Meskipun sudah 63 tahun merdeka sesungguhnya bangsa Indonesia BELUM PERNAH menemukan masa depannya,jadi kata KEMBALI terpaksa harus dimasukan dalam tanda kurung,karena masa depan bangsa Indonesia sesuai dengan pembukaan UUD 45 adalah MASYARAKAT YANG ADIL DAN MAKMUR,yang realitanya tambah jauh panggang dari api. Untuk mencapai kemakmuran PANGLIMA yang paling cocok adalah EKONOMI bukan POLITIK seperti yang terjadi selama ini dimana rakyat terus digonjang ganjingkan dengan ideologi2 politik yang terbukti tambah menjauhkan bangsa Indonesia dari cita2 masa depannya.

Jadi para pemimpin yang hanya pandai pamer RETORIKA harus dilempar jauh2,rakyat
Indonesia sangat membutuhkan pemimpin yang bisa memamerkan KINERJANYA.
 
Sungguh memilukan mendengar pemimpin yang hanya demi retorika dengan bangga
mengatakan bahwa :*Pemerintah telah mampu menekan angka kemiskinan*;ada dua hal
yang harus disikapi:

-Pertama: realitanya tambah banyak rakyat yang menjadi miskin akibat
kebijaksanaan ekonomi pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat yaitu  menaikan
harga BBM,jadi pernyataan tersebut bisa dikatagorikan sebagai  iklan politis
yang menyesatkan.

-Kedua: Harus dinilai sebagai GAGAL,bila seseorang Memimpin NKRI yang kaya raya
sumber daya alamnya,sampai terdapat SEORANG[saja]warganya yang hidup dibawah
garis kemiskinan,apalagi kalau sampai ada puluhan juta jiwa yang melarat abadi.
Kewajiban pemimpin bukan hanya menekan angka kemiskinan,tetapi harus melenyapkan
kemiskinan diseluruh bumi nusantara ini,rakyat butuh BUKTI bukan RETORIKA!.
 
Dengan lolosnya hampir 40 parpol untuk ikut dalam pemilu 2009 ,jelas
"MUSIBAH"politik yang akan menjauhkan bangsa Indonesia dari cita2 proklamasi
kemerdekaan RI sudah mengancam didepan mata,mayoritas pemimpin2 parpol2
tersebut hanyalah"pemain2 lama",mereka adalah orang2 yang tersingkir dari
partainya,jadi pembentukan2 parpol baru hanyalah untuk kepentingan sempit mereka
saja.

Lolosnya parpol2 tersebut merupakan signal bahwa pemimpin2 NKRI tetap
menghendaki politik adalah panglima di NKRI,jadi masa depan seluruh rakyat
Indonesia sudah ditetapkan oleh mereka dari sekarang yaitu KEMELARATAN ABADI!!.
Ternyata KESAKRALAN UPACARA PERINGATAN HARI KEMERDEKAAN INDONESIA yang dilakukan
di seluruh Indonesia tidak mampu menyentuh nurani pemimpin2 Indonesia agar ingat
TUJUAN PROKLAMASI 17/8 45,bahkan ritual tujuh belasan justru dimanfaatkan untuk
membangun PENCITRAAN DIRI  pemimpin2 dan sebagai forum retorika politik untuk
mengiklankan "keberhasilan2"nya.
 
Setelah 63 tahun merdeka jangankan Indonesia memiliki KORPORASI-KORPORASI
tangguh,yang sudah adapun DIOBRAL pada ASING,padahal penggerak ekonomi negara
adalah korporasi2 besar yang dimiliki negara,kesuksesan negara diukur dari
keberhasilan ekonominya,bukan banyaknya parpolnya.

Wajar bila rakyat Indonesia NELANGSA BATINNYA ketika membaca majalah FORTUNE
dimana tertulis PETRONAS[Malaysia],PTT[Thailand] dan FLEXTRONICS
International[S'pore],tercantum didalamnya dengan informasi pendapatan bersihnya
antara 27 sampai 66 millions dolar US/th;sedangkan PERTAMINA selalu
melaporkan KERUGIAN ABADI.

Dilain sisi perusahaan2 potensial seperti INDOSAT /TELKOMSEL sudah diborong
Temasek[BUMN Singapore], sedangkan perusahaan2 Malaysia memborong perkebunan2
raksasa dan bank2 swasta besar di Indonesia,lalu"SENJATA"bangsa Indonesia untuk
menemukan masa depannya APA?.

Negara2 seperti China,India,Taiwan dan Korea termasuk negara2 berkembang di Asia
yang memiliki 6 sampai 29 korporasi BUMN yang masuk dalam Fortune sebagai
korporasi2 berstandard GLOBAL dengan pertumbuhannya luar biasa sehingga mampu
menjadi soko guru pertumbuhan ekonomi negaranya masing2,sebaliknya tidak satupun
Indonesia memiliki BUMN yang masuk dalam Fortune,lalu dengan modal apa OPTIMISME
yang diucapkan presiden dalam pidato politik kenegaraannya kemarin?.
Dalam pasal 33 ayat 3 undang2 dasar Indonesia berbunyi:Bumi dan kekayaan alam
yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk kemakmuran
bersama,sedangkan ayat 2 berbunyi Cabang2 produksi yang penting bagi negara dan
yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara,tetapi realitanya
mulai dari perusahaan2 air minum,energi,tambang,perikanan,kehutanan,keuangan dan
perkebunan di Indonesia hampir tidak ada yang dikuasai oleh negara, hampir
seluruhnya dikuasai oleh swasta yang bermitra dengan asing,akibatnya
semua rakyat tahu bagaimana mereka dapat mendikte pemerintah baik dalam hal
volume produksi/penentuan harga bahkan kewajiban membayar royalti.
APAKAH TIDAK MENGERIKAN BILA POLITIK TERUS DIJADIKAN PANGLIMA,disamping terbukti
para pemimpin politik telah melakukan PEDANGKALAN MAKNA UUD 45,rakyat
juga sering merasakan dampak arogansi swasta2 tersebut,salah satunya PLN
terpaksa melakukan pemadaman bergilir gara2 tidak disuply batu bara oleh
perusahaan swasta.
 
Ironisnya pemimpin negara2 lain berjuang mati2an menciptakan KAPITALISME NEGARA
untuk menyejahterakan rakyat ,pemimpin2 Indonesia malah berlomba2 menciptakan
FEODALISME PARPOL yang sudah jelas2 menyengsarakan rakyat?.
Hampir seluruh pemimpin negara2 didunia MEYAKINI bahwa untuk membuat rakyat
sejahtera,makmur dan damai adalah MEMPERKUAT ekonomi negara agar terus tumbuh
secara merata dan bersih Korupsi;sebaliknya pemimpin NKRI malah berkutat pada
ideologi Politik untuk dipaksakan jadi panglima,sehingga tiada hari tanpa iklan
pencitraan diri para pemimpin2 tersebut ,setiap hari terlihat iklan
"pemimpin2"tersebut yang seolah2 demikian perduli pada nasib rakyat
kecil ,padahal rakyat butuh pertumbuhan ekonomi yang membahana bukan gairah
politik yang hiruk pikuk.
 nuwun sewu,
Singo.