh pertengkaran batin, kesepian yang sangat, ranjau ranjau filosofi yang menjebak . Bahkan rasio anda yang menuntut kebenaran itu akan mendera anda siang malam.

Tapi pada satu titik, proses melelahkan itu bakalan hilang. Lalu anda seperti lahir kembali. Lepas dari semua beban dogma dogma mistik. Pada saat itulah anda bisa memaklumatkan anda adalah mahluk yang merdeka, atau bisa juga secara humble seperti Al Hallaj anda mengakui tuhan itu bukan berada di langit sana tapi ada di diri sendiri.

Sungguh senang mengenal seorang Ulil dengan keberanian dia memerangi
Ba'asyir. Tapi amat melelahkan membaca pembelaan dia yang bertele tele
tentang Islam liberal dan moderat yang secara historis tidak pernah ada.
Maka sebagai pengamat netral -saya dengan berat hati memberikan angka merah buat Ulil. Dan A plus untuk Abu Bakar Ba'asyir.

Habe