(sebuah catatan kecil menjelang penutupan Apakabar Yahoo mulai pekan depan) Bersilang kayu di tungku, di sana timbulnya api, untuk memasak nasi yang akan dimakan.
Apakabar, kita tahu, adalah adalah milis benturan, untuk menjalin saling
pengertian dan menghasilkan gagasan-gagasan bernas mengenai pluralisme sebagai
landasan Indonesia ke depan yang sekuler, yang menempatkan urusan mengatur
negara dan aktualisasi keyakinan warganya di tempatnya masing-masing.

Tetapi, tidak mudah menjadi seorang pluralis memang.

Untuk menjaga agar benturan tidak merusak pluralisme—satu-satunya keniscayaan
dalam penataan masyarakat yang majemuk—majemuk dalam ras, adat-istiadat dan
keyakinan kalau kita ingin membentuk dan memperkuat masyarakat sipil di Republik
tercinta ini, owner milis ini sudah menetapkan rambu-rambu dasar seperti yang
tercantum dalam File – PA15 & Yahoo Terms yang didistribusikan secara berkala.

Sejumlah “nama besar” terpaksa ditinggalkan karena melanggar aturan milis yang
bersifat mendasar.

Dengan tidak mermaksud “menepuk-nepuk punggung sendiri”, dengan tidak menutup
mata terhadap sejumlah kekurangan-kekurangan yang ada, Alhamdulillah, Apakabar
bisa tumbuh sesuai dengan visi dan misinya sehingga menjadi yang terbesar di
antara milis pluralis yang berbahasa Indonesia.

Artinya yang masuk Apakabar, menemukan apa yang ingin mereka cari di Apakabar,
walaupun setiap yang masuk Apakabar tidak otomatis menjadi seorang pluralis.

Bahwa Apakabar kadangkala menjadi tempat melepas unueg-uneg, dalam batas-batas
tertentu dapat dipahami, karena hanya di sinilah mereka bisa melakukaannya,
karena di sinilah mereka bisa merasa didengar.

Memang tidak mudah menjadi seorang pluralis. Apa hendak dikata, kepala sama
berbulu pendapat berbeda-beda, karena seperti itulah fitrah makhluk yang bernama
homo sapiens atawa manusia ini.

Tempo-tempo gesekan sangat berlebihan sehingga api di tungku menjadi
bergejolak yang dapat menghanguskan nasi di dalam dandang.

Tetapi saya dapat memahaminya.

Sebagai seseorang yang karena pekerjaan hampir selama 30 tahun terakhir ini
banyak bepergian—dan kadang-kadang ke berbagai pelosok tanah air. Malah
beberapa di antaranya saya sempat bemukim cukup lama, sehingga saya—tidak
ahli, tetapi—cukup memahami karakter berbagai suku di Indonesia, yang berasal
dari nilai-nilai. Bagi seseorang yang mengenal karakter dan nilai-nilai yang
dianut oleh etnis Bugis/Makassar, tentu paham dengan apa yang dimaksud dengan
“sirri”, yang dalam pepatah orang kampung saya, “dari pada hidup berputih mata,
lebih baik mati berkalang tanah”.

Etnis-etnis Madura, Banten, Palembang, Cirebon dan Aceh, untuk menyebut beberapa
nama, memliki karakter dan nilai-nilai yang hampir sama. Kerasnya sikap seorang
HZM, yang dikenal sebagai figur berskala nasional yang bersih lurus dan tegas,
dan sebagai pribadi hangat, humanis dan pluralis, dapat dipahami.

Bahkan ketika tinggal di Tanjung Priuk hampir selama 30 tahun, saya sempat
menyaksikan korban-korban konflik berdarah antar etnis yang bertemperamen keras
terjadi di depan mata..

Bahkan di Tanjung Priuk pula saya sempat merasakan menjadi seorang Tionghoa. Apa
pasal?

Seperti pernah saya ceritakan dalam sebuah tulisan ringan saya berhubungan
dengan Imlek di Superkoran sekitar 2 tahun silam, saya pernah ditodong sehabis
waktu Magrib di Terminal Bus Tanjung Priok. Berkat orang-orang berpengaruh di
lingkungan tempat tinggal saya, si penodong dapat ditemukan dan disuruh
mengembalikan jam tangan SEIKO saya yang dirampasnya. Ketika dia mendatangi saya
untuk mengembalikan—tepatnya mengganti dengan tipe yang lebih mahal, karena
jam saya sudah terlannjur dijualnya—dia mengatakan bahwa saya ditodongnya
karena—alamaakk—mengira saya orang Tionghoa! (Wajah saya memang mirip
Tionghoa/Jepang. Ketika saya baru tiba untuk bertugas di Aceh dulu seorang staf
PDAM Banda Aceh, pernah bersusah payah memperkenalkan dirinya kepada saya dalam
Bahasa Inggris, karena mengira saya orang Jepang, yang sudah tua tentu :D)

