Agustus 8, 2008  Membaca judul di atas, mungkin Anda membayangkan suatu konferensi antar bangsa, atau salah satu rapat dewan keamanan PBB, atau hal-hal ‘besar’ lain sejenisnya.

 

Tetapi yang ingin saya ceritakan sebenarnya hanya sebuah acara barbeque kecil, di rumah teman baru saya Thai Banh di Edmonton. Dia mengundang kira-kira 8 orang, beberapa di antara mereka datang dengan anak istri. Yang lain (termasuk saya), datang sendirian. Selain dengan Thai Banh dan istrinya, saya belum pernah berkenalan dengan yang lainnya.

 

Tidak berapa lama setelah saling berkenalan, kami menyadari bahwa Thai Banh, istrinya dan delapan orang yang diundang Thai Banh datang dari sembilan negara dan kebangsaan yang berbeda !!

 

Thai Banh sendiri adalah mantan pengungsi Vietnam yang berimigrasi ke Kanada sekitar 20 tahun yang lalu. Istrinya seorang berkebangsaan Korea Selatan. Lalu saya sendiri dari Indonesia, plus ketujuh tamu lainnya juga ternyata berasal dari kebangsaan yang berbeda, ada Australia, Sri Lanka, Thailand, Jepang, India masing-masing 1 orang dan Filippina (2 orang),

 

Yang saya rasakan luar biasa adalah, meskipun berasal dari sembilan bangsa berbeda (dan tentu saja agamanya pun beda-beda semua), hanya dalam waktu beberapa menit setelah saling berkenalan, kami semua sudah asyik berbicara, tertawa, dan sharing bersama sambil menikmati hidangan barbeque yang disajikan Thai dan istrinya. Rasanya begitu akrab tanpa ada hambatan ‘beda bangsa, beda etnik, beda agama’ dan ‘beda-beda’ lainnya yang sebenarnya dalam hemat saya cuma menghambat interaksi antar manusia. Pada akhirnya, mau dari bangsa manapun, agama apapun, etnik apapun, kita semua sama-sama manusia. Kalau dengan ‘jin’ dan ‘hantu’ saja (kata paranormal dan dukun di Indonesia) manusia bisa berkomunikasi dengan bebas, kenapa pula dengan sesama manusia kita tidak bisa lebih bebas lagi dalam berinteraksi.

 

Yang saya alami ini sekaligus bukti kecil betapa multikultural dan multibangsanya kota Edmonton. Dan sepanjang pengetahuan saya, tidak pernah ada keributan etnik di kota ini, semua orang diperlakukan sama dan bebas berinteraksi tanpa rasa curiga dengan bangsa lain. Bandingkan dengan negara kita tercinta Indonesia,  sama-sama bangsa Indonesia tapi entah sudah berapa kali terjadi perang dan kerusuhan antar etnik. Dan lebih parah lagi, kerusuhan antar agama seperti terjadi di Ambon.

 

Terus terang waktu pertama nyampe di kota ini saya sempat khawatir bakal diperlakukan ‘beda’, atau jadi semacam ‘golongan minoritas’ karena kulit dan fisik saya yang jelas-jelas bukan ‘bule’ plus kebangsaan saya  yang relatif sedikit juga di kota ini. Sejalan dengan waktu, kekhawatiran itu pupus, apalagi setelah saya semakin banyak melihat bukti-bukti betapa tolerannya penduduk di sini terhadap lingkungan multikultur dan multibangsa.  

 

Bukti terakhir yang saya lihat soal multibangsa ini adalah Edmonton heritage festival seminggu yang lalu. Festival tahunan ini diadakan setiap musim panas dan merupakan yang terbesar di dunia dalam hal mengumpulkan keberagaman multietnik dalam satu taman.  Untuk tahun ini saja, ada 62 stand negara di Edmonton heritage festival, termasuk Indonesia. Jadi kalau mau dibuat perhitungan cepat, penduduk Edmonton saat ini paling sedikit terdiri dari 62 kebangsaaan atau asal negara. Jumlah sebenarnya tentu lebih besar karena belum semua negara membuat stand di festival ini.

 

Sangat luar biasa untuk kota dengan penduduk sekitar 1 juta saja. Makanya tidak heran kalau dalam pesta barbeque sederhana saja bisa terkumpul sembilan bangsa/asal negara. Saya yakin hal-hal semacam ini akan sering saya temukan di masa-masa mendatang termasuk mengalami indahnya interaksi manusia lintas bangsa, lintas agama, lintas etnik.

 

Tulisan Erwin B Simjuntak lainnya di Superkoran

Bekerja di Negeri orang I

Bekerja di Negeri Orang II

Bekerja di Negeri Orang III

Bekerja di Negeri orang IV

 

http://erwinbaja.wordpress.com/about/