Hari ini 17 Agustus 2008, sang Dalang menancapkan kembali "Gunungan" yang melambangkan babakan episode baru dari rangkaian perjalanan cerita kehidupan di Republik. Disamping sebagai waktu untuk rehat sejenak, jeda ini juga berguna untuk merangkum atas fragmen-fragmen filosofis dalam bunga rampai alur cerita yang baru saja disampaikan oleh sang Dalang. Juga untuk meditasi rohani, atas apa yang sudah didapat maupun apa harapan mendatang.

Bumi gonjang ganjing……. Ooooooo !!

Raden mas Republik sedang mengalami syamsara, tengah mendaki klimaks kacaunya situasi kehidupan. Yang dalam khasanah pakeliran wayang disampaikan dengan dhagelan melalui fragmen "goro-goro". Dalam babak inilah, para wong-clilik yang sebenarnya adalah para pemilik Republik, saling bertegur sapa dengan melontarkan "uneg-uneg" (curahan isi hati) yang dikemas dalam bentuk canda.
Dengan saling melemparkan sindiran (jw: ngÉ-nyek) yang sedikit menyerempet parodi kehidupan disekeliling mereka.

Disana juga terdapat seorang panutan, dengan tampilan figur seorang hamba yang sederhana. Karakter ini adalah khas seorang pembina dengan bahasanya yang asal asalan tetapi memiliki makna yang dalam serta penuh dengan kearifan seorang bapak. Sebagai seorang yang berstatus "Kawula-Alit" (orang kecil) namun bersifat sebagai gembala. Seorang CEO (Chief Executive Officer) kontemporer yang kharismatik sekaligus rasional.

Tokoh ini sering disebut Janggan Semarasanta kadang disebut juga Ismaya, tetapi lebih dikenal luas sebagai Kyai Semar. Hanya sosok seorang abdi, yang juga mengampu para Kesatria digdaya di pertapaan Sapta Arga.

Mungkin sudah saatnya jika Republik mencanangkan syarat syarat bahwa sebagai seorang pemimpin itu harus bisa sebagai Abdi.

Harus bisa menjelma dan mengejawantah raos (rasa) sebagai wong-cilik. Mampu meredam gejolak yang meletus dikalangan masyarakatnya. Yang juga konsisten dalam bersikap lagi tegas tanpa pandang bulu. Tidak asal bicara dan jualan janji. Yang dengan kedigdayaannya mampu menterjemahkan harapan rakyatnya menjadi sesuatu yang dapat dinikmati bersama.

Sebagai seorang pamong, Ki Semar lebih memperhatikan hasil akhir. "Sepi ing warta, rame ing gawe". Lebih mengutamakan kesederhanaan realitas output daripada hingar-bingar prosesnya.

Dari seorang abdi, tanpa semainan retorika janji manis, tanpa animasi yel-yel politik yang membahana, tanpa paparan keberhasilan semu yang dapat mengantarkannya menduduki singgasana sebagai seorang Pamong.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA

http://hhsamosir.blogspot.com