Tinggal menghitung hari…tepatnya tanggal 14 Juli saya akan berangkat ke Kanada, untuk memulai babak baru dalam karir saya, yaitu bekerja di negeri orang, nun jauh di sebuah kota bernama Edmonton.. 

Saat semuanya ini masih belum terwujud – bahkan saat sudah terwujud tetapi masih lama hari-H buat berangkat – saya begitu ‘excited’ untuk menjalaninya.  Tetapi sekarang, menjelang keberangkatan, berbagai rasa campur aduk menjadi satu. Ada rasa sedih, karena saya harus meninggalkan istri dan bayi kami yang baru berusia 1 bulan, untuk setidaknya enam bulan ke depan, sampai si bayi cukup sehat dan mendapatkan ‘restu’ dokter anak untuk menempuh perjalanan panjang lewat udara.

Ada pula rasa khawatir dan (sedikit) takut…khawatir nanti tidak bisa adaptasi, khawatir nanti tidak bisa menunjukkan kinerja sesuai harapan, takut gak bisa gaul dengan orang-orang asing di sana, takut gak dapat temen orang Indonesia, dan berbagai kekhawatiran dan ketakutan lainnya.

Rasa ‘excited’ dan keingintahuan tentu tetap ada, meski akhir-akhir ini porsinya kalah dominan dibanding rasa sedih dan khawatir yang saya sebutkan di atas.

Apapun itu, saya tahu ini satu pilihan yang sudah saya ambil dan karenanya harus saya jalani apapun konsekwensinya. Sebelum pilihan ini saya ambil, sudah saya pertimbangkan matang-matang antara faktor manfaat dengan segala konsekwensinya. Berhubung peluang ini datang di bulan Maret 2008 saat usia kehamilan istri saya memasuki bulan ke-6 , saya tidak mungkin segera berangkat saat itu juga. Meski awalnya perusahaan yang akan mempekerjakan saya di Edmonton butuh saya segera tiba di awal Mei 2008, syukurlah mereka bisa mengerti kebutuhan saya untuk mendampingi istri saat persalinan dan minimal sebulan sesudahnya. Terus terang, saat proses interview dan negosiasi-negosiasi sesudahnya, saya sudah merasakan kesan yang sangat baik dari perwakilan perusahaan di Kanada. Saya benar-benar merasa di-manusiakan, mereka mau mendengar dan mengerti aspek kebutuhan saya sebagai manusia, bukan semata memandang dan memperlakukan saya sebagai ‘pekerja’. Padahal mereka bisa saja dengan gampang mengatakan ‘take it or leave it’, berhubung profesi saya bukan sesuatu yang super specific dimana hanya segelintir orang di dunia yang bisa mengerjakannya. Tetapi dengan approach seperti itu saya justru merasakan semacam ‘hutang budi’ yang dengan sepenuh hati akan saya balaskan lewat kinerja dan produktifitas buat perusahaan. Apalagi ditambah dengan fakta, bahwa tanpa saya minta mereka mengajukan bantuan untuk percepatan proses permanent resident (tinggal tetap) di Kanada lewat mekanisme yang disebut ‘provincial nomination’. Ini cuma karena saat interview saya mengungkapkan aspirasi untuk tinggal lama dan mendapatkan status tinggal tetap di Kanada. Umumnya proses ini mewajibkan pemohon untuk tinggal 2 sampai 3 tahun di Kanada, tetapi menurut perwakilan perusahaan di Kanada, dengan program provincial nomination, saya bisa mendapatkan status permanent resident hanya dalam waktu 1 tahun.

Hal utama yang mendorong saya mengambil pilihan ini dengan segala konsekwensinya cuma satu, yaitu keluarga. Baik keluarga kecil saya yang baru saya bentuk hampir setahun yang lalu dan kini ditambah dengan kehadiran seorang bayi perempuan, maupun dengan anggota keluarga saya lainnya, terutama adik-adik saya yang masih banyak butuh biaya. Dengan mengukur seberapa besar kemungkinan saving yang bisa didapatkan jika bekerja di sana, saya bisa memastikan jaminan masa depan yang lebih baik buat anak dan istri, plus adik-adik saya yang masih butuh biaya buat sekolah. Jika kelak mendapatkan status tinggal tetap di Kanada, saya tentu tidak perlu terlalu khawatir soal pendidikan buat anak saya. Belum lagi kemudahan jaminan kesehatan yang disediakan pemerintah Kanada. Pendidikan dan jaminan kesehatan adalah dua hal yang sekarang ini menjadi mahal harganya di negara sendiri, Indonesia. Saya tidak perlu khawatir harus menyiapkan segepok uang atau jaminan terlebih dahulu jika anak sakit dan harus masuk rumah sakit. Saya tidak perlu berdebar-debar memikirkan uang sekolah setiap bulan, uang pembangunan, daftar ulang, uang buku dan segala jenis biaya lainnya setiap tahun ajaran baru, dan uang pendaftaran sekolah di setiap jenjang masa pendidikan. Dengan menjadi pembayar pajak di Kanada, saya akan mendapatkan semua ‘kemewahan’ itu, yang sejauh ini belum mungkin saya dapatkan sebagai pembayar pajak di Indonesia.

Jadi, meski harus mengalami pisah sementara dengan anak istri, meski harus mengalami kemungkinan ‘kejutan budaya’, ‘kejutan iklim’, dan ‘kejutan-kejutan’ lainnya di Kanada, plus ekspektasi yang tentu lebih tinggi buat pekerja migran, saya memantapkan hati mengambil pilihan ini. Saya percaya bahwa Tuhan akan membantu saya melalui semua hambatan dengan baik, asalkan saya melakukan semuanya dengan sepenuh hati seperti melakukan untuk Dia. Dan pada akhirnya, saya yakin bahwa Dia akan membantu membuat ini semua menjadi sesuatu yang baik buat keluarga dan orang-orang yang saya cintai.

Sekian dulu untuk bagian pertama ini. Di bagian berikutnya saya akan bercerita tentang lika liku karir saya sampai akhirnya mendapatkan kesempatan bekerja di negeri orang…

Erwin Baja Simanjuntak, male, born in March 1976, married and currently reside in Edmonton,Alberta, Canada. Just started to write in blog, I previously did it in my mind..

Tulisanini bersambung – baca sambungannya di link berikut

Bekerja di Negeri Orang II

Bekerja di Negeri Orang III

Bekerja di Negeri orang IV

 

http://erwinbaja.wordpress.com/2008/07/09/bekerja-di-negeri-orang-bagian-pertama/#more-62