Babah adalah kata ganti untuk keturunan Tionghoa Peranakan di Indonesia,umumnya bapak asli China ibu asli pribumi Nusantara,jadi sesuai hukum Mendel kadar darah generasi pertama[F1] Babah adalah 50% China dan 50% Pribumi. (foto Kwee Thiam Tjhing di djaminodjoliteng.blogspot.com)

Lahirnya generasi pertama kaum Babah tersebut jauh sebelum NKRI
diproklamirkan dan sebelum Belanda Menjajah Nusantara,dari hasil penemuan
barang2 peninggalan[terutama keramik,alat2 dapur dan patung zaman Dynasti
Han]oleh peneliti2 barat diyakini bahwa sejak awal abad pertama orang  Tionghoa
sudah bermukim di Nusantara.

Sedangkan dari buku kisah perjalanan Mahuan[Ying-Yai Sheng-Lan] yang mendampingi
Cheng Ho pada tahun 1418 sudah ditemui permukiman2 Tionghoa di kota2 pelabuhan
seperti Tuban,Gresik dan Surabaya serta mata uang yang dipakai adalah mata uang
Tiongkok,juga diceritakan bahwa di Nusantara saat itu ada tiga macam penduduk
yaitu: orang Muslim[datang dari barat]dan Orang Tionghoa yang hidupnya sudah
beradab serta penduduk pribumi yang masih"primitip".

Karena awalnya semua orang Tionghoa yang migrasi ke Nusantara hanyalah kaum
lelaki,maka terjadilah kawin campuran dengan suku2 lain yang sudah bermukim di
nusantara,keturunan yang terlahir dan melepaskan identitas Chinanya seperti nama
dan agama Konghucu melebur menjadi Pribumi, sedangkan yang tetap mempertahankan
identitas Tionghoa disebut babah atau non pri.

Gambar: Komik Put On – sumber Tjemboek.multiply.com)

Dari catatan2 diatas dapat disimpulkan Babah adalah BAGIAN tak terpisahkan dari
Bangsa Indonesia,;Indonesia adalah TANAH AIRNYA,TANAH TUMPAH DARAHNYA.
Dari data2 antropologi/archeologi ternyata suku Melayu berasal dari yunan sejak
3000 tahun sm,penyebutan Melayu Tua dan Melayu Muda untuk
menunjukan kapan[era] kedatangan mereka di bumi Nusantara,begitupun dengan
penyebutan PRIBUMI dan NON PRIBUMI[babah]hanyalah menunjukan kelompok yang
datang DULUAN dan yang datang KEMUDIAN dibumi Pertiwi ini.
 
 
Babah adalah"RAS BARU"di Nusantara,tidak berbudaya China juga bukan
berkebudayaan"asli"Nusantara,tetapi karena diasuh oleh Ibu pribumi mayoritas
mereka berbahasa IBU[bahasa lokal]tetapi tetap memelihara IDENTITAS China,salah
satunya adalah memakai nama China dan menganut KONG HU CU.
Setelah berabad2 hidup dibumi Nusantara tentu saja"KEMURNIAN"ras baru
tersebut sudah luntur akibat terjadi perkawinan campur kembali dengan
pribumi,terutama untuk babah generasi pertama[atau mungkin sampai
ketiga]mengingat populasi babah saat itu masih sedikit sekali,tentu saja berlaku
juga untuk kaum perempuannya.

[tube]mc29H3NyY3Y[/tube]

Dengan kemajuan transportasi juga mendorong terjadinya perkawinan silang antar
Babah Jawa dengan Babah Sumut/Babah Sumut dengan babah Sumbar/babah Kaltim
dengan Babah Kalbar/Babah dengan Totok, juga antar Babah dengan Pribumi dan lain
lainnya,tentunya "kadar"darah babah dari generasi kegenerasi semakin
bervariasi,yang jelas kadar darah"pribumi"nya lebih dominant.
 
Secara obyektif memang pembawaan[gaya penampilan] seorang babah dengan
seorang"pribumi"memang berbeda,hal tersebut terjadi mungkin karena pengaruh
"BUDAYA"dan pola makannya,tetapi dari anatominya sulit dibedakan.
Tidak beda pembawaan babah Jawa dengan babah Sumatera/Kalimantan maupun babah
Indonesia Timur,begitupun dengan"Pribumi"Jawa dengan "pribumi"luar pulau
semuanya juga berbeda2 pula.
Dari aspek tersebut sesungguhnya politik*generalisasi dan diskriminasi *yang
dijalankan pemerintah jelas2 DOSA POLITIK,sikap demikian inilah yang paling
tepat disebut sebagai PEMBUNUHAN CHARACTER ANAK BANGSA,sehingga banyak Babah
yang TERHALUNISASI bahwa dirinya hanya  NUMPANG HIDUP DI NKRI sehingga sikapnya
serba KIKUK layaknya anak indekosan.
 
 
 Realita dilapangan babah masih diperlakukan diskriminatip meskipun sejarah
keberadaan babah di Nusantara jauh lebih awal dibandingkan dengan terbentuknya
NKRI,bahkan sejak ORBA mayoritas babah sudah melepaskan identitas
Tionghoanya,sudah memakai nama Indonesia dan memeluk agama lain.

Ter-asing-nya Babah dari masyarakat pribumi jelas bukan karena darah
Chinanya,tetapi karena terkondisikan oleh politik diskriminasi yang dilakukan
oleh penguasa2 Nusantara [Belanda dan Jepang]maupun penguasa2 NKRI,selama ini
babah dipaksa TERCERABUT DARI AKARNYA yaitu Bangsa Indonesia.

Ketika era Belanda dan Jepang jelas karena demi kepentingan ekonomi  dan
kepentingan politik mereka,Belanda memperalat babah untuk melancarkan bisnisnya
dengan kelompok petani,dalam kepentingan politik Belanda takut bila babah
bersatu dengan pribumi akan mempunyai kekuatan yang sulit dilawan,sebab Babah
saat itu relatip mempunyai inteligensi diatas rata2 penduduk"pribumi".
Sudah seharusnya setiap Babah melawan pembunuhan character yang dialaminya
selama ini dan MULAI MENANAMKAN dalam lubuk hatinya masing2 bahwa IBU PERTIWI
ADALAH IBU KANDUNG KITA,SETIAP WNI ADALAH SAUDARA SEDARAH KITA!.
 
MERDEKA.
 
singo.