Dari pengalaman kecil saya ketika ditodong tersebut saya dapat menangkap begitu
besarnya prasangka rasial dari kalangan penduduk “pribumi” yang mayoritas
beragama Islam kepada etnis Tionghoa di Republik ini yang sewaktu-waktu bisa
meledak yang dalam bentuk yang sangat brutal seperti yang terjadi dalam
kerusuhan di bulan Mei sepuluh tahun silam di Jakarta dan sekitarnya. Perlu juga
dipahami bahwa prasangka-prasangka rasial seperti itu turun begitu saja turun
dari langit. Tetapi memukulratakan tindakan kriminal sejumlah pengusaha Tionghoa
seperti para penilap dana BLBI kepada mayoritas pengusaha Tionghoa yang maju
karena ulet, hemat dan professional jelas merupakan sikap yang keliru.
Loyalitas kepada tanah leluhur jelas bukan hanya monopoli etnis Tionghoa.
Melalui Milis RantauNet, Para perantau Minang di mancanegara sejak tahun 2007
yang lalu mencanangkan “Pulang Basamo Sedunia 2008” sebagai salah satu agenda
guna memajukan pariwisata Sumatera Barat.

Dari perspektif ini saya dapat memahami sikap belebihan seorang Pebe yang sering
menempatkan dirinya sebagai wakil minoritas Tionghoa di milis ini, terhadap
muslim dan Islam. Kegigihannya dalam berdiskusi menyebabkan kawan dan lawan
harus angkat topi. Pebe hampir tidak pernah kehabisan jurus dalam melakukan
serangan balik.

Saya juga memahami ketakutan dan kebencian Pebe terhadap apapun yang berbau
“syariat” walaupun dia tidak bisa membedakan antara “syariat” yang merupakan
kewajiban seorang muslim untuk menegakkannya, terutama di ranah pribadi,
keluarga dan sosial, dengan formalisme syariat oleh negara (yang oleh sebagian
muslim ditentang). Hal itu karena dalam praktek formalisme syariat oleh negara
terdapat hukum-hukum yang menakutkan dan kelompok non-muslim hampir selalu jadi
warga negara kelas dua. Namun dengan segala “keberlebihan”nya itu saya tidak
ragu mengatakan bahwa Pebe bukanlah orang yang jahat. Walaupun tahu bahwa
penerima sumbangan Bakti Sosial Apakabar (BSA) adalah muslim, Pebe tercatat
merupakan salah seorang penyumbang BSA terbesar, baik secara langsung, maupun
karena sekadar “kalah” taruhan bola dengan saya. Pebe juga tidak ragu-ragu
menyatakan penghormatannya kepada muslim atau tokoh-tokoh muslim yang
dipandangnya bersahabat atau mengayomi kelompok n0n-muslim seperti Gus Dur.

Hanya seperti kebanyakan orang lainnya, termasuk saya tentunya, Pebe juga tidak
jarang melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukannya, yang
menyebabkan “petempuran ide berubah menjadi “pertempuran pribadi.

Saya percaya bahwa Pebe akan menerima catatan saya ini dengan lapang dada.

Kenapa beberapa kali saya menyebut memahami?

Menjadi pluralis memang tidak mudah. Menjadi pluralis tidak sekedar menerima
atau bertoleransi dalam perbedaan, tetapi juga kemampuan untuk memahami dan
berempati terhadap kelompok lain terutama dalam hal-hal yang tidak atau kurang
menyenangkan kelompok sendiri.

Menjadi pluralis memang tidak mudah, tetapi apapah ada cara lain untuk mencegah
tragedi-tragedi kemanusiaan seperti peristiwa Bom-Bali, Kerusahan Mei 1998 di
Jakarta, Serangan terhadap Gedung WTC di New York, atau pembantaian masal dan
usaha pemusnahan terhadap Muslim Bosnia di Bosnia di Herzegovina sekitar satu
setengah dekade yang lalu.

Hari ini adalah hari terakhir diskusi di Apakabar Yahoo, yang diatur dengan PA15
& Yahoo Terms. Mulai besok seluruh diskusi Apakabar akan dilakukan di Forum yang
sudah mulai “mengudara” sekitar tiga setengah tahun yang lalu, dengan cara yang
berbeda, tetapi dengan visi dan misi yang sama, yang digambarkan dengan singkat
dan padat: Kritis, Plural dan Sekuler.

Bagi yang terbiasa berdiskusi di Apakabar Yahoo, berdiskusi di Forum mungkin
terasa kurang nyaman. Tetapi lama kelamaan tentu akan terbiasa. Aplagi Forun
tentu akan terus disempurnakan terus bagi kenyamanan peserta.

Bersilang kayu di tungku, di sana timbulnya api, untuk memasak nasi yang akan
dimakan.

Sampai jumpa di Forum

Wassalam

Darwin Bahar
Tim Moderator Apakabar